
Raya tidak pernah meminta untuk terlahir di dunia ini. Ayah dan ibunyalah yang merencanakan kehadirannya dan Tuhan merestui kelahirannya. Raya tidak pernah bisa memilih siapa yang akan menjadi orang tuanya, tetapi ayah dan ibunya bisa memilih untuk tidak memilikinya. Jadi, apa salah Raya selama ini? Mengapa ia harus mempunyai seorang ayah yang seperti ini? Memangnya ia yang membuat ibunya meninggal dunia? Tidak ‘kan? Jika boleh .... seandainya memang bisa, Raya akan meminta agar ibunya tidak meninggal. Atau seandainya dapat ditukar, Raya lebih memilih dirinya saja yang pergi untuk menggantikan ibunya itu menghadap Tuhan.
Sang ibu meninggal dunia karena mengidap penyakit parah yang tidak terdeteksi oleh Raya dan ayahnya. Ini sangat aneh memang. Sebagai seorang tenaga medis, sang ibu telah menyelamatkan banyak sekali orang. Menyembuhkan penyakit masyarakat sekitar dan membantu meningkatkan lingkungan di daerah itu. Namun tidak ada yang sangka justru orang yang seharusnya paling mengerti mengenai kesehatan manusia di sana justru meninggal karena sakit. Bahkan penyakit yang tidak terdeteksi sebelumnya sehingga terlambat penanganan dan membuatnya terlambat diselamatkan.
Itu bukan salah Raya. Ia juga masih terlalu kecil untuk tahu apa-apa tentang penyakit sang ibu. Akan tetapi, ayahnya justru melimpahkan kesalahan pada Raya. Katanya Rayalah yang membuat wanita itu meninggal. Jika saja mereka tidak punya anak, maka wanita itu tidak akan kelelahan mengurus Raya. Karena salah satu faktor yang membuat ibu Raya meninggal adalah karena wanita itu tidak menjaga pola hidupnya dengan sehat. Ia memang menasihati pasien yang berkunjung di tempat praktiknya untuk senantiasa menjaga pola hidup sehat. Namun, justru ia meninggal karena tidak bisa mempertahankan hal tersebut.
Waktu pun terus berlalu. Raya sudah terbiasa dengan keadaannya. Mulai dari tinggal di daerah kumuh dengan ekonomi miskin hingga uang seadanya yang harus Raya hemat guna kebutuhan sehari-hari. Seandainya tidak ada uang sama sekali, Raya akan mengambil uang dari saku celana atau dompet ayahnya saat laki-laki paruh baya itu terkapar di lantai ruang tamu rumah mereka. Meskipun jauh dari kata cukup, anehnya di tubuh ayahnya selalu ada uang yang terselip. Daripada digunakan untuk hal-hal tidak berguna seperti membeli rokok dan minuman keras, lebih baik Raya yang mengambilnya dan digunakan untuk membeli kebutuhan sehari-hari, khususnya kebutuhan dapur. Untung saja beberapa kali Raya dapat mengambil uang milik sang ayah kendati ia harus melarikan diri setiap pagi dari rumah.
Di mana Raya menyimpan uang-uang yang ia kumpulkan selama ini? Tentu saja tidak di dalam rumah. Bodoh kalau Raya melakukan itu di saat ayahnya yang tidak berguna tersebut ada di sana. Dalam waktu sekejap, sudah pasti uang itu akan lenyap diambil sang ayah. Jadi, Raya memutuskan untuk menanamnya di suatu tempat. Tempat yang tidak diprediksi oleh siapa pun, yakni di taman yang berada di samping panti asuhan. Di sana aman karena jarang ada anak-anak yang mau bermain di taman itu. Mitos seram beredar di taman itu yang menakuti anak-anak sekitar, termasuk anak-anak yang berada di panti asuhan. Tidak ada satu pun yang berani bermain di taman itu. Sekadar lewat saja sudah sangat takut. Sebisa mungkin mereka akan memilih alternatif jalan lain agar tidak melalui taman tersebut.
Tidak hanya uang, apa pun yang berharga akan Raya simpan di sana, termasuk beberapa perhiasan milik sang ibu. Berbeda dengan orang tua Farraz yang meninggalkan bocah itu tanpa bantuan dana apa pun, ibu Raya masih memikirkan tentang putrinya. Wanita itu seolah-olah tahu bahwa suaminya tidak akan pernah bisa diandalkan untuk membesarkan Raya. Untuk itulah ia menyiapkan satu set perhiasan mahal kepada Raya yang disembunyikan oleh sang ibu di taman itu. Kemudian, ia menyimpan catatan pemberitahuan untuk Raya di tas sekolah anak itu. Agar Raya bisa menggunakan perhiasan itu untuk keperluan sekolahnya.
Karena semakin tinggi sekolah Raya, semakin mahal pula biayanya. Program sekolah gratis hanya sampai SD di kampung mereka itu pun tidak benar-benar gratis karena mayoritas murid masih dipaksa untuk membayar berbagai pungutan liar berkedok resmi. Misalnya, diminta untuk membayar uang pembangunan gerbang sekolah padahal atap bangunannya saja masih sering bocor. Atau yang paling tidak masuk akal adalah sekolah mewajibkan siswa untuk mengikuti study tour ke luar kota dengan biaya yang sangat mahal padahal mayoritas penduduk yang bersekolah di tempat itu berpenghasilan sangat sedikit. Dan deretan pungutan liar yang jumlahnya malah lebih banyak dari biaya di sekolah swasta.
Di taman itulah Raya pertama kali melihat Farraz ketika mereka masih duduk di bangku SMP. Farraz tentu tidak mengenal Raya, tetapi sebaliknya, Raya mengenal Farraz. Ah, ralat. Maksudnya mengetahui informasi tentang pemuda itu. Ia merupakn murid yang cerdas dan terkenal di sepanjang Jalan Asoka. Ada satu hal yang sangat membuat Farraz terkenal, yaitu saat berjabat tangan dengan menteri pendidikan di olimpiade matematika tingkat SMP. Namanya pun santer terdengar dan ia dijaga dengan baik oleh masyarakat di kampung-kampung di Jalan Asoka.
Para orang tua itu menyesali Nasib mereka karena melahirkan anak-anak yang bodoh, tidak seperti Farraz yang pintar. Bahkan beberapa di antara para ibu malah menginginkan kehidupan ibu Farraz yang menurut mereka cukup beruntung. Meskipun ditinggal oleh laki-laki yang menghamilinya, tetapi setidaknya ibu Farraz tidak menurunkan kebodohannya pada sang anak. Setidaknya Farraz akan bisa mengubah kehidupannya agar tidak miskin lagi. Itu sudah dibuktikan dari hal sederhana di mana Farraz satu langkah berada di depan anak-anak sekitar Jalan Asoka. Karena bocah itu punya jaminan untuk bersekolah tanpa memikirkan biaya apa pun.
Raya juga merasa iri pada Farraz, tetapi ia tidak punya apa-apa untuk dibanggakan. Keluarga yang berantakan dengan ayah yang tidak bisa diharapkan dan malah menjadi bebannya. Kehidupan yang miskin dan yang terutama, Raya tidak pintar. Bahkan jika bisa dites, mungkin kepintaran Raya tidak sanggup mencapai seperempat kepintaran Farraz. Raya lemah dari segala hal. Jadi, tidak mungkin Raya akan bisa melampaui prestasi Farraz. Sekadar berada di satu sekolah yang sama pun tidak akan mungkin. Untuk apa anak yang bisa menempuh pendidikan di sekolah yang lebih bagus harus tetap bersekolah di daerah miskin ini? Itu benar-benar mustahil.
Akan tetapi, takdir berkata lain. Farraz yang diprediksi akan memilih sekolah yang lebih bagus di pusat ibu kota, malah memilih untuk tetap menetap di kampung itu, di Jalan Asoka. Awalnya tidak ada yang tahu apa alasan pastinya, tetapi penjelasan dari pengurus panti asuhan akhirnya memberikan titik terangnya. Farraz tidak bisa meninggalkan ibunya di kampung itu. Maksudnya kuburan sang ibu. Hanya itu satu-satunya yang Farraz miliki di dunia ini. Ia tidak punya siapa-siapa lagi yang bisa dijadikan tempat bersandar.
Lagi pula, Farraz tidak tahu tujuan hidupnya. Selama ini prestasinya ia gunakan hanya untuk mencari uang. Supaya ia tidak disuruh pemimpin panti asuhan untuk bekerja di pabrik sebagai buruh. Pemuda itu lebih memilih menggunakan otaknya daripada ototnya dan ia berhasil. Selama ini ia benar-benar tidak bekerja selain berkutat dengan buku-buku pelajaran dan memenangkan berbagai macam perlombaan. Uang yang ia dapatkan dari hasil perlombaan itulah yang Farraz gunakan untuk biaya hidupnya sehari-hari di dalam panti asuhan.
Jadi, tidak ada yang Farraz inginkan lagi. Menurutnya, selama otaknya masih bisa ia gunakan untuk mencari uang, maka ia bisa melanjutkan hidup. Tidak perlu rumah karena itu hanya sebuah bangunan. Panti asuhan sudah cukup bagi Farraz sebagai tempat tinggal. Para pengurus panti asuhan pun tidak keberatan sama sekali. Mereka justru bersyukur karena uang yang Farraz berikan sebagai biaya hidup jauh lebih besar dari apa yang bisa dikumpulkan anak-anak panti asuhan yang lainnya.
Itu memang pikiran dangkal Farraz. Pikiran sementara yang bercokol dalam otak seorang bocah yang sama sekali tidak punya ambisi dan cita-cita. Sebelum mengenal betapa kejamnya dunia dan apa gunanya menjadi orang kaya serta mempunyai kekuasaan. Farraz yang awalnya tidak memikirkan segala hal itu, mendadak berubah pikiran saat seseorang muncul di hadapannya. Seseorang yang mendobrak semua pemikiran konyol Farraz dan menumbuhkan di dalam hati pemuda itu dengan apa yang dinamakan keinginan, harapan dan obsesi.