Lies

Lies
Menjaga Jarak



Keanehan itu terus berlanjut beberapa hari kemudian. Raya tidak pernah bertemu dengan Karan di waktu yang bersamaan. Karan akan pulang sangat larut di mana Raya sudah terlelap dalam mimpi dan pergi bekerja saat Raya masih belum terbangun dari tidurnya. Yang lebih anehnya, sudah satu minggu Karan tidak pergi dari rumah. Koper pria itu masih nyaman berada di tempatnya seolah-olah tidak akan digunakan lagi. Selain itu, kecuali meminta Raya untuk menelepon ketika ia sudah terbangun, Karan sama sekali tidak mengacuhkan keberadaan Raya. Pria itu seakan-akan tidak menganggap Raya ada di rumahnya dan hidup seorang diri saja.


Seperti yang terjadi sekarang. Lagi-lagi Raya terlambat menyusul Karan padahal ia bangun lebih awal dari sebelumnya. Raya bangun pukul enam pagi dan ia hanya berjarak setengah jam dari kepergian Karan. Tapi malam pun sama. Raya tidur jam 12 malam, sedangkan Karan pulang ke rumah satu jam kemudian. Raya merasa sedikit aneh. Ia sangat tidak nyaman dengan situasi ini. Seperti Karan sedang berusaha menjauhinya. Masalahnya, Raya tidak tahu apa kesalahannya. Yang berbuat kasar pada malam itu adalah Karan, mengapa seolah-olah Karan sedang menghukumnya?


Raya tidak langsung menelepon Karan selepas ia bangun tidur. Wanita itu melakukan ritualnya terlebih dahulu. Ia berolahraga kecil di teras rumah, mandi dan melakukan perawatan wajah. Dua jam kemudian, barulah ia menghubungi Karan sambil menyantap sarapannya.


“Halo!” ucap Raya begitu Karan mengangkat panggilannya.


“Apa kau sedang sarapan?” tanya Karan tanpa basa basi sama sekali. Ia pun tidak mengucapkan salam kepada sang istri, justru langsung melemparkan pertanyaan pada wanita itu. Benar-benar khas sang CEO dalam tujuh hari belakangan. Tentu saja ini berbeda dari ia yang sebelumnya. Karena Karan yang dahulu akan segera melontarkan kalimat rayuan dan gombalan seperti mengungkapkan kata cinta dan rindu, tapi tanpa perasaan sama sekali yang membuat Raya tidak merasakan apa-apa sewaktu mendengarnya.


Tak berbeda jauh dengan Karan, Raya pun tetap melakukan ciri khasnya, yakni menjawab pertanyaan Karan dengan sangat singkat. “Ya.”


“Semalam kau tidur nyenyak?” Karan menanyakan pertanyaan yang hampir mirip setiap harinya. Apakah Raya sudah bangun? Apakah tidur Raya nyenyak? Sudahkah Raya sarapan? Dan hal-hal serupa dengan itu. Persis seperti yang dilakukan oleh seorang pemuda dewasa ini saat ingin mendekati wanita pujaannya.


Raya pun hanya mendengarkannya sambil mengerutkan keningnya, merasa sangat geli. Namun anehnya, Raya tidak membencinya. Sekali lagi, dibandingkan Karan yang memuji-mujinya setiap hari tanpa perasaan, Raya lebih suka Karan yang sekarang. Karan yang berterus terang meskipun sedikit kaku. Sisi Karan yang sama seperti yang pernah ibu mertua Raya ceritakan. Kikuk namun menggemaskan.


“Ya,” balas Raya singkat.


“Baiklah, aku akan melanjutkan pekerjaanku lagi. Kalau ada yang kau butuhkan, langsung saja sampaikan pada Anna. Dia akan segera membelikannya untukmu.”


Karan bermaksud hendak mematikan teleponnya, tetapi Raya dengan cepat mencegah tindakan pria itu. “Tunggu Karan!” tukasnya.


“Ya?” suara Karan terdengar terkejut.


Raya juga merasa terkejut dengan tindakannya. Ia sendiri bingung mengapa menahan Karan memutuskan panggilannya. Padahal ia tidak tahu apa yang akan ia katakan pada Karan. Itu hanya tindakan spontan karena Raya tidak ingin pembicaraan mereka berhenti begitu saja. Tunggu dulu! Mengapa Raya tidak ingin pembicaraan mereka selesai? Bukankah itu yang Raya inginkan?


Karan yang acuh tak acuh padanya. Karan yang bersikap dingin. Sikap Karan yang sekarang adalah gambaran pernikahan ideal yang pernah dibayangkan Raya. Dengan begitu, ia dan Karan bisa menjalani kehidupan masing-masing tanpa mencampuri urusan satu sama lain.


“Kenapa Raya? Ada yang ingin kau sampaikan padaku? Kau butuh sesuatu?” tukas Karan setelah tidak mendengar kata-kata dari istrinya. Tidak ada jawaban. Jika tidak mendengar suara musik instrumental yang sering Raya putar di rumah, Karan akan mengira sambungan telepon mereka terputus tiba-tiba. “Raya?”


“Ah, ya!” Raya tersentak. Ia sudah memikirkan berbagai macam ide, tetapi hanya satu ide itu saja yang muncul di benaknya. Sehingga mau tidak mau Raya akan mengutarakannya. “Apa kau pulang terlambat lagi?”


Karan tidak tahu apakah pulang larut malam seperti itu termasuk terlambat baginya. Sebab, tidak ada yang berubah dari jam kerja Karan sebelum menikah maupun sekarang. Pria itu akan tetap pulang tengah malam. Paling cepat ia akan sampai rumah jam 10 malam, itu pun ia rasa sudah sangat awal. Oleh sebab itu, ia hanya akan pulang lebih awal jika dibutuhkan, misalnya ketika ibu dan ayahnya yang menyuruhnya melakukan itu.


Namun Karan yakin jam kerjanya sangat berbeda dengan Raya. Sebagai seorang model, Raya pasti pernah pulang larut malam bahkan tidur di lokasi pemotretan atau syuting iklan. Tetapi tentu saja tidak sesering yang Karan lakukan. Jadwal Raya meskipun tidak menentu tapi masih bisa membuat wanita itu tidur cukup teratur. Sementara Karan hanya akan tidur tiga sampai lima jam per hari. Waktu yang sangat kurang untuk pria dengan aktivitas padat sepertinya.


“Ya, aku akan pulang terlambat.” Karan akhirnya menyimpulkan bahwa ia harus mengikuti sudut pandang Raya.


“Jam berapa?”


“Tidak, aku hanya ...” Raya berhenti berbicara. Jari-jari tangannya mengetuk-ngetuk meja makan selagi kepalanya berpikir. Raya pun melanjutkan ucapannya, “maksudku, apakah kau bisa pulang lebih awal?”


Karan menanggapi, “Lebih awal? Ya bisa. Mungkin aku akan pulang jam 9 malam.”


“Ti-tidak! Jangan jam segitu. Bagaimana kalau lebih awal lagi?” celetuk Raya yang tanpa sadar sedang tawar menawar dengan sang suami. Ini tidak pernah terjadi di dalam hidup Raya, bahkan dengan laki-laki mana pun.


“Akan aku pikirkan terlebih dahulu setelah aku tahu alasan kenapa aku harus pulang lebih cepat.”


Benar. Alasan. Karan yang seorang pebisnis pasti akan memikirkan untung rugi dari setiap hal, termasuk waktu. Daripada menghabiskan waktu di rumah tanpa alasan yang jelas, Karan pasti lebih suka berada di kantor untuk mencari uang. Itu lebih menguntungkan baginya dan perusahaannya.


“Aku ingin makan malam denganmu,” cetus Raya pada akhirnya. Sebenarnya Raya tidak ingin apa pun selain mengobrol dengan suaminya. Raya pikir mungkin ada sedikit harapan untuk memperbaiki hubungan mereka, terlebih mereka belum genap dua bulan menikah. Raya perlu mengenal Karan lebih dalam lagi agar ia tahu bagaimana caranya bersikap. Begitu pun dengan Karan. Mereka butuh mengenal satu sama lain. Mereka perlu berkomunikasi secara lebih intens.


Terdengar suara Karan dari ujung panggilan. Tetapi laki-laki itu tidak berbicara pada Raya, melainkan pada Ian. “Batalkan semua janjiku malam ini,” ucap Karan.


Samar-samar terdengar suara Ian menyahut, “Tap Pak, malam ini Anda harus datang ke acara lelang.”


“Ian, aku tidak suka mengulang kata-kataku.”


Ian pun menjawab dengan pasrah, “Baik Pak.”


Selepas memastikan jadwalnya sudah dibatalkan, Karan berbicara lagi kepada Raya. “Aku bisa pulang lebih cepat malam ini. Kita akan makan malam bersama. Kau mau makan malam di mana?”


Tidak terpikirkan lokasi mana pun dalam kepala Raya selain di rumah. Berhubung ia tidak bisa keluar rumah sama sekali tanpa izin Karan, ditambah pengalaman buruk makan malam yang belum lama berlalu, maka rumah adalah tempat yang paling tepat untuknya.


“Di rumah saja. Aku akan menunggumu,” balas Raya.


“Ya, baiklah.”


Sensasi aneh bergolak dalam dada Raya usai perbincangan itu. Membayangkan makan malam bersama Karan benar-benar membuat Raya tersipu. Mereka tidak pernah makan malam bersama. Ah ralat. Kecuali hari-hari penting untuk formalisasi bersama keluarga, mereka tidak pernah melakukannya. Sekarang, Raya malah yang terlebih dahulu memberikan undangan kepada Karan. Ada apa sebenarnya dengan dirinya?


“Argh sial!” ujar Raya sembari menangkup wajahnya. Ia merasakan sesuatu yang lain pada Karan. Jantungnya berdegup dan ia merasa gugup. Apakah ini tanda bahwa ia sudah mulai membuka hati untuk Karan?


Raya menggeleng cepat. Yang pasti tidak secepat itu. Raya melakukan ini karena ia merasa sangat kesepian. Rumah bak istana ini terlalu besar untuknya. Memang ada para asisten rumah tangga yang bisa ia ajak mengobrol, tapi itu tidak cukup menuntaskan rasa sepi di hatinya. Bertahun-tahun ia bekerja sebagai model. Raya Drisana yang selalu dikelilingi oleh banyak orang.


Sekarang, saat pekerjaan telah hilang, Raya tidak tahu harus berbuat apa. Manajer yang selalu mengikutinya pun tidak ada. Bahkan, sang bibi yang selalu menjaganya setiap hari pun tidak bisa berada di sisinya lagi. Raya benar-benar kebingungan bagaimana caranya menghabiskan hari-hari di rumah ini. Raya merasa sendirian, kesepian ... kedua hal yang membuatnya stres. Ia butuh pekerjaan untuk menghilangkan kejenuhannya. Ia perlu seorang teman. Dan selain Karan, suaminya sendiri, siapa teman yang harus Raya ajak bicara lagi?