Lies

Lies
Ketakutan Raya



Reaksi Raya menjadi hal yang ingin diketahui oleh Karan. Kemarahan wanita itu menciptakan pusaran semangat untuk sang CEO. Saat tengah memikirkan hal itu, tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka. Kepulan uap terbawa dari dalam kamar mandi, mengikuti langkah seseorang yang keluar dari sana. Ya, itu memang Raya, istri cantiknya, sang super model.


Raya masih belum menyadari keberadaan Karan karena ia masih fokus mengelap kepalanya dengan handuk. Padahal Karan sudah menatap tubuh seksi Raya yang menggoda itu sejak pintu terbuka. Memang Raya menggunakan handuk berbentuk kimono untuk menutupi tubuhnya, tapi itu tidak menampik kenyataan bahwa Raya memiliki tubuh sintal yang menggiurkan. Ditambah air yang jatuh dari rambutnya mewarnai keseksian perempuan tersebut.


Tak lama kemudian Raya berbalik dan menghadap ke arah Karan. Matanya terbelalak sambil ia menjerit takut. “Kyaaa!” Cepat-cepat Raya melepaskan handuk kecil di tangannya dan sibuk menutupi handuk kimononya.


Benar. Reaksi yang ditunjukkan Raya persis seperti yang Karan pikirkan. Sangat imut dan lucu. Mata Raya yang bergetar dan tubuhnya yang bergerak mundul menunjukkan secara alami bahwa Raya sedang menjauhi Karan. Seperti seekor mangsa yang hendak kabur dari sang predator. Benar-benar terlihat menggemaskan.


“Hai, Sayang. Aku datang,” sapa Karan sambil tersenyum.


“Apa—bagaimana—kenapa?” Raya berbicara tidak jelas karena rasa terkejutnya yang begitu besar. Segala pertanyaan mengisi otaknya.


Apa yang Karan lakukan di sini?


Bagaimana pria itu bisa masuk?


Dan kenapa suaminya itu mengikutinya sampai ke kamar hotel?


Sayangnya dari semua pertanyaan itu, tidak ada satu pun yang bisa Raya lontarkan pada Karan. Wanita itu benar-benar syok hingga kehilangan kendali dirinya.


“Ini, keringkan kepalamu dengan baik, Sayang,” ujar Karan, menggumamkan kalimat itu sambil memungut handuk yang dijatuhkan Raya. Dan ketika Karan mendekat, sontak Raya melangkah mundur lagi, yang membuat senyuman kembali terukir di paras tampan Karan. Pria itu benar-benar puas mengawasi keterkejutan yang tercetak di wajah istrinya, “kenapa kau begitu terkejut, Sayang? Aku suamimu, wajar aku datang ke sini menemuimu.”


Satu pertanyaan Raya sudah terjawab. Tapi tetap tidak mengurangi keterkejutan Raya. “Aku—kau—kenapa?”


Karan terkekeh mendengar ucapan terbata-bata yang keluar dari bibir Raya. Ia berhasil membuat istrinya gugup, dan itu sudah pasti. Karan sangat percaya diri berhasil menakut-nakuti Raya karena wanita itu cukup mudah untuk dibaca.


“Kau mau ke mana, Sayang?” sambung Karan saat melihat dari cara mata Raya yang melesat dari satu sisi ruangan ke sisi lainnya, seperti sedang mencari jalan untuk melarikan diri. Sayangnya, tidak ada satu pun jalan keluar yang bisa Raya tempuh. Sang istri tidak akan pergi ke mana-mana sampai Karan memberikannya izin. “Jangan bilang kau mau keluar dari kamar hotel dengan memakai pakaian seperti ini?”


“Aku tidak akan ke mana-mana.” Suara Raya kembali normal, tapi percuma untuk meyakinkan Karan karena pria itu bisa tahu kebohongannya.


“Aku menunggumu di rumah, tapi kau tidak pulang, Sayang. Tidak tahukah kau betapa khawatirnya aku padamu, hm?” Karan menjatuhkan kepalanya ke pundak Raya. Dingin dan harum. Sensasi permukaan kulit pipi Karan yang bersentuhan dengan leher Raya memberikan dampak yang begitu besar pada inti Karan. Sekarang benda itu sudah menegang dan menyesakkan celananya.


Raya mencoba berbohong. “Ba-bajuku kotor, Karan. Jadi aku ke sini untuk membersihkan diri.”


Demi apa pun, Raya masih mau menipunya. Karan menyeringai. “Kalau pakaianmu kotor, seharusnya kau pulang ke rumah kita, Sayang. Bukan datang ke hotel bersama laki-laki lain,” tukasnya menguak kebohongan Raya dengan cara yang halus. Ia benar-benar marah, tapi bukan berarti ia boleh membuat istrinya tidak nyaman. Menakuti-nakuti Raya dengan cara lembut adalah ganjaran yang pantas kepada seorang wanita yang telah membodohi suaminya.


Wajah Raya berubah panik. Cepat-cepat ia mendorong Karan agar bisa memandang wajah suaminya itu. “Bukan seperti itu, Karan. Sungguh! Ini tidak seperti yang kau pikirkan sama sekali.”


Karan mengamit tangan Raya yang berada di dadanya dan membawanya ke bibinya. Pria itu mengecupi tangan itu sembari berbicara. “Memangnya kau tahu apa yang sedang aku pikirkan, Sayang? Apa kau sedang berusaha menebak jalan pikiran suamimu ini? Baiklah, coba katakan apa yang ada di otakku sekarang. Kalau kau benar, aku akan menganggap kau berkata jujur. Tapi kalau kau salah...” Karan melepaskan tangan Raya dan memindahkan tangannya sendiri ke pinggang sang istri. Dengan gerakan cepat, Karan sudah mendekap Raya, “aku akan memberikan hukuman padamu. Hukuman yang sangat menyenangkan.”


“Kau pikir aku datang ke sini bersama laki-laki lain untuk mengkhianatimu. Tapi itu tidak benar. Aku ke sini karena urusan lain, Karan. Aku tidak bohong padamu.”


Raya kelihatan nyaman di dalam pelukan Karan. Itu terlihat bagaimana wanita itu tidak gugup lagi memandangi wajahnya. “Itu benar, tapi kurang tepat, Sayang. Aku memang sempat memikirkan hal itu, tapi sebelum aku melihatmu. Dan yang aku pikirkan sekarang adalah dirimu. Bagaimana cara kelepaskan handuk ini dari tubuhmu dan membantingku ke ranjang itu.” Karan menurunkan lagi kepalanya dan mulai mengecupi leher Raya, sementara tangannya membimbing tangan Raya untuk menyentuh pangkal pahanya. “Ini buktinya, Sayang. Dia menegang karenamu.”


Aroma tubuh Raya menghampiri indra penciuman Karan. Vanila yang manis dan harum. Salah satu ciri khas dari wewangian yang selalu menempel pada tubuh Raya, yang membuat Karan kembali terusik. Ia tahu istrinya itu suka aroma vanila, tapi mengapa sabun di hotel ini juga memiliki aroma yang sama? Apakah ini hanya kebetulan atau Raya sudah merencanakan hal ini sejak lama. Di mana wanita itu sengaja membawa perlengkapan mandinya karena ingin menginap di luar rumah.


Raya meronta, melepaskan tangannya dari benda paling sensitif milik Karan itu. “Karan, aku tidak berselingkuh. Aku hanya ke sini untuk bekerja. Besok aku harus menemui produser televisi. Kau pasti tahu aku menjadi juri acara Putri Kecantikan Indonesia. Dan aku datang ke sini untuk menghemat waktu.”


Ternyata itu alasannya. Sayangnya, jawaban yang diberikan Raya tidak cukup memuaskan Karan. “Lalu pria itu? Bagaimana kau bisa dia datang bersamamu? Dia bukan produser televisi itu, bukan?” Sambil berbicara, Karan tetap berusaha membuat istrinya yang harum dan seksi itu dalam dekapannya. Karena saat ini tubuh Karan sangat kepanasan, ia benar-benar marah sekaligus bergairah.


Raya merasa takut. Lalu, pikirannya melayang jauh. Bukan rahasia lagi jika Karan menempatkan mata-mata di sisinya sehingga Raya yakin Karan pasti sudah mengetahui apa pun yang terjadi padanya sepanjang hari. Percuma ia berbohong karena ia tidak akan pernah mengelabui sang suami. Namun ada satu yang Raya khawatirkan. Rekan kerjanya yang datang bersamanya tadi. Karan adalah tipe pria yang sangat posesif, ia tidak akan membiarkan siapa pun mengganggu miliknya.


“Apa yang sudah kau lakukan? Jangan bilang kau melakukan sesuatu padanya?” Raya melemparkan tatapan menyalak pada Karan.


Sang istri mengawasi Karan seolah Karan adalah serigala sementara ia sendiri adalah seekor kelinci yang berusaha menghindari takdirnya sebagai buruan dengan memberikan perlawanan. Benar, beginilah seharusnya yang dilakukan Raya karena permainan akan sangat membosankan kalau Raya tidak melawan Karan.


Pelan-pelan Karan melepas satu tangannya dari pinggang Raya. Ia mengelus rambut Raya yang belum kering sepenuhnya, lalu bersuara, “Aku senang kau sudah bisa mengerti jalan pikiran suamimu, Sayang. Tapi kalau kau melarangku sekarang, maka kau sudah sangat terlambat.”


Wanita itu tersentak. “Apa yang kau lakukan padanya?” ulangnya.


“Kau tenang saja, aku tidak membunuhnya. Setidaknya belum sekarang. Tapi aku tidak bisa berjanji untuk ke depannya.”


Mata Raya menoleh ke samping, tempat di mana ia meletakkan ponselnya. Raya tidak berniat mengambil ponsel itu untuk meminta bantuan. Lagi pula, siapa orang yang bisa menolongnya? Sekalipun Raya mengunggah permintaan pertolongan di semua akun sosial medianya, tidak akan ada satu pun yang percaya bahwa ia tersiksa menikah dengan Karan. Pun seandainya ia meminta bantuan hukum. Para polisi akan menganggap Raya gila karena Karan sudah mencuci semua pikiran masyarakat dengan citranya sebagai suami baik yang begitu mencintai istrinya.


Yang mau Raya lakukan adalah memeriksa apa yang telah Karan perbuat kepada rekan kerjanya. Karan tidak pernah main-main dengan ucapannya dan pria itu bisa dengan mudah mendapatkan apa yang diinginkannya. Raya hanya mencoba mencari tahu sambil berharap Karan tidak melakukan hal yang akan melukai laki-laki tersebut.


“Huh!” Karan menghela napas panjang. Ia melihat ke mana arah mata Raya dan mengerti apa yang hendak dilakukan wanita itu. “Aku memang tidak bisa menghentikan rasa ingin tahumu, Sayang. Pergilah, kau bisa memeriksa sendiri apa yang sudah aku lakukan padanya,” ungkap Karan sembari melepaskan pelukannya.


Raya tidak menyia-nyiakan kesempatan melarikan diri dari Karan saat melihat celah itu. Ia berlari dengan cepat menuju ke arah nakas. Tubuhnya masih gemetar, entah karena kedinginan akibat suhu pendingin ruangan yang rendah atau karena takut pada Karan. Yang jelas matanya langsung terbelalak ketika melihat sebuah portal berita yang muncul di layar ponselnya.


Apa yang dikhawatirkan Raya benar. Karan sudah berbuat sangat jauh. Suaminya yang kejam itu bahkan menyebarkan gosip tentang rekan kerja Raya. Gosip yang menghancurkan karier laki-laki itu hanya dalam semalam.


“Karan, kenapa?!” teriak Raya yang tidak kuasa menahan kemarahannya. Ia berdiri dan menghampiri Karan. Dengan sekuat tenaganya, ia memukuli dada Karan. “Kenapa kau melakukan ini padanya? Dia sama sekali tidak bersalah, Karan. Dia hanya mengantarku ke sini. Kau lihat ‘kan? Aku sendirian di sini. Dia tidak bersamaku. Jadi, kenapa kau membuat gosip itu?”


Raya meluapkan emosinya dengan terus memukuli Karan. Sedangkan Karan, hanya bisa terdiam menerima semua pukulan Raya. Tetapi yang aneh adalah wajah Karan. Alih-alih menunjukkan rasa bersalahnya, Karan malah berekspresi dingin seolah-olah tidak punya emosi sama sekali.