
“Apa yang kau lakukan saat sudah dewasa? Apakah kau ingin meninggalkan tempat ini?” Pertanyaan Farraz itu muncul ketika ia berhadapan dengan Raya. Ini pertama kalinya pemuda itu mengutarakan pendapatnya setelah berpacaran dengan Raya selama tiga bulan. Sebelum ini, pembicaraan mereka tidak pernah merujuk pada masa depan. Mereka masih muda dan kegiatan mereka sehari-hari begitu banyak di sekolah. Hal itu tentu menyita pikiran mereka. Dan saat-saat inilah yang Farraz manfaatkan untuk bertanya kepada sang kekasih tentang masa depan mereka atau lebih tepatnya apa yang Raya inginkan di masa depan.
“Aku tidak tahu. Mungkin aku bisa di sini atau bisa juga aku pergi dari sini. Tapi ke mana pun aku pergi, aku hanya ingin tempat ini berkembang. Kau tahu Raz, sebenarnya orang-orang di sini tidak ingin menjadi miskin. Mereka juga sudah bekerja keras untuk menjadi kaya. Tapi, sekeras apa pun mereka bekerja, mereka tidak bisa memperbaiki kehidupan mereka karena kerja keras saja masih tidak cukup. Ada faktor lain yang harus didapatkan.”
Raya menjelaskan kepada kekasihnya sambil duduk di jembatan beton yang dekat dengan rumah Raya. Biasanya memang mereka akan menghabiskan beberapa saat di sana saat Farraz mengantarkan Raya pulang. Entah karena Raya enggan berpisah dari Farraz atau pemuda itu yang tidak bisa meninggalkan tempat itu. Yang pasti tempat itu menjadi tempat favorit keduanya. Seandainya matahari tidak tenggelam atau tetangga Raya tidak memberikan informasi tentang kehadiran sang ayah, sudah pasti mereka akan menghabiskan waktu lebih lama di sana. Raya tidak ingin Farraz bertemu dengan sang ayah yang tidak berguna itu karena kekacauan akan selalu terjadi saat sang ayah pulang. Dan Raya tidak mau adegan yang tidak mengenakkan itu disaksikan oleh kekasihnya.
“Faktor apa?” Dengan kening mengernyit Farraz bertanya. Ia benar-benar penasaran dengan apa yang ada di kepala cantik gadis itu. Raya selalu punya ide-ide cemerlang yang mengejutkan Farraz. Ide yang tidak pernah terpikirkan oleh laki-laki itu dan selalu membuatnya iri kepada kekasihnya sendiri. Padahal kehidupan ekonomi Raya masih di bawah Farraz, tetapi Raya justru lebih punya banyak mimpi dibandingkan Farraz yang sama sekali tidak punya hasrat dan keinginan untuk maju. Ibarat seekor ikan yang berenang di sungai, ia akan mengikuti arus kehidupan tanpa banyak membuat pilihan.
Raya menghadapkan tubuhnya ke arah Farraz. Sebelah bibirnya terangkat. Ia menyeringai getir. “Keberuntungan. Itu yang tidak dimiliki warga kampung di tempat ini.” Kesialan itulah yang paling disesalkan oleh Raya. Seandainya mereka mendapatkan kesempatan yang sama dengan tempat-tempat lain di luar daerah di sekitar Jalan Asoka, tempat yang lebih baik dari kampung mereka, mungkin saja mereka akan beroleh hidup yang jauh lebih baik. Setidaknya dalam bidang pendidikan. Karena biaya sekolah yang selangit, anak-anak di kampung-kampung itu banyak yang putus sekolah. Kalau sudah begitu, bagaimana mereka bisa mengembangkan pikiran untuk maju sedangkan untuk membaca dan berhitung saja tidak bisa?
“Ya, benar. Keberuntungan,” cetus Farraz mengiyakan. Sama seperti mereka, Farraz juga tidak beruntung. Ia tidak beruntung memiliki ayah berengsek yang meninggalkan ibunya setelah menghamili sang ibu. Atau tidak beruntung karena sang ibu telah meninggal dunia terlebih dahulu sehingga Farraz harus besar di panti asuhan dan mengalami berbagai hal yang tidak mengenakkan di sana. Raya benar. Mereka semua tidak ada yang beruntung karena terlahir atau tinggal di daerah kumuh itu.
“Tapi, kita bisa menciptakan keberuntungan itu,” timpal Raya dengan wajah penuh keceriaan seolah-olah tengah menyampaikan ide brilian layaknya seorang ilmuwan.
Farraz tidak bisa berpaling dari paras cantik sang kekasih. Ia pun menatap wajah itu dengan lekat. “Menciptakan keberuntungan? Bagaimana cara menciptakan keberuntungan yang kau katakan itu?”
“Hmm ...” Raya berlagak berpikir. Ia berputar-putar sejenak di sekitar jembatan, lalu berpindah dan duduk di sebelah Farraz. Dengan tatapan berbinar, ia memandangi wajah pemuda itu. “Aku mungkin tidak bisa, tapi kau pasti bisa.”
“A-aku?” Farraz gugup. Ditatap secara intens oleh gadis disukainya meskipun bukan sekali terjadi, tidak akan mudah baginya. Apalagi sebelum ini, Farraz tidak pernah berpacaran sama sekali. Wajar seandainya ia belum terbiasa dengan tingkah laku Raya yang mendadak seperti itu. “Kenapa aku?”
“Ya, karena kau adalah orang yang paling pintar di kampung ini. Kau selalu menjadi tokoh yang dicontoh oleh anak-anak di sini. Jadi, aku pikir kau bisa mengubah kesialan orang-orang di sini jadi keberuntungan. Kau juga sering menang olimpiade dan lomba-lomba lain, kan? Aku yakin kau pasti akan sukses waktu kita dewasa nanti.” Raya mengucapkan keyakinannya dengan begitu lantang seolah-olah ia adalah seorang cenayang yang bisa meramal masa depan. Padahal ia sendiri tidak tahu apa yang akan terjadi padanya. Dan ucapan barusan itu hanyalah sebuah keinginan.
Farraz tidak ingin membantah. Ia hanya mengangguk-anggukkan kepala, tanda telah menyetujui ucapan kekasihnya itu. Pemikirannya sederhana, tapi terdengar cukup masuk akal. Masalahnya yang harus dibiayai Farraz ini adalah beberapa kampung yang kumuh dan miskin. Selain pejabat yang mempunyai anggaran daerah dan seorang pengusaha kaya raya, tidak akan mungkin seorang Farraz bisa mengubah daerah itu. Tetapi, Farraz tidak mau memupuskan harapan Raya. Ia hanya bisa tersenyum pada gadis itu.
“Baiklah, nanti kalau aku sudah kaya, aku pasti akan mengubah tempat ini,” janji Farraz. Ia hanya asal mengatakannya. Mana tahu suatu saat nanti, Farraz bisa benar-benar menjadi seorang kongklomerat ibu kota bahkan negara. Dengan uang yang ia miliki, tidak sulit untuk mengubah sebuah desa. Namun itu hanya sebuah khayalan yang belum tentu menjadi nyata. “Bagaimana denganmu? Kau juga bisa mengubah kampung ini ‘kan? Aku sudah mengajarimu matematika. Jadi, kau pasti akan pintar.”
Raya tahu itu bukan sebuah hinaan tapi sebuah dorongan kepadanya. Ia pun membalas, “Ya, aku akan menjadi orang sukses juga. Kalau itu terjadi, apakah kau akan datang padaku?”
Gadis itu terbelalak bukan main. “Hey, itu namanya pemaksaan! Masa aku dipaksa menikah! Aku tidak mau!”
“Sudah terlambat untuk menolak, Raya. Mungkin bukan sekarang, tapi suatu saat nanti, kita pasti akan menikah.”
Farraz tidak tahu ucapannya itu bagai sebuah sumpah tertulis yang telah dimateraikan oleh takdir. Karena belasan tahun kemudian, mereka benar-benar menjadi pasangan suami istri. Anehnya, Farraz tidak hanya menepati janji untuk menikahi Raya. Cara pun sama persis. Ia memaksa Raya, memanipulasi wanita itu dengan tipu dayanya hingga mereka benar-benar mengikat janji pernikahan yang sah secara hukum dan agama. Sayangnya, Farraz tidak bisa menggunakan namanya saat mempersunting Raya. Ia harus mengganti identitasnya menjadi Karan Reviano, nama seorang anak semata wayang dari keluarga Reviano.
“Siapa yang akan menikah dengan siapa?” tukas seseorang dari arah samping. Suara itu begitu berat dan parau ... suara pria dewasa yang menyita perhatian Farraz dan Raya. Kedua remaja itu sontak memandang ke arah sumber suara dan menemukan orang yang berbicara kepada mereka. Karena tak lama kemudian, orang itu berbicara lagi. “Kau ini pantas saja kita tidak kaya-kaya. Ternyata malah pacaran di sini! Harusnya kau cari uang supaya ada makana di dapur. Ayo cepat pulang!” sambung pria itu dengan kasar kepada Raya.
Farraz hendak melayangkan protes, namun bibirnya bungkam saat Raya membuka mulutnya dan memanggil laki-laki itu. “Bapak? Ke-kenapa ada di sini?” katanya gugup. Ia bahkan secara tidak sadar berdiri dari beton jembatan itu untuk menghampiri sang ayah. Dengan harapan agar laki-laki yang saat ini memakai pakaian lusuh itu tidak menimbulkan keributan di depan Farraz.
“Kenapa? Memangnya aku tidak boleh di sini? Apa ini tempat nenek moyangmu? Kau ini masih kecil sudah melarang orang dewasa. Benar-benar anak kurang ajar!” sahut sang ayah. Tidak hanya bicaranya yang kasar, tingkahnya pun sangat kasar. Bahkan dengan tubuh yang nyaris ambruk karena pengaruh minuman beralkohol, ia ingin menarik tangan Raya. Beruntung penglihatannya yang buruk ditambah tubuhnya yang gontai tidak sampai bisa menyentuh tubuh putrinya itu sedikit pun.
“Bukan itu, maksudku, ayo kita pulang, Pak. Bapak sedang tidak sehat, kan? Kita pulang saja ya?” Raya berusaha membujuk kendati ia juga enggan mendekat. Tidak ada rasa iba di hati Raya memandang sang ayah. Laki-laki yang tidak membantu hidupnya dan justru menyusahkannya itu tidak pantas untuk mendapatkan rasa simpati darinya. Kalau boleh, Raya ingin ayahnya pergi ke luar kampung dan tidak kembali ke rumah mereka. Mungkin saat itu Raya bisa tenang dan tidak mendapatkan penganiayaan yang telah ia alami sejak kecil dari laki-laki tidak berguna itu.
“Ayo Pak!” ajak Raya. Sebelum benar-benar kembali ke rumahnya, ia berpamitan terlebih dahulu kepada sang kekasih. “Aku pulang sekarang. Kita bertemu lagi besok, dan terima kasih sudah mengantarkanku pulang.”
Farraz memperhatikan pria yang dipanggil ‘Bapak’ oleh kekasihnya itu. Rasa khawatir timbul di dalam benaknya. Ia takut akan terjadi sesuatu pada Raya karena temperamental laki-laki itu terlihat tidak stabil. Tadi saja ia nyaris berbuat kasar pada Raya. Tidak akan ada yang menjamin apa yang terjadi nanti. Bukan bermaksud menuduh ayah sang kekasih, tetapi Farraz hanya merasa khawatir terlebih laki-laki itu sekarang berada dalam pengaruh alkohol yang bisa membahayakan orang-orang di sekitarnya.
“Mau aku bantu bawa ayahmu ke rumah?” tawar Farraz.
Raya buru-buru menggelengkan kepalanya. Gila saja kalaui ia mengizinkan Farraz ke rumahnya. Raya menerima niat baik Farraz, tetapi kekasihnya itu tidak tahu apa yang terjadi padanya. Ini saja Raya sedang memikirkan ide untuk kabur dari sang ayah. Ia sudah memikirkan cara agar laki-laki tua itu tidak memukulinya. Pintu kamar yang selalu menjadi tempat berlindung Raya sudah tidak sekokoh beberapa saat lalu. Raya tidak mungkin bisa berlindung terus-menerus di sana.
Jika Farraz ada di rumahnya, Raya tidak akan bisa kabur. Jangankan untuk kabur, ia malah tidak bisa meninggalkan rumah karena khawatir terhadap keselamatan Farraz. Pemuda itu belum terbiasa menghadapi ayahnya, berbeda dengan Raya yang sudah paham bagaimana cara agar tubuhnya tidak mengalami memar meskipun caranya juga terkadang meleset.
Dengan cepat Raya menggeleng, “Tidak. Tidak usah. Aku baik-baik saja. Bapak sedang ada masalah dengan pekerjaannya, jadi mungkin Bapak butuh ketenangan. Aku takut kita bisa mengganggu ketenangan Bapak,” tolak Raya sekaligus menjelaskan kepada Farraz bahwa ayahnya bukanlah laki-laki yang buruk. Farraz tinggal di kampung yang berbeda dengan kampung ini. Jadi, kabar buruk tentang sang ayah mungkin belum terdengar di telinga pria itu. Setidaknya, Raya ingin menjaga nama baiknya dan ibunya. Biarlah nama sang ibu sebagai penyelamat warga bisa tetap harum kendati Raya harus menutupi citra buruk sang ayah.