
“Baiklah, lakukan apa yang kau inginkan, Sayang,” kata Karan menyetujui permintaan Raya. Tidak ada yang salah dengan membiarkan Raya kembali ke dunia modelling. Karan punya cara yang membuat Raya akan kembali padanya. Bahkan jika Raya tidak ingin, Karan akan tetap memaksa wanita itu kembali. Ada banyak yang bisa Karan lakukan agar membuat Raya tidak nyaman berada di tempat kerjanya. Dengan begitu Raya akan menyesal kembali ke industri hiburan dan akan tetap berada di rumah sebagai istri dari seorang Karan Reviano. Jika sudah begitu, Karanlah yang pada akhirnya memenangkan kebebasan sang istri.
Dengan senyum yang muncul di bibirnya, Raya berujar kepada sang suami, “Terima kasih Karan. Oke, aku akan ganti baju sekarang,” katanya. Raya buru-buru meninggalkan tempat itu dan mengambil pakaian yang telah dibawa oleh Ian. Ia mengucapkan terima kasih kepada asisten suaminya itu karena selalu menyusahkannya. Pekerjaan Ian benar-benar berat. Tidak mudah menyesuaikan diri dengan bos seperti Karan. Terlebih Karan memiliki keinginan besar yang sering tidak tertebak. Selain itu, Ian juga sering dilibatkan dalam urusan pribadi Karan, termasuk yang ia lakukan saat ini. Seandainya Karan tidak memberikan gaji yang sangat besar padanya, pasti Ian sudah mengundurkan diri sejak lama.
“Bagaimana?” seru Raya saat kembali ke lapangan basket. Ia menggunakan pakaian olahraga yang sangat nyaman. Tidak hanya pakaian, ternyata Karan juga menyiapkan sepatu untuk istrinya. Pria itu selalu memiliki persiapan yang sangat bagus apalagi juka itu menyangkut masalah Raya.
Karan yang sedang mengajari seorang gadis kecil melempar bola ke ring, menengok ke sumber suara. Pria itu tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya atas pemandangan yang sedang ia saksikan saat ini. Raya yang sedang menggunakan pakaian olahraga. Dilihat dari sisi mana pun Raya tampak sangat cocok dengan pakaian seperti itu. Bahkan, sang super model terlihat jauh lebih muda dari usianya yang sebenarnya. Seperti seorang gadis remaja yang sedang ingin belajar bermain basket. Cantik namun tetap elegan. Terkadang Raya juga tampil menggemaskan ketika ia terlihat kebingungan mengikat tali sepatunya.
“Biar aku saja yang melakukannya, Sayang.” Karan tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk memanjakan Raya. Pria itu memperlakukan wanita itu selayaknya seorang ratu sampai ia yang dipandang sangat hormat oleh anak-anak panti asuhan, tak segan berjongkok di bawah kaki Raya untuk mengikatkan sepatu wanita itu. Di wajahnya tidak tampak rasa kesal atau keberatan sama sekali. Karan terlihat sangat menikmati prosesnya dalam memanjakan sang istri meskipun di tempat umum. “Sudah. Kau benar-benar cantik, Sayang. Kau tahu itu ‘kan?” puji Karan usai membenarkan tali sepatu sang istri.
Lagi, Raya tersenyum senang. “Ya, aku cantik dan kau tampan. Kita pasangan yang sempurna,” cetusnya.
Karan menganggukkan kepalanya, merasa setuju dengan apa yang Raya katakan. Kemudian, ia mengusap-usap kepala Raya dengan lembut dan penuh kasih sayang. Para penghuni panti asuhan yang melihat interaksi keduanya pun hanya bisa berseru di dalam hati sambil berharap jika mereka bisa merasakan keromantisan yang ditunjukkan Karan kepada Raya. “Betul sekali. Ayo, kita harus main sekarang sebelum hari semakin panas.”
Raya tidak tahu bagaimana cara memainkan bola basket. Secara teori memang ia tahu segalanya. Ia merupakan siswi yang pandai di kelasnya, tidak hanya di satu pelajaran, tetapi hampir di semua pelajaran. Tetapi di dalam ingatannya, ia tidak pernah benar memainkan bola basket. Saat ujian praktik kelulusan saja Raya mendapatkan bantuan dari guru olahraganya. Jadi secara garis besar, Raya sangat payah dalam hal ini.
Akan tetapi, entah kerasukan setan macam apa, mendadak Raya tahu bagaimana caranya memainkan bola basket. Bahkan, ia bisa memasukkan beberapa kali bola itu ke ring basket. Jika terjadi sekali atau dua kali, mungkin bisa disebut kebetulan atau keberuntungan. Masalahnya Raya mencetak angka beberapa kali. Mungkin hampir setiap ia memegang bola ia bisa memasukkan bolanya ke ring lawan—tim suaminya. Ini aneh. Benar-benar aneh. Bagaimana mungkin ia bisa sejago ini bermain basket?
“Sayang, awas!” teriak Karan ketika Raya tiba-tiba berdiri mematung di tengah lapangan. Saat itu seorang anak melemparkan bola ke arah Raya, bermaksud untuk memberikan wanita itu umpan agar ia mencetak angka lagi. Sayangnya alih-alih mengambil bola itu seperti biasa, Raya malah menghentikan laju langkahnya dan berdiri membeku di tengah-tengah lapangan. Untung saja Karan melihatnya. Dengan sigap pria itu melindungi Raya dengan menepis bola itu. “Apa yang kau lakukan, Raya? Kenapa kau tiba-tiba berhenti di sini? Kau tidak tahu betapa bahayanya jika kepalamu terbentur bola?” tukas Karan emosi. Ia tidak bisa bersandiwara dalam keadaan panik seperti ini. Apa pun yang menyangkut keadaan Raya selalu membuat Karan gelisah.
Raya bisa mendengar Karan dengan baik, termasuk komentar pedasnya yang mengandung kekhawatirarn itu. Ia juga bisa merasakan tangan suaminya yang mendekapnya dengan erat. Tetapi Raya tidak bisa menjawab. Jangankan menjawab, ia bahkan tidak bisa menggerakkan tubuhnya sama sekali. Raya hanya bisa mengerjap, kemudian lama-lama ia mendengar sesuatu dari belakangnya. Wanita itu mendengar percakapan dua orang.
“Hey, bukan seperti itu cara mainnya. Kau tahu itu salah ‘kan?” kata seseorang. Dari suaranya Raya yakin ia adalah seorang laki-laki. Mungkin usianya masih remaja karena suaranya tidak terdengar berat selayaknya seorang pria dewasa. Siapa pemuda itu? Apakah ia salah seorang penghuni panti asuhan ini?
“Jadi bagaimana? Kau bilang kau tidak bisa bermain basket. Tapi apa ini? Kenapa kau begitu ahli? Ah, aku tahu. Kau pasti ingin mengejekku ‘kan? Kau hanya ingin membuatku terlihat menyedihkan,” timpal seorang lagi. Kali ini suaranya terdengar seperti suara seorang gadis remaja. Berbeda dengan suara sang pemuda, suara gadis ini terdengar familier di telinga Raya. Wanita itu seperti pernah mendengarnya di suatu tempat, tetapi ia tidak ingat di mana persisnya.
“Maaf, maaf. Aku tidak berniat seperti itu. Aku tidak mungkin mengejekmu. Bagaimana mungkin aku mengejek pacarku sendiri, hm? Maafkan aku. Aku hanya ingin mengajarimu bermain basket. Dengan begitu anak-anak itu tidak akan menggangumu lagi. Aku tidak tahu ternyata kau sepayah ini.”
“Apa?!” Suara gadis itu terdengar meninggi, sepertinya ia marah besar dihina seperti itu. “Benar ‘kan? Kau memang sedang mengejekku!”
Alih-alih merasa bersalah, pemuda itu malah tertawa. Ia terdengar senang membuat kekasihnya itu merasa kesal. “Ya ampun, bukan begitu. Baiklah, aku bersalah. Maafkan aku. Ini tidak akan terjadi lagi. Sekarang kita main lagi ya? Aku sudah menghabiskan banyak uang untuk menyewa lapangan ini. Kalau kita berlatih sekarang, sia-sia uang yang sudah aku keluarkan. Kau tidak sedih melihat pacarmu yang harus bekerja semalaman demi dirimu?”
Sang gadis pun terenyuh. “Iya iya. Ya sudah, ayo berlatih lagi. Kita tidak boleh buang-buang uang. Tapi, aku tidak yakin aku bisa bermain basket.”
“Hey, kau ini sedang berbicara apa? Kau saja bisa lulus matematikan karenaku, masa permainan ini saja kau tidak bisa?”
“Tunggu dulu!” teriak pemuda itu. “Hey, tunggu aku! Jangan lari-lari, di sana banyak batu!”
“Tidak mau! Biar aku jatuh, bukankah kau senang melihatku terluka?”
“Tidak, aku tidak mau kau terluka. Jadi, tolong berhenti berlari!”
“Tidak, aku tidak mau melihatmu. Aku membencimu—"
******
“Raya!”
Raya tersentak. Ia terkejut bukan main ketika ia mendapati wajah suaminya ada di atasnya, memandangnya dengan tatapan mata memerah. Apa yang terjadi? Mengapa Karan begitu khawatir? Dan di mana Raya berada sekarang? Kedua bola mata wanita itu berpindah. Ia tidak lagi melihat langit biru dari atas lapangan basket. Yang ia lihat hanya langit-langit gedung berwarna putih. Apa yang sebenarnya terjadi?
“Karan.” Akhirnya Raya bisa bersuara usai selama beberapa saat bibirnya terasa seperti terkunci.
“Iya Sayang. Ini aku,” ucap Karan sembari memegang tangan Raya dan mengelusnya. Pandangan Raya penuh dengan tanda tanya, dan Karan berinisiatif untuk menjawabnya. “Kau pingsan di atas lapangan. Sekarang kau ada di puskesmas. Bagaimana keadaanmu sekarang? Apa ada yang sakit?”
Raya menggeleng pelan. “Tidak, aku baik-baik saja.” Awalnya memang begitu sampai ia teringat tentang percakapan pasangan kekasih yang ia ingat barusan. Saat Raya mencoba untuk mengingat apa yang dikatakan oleh gadis tadi. Padahal Raya yakin gadis itu hendak mengatakan hal yang begitu penting. Tapi mengapa Raya tiba-tiba mendengar ucapan mereka? Dan di mana mereka sekarang?
“Kenapa Sayang? Apa kepalamu sakit?” tanya Karan yang tampak cemas karena istrinya tiba-tiba memegang kepalanya.
“Karan, apa tadi kau melihat anak-anak yang bertengkar di lapangan basket?” Raya benar-benar yakin ia tidak sedang berhalusinasi saat itu. Ia yakin mendengar percakapan kedua remaja itu. Buktinya ia merasa familier dengan suara sang gadis kendati ia tetap tidak ingat di mana ia pernah mendengar suara gadis itu.
Karan menjadi bingung. “Ha? Tidak ada anak yang bertengkar, Sayang,” katanya tidak mengerti.
“Kau yakin? Tapi tadi aku dengar anak laki-laki dan anak perempuan bertengkar. Mereka masih remaja, mungkin masih SMA. Dan juga mereka pacaran. Mereka bertengkar karena anak laki-laki itu selalu mengejek pacarnya saat dia sedang mengajari gadis itu bermain basket.”
Seketika mata Karan terbuka lebar. Ia tersentak mendengar pernyataan sang istri. Karan tahu sekali adegan yang disebutkan oleh wanita itu, seperti kenangan mereka dulu, 12 tahun lalu. Kenangan yang tidak bisa Karan lupakan dari hidupnya karena berisi hal-hal yang begitu indah.
Mengapa tiba-tiba Raya membahasnya sekarang? Apakah wanita itu sudah menyadari siapa dirinya? Apakah itu yang membuat Raya mendadak pingsan? Karan tidak tahu harus bereaksi seperti apa sekarang. Yang jelas ia merasa kasihan pada dirinya sendiri. Di satu sisi ia senang istrinya itu bisa mengingat kenangan mereka, tapi di sisi lain Karan merasa takut. Ia takut tidak bisa lagi mengontrol kemarahan dan kebenciannya terhadap Raya yang sampai saat ini tidak bisa lepas darinya.