Lies

Lies
Masa Lalu yang Disembunyikan?



Kehadiran Karan di tempat itu memancing wartawan untuk mendekat. Mereka telah lama mengincar Karan karena beberapa hal, salah satunya untuk membuat biografi Karan. Pasalnya di antara semua pengusaha selebriti—sebutan bagi pengusaha yang sering wara-wiri di media massa— Karan adalah tokoh yang paling tidak suka membicarakan masalah masa lalunya. Biasanya para pengusaha berbondong-bondong ke media massa guna menceritakan bagaimana pengalaman mereka hingga mendapatkan kesuksesan mereka sekarang. Namun Karan, jangankan untuk menceritakan masa kecilnya, sekadar menceritakan keluarganya pun pria itu tidak mau. Ia berpendapat bahwa itu semua adalah kehidupan pribadinya yang tidak perlu diketahui masyarakat.


Itulah yang membuat spekulasi meluas di masyarakat. Tidak hanya Karan, keluarganya juga sangat enggan diwawancarai. Ini sangat aneh mengingat ayah Karan adalah pemilik media besar. Perusahaannya pun besar dan terkemuka di Indonesia. Berkat itu sang ayah sempat beberapa kali masuk jejeran daftar orang terkaya di Indonesia. Begitu pula dengan ibu Karan. Sebagai seorang mantan penyanyi, sang ibu terkesan sangat menutup diri dari media, tepatnya setelah Karan kembali ke Indonesia beberapa tahun lalu. Ini terbilang aneh karena menurut rekan kerja wanita itu, dulu Karan sering dibawa ke studio rekaman. Mungkin saat Karan berusia tiga atau empat tahun.


Saat mendengar Raya ada di pantai itu, tidak hanya paparazzi yang ingin mengulik kisah Raya, para wartawan bisnis pun berbondong-bondong ke sana untuk menemui Karan. Mereka berharap bisa menemui Karan dan mendapatkan informasi mengenai masa kecilnya. Jika tidak dari laki-laki itu, mereka akan mengejar Raya. Sebagai seorang istri, sudah pasti Raya mengetahui banyak hal tentang Raya.


Begitu melihat kehadiran Raya di lobi hotel, para wartawan mengerubungi sang super model. Mereka mulai mengitari Raya seperti kumpulan semut yang sedang mengerubungi setetes madu. Ada yang membawa kamera foto, kamera televisi yang berukuran besar dan ada pula yang hanya menggunakan ponsel. Benda apa pun yang bisa untuk merekam atau memoto digunakan mereka.


“Mbak Raya ... Mbak Raya sebentar! Sebentar saja!” kata mereka menghambat lajut langkah Raya.


Karena tidak menyewa pengawal, Raya dan sang manajer tidak bisa menahan para wartawan yang berdesak-desakan merapat padanya. Karena khawatir tubuhnya akan terluka, Raya pun mengalah. Ia harus menuruti permintaan wartawan agar ia bisa keluar dari posisi yang menghimpitnya itu.


“Baik, baik. Saya akan menjawab pertanyaan teman-teman semua. Tapi tolong berikan saya ruang agar suara saya bisa terdengar jelas. Apakah bisa?”


Begitulah Raya memulai negosiasinya dengan para wartawan. Seperti dugaannya, wartawan itu menurutinya. Mereka mulai bergerak mundur agar memberikan jarak kepada Raya. Setelah dirasa cukup, Raya meminta petugas hotel yang kebetulan sedang menghampirinya untuk mengambil sebuah kursi. Gunanya supaya para wartawan itu bisa menaruh mikrofonnya di sana.


“Baiklah, hari ini hanya lima pertanyaan saja. Siapa yang ingin bertanya?” seru Raya.


Gemuruh pertanyaan mulai terdengar di ruangan itu. Raya tidak tahu harus memilih yang mana karena hampir semua orang berbicara. Akhirnya Raya menggunakan cara mudah, ia memilih wartawan yang tidak berbicara namun mengangkat tangan. Baginya wartawan itu cukup sopan karena meminta izin padanya terlebih dahulu sebelum bertanya.


“Iya, Mbak dari media X silakan bertanya,” cetus Raya.


Pertanyaan yang diajukan wartawan wanita itu cukup sederhana, namun sering diperbincangkan masyarakat belakangan ini, yakni mengenai Reagan yang sudah kembali ke industri hiburan. Sebagai artis yang dulunya berada di agensi yang sama ditambah beberapa kali pernah menjadi partner kerja, tentu saja banyak yang penasaran dengan pendapat Raya.


Wanita itu pun menjawab, "Tentu saja saya senang. Reagan adalah teman saya, rekan kerja saya. Beberapa kali kami pernah bekerja sama. Melihatnya kembali ke industri hiburan terlebih menjadi lawan main saya dalam video musik ini membuat saya bersemangat. Dan saya ingin masyarakat merasakan semangat kami dengan mendukung karya-karya kami selanjutnya.”


Jawaban yang sangat klise tapi cukup untuk wartawan itu. Raya pun memilih wartawan yang lain. Wartawan itu mengajukan pertanyaan tentang kembalinya Raya menjadi model apakah akan berlanjut atau hanya sementara saja untuk mengisi waktu luang.


“Dikatakan mengisi waktu luang tentu tidak. Saya sangat mencintai pekerjaan saya, teman-teman tahu dengan pasti bagaimana saya bekerja keras setiap hari dulu. Tapi sekarang saya punya prioritas yang lebih besar dari karier saya, yaitu keluarga saya, suami saya. Tentu saya ingin terus bekerja, tapi saya juga tidak bisa mengabaikan prioritas saya. Saya juga berharap dapat membagi waktu dengan baik. Semoga teman-teman bisa menunggu karya-karya saya yang lain di masa yang akan datang.”


Inilah gunanya Raya belajar ‘public speaking’ sebelum menjadi model. Selain kecakapannya di depan kamera dengan menggunakan tubuhnya, Raya juga harus pandai berbicara. Itu penting agar ucapannya bisa teratur dan baik saat diwawancarai wartawan seperti yang terjadi sekarang.


Kemudian, pertanyaan-pertanyaan lain yang muncul hanyalah pertanyaan yang tidak terlalu penting. Tentang kisah cinta Raya dan Karan. Bagaimana kehidupan mereka sehari-hari dan rencana mereka di masa depan seperti kapan mereka akan memutuskan akan memiliki anak. Ada juga yang bertanya perihal Varen yang dikabarkan telah bertunangan dengan wanita lain. Bahkan, ada yang bertanya tentang kehidupan pribadi bibi Raya. Dan berkali-kali Raya menggunakan kemampuan berbicaranya lagi. Wanita itu pun menjawab dengan sangat diplomatis.


“Suami saya punya privasi. Masa lalunya dan semua tentangnya tidak bisa saya ungkapkan sendiri. Saya juga harus menghargai keputusan suami saya tidak mengatakannya ke publik,” jawab Raya.


Sayangnya jawaban itu menjadi blunder bagi sang super model. Para wartawan yang tidak puas terus-menerus mendesak Raya, bahkan tidak segan-segan menghina wanita itu. “Apa jangan-jangan Anda tidak tahu apa-apa tentang Pak Karan? Anda kan baru menikah dengannya, mungkin Pak Karan tidak menganggap Anda dekat.”


Raya begitu emosi mendengar lontaran kalimat itu, tapi yang wartawan itu katakan adalah benar. Raya pun terdesak, tidak bisa mengatakan apa-apa. Ia tidak bergerak dan hanya bisa menatap ke depan, ke arah belasan lampu kamera yang sedang mengarah padanya.


“Istri saya sangat dekat dengan saya. Dia mengenal masa lalu saya lebih dari siapa pun di dunia ini, bahkan lebih dari saya sendiri,” ungkap seseorang dari belakang Raya. Orang itu menghampiri sang super model dan menaruh tangannya di bahu wanita itu dengan mesra. “Maaf aku terlambat, Sayang. Aku harus menjawab telepon penting dari kantor,” sambungnya. Ia juga tidak segan melayangkan sebuah kecupan di puncak kepala Raya.


“Karan ...” celetuk Raya menyebut nama orang itu.


“Ya, maaf aku terlambat,” sahut Karan mengulang permintaan maafnya. “Apa kau kesulitan?”


Raya menggelengkan kepalanya. “Tidak. Mereka adalah orang-orang yang baik. Mereka tidak menanyakan pertanyaan yang menyulitkanku sama sekali,” ujarnya sarkas. Raya tahu bagaimana cara mengendalikan wartawan, termasuk bagaimana cara agar mereka bungkam dalam satu detik.


“Baguslah karena kalau kau kesusahan aku akan repot. Aku harus mengakuisisi banyak sekali media setelah ini.” Karan memiliki maksud tersirat dalam kata-katanya. Ia tidak mau membuat Raya terpojok oleh pertanyaan-pertanyaan para wartawan. Seandainya itu terjadi, Karan akan membeli media tempat para wartawan itu bekerja. Dengan begitu ia akan dengan mudah memecat mereka.


Raya mengalihkan pandangannya ke belasan wartawan itu. “Apakah ada yang ingin rekan-rekan media tanyakan pada saya? Silakan tanyakan pada saya dan tolong jangan mengganggu istri saya. Tolong hormati Raya Drisana sebagai model, bukan sebagai istri seorang Karan Reviano.”


Tentu saja tidak ada yang berani melontarkan pertanyaan tentang kehidupan pribadi Karan karena mereka sudah tahu jawabannya. Tetapi mereka mengajukan pertanyaan-pertanyaan mudah tentang kegiatan Karan selanjutnya.


“Terima kasih sudah mendukung istri saya. Bolehkan saya membawa istri saya ke dalam? Dia butuh istirahat,” kata Karan berpamitan dengan para wartawan. Ia membawa Raya melewati mereka tanpa peduli kalimat protes yang awak media itu layangkan sepeninggalan mereka.


“Kau pasti lelah. Ayo kita ke restoran,” ajak Karan. Berhubung hari sudah malam, mereka perlu mengisi perut. Terutama Raya yang tidak bisa makan dengan teratur.


“Karan, bolehkah aku bertanya?” cetus Raya.


“Ya, lakukan saja.”


“Kenapa kau tidak pernah menceritakan masa lalumu kepadaku? Aku tahu kau tidak terlalu suka dengan media, tapi setidaknya padaku. Kapan kau akan menceritakan masa kecilmu?”


Raya tidak bisa menyembunyikannya lagi. Menyembunyikan rasa penasarannya yang besar terhadap Karan. Pria itu adalah suaminya. Tidak aneh kalau ia tahu masa lalu Karan sekalipun itu bukan cerita yang baik.