Lies

Lies
Sumber Masalah



Karan pikir pertemuannya dengan wanita itu akan selesai satu hari saja. Ia pikir ia hanya akan memandang wajah orang itu sekali saja tiga hari yang lalu. Pertemuan yang membuat Raya harus pergi dari rumahnya. Yang membuat Karan harus berpisah dengan istrinya sendiri. Selama tiga hari pasca pertemuan itu dan Raya meninggalkan rumah, Karan sama sekali tidak bisa hidup dengan tenang. Ia kesulitan setiap kembali ke rumah mereka. Rumah itu terasa hampa. Dan untuk pertama kalinya seumur hidupnya, Karan berpikir rumah itu terlalu besar untuknya.


Karena kesulitan, Karan pun jarang kembali ke rumah. Mungkin hanya dua kali dalam tiga hari ini. Itu pun hanya dua jam saja untuk berganti pakaian. Malah seharian penuh hari ini, Karan belum pulang ke rumahnya. Ia lebih memilih memakai pakaian yang baru dibeli dari butik langganannya dan tidur di hotel terdekat ketimbang pulang ke rumah. Karan tidak sanggup ada di sana, tempat di mana bayangan Raya menari-nari di sana. Aroma vanila wanita itu dan suara lembutnya. Karan merasa tertekan dengan semua itu sehingga ia lebih memilih menghindari bangunan mewah itu dan menghabiskan waktu dengan bekerja. Persis seperti yang dulu selalu Karan lakukan sebelum menikah dan di awal pernikahan mereka.


Uang puluhan juta yang Karan berikan rupanya tidak cukup untuk wanita itu. Ia kembali lagi ke kantor Karan. Tentunya dengan membawa hal yang sama, ancaman. Dengan senyuman yang tercetak di bibir merah menyala itu, wanita bernama Dona itu masuk ke ruangan Karan. “Hallo, Karan. Apa kabar?” katanya yang dengan tidak tahu malu menyapa Karan tanpa embel-embel panggilan kehormatan. Dona memang usianya jauh lebih tua ketimbang Karan, tetapi tidak berarti ia berhak memanggil Karan seperti itu, panggilan yang seolah-olah menunjukkan keakraban mereka.


“Kenapa kau datang ke sini lagi? Bukankah uang yang aku kirimkan itu sudah cukup untukmu?” tukas Karan ketus. Tidak ada ekspresi apa pun yang Karan tunjukkan detik itu selain rasa kesal. Padahal ia sudah memberikan uang sesuai dengan apa yang diinginkan wanita itu. Jadi, tidak bisakah wanita itu pergi saja dari hidupnya? Lagi pula, tidak ada gunanya wanita itu berkeliaran di sekitar Karan dan menyebarkan ancamana ke mana-mana. Karena saat rumor itu terkuak, bukan hanya Karan yang hancur. Wanita itu pun akan sama hancurnya dengannya. Yang terparah, akibat perbuatannya di masa lalu, Karan yakin wanita itu tidak akan pernah pergi dari Indonesia untuk selama-lamanya.


“Hey, ayolah. Aku hanya ingin menemui anak didikku saja. Hanya ingin melihat bagaimana dia berkembang. Kemarin aku terburu-buru sehingga tidak bisa melihat wajahmu dengan intens. Sekarang, aku sudah melihatnya dengan jelas. Kau begitu tampan, terutama dengan papan nama bertuliskan Karan Reviano itu. Kau hidup dengan nyaman rupanya sekarang.” Dona dengan sangat berani duduk di depan kursi yang berada di depan meja kerja Karan. Ia tidak peduli bagaimana Karan menatapnya sekarang, yang terlihat bak seekor predator yang sedang mengincar buruannya. Dona justru tersenyum karena merasa bernostalgia akan masa lalu di mana sorotan mata Karan akan tampak seperti itu setiap kali bertemu dengannya. “Jangan tatap aku begitu intens, Karan. Atau kau membuatku berdebar dan ingin mencium kelopak matamu yang cantik itu.”


“Hoeekkk!” Seketika Karan merasa mual. Perutnya bergejolak tepat setelah Dona selesai berbicara. Susah payah ia menenangkan dirinya agar tidak terlihat lemah di depan Dona sebab itulah yang diinginkannya. Wanita itu ingin melihat Karan lemah sehingga ia bisa mengeksploitasi kelemahannya. Setelah itu, ia akan bersenang-senang dengan kelemahan Karan. “Berhenti berbicara konyol! Keluar dari tempat ini sebelum aku memanggil mantan rekan kerjamu ke sini,” ancam Karan, ingin membuktikan bahwa ia bukanlah pemuda polos nan luga seperti 12 tahun lalu. Ia juga bisa memberikan perlawanan ... sesuatu yang tidak bisa Karan berikan sewaktu ia masih remaja.


Sayangnya ancaman Karan itu tidak terlalu berpengaruh untuk Dona. Wanita itu tampaknya sudah bisa menduga apa yang hendak Karan katakan. Itulah sebabnya ia punya sesuatu yang bisa melawan sang CEO. “Ya, dengan uang dan status keluargamu sekarang kau bisa memanggil mereka dalam hitungan detik. Aku yakin reputasimu akan kembali meningkat meskipun masa lalumu terbongkar. Tapi Karan, apakah istrimu tahu siapa dirimu sebernarnya? Apa dia akan tetap bisa menerimamu?” Dona berhenti sejenak. Ia mencondongkan tubuhnya dan merendahkan suaranya. “Terlebih apakah istrimu yang super model itu menerima kenyataan tentang ... kehidupan biologismu?”


Itu ancaman yang menohok bagi Karan karena hanya itulah yang Karan takutkan. Persetan dengan reputasinya meskipun selama ini, selama bertahun-tahun ia bekerja keras agar bisa menjaga citranya di depan masyarakat. Semua hanya demi keluarganya, demi ayah dan ibunya. Jika dengan kehilangan reputasi baiknya itu berarti Karan harus kehilangan orang tuanya tapi ia bisa terbebas dari Dona, Karan rela menerimanya. Orang tuanya memang penting, tetapi Raya jauh lebih penting dari mereka. Sang istri memiliki posisi paling atas dalam skala prioritas Karan, bahkan jauh lebih penting dari hidupnya sendiri.


“Jadi, apa maumu?” tanya Karan. Ia akan membuat sebuah negosiasi untuk yang terakhir kalinya. Ia sudah jengah hidup dalam lingkup bayang-bayang Dona. Traumanya yang begitu besar akibat perbuatan wanita itu, tidak bisa lepas hanya dalam hitungan hari. Mungkin ia bisa berdamai dengan masa lalunya jika ia berhasil menyingkirkan Dona, baik menyingkirkan dalam arti halus ataupun kasar. Melenyapkan satu orang bukanlah perkara sulit bagi Karan. Dengan uang, ia bisa mengontrol apa pun, termasuk hukum. Ia sama sekali tidak takut meskipun Dona adalah mantan anggaota polisi.


“Kau tahu apa yang membuatku begitu menyukaimu? Kau sangat pintar. Yah, selain wajahmu yang tampan dan manis itu. Kau juga tidak suka basa-basi, persis seperti yang kau lakukan dulu setiap aku menemuimu.”


Kedua mata Karan menyalak. “Sampai kapan kau terus mengoceh di dalam ruanganku? Kalau kau tidak mau mengatakan apa pun, dalam hitungan ketiga, aku akan menghubungi polisi.”


Nada bicara Dona masih sama dengan dulu. Begitu otoriter dan sangat memerintah. Padahal status dan kedudukan Karan dan Dona sudah berbeda jauh dari sebelumnya. Sekarang, Donalah yang memiliki status begitu rendah. Wanita itu seorang pelaku kejahatan yang sedang dicari polisi. Meskipun tidak tersiar secara massif di media massa, tetapi Karan memiliki beberapa orang anggota kepolisian yang menjadi orang kepercayaannya. Karena itulah yang diajarkan oleh sang ayah bahwa seorang pengusaha yang sukses tidak hanya mampu bernegosiasi orang-orang di dunia bisnis, tetapi juga mampu berkompromi dengan orang-orang dunia hukum. Karena cepat atau lambat, Karan akan membutuhkan bantuan para penegak hukum untuk menyelamatkannya atau menyelamatkan usahanya.


“Kau yakin tidak akan kembali lagi ke Indonesia jika aku memberikanmu uang?” Karan mencoba memastikannya sendiri.


Dona mengangguk. “Kau tahu bagaimana hidupku sekarang. Aku tidak akan kembali lagi ke sini jika harus berada di tempat itu.” Maksudnya di balik jeruji besi alias penjara. Tempat yang seharusnya ia jaga sebagai polisi yang pernah bekerja di lapas. Tidak terbayangkan di benaknya jika ia malah berada di sana seperti para penjahat yang pernah ditahan olehnya.


Karan tidak punya pilihan selain menuruti permintaannya. Ia mengambil sebuah cek dari dalam laci dan menuliskan nominal 500 juta di atas cek itu. “Aku tidak bisa memesankanmu tiket pesawat. Kau tahu bagaimana pengawasan keluargaku. Tapi aku akan memberikanmu uang lebih. Kau bisa menyuruh orang untuk memesankanmu tiket pesawat dengan uang itu.” Tidak masalah jika kehilangan uang setengah miliar rupiah untuk membereskan masalah ini. Bahkan, Karan bisa menggelontorkan lebih banyak uang agar bisa membersihkan Dona dari hadapannya.


Melihat nominal uang sebanyak itu, Dona pun menyeringai. Ia merasa senang. “Baiklah, terima kasih. Memang tepat sekali alasanku untuk menemuimu. Kau tidak pernah mengecewakanku sama sekali.”


Karan begitu jijik melihat wajah wanita itu. Jangankan melihat wajahnya, sekadar mendengar suaranya pun Karan tidak sanggup. Perutnya mulai bergejolak dan rambut-rambut halus di sekujur tubuhnya mendadak berdiri. Perasaan jijik itu menghantui Karan, membuatnya ingin cepat-cepat berlari ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Setiap menghirup aroma mawar yang begitu pekat dari Dona—aroma yang sama dengan belasan tahun lalu, kepala Karan seperti mau meledak. Terasa pusing dan sakit sekali.


Dona adalah sumber masalah terbesar Karan. Sumber trauma yang membuat Karan berubah menjadi seperti sekarang. Wanita yang membuat Karan tidak bisa memeluk wanita mana pun di muka bumi ini, kecuali Raya. Hanya istrinya itu saja yang bisa memutus rasa jijik Karan terhadap wanita. Itu adalah hal yang harus disyukuri Karan kendati pria itu tidak tahu apa penyebab pastinya. Yang penting sekarang, Karan sudah berhasil menyingkirkan Dona dari hidupnya.


Setelah ini, tidak akan ada yang mengganggunya dan kehidupan pernikahan mereka. Yang harus Karan lakukan adalah menemui Raya, memberikan penjelasan kepada wanita itu dan meminta maaf. Ia yakin istrinya tidak akan terlalu marah padanya setelah mendapatkan penjelasan. Raya akan segera kembali ke pelukannya lagi. Dan Karan sangat tidak sabar ingin segera menjemput Raya. Sudah cukup Karan merasa menderita selama beberapa hari berpisah dengan wanita itu. Sekarang Karan sangat membutuhkan Raya, termasuk untuk menghilangkan rasa jijik yang menyakitkan itu akibat bertemu dengan Dona.


Raya membutuhkan Raya untuk memeluknya dan mencium bibirnya. Karan butuh aroma vanila yang menyeruak dari tubuh Raya untuk menggantikan aroma mawar yang menyesakkan ini. Ah, alangkah ia merindukan wanita itu. Mungkin saat bertemu nanti, ia akan langsung menghamburkan tubuhnya ke dalam pelukan sang istri.