
Lima belas menit kemudian Karan masuk ke dalam ruangannya. Di sana ia mendapati Raya sedang duduk di atas sofa sambil menonton televisi yang ada di ruangan itu. Apa yang sedang ditonton wanita itu hingga terlihat begitu serius? Karan mendekatinya. Langkah kaki pria itu pun tidak didengar oleh Raya. Ini sangat mengherankan dan menimbulkan rasa penasaran yang besar pada Karan. Saat ia sudah berada di dekat Raya, ia baru melihat apa yang dilihat oleh wanita itu. Ternyata Raya sedang menyaksikan sebuah film lama tentang bayi yang kabur dari para penjahat. Film yang biasanya tayang di televisi setiap hari libur datang. Karan saja yang super sibuk sudah menonton film itu setidaknya dua kali. Apakah Raya tidak pernah menonton film ini sebelumnya hingga wanita itu terlihat begitu antusias menontonnya?
“Raya,” panggil Karan pada akhirnya karena tidak sabar menunggu film itu selesai. “Apa kita bisa pergi sekarang?”
Dengan malas Raya mengalihkan wajah dari televisi ke arah sang suami. “Sekarang? Tidak bisakah kita pergi setelah film ini habis?” pintanya. Entah mengapa Raya ingin sekali menonton film itu lagi. Ya, lagi karena nyatanya Raya sudah pernah menonton film itu dulu, sewaktu ia masih kecil. Namun entah mengapa sekarang Raya ingin lagi menonton film itu. Meskipun ia bisa menontonnya di rumah, ia tetap ingin menyelesaikannya sekarang, di tempat ini, di ruangan Karan. Ini aneh, Raya sendiri tidak tahu mengapa ia bisa bersikap seperti itu.
“Kau mau menonton film itu sekarang? Sampai habis?” tanya Karan lagi tidak percaya.
Raya mengangguk cepat. “Ya. Dan sekalian saja kita makan siang di sini. Bagaimana?”
Padahal Karan ingin mengajak istrinya makan siang di luar, di tempat yang sudah ia pesan. Tetapi, Karan tidak bisa memaksa sang istri ketika wanita itu memilih untuk lebih lama berada di dalam ruang kerjanya. Karan hanya bisa mengalah. “Baiklah, tapi setelah makan siang, kita harus pergi ke butik,” serunya. Setelah mendapatkan persetujuan berupa sebuah anggukkan kepala dari Raya, Karan pun menelepon sekretarisnya untuk memesankan dua set makan siang untuknya dan Raya. Dan meminta sang sekretaris mengantarkannya ke dalam ruangan.
Usai memesan makan siang, Karan melepaskan jasnya. Biasanya sebelum memulai aktivitas, Karan akan menghisap satu batang rokok. Begitu ia mencari dan tidak mendapati benda itu di atas meja, mata Karan langsung tertuju pada kotak sampah yang ada di dekat meja kerjanya. Ternyata benar. Benda yang terbuat dari tembakau itu sudah berada di dalam sana beserta pemantik emas bergambar naga milik Karan. Alih-alih merasa marah, Karan justru tersenyum. Raya sama sekali tidak berubah. Wanita itu tetap memperhatikan kesehatannya.
Karan pun hanya bisa mengembuskan napas sambil duduk di kursinya. Ia mengambil ponsel dan membuka berita terbaru yang ada di sana. Bibirnya kembali menyunggingkan sebuah senyuman ketika gambar Raya muncul di berbagai portal berita dunia hiburan. Isinya tentang Raya yang mengunjungi perusahaan Karan. Tidak ada hal unik yang dapat dikabarkan oleh media dan wartawan, tetapi anehnya sudah ada ribuan masyarakat yang membaca artikel itu. Memangnya ada yang salah ketika seorang istri mengunjungi perusahaan suaminya? Mengapa masyarakat sangat peduli dengan masalah itu? Seperti tidak ada hal penting yang bisa dibaca saja.
Dua puluh menit kemudian, makanan yang dipesankan Karan datang ke ruangannya. Pria itu menyusunnya di meja makan, lalu berbicara kepada Raya yang masih saja asyik menonton televisi seperti seorang anak kecil yang tidak pernah menonton televisi. “Raya, ayo makan dulu. Kau bisa makan sambil menonton,” seru laki-laki itu sambil menyerahkan sebuah kotak berisi makanan kepada Raya.
Raya melihat sekilas. Ia mengambil kotak itu dan mulai menyendok makanannya. Belum sampai sendok itu menyentuh bibirnya, Karan sudah bersuara lagi. “Tunggu! Ada kerang di sana. Jangan dimakan!” larang Karan secara mendadak. Raya mengernyit, lalu memandangi isi sendoknya. Ternyata benar ada kerang di atas sendoknya. Karena ia sibuk menonton, ia sampai tidak tahu bahwa ia nyaris saja memakan makanan yang akan membuatnya alergi.
“Maaf, aku tidak tahu sekretarisku akan memesan makanan yang terbuat dari kerang. Ini, tukar saja dengan punyaku.” Kebetulan Karan memesan sushi dan baru memakan satu potong makanannya saja. Meskipun tidak sebanyak makanan yang ada di kotak milik Raya, untuk sekadar mengisi perut selama jam makan siang sepertinya tidak terlalu bermasalah. Pria itu pun menukar kotak makan mereka.
“Kenapa ditukar?” ujar Raya bingung.
Kedua mata Raya membelalak sempurna. Benar, ia memang tidak bisa makan kerang. Ia punya alergi tentang makanan laut itu. Walaupun pada akhirnya Raya sudah bisa memakannya sekarang karena terus-menerus melatih dirinya, ia tetap mengalami gejala alergi itu. Setidaknya tangannya akan muncul bitnik-bintik merah tepat beberapa saat setelah mengonsumsi makanan yang terbuat dari kerang, dan Raya akan memakan obat untuk menghilangkan ruam-ruam tersebut. Masalahnya adalah tidak ada satu orang pun yang tahu mengenai hal tersebut, kecuali sang bibi. Bahkan, manajer yang selama ini menemani Raya pun tidak tahu. Raya sudah dipaksa sang bibi untuk menghilangkan semua kelemahan dirinya agar bisa menjadi orang yang sukses. Dan alergi terhadap makanan tertentu dinilai kelemahan bagi adik dari ibu kandung Raya itu.
“Bagaimana kau bisa tahu aku tidak bisa makan kerang?” cetus Raya bertanya. Sejak lama Raya merasa aneh dengan Karan. Pria itu seolah-olah begitu mengenal dirinya luar dan dalam. Memahaminya dan tahu informasi-informasi pribadi yang bahkan manajernya saja tidak tahu. Dari mana Karan mengetahui semuanya? Tidak mungkin bibi Raya menceritakan mengenai hal itu kepada Karan, hal yang wanita paruh baya itu pikir sebagai kelemahan Raya. Sudah lama sang bibi menutupinya, lantas apa yang membuat wanita itu membuka mulut kepada Karan?
“Ya?” Karan tak kalah terkejut. Tentu saja ia tahu mengenai hal itu sejak lama, lebih dari 12 tahun yang lalu. Karan tahu tentang apa saja yang Raya sukai dan benci, bagaimana mungkin alergi Raya terhadap kerang tidak ia ketahui? Masalahnya sekarang ialah bagaimana Karan menjelaskannya pada Raya? Jika ia mengatakan hal yang sebenarnya, istrinya itu tidak akan bersama dengannya lagi. “Ah itu. Aku tahu dari Anna. Kau pernah bilang padanya kalau kau tidak bisa makan kerang. Apa kau lupa?”
“Apa? Bibi?” Kening Raya mengernyit lagi. Seingatnya ia tidak pernah mengatakan perihal alerginya pada Anna. Atau apakah ia lupa dan pernah bercerita pada asisten rumah tangga mereka itu? Walaupun dirasa tidak mungkin, Raya tetap bisa menerima alasan itu. “Oh begitu. Aku pikir kau tahu tentang itu karena kita saling mengenal di masa lalu. Mungkin dulu kita pernah bertemu dan berkenalan.”
Tidak hanya berkenalan, tapi juga menjalin hubungan asmara. Dan hey! Sejak 12 tahun yang lalu hingga sekarang seingat Karan, Raya tidak pernah menyampaikan pernyataan bahwa mereka sudah putus. Sekalipun Karan dan Raya tidak menikah, Raya tetap kekasih Karan karena mereka tidak pernah memutuskan hubungan mereka. Artinya, Raya yang telah bergonta-ganti pasangan adalah pengkhianat karena sudah berselingkuh padahal Raya masih memiliki hubungan yang belum terselesaikan dengan sang CEO.
“Kalau itu terjadi, apa yang kau lakukan?” celetuk Karan menanggapi.
“Maksudmu kemungkinan kita bertemu di masa lalu? Hm ... rasanya tidak mungkin. Meskipun aku tidak begitu ingat tentang pengalamanku di masa lalu, tapi aku rasa aku tidak pernah bertemu dengan laki-laki bernama Karan Reviano.”
Makanan yang tadinya hendak masuk ke dalam mulut Karan berhenti sejenak di depan bibir laki-laki itu. Ia terkejut dan tersentak hingga sendoknya nyaris terlepas dari tangan jika Karan tidak menarik lagi kesadaran dirinya. Pria itu terkejut atas pengakuan Raya bahwa istrinya itu tidak terlalu ingat tentang masa lalunya. Raya tidak ingat pada dirinya. Ini sungguh menyakitkan padahal tidak pernah sedetik pun Karan lupa pada sosok Raya. Bagaimana dengan mudahnya Raya malah melupakannya? Setelah pengkhianatan itu? Setelah apa yang Raya lakukan padanya?
Karan benar-benar tidak menyangka Raya bersikap sangat kejam padanya. Dan mulai sekarang, Karan akan mencoba untuk memulihkan ingatan Raya tentang masa lalu. Baik itu secara halus maupun kasar. Karan tidak peduli jika ia harus bersikap kejam, yang ia inginkan hanyalah Raya merasakan apa yang ia rasakan selama belasan tahun. Merasakan bagaimana menderitanya menjalani hari dibayangi trauma masa lalu dan selalu terikat dengan apa yang terjadi di masa lampau.
“Itu sangat curang, Raya. Curang! Jika aku harus mengalami semua penderitaan itu selama ini, maka kau harus mengalami hal yang serupa. Persetan kau lupa atau ingat tentang aku, tapi kau harus ingat bahwa apa yang sudah kau perbuat di masa lalu tidak akan mudah termaafkan olehku,” kata Karan di dalam hatinya. Inilah saatnya Karan mematikan hati nurani dan rasa ibanya terhadap Raya. Karan harus membalaskan dendamnya dengan cara yang kejam.