
Itu memang foto Karan kecil. Raya yakin dengan pasti. Jika dilihat dari gambar itu, tampak sekali Karan begitu bahagia di sana. Tidak ada tanda-tanda kesedihan apalagi penderitaan karena penyakit apa pun. Mungkin seperti Karan desawa yang sekarang, kendati Karan dewasa tampak lebih menyebalkan dan kejam. Raya benar-benar ingin tahu lebih lengkap cerita masa kecil Karan, jauh lebih lengkap dari yang diceritakan oleh bibi Karan. Sekarang adalah saatnya. Raya akan menunggu sang suami buka suara. Mungkin setelah ini hubungan mereka akan bertambah harmonis. Raya bisa mengerti latar belakang perubahan sikap sang suami, begitu pun sebaliknya. Dengan begitu mereka bisa meminimalisasikan pertikaian tidak penting.
“Apa yang kau lihat?” cetus Karan saat keluar dari kamar mandi. Pria itu hanya menggunakan handuk di bagian bawahnya yang terang saja menunjukkan tubuh atas Karan yang terbuka. Entah kapan Karan berolahraga. Sepertinya pria itu selalu sibuk di kantor dengan segudang pekerjaannya. Tidak hanya satu perusahaan, Karan juga harus memantau pengelolaan perusahaan keluarga yang memiliki cabang-cabang perusahaan lainnya. Tidak terbayang lagi kesibukan seperti apa yang dijalani laki-laki tersebut.
“Fotomu. Juga foto keluargamu,” sahut Raya. Ia berjalan mendekati suaminya dan menyentuh tangan besar milik pria itu. “Sini, aku akan keringkan rambutmu,” tawarnya. Raya membawa Karan ke tepi ranjang. Dengan tatapan tajam, ia memberikan kode kepada suaminya.
“Apa?” Karan bertanya karena benar-benar tidak mengerti apa yang dimaksud istrinya dengan tatapan itu.
“Duduk di bawah. Aku kan tidak setinggi dirimu, Karan. Bagaimana aku bisa menyentuh kepalamu?” gerutu Raya. Ia memang tidak tahu bagaimana cara mengeringkan rambut Karan seandainya pria itu tetap berdiri.
“Tidak, di bawah dingin. Aku begini saja.” Tidak mungkin Karan duduk di lantai. Selain memang lantai marmer itu terasa dingin, Karan juga belum memakai pakaiannya. Rasanya aneh jika ia harus duduk di bawah tanpa busana sama sekali. Akhirnya pria itu memilih cara lain. Ia membungkuk ke hadapan Raya agar istrinya itu bisa mengeringkan rambutnya seperti yang diinginkannya.
Raya pun tersenyum. Ia senang karena suaminya menuruti keinginannya. “Bagus,” sambungnya. Ia mengambil pengering rambut dari laci nakas, menghubungkannya dengan sumber listrik, lalu menghidupkannya. Dengan terliti ia mengeringkan rambut Karan. “Kau sekolah di mana waktu SD?” tukas Raya dengan suara yang sedikit kencang agar tidak kalah dengan bisingnya suara pengering rambut.
Karan tidak langsung menjawab. Pria itu membutuhkan waktu sekitar 10 detik untuk menanggapi ucapan sang istri. “Aku tidak mengambil sekolah formal. Aku sekolah di rumah. Maksudku Mama dan Papa mendatangkan beberapa guru ke rumah. Dan aku belajar dari mereka.”
Karan memang menceritakan persisi seperti yang Raya dengar dari sang bibi. Tetapi masih ada kejanggalan yang Raya rasakan. Mengapa tiba-tiba Karan begitu terbuka tentang masa lalunya sementara selama ini, Karan selalu menghindari pertanyaan-pertanyaan perihal masa kecil Karan. Tidak hanya dari media, tapi juga pertanyaan yang Raya lontarkan. Apa yang membuat Raya berubah pikiran?
“Kenapa kau tidak mengambil sekolah formal?” Raya berpura-pura bertanya lagi. Ia bertingkah seolah-olah tidak tahu apa-apa tentang masa lalu Karan. Tidak mendengar cerita bibi Karan mengenai penyakit pria itu. Raya hanya ingin Karan berkata jujur. Juga ia tidak akan bosan mendengarnya kendati topik yang dibicarakan tetap sama. Mungkin saja ada informasi tambahan yang diketahui Raya nanti.
Begitu Raya selesai mengeringkan rambutnya, Karan berpaling. Ia membuka lemari dan mengambil pakaiannya. Pria itu sama sekali tidak canggung memakai pakaiannya di depan sang istri. Baginya, Raya sudah melihat seluruh seluk beluk tubuhnya, sudah menyentuhnya bahkan pernah mencakarnya di beberapa tempat. Tidak ada alasan lagi bagi Karan untuk merasa malu ataupun canggung berbusana di depan wanita itu.
“Aku sakit. Pneumonia. Kau pasti pernah dengar nama penyakit itu. Aku menderita penyakit itu sejak kecil, jadi aku tidak bisa sekolah.”
Karan menganggukkan kepalanya. “Ya,” jawabnya. Ia meletakkan handuk di dalam kamar mandi, kemudian mengamit tangan Raya. “Sudah Sayang, jangan bertanya hal-hal tidak penting lagi. Bukankah kau lelah? Kita tidur sekarang?”
“Baiklah,” sahut Raya mengikuti langkah Karan. Ketika pria itu berbaring, Raya pun ikut berbaring. Ia malah memilih menyelinap ke tubuh Karan dan mendekap suaminya. “Kenapa kau baru menceritakan hal ini padaku?”
“Karena ini tidak penting. Masa lalu adalah masa lalu. Tidak perlu diungkit-ungkit lagi.” Karan merasa tertohok dengan kata-katanya sendiri. Benarkah demikian? Bukankah di antara ia dan Raya, Karanlah yang terlebih dahulu mengungkit-ungkit masalah masa lalu mereka. Tidak hanya mengungkit, Karan bahkan satu detik pun tidak pernah lupa perasaan bencinya pada Raya. Sekarang, Karan bingung sendiri dengan hatinya. Ia yakin ia begitu membenci Raya, tapi ketika wanita itu terluka, ia akan marah pada dirinya sendiri. Kalau sudah begitu, bagaimana ia bisa membalas perbuatan Raya?
Raya pun akhirnya terdiam. Ia berpura-pura tertidur. Ya pura-pura karena begitu Karan menutup mata, Raya melepaskan pelukan Karan. “Dia benar-benar sudah tidur sekarang,” celetuknya saat memastikan untuk kesekian kalinya bahwa Karan memang sudah terlelap dalam mimpi.
Ke mana tujuan Raya? Tentu ke lantai bawah, tepatnya di ruang khusus yang ada di dekat gudang, di ujung ruang tamu. Sebelumnya, Raya pernah secara tidak sengaja masuk ke sana. Ibu mertuanya menjelaskan bahwa itu adalah ruangan tempat Karan mengumpulkan mainannya dan semua benda-benda koleksi milik Karan sejak kecil hingga dewasa. Jadi, selain foto keluarga yang menempel di dinding kamar Karan, tidak ada satu pun barang peninggalan Karan sewaktu kecil di sana. Semuanya di letakkan di tempat itu.
Raya berjalan ke sana. Memang sedikit mengerikan karena rumah besar itu begitu sepi. Tidak ada satu pun yang beraktivitas di sana karena semua penghuni rumah sudah terlelap. Mungkin hanya dua satpam di depan saja yang berjaga di posnya. Raya benar-benar sendirian.
Untung saja ruangan itu tidak terkunci. Raya yakin tidak pernah terkunci karena ibu Karan sering sekali mengunjungi ruangan itu. Begitu Raya membukanya, aroma harum tercium dari pewangi ruangan yang ada di dinding. Udaranya pun cukup sejuk karena pendingin ruangan di sana dihidupkan. Mengapa pendingin itu tetap dihidupkan padahal tidak ada orang yang menempati ruangan itu? Apa sebelumnya ada yang datang, tapi tidak sempat mematikan pendingin ruangan?
Anehnya, kendati udara di ruangan itu harum dan sejuk, lampu di sana tetap dimatikan. Raya harus menekan saklar agar bisa melihat apa yang ada di dalam sana. Foto, piala, piagam, mainan, beberapa alat olahraga sampai kursi roda ada di sana. Sepertinya tidak ada satu pun barang milik Karan yang dibuang atau disumbangkan oleh keluarga pria itu. Ketika Raya membuka salah satu lemari, perlengkapan bayi yang sudah lama pun masih tersimpan rapi di sana.
Mendadak Raya merasa takjub sekaligus bertanya-tanya. Untuk apa semua barang Karan masih tersimpan di ruangan ini? Apakah keluarga Karan punya semacam kepercayaan bahwa barang-barang lama, seburuk apa pun itu harus tetap disimpan sebagai bentuk penghargaan? Ataukah ada makna lain yang tersirat di sana? Misalkan barang-barang itu sengaja disimpan untuk diberikan kelak kepada anak Karan, atau cucu dari ayah dan ibu Karan.
Pasalnya, saat menikah dua bulan yang lalu, ibu Karan pernah memberikan salah satu barang berharganya kepada Raya, yaitu sepasang anting emas. Katanya anting itu dulu oleh ayah Karan kepadanya ketika mereka menikah. Sehingga anting-anting itu diturunkan ke pada Raya. Selanjutnya, Raya yakin sang ibu mertua akan menyuruhnya menyerahkan pusaka keluarga itu ke anaknya laki-laki agar sang anak memberikannya kepada pasangannya. Atau Raya harus memberikannya kepada anaknya perempuan jika ia tidak memiliki anak laki-laki.
Saat tengah asyik melihat-lihat lemari berisi perlengkapan bayi, mendadak Raya mendengar suara derap langkah seseorang mengarah ke ruangan itu. Raya tersentak. Siapa itu? Apa yang harus ia lakukan? Haruskah ia bersembunyi atau apakah ia menemui saja orang itu? Bagaimana jika orang itu adalah Karan dan pria itu marah besar padanya? Dada Rasa berdegup tak menentu. Ia tegang, tubuhnya sedikit gemetar ketakutan. Otaknya memerintahkannya untuk pergi, tapi kakinya tidak mau bergerak sejengkal pun seolah-olah kakinya sudah terpaku di atas marmer berwarna putih itu. Raya hanya bisa berdiri membeku dengan keringat membanjiri pelipisnya sementara derap langkah itu semakin mendekati ruangan itu.