Lies

Lies
Tolong Hargai Aku



Raya menggeliat, mungkin karena perasaan geli yang menyergap tubuhnya. Saat ia ingin menggeram dan marah tidurnya terganggu, Karan malah membungkam mulutnya. Pria itu mencium bibir Raya dengan intens dan membasahi bibir wanita itu dengan lidahnya. Sementara Raya mungkin karena tidak sadarkan diri atau menganggap ini sebuah mimpi, ia hanya terus memejamkan mata sambil membuka sedikit bibirnya, membiarkan Karan mengambil akses mengeksplorasi bagian tersebut. Ini sangat manis. Karan tidak dapat berhenti mengecupi bibir Raya baik bagian atas maupun bagian bawahnya. Setiap senti bibir itu terkena ciuman panas Karan, tidak bisa terbebas dari bibir tebal dan lidahnya yang ikut bergerak bersama-sama di atas bibir sang super model.


Alih-alih melepaskan Raya dan berhenti, Karan justru menyusuri bagian bawah tubuh Raya dengan jari-jarinya. Pria itu terus mencium bibir Raya dengan tangan yang semakin bergerilya di atas tubuh sang istri hingga wanita itu merasa risih dan membuka mata. Alangkah terkejutnya Raya melihat Karan ada di atasnya, sedang menciumi bibirnya dengan rakus sementara tangannya mengelus kulitnya dengan lembut.


Raya sama sekali tidak menduga suaminya akan masuk ke dalam kamarnya apalagi setelah apa yang terjadi beberapa saat yang lalu. Pria itu mendorongnya hingga terjatuh di atas lantai. Raya tidak tahu apa yang membuat Karan begitu marah padanya padahal ia hanya memeluk Karan dari belakang. Apakah itu bermasalah? Kalau benar, mengapa Karan tidak menegur saja dirinya alih-alih melakukan hal kasar seperti itu? Raya bingung sekali. Dan sekarang, kebingungannya bertambah parah karena mendapati Karan sedang menciumnya seolah-olah tidak ada yang terjadi pada mereka sebelumnya. Apa yang salah sebenarnya dari Karan? Mengapa sikap pria itu bisa berubah dengan drastis?


“Karan? Kenapa?” tanya Raya saat Karan melepaskan bibirnya untuk bernapas sejenak.


“Sstt, tidurlah lagi. Tidak apa-apa. Aku tidak akan mengganggumu,” seru Karan dengan suara rendah dan serak yang membuat Raya mau tidak mau terdiam karena tubuhnya seperti melunak ibarat sebuah lilin yang sedang dibakar api yang begitu panas.


Raya mencoba melepaskan diri dari rayuan Karan, tetapi usahanya gagal. Ia malah terpanah saat Karan mengangkat wajahnya dan hanya menyisahkan jarak beberapa belas sentimeter dari wajahnya. Posisi itu sangat menguntungkan Raya karena ia dapat melihat dengan baik setiap jengkal yang ada di wajah Karan. Rambutnya yang berantakan dan menutupi sedikit keningnya. Dan beberapa rambut halus yang mulai tumbuh di sekitar rahang, hidung dan mulut Karan. Jadi inilah yang membuat Raya merasa geli ketika Karan menempelkan wajah di sekitar lehernya karena rambut-rambut itu juga tidak sengaja terkena permukaan kulit Raya.


“Kau tidak mau tidur lagi, hm?” Karan berbicara lagi yang membuat napasnya terasa begitu nyata menerpa wajah Raya, hangat dan membuat Raya ikut menarik napas setelahnya. “Sudah kukatakan aku tidak akan mengganggumu,” tambah pria itu memberikan janji manis pada Raya. Tidak tahu apa maksud Karan dengan tidak akan mengganggu Raya sementara tangan pria itu tidak mau diam, aktif bergerak di seluruh bagian bawah tubuh Raya. Begitu pula dengan bibirnya yang kini berpindah ke leher wanita itu. Salah satu tempat favorit Karan di tubuh sang istri.


“A-apa yang mau kau lakukan?” tanya Raya dengan suara parau, suara yang nyaris tidak dikenalinya lagi karena baru terbangun secara mendadak.


Kedua netra cokelat menatap bibir Raya seakan-akan tidak bisa berpaling dari benda lembap itu, yang sontak saja membuat jantung Raya berdebar kencang seolah enggan untuk memberikan jeda padanya yang merasa tegang. “Menciummu, Sayang. Apa lagi memangnya?” ucapnya. Pria itu tidak menyentuh bibir Raya, tetapi Raya merasa seperti pria itu sedang berbicara sambil menempelkan bibirnya.


Karan sangat berbeda. Sikapnya tidak tertebak sama sekali. Sebentar-sebentar laki-laki itu akan bersikap kejam padanya, namun tak lama kemudian Karan akan berbaik hati, bersikap lembut padanya seolah-olah pria itu adalah suami terbaik di dunia. Malangnya, Raya tidak bisa menebak kapan sikap suaminya akan berubah dan apa yang membuat pria itu berubah sikap dalam waktu sekejap.


Tanpa menunggu jawaban dari Raya, Karan mencium bibir wanita itu lagi. Sekarang dalam keadaan sudah bangun dari tidurnya, Raya bisa merasakan bibir hangat nan lembap milik suaminya dan rasa apa yang tertinggal di dalam rongga mulut laki-laki tersebut. Rokok. Raya tahu suaminya itu pasti belum lama ini menghisap beberapa batang rokok sebelum datang ke kamarnya. Aroma tembakau itu melekat di bibir Karan hingga ke dalam mulutnya. Inilah yang tidak Raya sukai dari sang suami. Ia tidak suka mencium bibir seorang pria perokok aktif.


Namun, Karan tidak peduli. Ia hanya menjauhkan bibirnya sebentar untuk memberikan jarak yang cukup supaya Raya bisa bernapas normal. Setelah itu, ia akan mendekatkan bibir ke bibir Raya lagi seperti sebuah magnet yang bertemu dengan besi. Melekat dan tidak bisa berpisah. Karan baru melepaskan Raya ketika wanita itu mendorong tubuhnya dengan erat.


“Apa yang kau lakukan?” geram Karan kesal. Tidak tahukah Raya bahwa ia tidak suka penolakan? Sejak wanita itu menjadi istrinya ia selalu menolak Karan. Entah sudah berapa kali karena Karan tidak bisa menghitung saking banyaknya. Selama itu pulalah Karan berusaha untuk bersabar. Ia tidak mau kehilangan penguasaan diri hingga melukai Raya dengan sangat parah hanya untuk memenuhi kebutuhan biologisnya. Padahal jika ditelisik lebih dalam, seandainya Karan bisa melepaskan segala gejolak kelaki-lakiannya, Karan akan melakukan hal gila terliar yang tidak pernah terbayangkan oleh Raya. Tentu lebih liar dari sekadar berhubungan badan sambil mengikat kedua tangan wanita itu dengan dasi. Karan punya cara yang terbilang cukup ekstrem untuk menikmati tubuh sang istri.


Raya menatap Karan tajam. “Aku istrimu, Karan. Bukan wanita penghibur yang bisa seenaknya kau sentuh!” katanya dengan meluapkan rasa marahnya.


Mata Karan menyalak, menatap Raya dengan tak kalah kejamnya. “Memang siapa yang menganggapmu sebagai wanita penghibur? Aku tidak pernah melakukan hal seperti itu.”


“Benarkah? Tapi sikapmu menunjukkan hal itu, Karan! Kau tidak bisa melakukan ini seenaknya. Kau butuh persetujuan dariku!” tentang Raya dengan sangat berani. Entah mengapa rasa takut akan diri Karan mendadak hilang malam itu. Selama ini ia sudah cukup bersabar dengan tingkah aneh Karan. Pria itu mengurungnya, mengikat tangannya saat mereka berhubungan badan, bahkan sampai merampas kebebasannya dengan tidak mengizinkannya bekerja. Raya mencoba menahan semua itu hanya demi mempertahankan pernikahan mereka. Ia pikir waktu akan mengubah segalanya. Mungkin setelah saling mengenal, Karan bisa berubah. Ya, pria itu memang sempat berubah, tapi hanya sementara. Dan Raya kecewa karena merasa begitu tertipu.


“Sejak kapan seorang suami harus meminta persetujuan saat menyentuh istrinya sendiri?” Karan meledak. Ia begitu emosi. Seluruh sel dalam tubuhnya disentak oleh keinginan dasarnya sebagai seorang pria. Ia butuh Raya untuk memenuhi keinginan itu. Karan tidak dapat mengerti mengapa Raya menolaknya. Lebih parahnya Karan harus meminta izin pada Raya hanya untuk berhubungan badan dengan istrinya itu. Apakah ini masuk akal? Di aturan mana pun tidak ada yang hukum yang mengatur masalah tersebut.


“Tapi kau harus meminta izin jika kau menghargai istrimu, Karan. Itu aturan moral yang sangat mendasar.”


“Moral katamu? Hahaha!” Karan tertawa. Ia bangkit dari tubuh Raya dan duduk di pinggiran ranjang. “Aku tidak tahu kau sangat peduli dengan moral. Apakah pendidikan moralmu sangat baik hingga kau mencium bibir laki-laki yang bukan suamimu? Luar biasa Raya! Kau berbicara moral saat kau berselingkuh dariku. Kau tahu, moralmu sama hancurnya dengan moralku. Kita adalah pasangan terburuk yang pernah ada.”


Ini selalu menjadi pertanyaan besar bagi Raya. Mengapa Karan begitu marah padanya? Oke, anggap saja ia salah karena telah menimbulkan skandal hingga pria itu menuduhnya berselingkuh meskipun ia sama sekali tidak berselingkuh. Tapi, apakah Karan harus semarah ini? Lagi pula, Raya yakin Karan juga tidak menganggap bahwa ia telah menduakannya. Ada masalah lain yang membuat Karan begitu marah. Masalah yang menimbulkan kebencian di manik cokelat sang suami sejak awal pernikahan mereka. Raya mulai menyadari sesuatu. Sepertinya ada yang tidak beres dengan hubungannya bersama Karan. Mungkin ini ada kaitannya dengan apa yang terjadi di masa lalu. Raya harus mencari tahu lebih banyak agar ia bisa menyelesaikan inti permasalahannya.