
“Sudahlah, jangan terlalu lama di sini. Sudah mulai gelap. Kita harus cepat-cepat pulang,” tukasnya pada Raya. Ia membawa gadis itu menjauhi jalanan seram tersebut sambil berharap Raya tidak akan mengalami hal berbahaya sewaktu melalui jalan itu.
“Kalau aku kaya, aku ingin memperbaiki jalanan itu. Ah, bukan hanya jalanan. Aku juga ingin membersihkan sungai dan mengubah kampung ini menjadi kampung yang layak untuk ditinggali,” celoteh Raya sembari berjalan bersama Karan.
Pemuda itu tersenyum. Raya bebas bermimpi tetapi mimpi itu sangat sulit diwujudkan begitu saja. Uang tidak cukup untuk mengubah kampung miskin dengan penduduk berpendidikan rendah seperti mereka. Harus ada upaya yang lebih besar dari sekadar memberikan uang. “Kalau begitu, kau harus mencalonkan diri menjadi pemimpin daerah. Misalnya jadi gubernur. Aku rasa kau cukup pantas untuk menjadi pemimpin,” pungkas Karan. Itu tidak berlebihan mengingat begitu besarnya rasa peduli Raya terhadap masyarakat di sekitarnya. Rasa peduli yang sekarang jarang dimiliki oleh para pemimpin negeri.
“Tidak, aku tidak cocok menjadi gubernur,” tolak Raya dengan cepat.
Kening Karan sontak mengernyit. “Kalau begitu, kau cocok menjadi apa?”
“Model mungkin? Aku sangat cantik ‘kan? Tinggi badanku juga tidak buruk. Kalau aku bisa menjaga bentuk tubuhku, mungkin aku bisa jadi model terkenal,” ungkap gadis itu dengan penuh percaya diri.
Senyuman kembali muncul di wajah Karan. Mendengarkan semua keinginan dan cita-cita Raya selalu menjadi hal yang sangat menyenangkan bagi Karan. Entah mengapa rasanya itu seperti harapan dan cita-citanya juga. “Iya, kau memang sangat cantik. Tapi Raya, katanya kau ingin menjadi dokter tadi. Kenapa sekarang tiba-tiba ingin menjadi model?”
Wajah Raya berubah panik. Ia kelihatan gugup saat ketahuan sedang berbohong. Raya tidak pernah ingin menjadi seorang dokter. Itu hanya ucapan asal agar Karan tetap membiarkannya tetap pada jurusan IPA. Karena Raya tidak punya siapa-siapa selain Karan. Mengikuti langkah pemuda itu, betapa pun sulit baginya, akan tetap Raya lakukan. “Ya namanya juga cita-cita. Katanya kita boleh menggantungkan mimpi setinggi langit? Apakah sekarang bermimpi saja harus bayar?”
Karan menggelengkan kepalanya. “Tidak, tidak. Bermimpi itu tidak harus bayar, Raya. Teruslah bermimpi dan aku akan mencoba mewujudkannya untukmu.”
“Kenapa kau mau mewujudkan mimpiku? Hey, cobalah punya mimpi sendiri. Jangan seenaknya mencuri mimpi orang lain ya!” gerutu gadis itu.
Tawa kencang pun mulai terdengar dari Karan. Ia sudah tidak sanggup menahannya. Ucapan Raya memang terdengar lucu bagi Karan, tetapi jauh dari itu, wajah gadis itu yang kesal tampak begitu menggemaskan. Karan pun tak kuasa untuk tidak menyentuhnya. Pemuda itu menepuk kepala Raya dengan pelan. “Iya iya, aku tidak akan mencuri mimpimu. Bermimpilah yang banyak dan ceritakan padaku. Aku akan mengingatnya satu per satu.”
Dan tentu saja mewujudkannya juga. Jujur saja Karan tidak punya mimpi apa pun. Keinginannya untuk melakukan sesuatu di masa depan juga tidak ada. Barulah ketika Raya masuk ke dalam hidupnya dan mulai menyampaikan segala keinginannya di masa depan, Karan mulai punya harapan. Dan harapan pemuda itu cukup sederhana. Ia hanya ingin merealisasikan semua keinginan dari kekasihnya itu.
“Jadi, apa yang kau inginkan. Maksudku apa cita-citamu?” Raya mengajukan pertanyaan itu karena ia tidak pernah mendengar Karan menyebutkan keinginannya sebelumnya. Selama ini hanya Rayalah yang mendominasi pembicaraan mereka jika itu mengenai masalah cita-cita. Karan tidak pernah sekali pun menceritakan mau menjadi apa laki-laki itu di masa depan. Meskipun di mata Raya, apa pun pekerjaan yang akan dilakukan Karan pasti akan sukses. Pemuda itu adalah laki-laki pekerja keras. Ia tidak akan mungkin gagal begitu saja.
Karan tidak langsung menjawab pertanyaan Raya. Bukan karena ia punya banyak cita-cita. Malah sebaliknya. Karan tidak punya keinginan apa pun di dalam hidupnya yang membuatnya harus memikirkan masa depan. Tetapi ia tidak mungkin mengatakan hal itu pada Raya. Sikap positif Raya akan menolak pemikiran Karan. Lagi pula, Raya sangat tidak suka berdekatan dengan orang pesimis. Karan sudah terlanjur jatuh hati pada gadis itu dan ia tidak mau mendapatkan penilaian buruk darinya.
“Aku belum memikirkannya dengan pasti, tapi aku rasa aku ingin menjadi pengusaha,” balas Karan yang sama sekali tidak terduga. Ia baru memikirkannya beberapa saat lalu ketika Raya menyebutkan tentang menjadi orang kaya demi memperbaiki kampung mereka. Menurut Karan, satu-satunya cara untuk mendapatkan banyak uang dengan cara yang baik adalah dengan menjadi pengusaha sukses. Mungkin di kemudian hari Karan bisa menjadi pemimpin perusahaan besar atau mendirikan perusahaannya sendiri. Lalu, beberapa keuntungan yang ia dapatkan dari perusahaannya akan ia sisihkan untuk membangun kampung ini. Sehingga kelak di masa depan, tidak akan ada anak-anak dari kampung itu yang mengalami nasib seperti mereka.
“Kalau begitu, kenapa kau memilih jurusan IPA?”
“Memang ada batasan kalau seorang pengusaha tidak boleh memilih jurusan IPA?”
“Ya memang tidak ada. Tapi itu tidak adil.”
“Kenapa? Lagi pula, aku cukup pintar. Mau jurusan apa pun tidak masalah bagiku karena aku bisa mengikuti pelajaran dengan baik,” cetus Karan membanggakan dirinya. Tentu saja laki-laki itu melakukannya untuk menggoda Raya. Pasalnya wajah gadis itu cepat sekali berubah setiap Karan membanggakan dirinya. Seolah-olah gadis itu merasa iri padanya dan ingin memukulnya. Sayangnya Raya tidak pernah berani menyakiti Karan. Lebih tepatnya tidak mau membuat Karan terluka. “Tunggu dulu Raya. Sebelum kau sampai ke rumah, ayo ke sana sebentar.”
Karan menunjuk sebuah beton pembatas jembatan kecil yang berada tidak jauh dari rumah Raya. Hanya berjarak lima puluh meter saja. Sebelum Karan memulangkan Raya, ada baiknya ia melakukan sesuatu yang lebih penting dulu, yaitu mengobati luka di tangan Raya. Memang Raya bisa mengobatinya sendiri, tetapi Karan tidak mau mengambil risiko. Ia harus memastikan luka kekasihnya itu sudah terobati dengan baik. Dengan begitu barulah ia bisa bernapas lega.
“Ayo duduk di sini,” ujar Karan sambil menarik tangan Raya untuk duduk di sampingnya. Pemuda itu memulai pengobatannya. Pertama, ia menggulung lengan baju Raya. Kedua, ia mengeluarkan salep yang tadi mereka beli dari warung. Lalu, dengan penuh perhatian Karan mulai mengolesi luka lebam Raya dengan salep tersebut. “Apa sakit?” tanyanya penasaran. Karena merupakan luka kering, Karan tidak bisa melakukan apa-apa untuk membantu meredakan nyeri yang Raya rasakan. Meniup luka itu pun percuma karena bukannya meredakan justru membuat lukanya semakin terasa nyeri.
“Lain kali kau harus berhati-hati, Raya. Jangan lukai tubuhmu sendiri apa pun alasannya. Apa kau mengerti?” ucap Karan menasihati.
Raya mengangguk pelan. “Iya, aku tahu. Aku tidak akan terluka lagi,” janjinya.
“Aku akan mengingat janjimu ini terus-menerus. Kalau kau terluka lagi, aku akan menghukummu.”
Bukannya merasa takut, Raya justru tertawa keras. Ia seperti sedang menantang Karan. “Kau sudah seperti kepala sekolah kita saja. Bapak itu ‘kan sangat suka mengancam akan menghukum kita kalau kita melakukan kesalahan. Lupa bawa dasi saja sudah diancam akan dihukum tidak masuk kelas. Benar-benar tidak berperasaan,” keluh Raya.
“Itu karena kau tidak menurut. Bapak itu hanya menyuruh kita memakai dasi saja. Itu masalah yang gampang kalau kau mengikutinya. Tapi hampir setiap hari kau malah lupa membawa dasimu.” Karan sampai harus membawa dasi cadangan setiap hari demi Raya. Jika mereka tidak berangkat ke sekolah bersama, Karan akan menunggu di depan gerbang sekolah bahkan nyaris terlambat masuk hanya demi memberikan dasi cadangannya kepada gadis itu. Karan tidak mau melihat Raya terus-menerus dihukum berbaris di lapangan setiap pagi hingga jam pelajaran pertama selesai. Memang cuaca tidak terlalu panas, tetapi jika terus melewatkan jam pertama pelajaran, gadis itu tidak akan cepat pintar.
“Iya, iya. Itu salahku,” ungkap gadis itu mengakui kesalahannya. “Tapi, memangnya kalau aku terluka lagi apa yang akan kau lakukan untuk menghukumku?”
“Aku akan menikahimu,” celetuk Karan dengan ringan seolah-olah pernikahan itu adalah hal yang mudah.
Kalimat itu sama sekali tidak pernah terpikirkan oleh Raya. Ia tidak menyangka Karan benar-benar ingin menikahinya seperti itu. “Kita ini masih kecil, Karan. Ilegal kalau menikah dini.”
Raya memang selalu peduli masalah ini meskipun gadis itu sering melanggar aturan sekolah. Setidaknya jika menyangkut masa depannya, Raya akan berpikiran logis. “Siapa bilang aku akan menikahimu sekarang? Maksudku nanti, setelah kita dewasa. Aku juga tidak punya banyak uang sekarang. Aku tidak bisa mengajakmu tinggal di bawah jembatan, bukan?”
“Tentu saja. Aku tidak mau tinggal di bawah jembatan walaupun bersamamu. Sekarang kita memang miskin, tapi di masa depan hidup harus berubah. Bukankah itu tujuan kita sekolah? Supaya kita pintar dan bisa punya peluang untuk mengubah nasib.” Kemiskinan adalah hal yang paling dibenci oleh Raya. Tidak hanya dirinya, semua orang di muka bumi ini pun tidak akan suka hidup pas-pasan seperti dirinya. Meskipun uang tidak menjamin sebuah kebahagiaan, tetapi setidaknya memiliki uang bisa menyelesaikan satu permasalahan, yaitu kelaparan.
Raya sudah sering merasakannya. Bahkan ia hanya bisa makan sekali sehari ketika uang yang ia kumpulkan tidak cukup memenuhi kehidupannya. Itulah yang membuat tubuhnya begitu kurus. Raya tidak sedang melakukan diet demi mewujudkan cita-citanya sebagai seorang model di masa depan, tetapi gadis itu memang tidak bisa makan dengan teratur karena keterbatasan ekonomi keluarganya. Untuk mendapatkan beras satu kilogram saja sangat susah. Itulah yang membuat Raya tetap bekerja di restoran milik guru SMP-nya dulu. Karena di sana, Raya bebas memakan apa saja meskipun hanya sisa-sisa makanan restoran yang tidak laku terjual. Setidaknya Raya bisa makan hari itu, atau kalau beruntung ia bisa membawa pulang makanan itu.
Selain pemilik restoran yang begitu baik hati, Raya juga berterima kasih kepada tetangga-tetangganya. Mereka sebenarnya mengalami hal yang sama dengan Raya, sama-sama serba kekurangan. Tetapi mereka tidak segan-segan membantu Raya. Beberapa dari mereka sering memberikan makanan kepada Raya saat gadis itu benar-benar tidak punya stok makanan di rumah. Bakhan mengundang Raya makan bersama dengan mereka.
Dengan kebaikan orang-orang itu, bagaimana mungkin Raya tidak membalasnya? Itulah hal mendasar yang membuat Raya ingin mengubah kampung ini. Ia memang membenci kemiskinan dan cap negatif sebagai kampung dengan tingkat kriminal yang tinggi. Tetapi Raya tidak membenci keseluruhan penduduk itu. Karena bagi Raya, beberapa di antara mereka juga ada yang sangat baik. Hanya saja mereka bernasib sial karena lahir di dalam keluarga miskin sama seperti yang Raya rasakan sekarang.
“Ya, tunggu saja Raya. Saat aku kaya, aku pasti akan datang kepadamu dan menikahimu,” ungkap Karan.
Lagi-lagi pemuda itu membuat janji yang begitu sulit. “Kenapa kau begitu ingin menikah denganku?”
“Apa lagi memangnya? Kau sudah menyebutkan alasannya tadi. Kau itu sangat cantik dan akan menjadi seorang model di masa depan. Itu alasan yang sangat bagus untuk menikahimu.”
Raya tak kuasa menyembunyikan senyuman dari bibirnya. “Kau benar-benar sangat pandai merayu. Aku rasa di masa depan kau pasti punya banyak pacar.”
“Tidak mungkin. Kecuali kau mengkhianatiku, aku tidak akan mungkin punya pacar lagi. Mengurusmu saja sudah membuatku pusing bagaimana mungkin aku bisa mengurus gadis lain? Aku tidak bisa membayangkan bagaimana aku harus mengajari mereka matematika dengan cara yang aku gunakan padamu. Kau tahu, itu sangat melelahkan,” celetuk Karan. Pemuda itu bermaksud bercanda seperti biasa. Ia hanya ingin menggoda kekasihnya itu sedikit seperti yang ia lakukan selama ini. Tentu tanpa tendensi negatif sama sekali. Namun apa yang terjadi setelah ini begitu mengejutkan Karan. Apalagi saat mendengar gadis pujaannya itu mengucapkan sebuah kalimat yang tidak akan pernah ingin didengarnya.
“Kalau begitu, ayo kita putus,” kata Raya tiba-tiba. Ia tidak mengalihkan pandangan barang sedetik saja dari Karan, seolah-olah sedang menunjukkan keseriusan dari ucapannya.
Karan yang sejak tadi sibuk mengurusi luka Raya sampai tidak bisa bergerak sama sekali. Kedua netra cokelatnya terbelalak. Pemuda itu menatap sang kekasih dengan pandangan tidak percaya. “Apa yang kau katakan barusan?” Karan bahkan hampir tersedak meskipun tidak makan atau minum apa pun. Ia hanya merasa kesulitan bernapas karena tenggorokannya tersekat sesuatu