Lies

Lies
Sesuatu yang Mengganjal



Jalan Asoka. Raya tidak tahu dengan jelas alamatnya, tetapi ia tahu persis bahwa ia pernah tinggal di sana. Alamat itu selalu terngiang-ngiang di kepalanya. Tidak ada pilihan lain. Raya harus mengunjungi tempat itu. Tetapi, tentu saja harus dengan izin suaminya. Karan tidak akan membiarkan ia pergi ke mana pun tanpa pemberitahuan. Raya pun langsung meminta persetujuan dari suaminya. “Apakah kita bisa mengunjungi beberapa lembaga ini, Pak? Saya ingin melihat operasional yayasan dengan baik.” Bagus sekali, Raya memberikan alasan yang begitu bagus. Sekarang, ia bisa dengan mudah mencari alasan demi memenuhi rasa ingin tahunya. Mungkin karena ia belajar dari sang suami bagaimana caranya memanipulasi orang lain.


“Mengunjungi beberapa lembaga? Itu ide bagus, Sayang. Kita akan mengunjungi beberapa lembaga. Pilih saja lembaga yang ingin kau kunjungi. Aku akan mengatur waktu untuk menemanimu.” Karan tidak merasa keberatan sama sekali. Ia memang berniat menemani Raya, utamanya ke suatu tempat. Tempat yang akan sangat diingat Raya. Tempat tinggal wanita itu dulu. Ini juga salah satu alasan mengapa Karan menjadikan Raya sebagai direktur yayasannya. Di samping ingin bekerja di dalam satu lingkup yang sama, Karan juga ingin membuat Raya teringat masa lalu. Masa-masa di mana wanita itu pernah meninggalkannya dengan begitu kejam.


“Oke, saya akan memilihnya. Kapan kira-kira Anda ada waktu Pak?”


“Aku tidak bisa memutuskannya sendiri, Sayang. Aku memang ingin menemanimu sepanjang hari, sayangnya Ian pasti akan marah padaku. Jadi, kita tunggu jadwal Ian saja.” Karan tiba-tiba berdiri dari kursi Raya. Ia menarik tangan istrinya dan membawa wanita itu duduk di kursi yang tadi ia duduki. “Aku harus pergi ke ruanganku dulu, Sayang. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan Ian. Kau baca saja dokumen-dokumennya. Jam makan siang aku akan datang ke sini lagi supaya kita bisa makan siang bersama.”


Raya mengangguk. Kemudian, ia teringat sesuatu. Pasti bibinya tahu sesuatu. Wanita yang diperkenalkan sebagai ibunya di depan media itu pasti tahu masa lalu dirinya. “Eem, Pak, apakah saya boleh pakai ponsel saya lagi? Ada beberapa hal yang saya ingin saya pastikan.” Ini terdengar gila memang. Bagaimana mungkin Raya meminta izin kepada suaminya sendiri hanya untuk menggunakan ponselnya? Ya, jika orang lain mendengarnya. Tetapi bagi Raya, hal ini merupakan hal yang lumrah. Ketimbang ia tidak bisa menggunakan teknologi yang memudahkannya berhubungan dengan dunia luar, Raya lebih suka bernegosiasi dengan suaminya.


Karan menepuk puncak kepala Raya. “Ya, tentu saja. Pakailah, selama kau tidak menggunakan benda itu untuk merencanakan pelarian dirimu dariku, aku akan mengizinkannya.”


Lagi-lagi masalah pelarian diri. Raya benar-benar heran mengapa Karan selalu takut ia melarikan diri darinya. Memangnya apa yang dilakukan Karan hingga ia akan pergi? Benar, Karan tidak memperlakukan Raya dengan baik. Ada kalanya perilaku laki-laki itu di luar nalar dan terkesan sangat berlebihan, terlebih jika itu berkaitan dengan kedekatan Raya dengan pria lain. Karan begitu posesif. Rasa cemburunya berada di atas rata-rata pasangan lain. Tetapi selama Raya tidak memancing hal tersebut, Karan tidak akan memperlakukannya dengan kasar. Malah sebaliknya, pria itu terkesan sangat memanjakannya kendati hanya sebatas materi saja.


“Saya tidak akan melarikan diri, Pak. Ke mana saya bisa pergi jika saya sudah punya suami seperti Anda?” Raya mencoba untuk membuat Karan tenang. Kata-katanya begitu manis, tetapi tidak dengan jejak masa lalunya. Karena pada kenyataannya, Raya memang sempat melarikan diri. Pikiran untuk kabur dari Karan pun sempat beberapa kali muncul di benaknya. Meskipun semakin hari pemikiran itu semakin berkurang karena pada dasarnya Raya enggan membuat masalah.


“Bagus Sayang. Aku suka kau mengatakan itu. Aku pergi dulu,” pamit Karan. Sebelum meninggalkan tempat itu, Karan mencium bibir Raya singkat. Persetan dengan kantor. Ini adalah perusahaan milik keluarga Reviano, yang artinya juga merupakan perusahaan miliknya. Tidak akan ada orang yang bisa memprotes apa pun yang ia lakukan di sana.


Selepas kepergian Karan, Ian datang ke ruangan Raya untuk mengantarkan ponsel sang super model yang ditahan oleh Karan. Ini memang menyebalkan, sayangnya Raya tidak punya pilihan lain. Ia sudah memilih Karan sebagai suaminya. Ia pun harus bersabar dengan segala keterbatasan yang dibuat oleh Karan. Yang penting sekarang Raya bisa menghubungi sang bibi. Penting baginya untuk mendapatkan informasi mengenai jalan Asoka tersebut.


“Tante, selamat pagi. Apa Tante baik?” seru Raya begitu adik kandung sang ibu mengangkat panggilan teleponnya.


Sang bibi pun menjawab, “Ya, Tante baik. Bagaimana denganmu? Apa kau baik-baik saja? Kenapa kau tidak pernah menghubungi Tante lagi? Masa Tante harus tahu kabarmu dari televisi?”


“Aku minta maaf, Tante. Aku sangat sibuk belakangan ini. Tapi aku baik-baik saja. Dan Tante, sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan. Aku harap Tante mau menjawabnya.” Entah mengapa Raya mempunyai firasat yang tidak baik dengan ini. Ia menduga bibinya tidak akan berkata jujur sekalipun sang bibi tahu apa yang terjadi sebenarnya. Kendati demikian, Raya tetap akan bertanya pada wanita itu agar rasa penasarannya bisa terjawab. Setidaknya, Raya sudah bekerja keras mencoba mencari tahu tentang masa lalunya yang mendadak terhapus dalam ingatannya.


“Begini Tante, sekarang aku diminta suamiku untuk menjadi direktur yayasan perusahaan. Dan aku sedang memeriksa beberapa dokumen. Rencananya aku akan mengunjungi beberapa lembaga yang mendapatkan bantuan dari yayasan, salah satunya panti asuhan yang ada di jalan Asoka. Tante tahu alamat itu? Bukankah sepertinya aku pernah tinggal di sana, Tante?”


Hening, tidak ada jawaban sama sekali. Jika bukan karena suara napas yang terdengar dari ujung panggilan, Raya berpikir mungkin panggilan mereka terputus tanpa sebab. Untung saja Raya tidak cepat-cepat mematikan panggilannya. “Tante? Apa Tante mendengarku?” seru Raya.


“Ya, Tante dengar. Tapi Raya, Tante tidak tahu tentang alamat itu. Jalan apa tadi? Jalan Asoka ya? Tante tidak pernah ke sana. Ya, kita memang serba kekurangan sejak dulu, tapi kita tidak begitu miskin hingga kita pernah tinggal di daerah kumuh seperti itu. Jadi, jangan terlalu dipikirkan. Lakukan saja pekerjaanmu.”


Ya, rasanya memang daerah kumuh seperti wilayah di jalan Asoka sangat jauh dari gaya hidup sang bibi. Seperti yang wanita paruh baya itu sebutkan, kendati mereka tidak terlalu kaya, mereka tetap tinggal di lingkungan yang layak. Para tetangga mereka dulu juga menyebutkan bibinya tidak pernah pindah selama 30 tahun, dan terkejut begitu Raya memboyongnya ke rumah yang baru. Mereka merasa kehilangan sosok sang bibi yang meskipun blak-blakkan, tetapi sangat perhatian dengan lingkungan sekitar.


Tetapi, Raya merasa tetap ada yang mengganjal di hatinya. Ia tahu bibinya tidak pernah tinggal di sekitar jalan itu, sayangnya perasaan Raya tetap gigih bahwa ia adalah bagian dari jalan Asoka. Ini adalah dilema yang tidak bisa Raya jelaskan. “Apa benar kita tidak pernah ke sana, Tante? Mungkin aku pernah sekolah di sana?”


“Tidak mungkin, Raya. Kau ingat kau SMA di mana? Di sekolah swasta mahal. Kau dapat beasiswa karena anak yang lumayan pintar. Jadi, kenapa kau sekolah di sana?”


“Tidak Tante. Aku hanya merasa pernah tinggal di sana.”


“Sudahlah, Tante bilang jangan berpikiran aneh-aneh. Sekarang cukup lakukan saja apa yang bisa kau lakukan di masa ini. Pikirkan juga masa depanmu. Kau sudah punya suami, itu harus menjadi prioritasmu seperti yang selama ini kau inginkan. Kau sudah hidup seperti Ratu bukan? Bagaimana? Apa itu sebaik apa yang kau idam-idamkan selama ini?”


Raya merasa sang bibi sedang mengalihkan pembicaraan, tetapi Raya meladeni wanita paruh baya tersebut. Ia menjelaskan dengan baik bagaimana Karan memperlakukannya. Tentu dengan sedikit diperhalus dan menghilangkan beberapa fakta, terutama bagaimana perlakuan kasar Karan di atas ranjang. Juga bagaimana sikap posesif Karan yang begitu dominan dan lebih terlihat seperti sebuah obsesi. Raya hanya menceritakan kebaikan-kebaikan Karan. Pertama agar sang bibi tidak merasa khawatir, kedua untuk membohongi dirinya sendiri dengan mengatakan bahwa Karan adalah suami yang begitu baik.


Kemudian, percakapan pun selesai. Raya memutus panggilan mereka setelah tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Sepertinya Raya butuh datang ke sana secara langsung. Mungkin dengan melihat keadaan di sekitar jalanan itu, Raya akan ingat sesuatu. Atau mungkin Raya butuh melihat dokumen-dokumen pribadi miliknya, termasuk identitas orang tuanya.


Raya memang bergabung dengan kartu keluarga sang bibi, tetapi nama ayah dan ibu kandung Raya masih tercantung di sana. Mungkin Raya bisa bertanya dengan penduduk sekitar tentang identitas orang tuanya. Ya, itu cara yang termudah karena Raya masih tidak yakin ia tidak punya ikatan emosional dengan alamat itu. Sebab setiap menyebut kata ‘jalan Asoka’ dadanya bergemuruh. Seperti ada rasa benci, kesal, rindu dan juga rasa takut.