
Ika pergi dari kamar Raya dengan keadaan baik. Ia tidak mendapatkan tekanan dari siapa pun. Karan pun masih sama, pria itu terlihat tidak peduli dengan kepergian Ika dari rumah mereka. Begitu manajer istrinya itu telah pergi, Karan menyudahi pembicaraannya dengan Ian. Sang CEO memilih untuk menemui istrinya, berencana membicarakan ke mana mereka akan pergi. Itulah yang Ian katakan barusan padanya. Agar Karan tidak terlalu memaksa Raya untuk mengikuti keinginannya. Artinya Karan harus memberikan kesempatan kepada sang istri dalam merencanakan bulan madu mereka. Inilah yang dimaksudkan Raya tadi pagi bahwa ia tidak suka Ian ikut campur masalah rumah tangga mereka. Sebab Karan pun akan merasakan hal yang sama seandainya ada yang ikut campur urusan pernikahan mereka sekalipun dari pihak istrinya.
“Sayang, apa kau sudah tidur?” seru Karan dari pintu luar kamar Raya. Karena tidak ingin privasinya dilanggar oleh siapa pun apalagi masalah kamarnya, Karan pun menerapkan standar yang sama pada Raya. Pria itu tidak akan masuk tanpa seizin dari istrinya, kecuali pada keadaan-keadaan tertentu yang ia rasa ia wajib melakukannya. Salah satunya saat menghukum Raya. Dalam keadaan itu pun Karan bisa melakukan hal lebih dari sekadar menerobos kamar sang istri, Karan bisa memata-matai dan mengawasi wanita itu.
“Belum, masuk saja. Pintunya tidak terkunci,” jawab Raya.
Karan membuka pintu dan menemukan istrinya tengah berdiri sambil memandangi kaca jendela. Langkah kaki Karan semakin cepat hingga pria itu berada di samping istrinya. Pria itu menyelipkan kedua tangannya hingga berada di perut Raya. “Apa yang kau lakukan, Sayang? Kenapa kau tidak tidur? Besok kita harus berangkat pagi, jadi lebih baik kau istirahat lebih awal, Sayang,” pesan Karan sembari menempelkan kepalanya ke pundak istrinya. Sudah pernahkan Karan mengatakan bahwa aroma Raya begitu memikat? Ya, aroma vanila yang menyeruak dari tubuh wanita itu benar-benar membuat Karan ketagihan untuk menghirupnya. Apalagi saat Raya hanya memakai pakaian tidur tipis seperti ini hingga permukaan kulit Raya begitu terasa di bibirnya.
“Aku tidak bisa tidur,” tukas sang istri.
Dengan masih mengecup-ngecup leher Raya pelan, Karan menanggapi pernyataan istrinya itu. “Kenapa? Apa ada yang kau pikirkan?”
Raya menganggukkan kepalanya. “Ya, aku memikirkan tentang trauma, Karan. Pernahkah kau merasakan trauma?”
Kedua bola mata cokelat Karan terbelalak. “Trauma? Kenapa kau tiba-tiba membahas tentang trauma?”
Raya berdalih pada sesuatu yang tidak pernah terjadi. “Tadi manajerku mengatakan bahwa tema yang akan dibawa oleh produsen produk adalah menyembuhkan orang-orang dari trauma atau mimpi buruk.”
“Aneh sekali, produk apa yang sampai bahas tentang mimpi buruk begitu?”
“Itu produk tempat tidur. Rencananya mereka ingin membuat konsep bahwa tidur di tempat tidur buatan mereka akan membuat kualitas tidur menjadi baik.”
“Kalau bermimpi buruk aku pernah. Apa kau tidak pernah bermimpi buruk?” Jangankan mimpi buruk, selama ini Karan punya trauma berat yang ia simpan selama 12 tahun. Trauma yang sulit untuk dihilangkan sama sekali. Sampai saat ini Karan tidak tahu bagaimana cara mengobati trauma tersebut sekalipun ia sudah berusaha dengan sangat keras.
“Aku tidak tahu. Aku pikir aku pasti pernah bermimpi buruk, tapi aku tidak ingat. Tante selalu mengingatkanku untuk minum obat tidur dulu, sewaktu aku kuliat. Mungkin selama dua bulan. Tapi aku tidak tahu kenapa.”
Kening Karan mengernyit. Ia mulai menganalisis apa yang terjadi pada istrinya. Mungkin benar wanita itu mengalami lupa ingatan, tetapi apa yang membuatnya begitu? Selama proses penyelidikan Karan, tidak ada satu laporan pun yang menyebutkan Raya pernah mengalami kecelakaan fatal. Ya, wanita itu pernah mengalami kecelakaan lalu lintas ketika mobil yang ia kendarai menabrak tiang listrik. Itu terjadi tepat dua bulan setelah Raya memenangi kontes kecantikan di televisi. Tetapi tidak ada hal fatal dalam kecelakaan itu. Mobil yang ditumpangi Raya memang lecet parah, namun Raya tidak terluka sedikit pun.
“Sayang, tidak mungkin kau diminta minum obat tidur jika kau tidak mengalami masalah tidur. Apa kau tidak pernah bertanya pada Tante kenapa kau harus minum obat tidur?”
Raya menggelengkan kepalanya. Ia tidak pernah menanyakan apa pun yang dilakukan oleh sang bibi. Raya seratus persen percaya pada wanita yang sudah mengurusnya selama belasan tahun itu. “Aku tidak tahu,” ungkap Raya jujur.
Karan semakin merasa aneh. Sepertinya ada yang tidak beres dengan bibi Raya. Wanita itu pasti telah menyembunyikan sesuatu darinya dan juga dari Raya. Ada baiknya Karan mencari tahu lebih lanjut nanti, setelah mereka pulang dari acara bulan madu ini. Yang harus Karan persiapkan sekarang adalah rencana bulan madu mereka. Karan tidak ingin ada yang mengganggu liburan istimewa mereka kali ini karena ia benar-benar ingin menghabiskan waktu bersama sang istri.
Namun dugaan Karan meleset. Bukannya langsung menghindar, Raya malah membalikkan tubuhnya ke arah Karan. Kini wanita itu sudah berhadapan dengan suaminya. Dengan mengalungkan kedua tangannya ke belakang leher Karan, Raya berbicara, “Kalau kita tidur bersama malam ini apa kau akan membatalkan bulan madu kita? Kalau iya, aku tidak masalah kalau harus bekerja keras malam ini.” Wanita itu semakin berani merayu suaminya.
Seulas seringai muncul di bibir Karan. Ia tidak menyangka Raya malah memberikan serangan yang begitu menggoda seperti ini. “Sayang, aku tidak masalah kalau harus membuatmu lelah. Sekalipun kau tidur seharian besok, aku pastikan kau akan sampai di Milan denganku. Dan tenang saja Sayang, aku tidak akan membuatmu bekerja keras. Biar aku saja yang bekerja dan kau yang menikmatinya. Bagaimana?” balas Karan seraya melancarkan aksinya dalam menggoda Raya. Pria itu mulai mengelus-elus punggung Raya, bahkan sebelah tangannya sudah menyusup masuk di balik baju tipis itu. Andai Raya memberikan izin, dalam sekejap Karan pasti sudah melepaskan pengait yang ada di atas tangannya.
Raya mengalah. Ia pun melepaskan tangannya dari tubuh Karan dan beranjak dari sisi sang suami. “Aku akan tidur sekarang,” katanya sembari naik ke atas ranjang.
Sungguh sangat menggemaskan. Tingkah Raya yang seperti itu mengundang Karan untuk menggodanya. Hanya saja besok pagi mereka benar-benar harus pergi. Ia cukup manusiawi untuk tidak membuat sang istri kelelahan sekarang. “Tidurlah, aku akan di sini sampai kau tidur dengan nyenyak,” seru Karan sambil duduk di pinggir ranjang.
“Kau tidak kembali ke kamarmu?”
“Nanti, setelah kau tertidur. Karena kalau kau pura-pura tidur, aku akan benar-benar membuatmu kelelahan sepanjang malam ini, Sayang. Jadi, tidurlah.” Karan memberikan sebuah kecupan ringan di bibir Raya sebagai ucapan selamat malam.
Raya tahu apa yang direncanakan suaminya. Pria itu tidak hanya ingin memastikan ia tidur dengan baik, tetapi memastikan apa yang ia rencanakan dengan manajernya tadi. Begitu besarnya rasa curiga Karan terhadapnya, sama seperti ia yang selalu curiga pada sang suami. Meskipun terlihat baik-baik saja, tetapi hubungan pernikahan mereka terbilang sangat tidak wajar. Dan Raya tidak tahu sampai kapan hal ini akan terus berlanjut.
Begitu Karan memastikan Raya memejamkan matanya, pria itu memulai aksinya. Ia mencari-cari apa yang telah dibicarakan Raya dan Ika. Seluruh barang yang ada di kamar itu diperiksa Karan, termasuk laptop dan ponsel milik sang istri. Hasilnya nihil. Tidak ada jejak bahwa Raya tengah menyelidiki sesuatu. Padahal Karan yakin Raya begitu penasaran dengan apa yang ada di jalan Asoka. Itu terbukti di mana Raya beberapa kali mengajukan pertanyaan pada Ruben.
Ruben bukan sekadar wakil direktur yayasan perusahaan atau rekan kerja Raya yang juga bawahan Karan. Laki-laki itu adalah mata-mata yang sering Ian tempatkan untuk mengikuti Raya. Ruben begitu ahli menyamar. Beberapa kali ia menyelinap ke tempat kerja Raya dan bekerja menjadi salah satu staf di sana. Namun tidak ada yang curiga, bahkan Raya sekalipun. Raya memang sangat ahli mengelabui paparazzi yang mengikuti langkahnya sepanjang hari. Sayangnya wanita itu masih kalah dari seorang mata-mata profesional seperti Ruben. Itulah yang membuat Karan dengan yakin menempatkan Ruben di sisi Raya. Tentu saja untuk mengawasi sang istri tanpa menimbulkan rasa curiga sama sekali.
Sebegitu besar Karan sampai memata-matai Raya. Karan tidak punya pilihan lain. Ia sudah berjalan sejauh ini bahkan bermanuver dari tujuannya semula untuk membalas dendam. Meskipun tidak sepenuhnya melupakan kebenciannya terhadap Raya, Karan ingin sedikit melunak dengan Raya. Sebenarnya tidak terlalu buruk hidup sebagai suami-istri dengan wnaita itu. Karan hanya perlu menjaga rahasianya. Ia tidak boleh lengah dan membiarkan Raya mengetahui segalanya. Seandainya rahasianya tetap aman, maka Karan bisa hidup dengan sedikit lebih tenang.
“Raya, bisakah kau hidup dengan menuruti keinginanku? Jangan mencari tahu lebih banyak lagi Sayang, maka aku akan berusaha melupakan masa lalu kita. Kau ingin punya anak, bukan? Ayo kita lakukan. Ayo kita punya anak. Aku bisa melakukan apa saja yang kau inginkan, Sayang, asalkan kau tidak meninggalkanku. Karena saat kau melakukannya lagi, aku tidak akan bisa menahan kebencianku terhadapmu,” tukas Karan sambil mengelus-elus rambut Raya dengan lembut. Pria itu melakukannya beberapa saat sebelum ia meninggalkan kamar tidur sang istri untuk kembali ke kamarnya.
Ketika pintu kamar sudah tertutup, Raya membuka kedua matanya. Selama hampir satu jam Raya tidak benar-benar tidur. Ia memang berniat untuk terlelap, tetapi ia tidak bisa. Alhasil yang dilakukan wanita itu hanyalah berpura-pura tidur sambil mendengar apa saja yang Karan lakukan di dalam kamarnya. Seperti dugaannya, Karan memang memantau apa saja yang ia lakukan bersama sang manajer. Beruntung Raya cukup cerdas dengan tidak meninggalkan jejak apa pun.
Semua data-data yang sudah dikumpulkan oleh Ika tidak diambil oleh Raya, bahkan wanita itu pun tidak bisa mencatatnya. Laptop itu kembali dibawa oleh Ika saat keluar dari rumah mereka. Raya hanya membacanya dua kali dan mengandalkan otaknya untuk mengingat hal-hal penting. Dengan begitu Karan tidak akan bisa menemukan apa pun. Tindakan ini tidak hanya akan melindungi Ika yang sudah membantunya, namun juga melindungi dirinya sendiri dari hukuman sang suami.
Yang menarik adalah perkataan Karan sesaat sebelum ia meninggalkan ruangan itu. Bukan masalah anak karena Raya juga menginginkannya. Karan pun sudah beberapa kali mengutarakan niatannya untuk memiliki keturunan. Tetapi ada yang lebih mencengangkan dari itu. Pertama, Karan mengatakan akan berusaha melupakan masa lalu mereka. Masa lalu yang mana? Mereka saja baru menikah sekitar empat bulan. Perkenalan mereka tidak lebih dari satu tahun. Apakah pengenalan singkat seperti itu sudah masuk dalam kategori masa lalu?
Ditambah pernyataan kedua Karan yang menyebutkan tentang menahan kebencian terhadapnya. Karan membencinya. Ternyata yang Raya lihat selama ini bukanlah halusinasi belaka. Sorotan mata Karan yang memandangnya, utamanya di awal-awal pernikahan mereka adalah kebencian. Raya tidak salah melihatnya. Benar, itu bukan cinta. Masalahnya, mengapa Karan membencinya? Apa yang telah Raya lakukan di masa lalu hingga suaminya itu menaruh rasa benci hingga ingin melupakan masa lalu mereka? Dan apakah ini ada kaitannya dengan Raya yang tidak bisa mengingat apa yang terjadi belasan tahun yang lalu? Ini begitu penuh dengan misteri.