
Raya memalingkan wajah dari Karan, sedang berusaha menyembunyikan ekspresinya. Ia terkejut? Tentu saja. Juga bingung harus melakukan apa. Karan mengutarakan perasaan cinta padanya. Bukan perasaan yang selalu diutarakan saat pria itu menikmati puncak pelepasan ketika mereka melakukan pergularan ranjang yang panas. Karan mengatakan hal lain saat ini. Hal yang jauh lebih serius dari sebelumnya. Pernyataan cinta. Tidak sulit untuk mengetahui bahwa pria itu benar-benar jujur atau tidak. Sorotan matanya sudah menjelaskan semuanya.
“Aku mencintaimu, Raya. Sejak awal kita bertemu sampai detik ini. Sebesar apa pun kebencian di hatiku tidak akan menampik perasaan cintaku. Aku tidak tahu apa kau percaya atau tidak. Aku hanya ingin mengatakan yang sebenarnya,” seru Karan sembari menyentuh tangan Raya. Pria itu mengelusnya dengan lembut seolah-olah tangan Raya merupakan benda yang harus ia jaga dengan benar. Benda paling rapuh yang akan terluka parah bahkan hanya menggoresnya saja. “Kau tidak percaya padaku?” bisiknya. Karan mulai menempelkan bibirnya ke leher Raya dan menghirup kesegaran dari aroma vanila yang menempel di sana.
Raya masih enggan menoleh untuk menatap Karan. Tidak mungkin Karan tidak melihat cara Raya menanggapi perkataan dan rayuannya. Pipinya sudah bersemu merah, dan Raya—sebaik apa pun aktingnya di depan kamera, tetap payah jika berurusan dengan laki-laki. Itu terbukti dari banyaknya laki-laki yang menjadi mantan kekasihnya. Meskipun hanya sebatas status, tetapi mereka tetap menjadi pacar sang super model selama beberapa saat. Dan yang terakhir, ia malah dikhianati oleh sahabatnya sendiri. Laki-laki yang sudah ia jadikan sebagai tunangan malah memiliki wanita lain. Sekarang, Raya tidak tahu apakah hubungannya dengan Karan akan berjalan normal. Terlebih jika ia melihat hubungan mereka di awal-awal pernikahan yang begitu kacau dan hancur. Jangankan cinta, hanya untuk menghargai pasangan satu dengan lain pun tidak.
“Kau ingin aku memercayaimu?” celetuk Raya bertanya. Kali ini perempuan itu sudah mulai menaruh perhatiannya pada Karan. Tak elok rasanya jika ia mengabaikan Karan begitu saja. Pria itu sudah berusaha berbicara dengannya menggunakan cara yang baik-baik, tidak seperti sebelumnya. Raya harus menghargai usaha sang suami.
“Tentu saja.” Karan berusaha menyembunyikan gejolak kelaki-lakiannya yang sudah meninggi. Ini kesempatan terbaik untuk berbicara dengan sang istri, Karan tidak ingin merusaknya hanya karena intinya yang sudah menegang dan mendesak agar segera dikeluarkan itu. Apalagi tubuh Raya begitu menempel padanya, yang memberikan sensasi gila bahkan hanya dengan gerakan kecil saja. Karan pun harus menahan tubuh istrinya agar lebih stabil di sisinya. “Bagaimana caranya?”
“Itu mudah. Coba ceritakan masa lalumu. Setidaknya sedikit saja.”
Masa lalu lagi. Raya begitu peduli pada masa lalunya hingga itu menjadi syarat hubungan mereka. Meskipun Karan ingin segera memperoleh rasa percaya Raya, tetapi jika itu menyangkut mengungkap kisah hidup mereka di masa lalu, Karan tidak bisa. Bukannya ia tidak mau, melainkan ia tidak bisa melakukannya. Entah mengapa Karan berpikir Raya belum mampu mendengar apa yang terjadi. Fakta bahwa wanita itu melupakan masa-masa remaja mereka sudah membuktikan sang istri telah kehilangan ingatannya.
“Aku tidak bisa. Jangan sekarang, Sayang. Aku belum siap menceritakannya,” cetus Karan jujur.
“Kau belum siap? Memangnya apa yang terjadi? Apakah itu masa lalu yang buruk untukmu?”
“Ya, sangat buruk untukku.” Karan menimpali di dalam hatinya lagi, ‘sangat buruk juga untukmu’. Itulah alasan mengapa Karan enggap membicarakan masa lalu pada Raya. Karena sedikit saja cerita lamanya terbuka, tidak hanya satu orang yang terluka, tetapi banyak orang. Tidak hanya dirinya, tetapi Raya dan orang tua Karan pun akan menderita. Jika memang saat-saat itu sangat buruk untuk diketahui semua orang, maka Karan tidak akan keberatan menyembunyikannya hingga ia mati. Ia sudah beruntung bisa hidup seperti sekarang. Kendati Raya tidak mengingatnya, toh Karan bisa membuat kenangan baru bersama sang istri. Tentu saja itu akan terjadi jika Raya tidak berselingkuh darinya.
Karan mengembuskan napasnya. Namun, ia tidak bisa mengelak lagi. Satu kejujuran ini mungkin bisa membuatnya merasa sedikit lega. “Ya, kita pernah bertemu sebelum kau bertunangan dengan Varen.”
Kedua mata Raya terbelalak. Ternyata benar apa yang ia rasakan selama ini. Kedekatan terhadap Karan, bahkan rasa tertariknya yang aneh pada pria itu. Di malam pertama mereka, meskipun Karan pria pertama bagi Raya, tapi wanita itu tidak merasa canggung saat Karan menyentuhnya. Seolah-olah ia sudah terbiasa dengan sentuhan laki-laki. Dan ketika mereka bertengkar hebat di mana perasaan benci menyelimuti hatinya, ia tetap tidak bisa mengabaikan Karan. Ia masih saja peduli terhadap pria itu. Ternyata itu semua bukan hanya perasaan tanpa alasan saja. Karan dan dirinya benar-benar pernah bertemu di masa lalu.
“Kapan? Di mana? Apa kita dulu punya hubungan khusus? Kenapa aku tidak ingat sama sekali?” ujar Raya frustrasi. Sungguh, sekeras apa pun Raya menggali ingatannya, tidak ada nama Karan yang muncul di sana. Apa yang terjadi padanya? Lebih tepatnya apa yang terjadi dengan ingatannya.
Melihat wajah Raya yang mengerut kesal di tambah tubuhnya yang gemetar, Karan pun berusaha menenangkan sang istri dengan cara menghentikan pembicaraan ini. “Sudah Raya, jangan dipikirkan lagi. Kau sudah janji hanya akan bertanya satu pertanyaan saja, dan aku sudah menjawab pertanyaan terakhirmu. Sekarang, kau harus menepati janjimu, Sayang.” Karan mencium pipi Raya berkali-kali untuk mengalihkan perhatian istrinya. Akan sulit bagi Karan jika Raya masih terus mencecarnya dengan lebih banyak pertanyaan. Seandainya ia salah bicara, maka kesehatan Raya menjadi taruhannya.
“Iya, tapi aku penasaran,” celoteh Raya.
Tangan kiri Karan menyentuh dagu Raya, membimbing wajah wanita itu mendekati wajahnya. Kemudian, ia mencium bibir Raya sebentar dan melepaskannya tanpa sang istri bisa melakukan apa-apa. “Kau terlalu penasaran pada hal yang tidak penting, Sayang. Apa kau tidak penasaran dengan benda yang kau duduki ini? Bukankah kau merasakannya menegang?” gumam Karan sembari menurunkan tangannya dari punggung ke pinggang sang istri dan mengelusnya pelan hingga membuat gelombang elektrik di tubuh Raya. Saat istrinya itu mengirimkan tatapan tajam karena menyadari bahwa selama ini ia sedang menduduki bagian intim milik seorang pria, Karan malah tersenyum menggoda sambil mengedipkan mata seolah-olah sedang mengirimkan sebuah undangan nakal kepada wanita itu.
“Kau ....” Raya menggeram.
Karan mencium bibir Raya lagi. Di sela-sela aktivitas manis itu, ia berbicara pelan, “Aku sudah pernah bilang padamu, Sayang. Aku tubuhku selalu bereaksi terhadapmu. Aku ingin menahannya, tapi itu tidak bisa. Kau tahu jawabannya dengan pasti. Karena aku mencintaimu.” Pria itu kembali mengungkapkan perasaannya sambil mencium bibir Raya dengan lebih intens lagi. Sekarang, ia bahkan tidak ragu menyelipkan salah satu tangannya ke dres bagian bawah Raya. Merangkak dari paha hingga menyentuh bagian paling privat yang masih terlindungi milik sang super model. Dengan keahliannya, Karan bisa menyingkap benda itu dan mulai membuat gerakan-gerakan yang membuat tubuh istrinya gemetar hebat.