
Ternyata ucapan Ika benar. Sang manajer menjemput Raya di rumah bahkan sebelum Raya bangun. Wanita itu sangat antusias menceritakan tentang pekerjaan yang akan Raya lakukan hari ini, segala kostum, konsep dan juga rekan Raya di lokasi pemotretan. Tidak ada satu pun yang terlewat oleh Ika. Itu memang kelebihan Ika sebagai manajer.
“Tunggu, apa ini Kak?” Raya melihat dua lembar jadwal yang lain. “Apa pemotretannya tidak cukup sehari?”
Ika menggeleng cepat. “Tidak. Ini bukan jadwal pemotretan. Tapi jadwal pekerjaan yang lain.”
Kening Raya langsung mengerut. “Pekerjaan yang lain?”
“Iya. Mbak tahu ‘kan tahun ini akan diadakan kontes Putri Kecantikan Indonesia?” Sang manajer berbicara lagi sembari memasukkan sepatu-sepatu yang ada di lemari sepatu Raya. Memang mereka akan menggunakan kostum dari pihak perusahaan, tetapi sebelum ke sana Raya perlu menggunakan sepatu. Masalahnya sepatu yang dimiliki Raya saat ini begitu banyak dan Ika tidak tahu mana yang akan sesuai dengan Raya sehingga ia membawa beberapa sebagai cadangan.
Raya mengoles lipstik di bibirnya. “Iya. Memangnya kenapa?” Tentu saja Raya tahu tentang kontes itu. Ia adalah alumni dari program televisi tersebut dan setiap tahun ia selalu menyempatkan diri menonton guna mengingat kembali masa lalu. Dengan begitu Raya akan ingat bagaimana kesulitan yang pernah ia alami sehingga ia tidak akan banyak mengeluh.
“Mbak Raya akan jadi juri di acara itu selama sebulan penuh.”
“Apa?” Raya terbelalak. Saking terkejutnya, ia bahkan sampai menjatuhkan lipstiknya di atas meja, lalu menoleh ke arah sang manajer. “Aku jadi juri, Mbak? Serius?”
“Tentu saja serius. Kapan saya pernah bercanda tentang pekerjaan?”
“Astaga, ini serius?” ujar Raya seolah-olah tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Kontes itu bukanlah kontes main-main karena pemenangnya akan mewakili Indonesia pada kontes kecantikan tingkat internasional. Bukan sebagai peserta, tapi sebagai juri? Bisakah Raya percaya itu?
Tetapi kebahagian Raya hilang mendadak karena teringat satu hal. Karan. Suaminya itu tidak akan pernah mau melepaskan Raya dan membiarkan dirinya keluar rumah terlalu lama. Raya saja tidak mengerti alasan Karan membiarkannya kembali bekerja padahal pria itu selalu bersikeras mengurung Raya di awal pernikahan mereka hingga saat ini. Entah karena malaikat atau iblis yang menghasutnya, Raya tetap merasa bersyukur. Setidaknya ia bisa kembali muncul di depan kamera.
“Sepertinya kita harus menolak tawaran itu, Kak,” usul Raya sembari menampilkan wajah sedihnya.
Ika tersentak, merasa kaget bukan main. “Loh, kenapa? Bukankah itu kesempatan yang bagus? Selama ini ‘kan Mbak selalu mengikuti tayangan kontes itu di tv. Lagi pula, prestasi Mbak di dunia model sudah sangat banyak. Mbak bahkan diakui di dunia internasional. Itu tawaran yang bagus Mbak. Kenapa ditolak?”
“Bukan dari aku, tapi kau sendiri tahu masalahnya.” Raya menundukkan wajahnya sedih. Demi apa pun Raya benar-benar ingin pergi ke sana, tetapi ia tidak bisa. Pernikahan ini mengikatnya dan memasungnya agar tidak pergi terlalu jauh.
“Pasti karena Pak Karan ya Mbak?” tanya Ika ragu-ragu yang dijawab dengan sebuah anggukan kepala oleh Raya. “Kenapa Mbak tidak coba tanya saja pada Bapak? Mungkin saja Pak Karan setuju kalau Mbak menjelaskannya dengan baik.”
“Percuma Kak. Apa Kakak lupa bagaimana sosok Karan?”
“Memangnya bagaimana?”
“Karan itu...”
Ucapan Raya terhenti. Jelas Ika tidak tahu bagaimana sosok Karan yang sebenarnya. Selain pemberhentian Raya dari industri hiburan, Karan sama sekali tidak menunjukkan tabiat buruk di depan Ika. Memang Karan mengancam Ika, tapi jika dilihat dari sudut pandang yang lain, tindakan Karan akan dinilai hanya semacam sikap posesif seorang suami yang tidak mengizinkan istrinya bekerja. Terlebih saat sang suami punya harta kekayaan yang sangat melimpah sehingga tidak butuh tambahan finansial dari istrinya.
Ika tidak pernah melihat Karan yang kejam. Yang suka berbuat kasar pada Raya. Suka menghinanya dan melecehkannya. Ika tidak pernah melihat Karan yang sering pergi meninggalkan Raya dan mengurung istrinya itu di dalam rumah tanpa kebebasan apa pun.
“Mbak,” panggil Ika sambil mendekati Raya. “Saya sebenarnya tidak mengenal Pak Karan, tapi beliau bukanlah sosok yang seperti Mbak pikirkan. Mbak tahu dari mana pekerjaan ini saya dapatkan? Dari Pak Karan. Beliau langsung menghubungi saya dan memberikan pekerjaan ini kepada kita. Artinya Pak Karan sudah mengizinkan Mbak bekerja bukan?”
Tidak. Bukan seperti itu. Raya yakin ada sesuatu di balik pekerjaan ini. Karan bukanlah sosok yang akan membiarkannya pergi begitu saja. Bahkan, saat ia kabur dari rumah, Karan mengerahkan semua orang untuk mencarinya. Dan dengan mudah pria itu mendapatkannya kembali. Kemudian Karan mengurungnya di rumah. Pria itu sampai harus mengancam semua penghuni rumah agar tidak membiarkannya bebas. Karan adalah sosok kejam yang begitu mengerikan.
Raya mengembuskan napas kasar. “Aku akan coba berbicara dengan Karan. Tapi untuk berjaga-jaga, jangan disetujui dulu kontrak kerja samanya.”
Sang asisten mengangguk patuh. “Baiklah.”
Usai menyiapkan segalanya, Raya dan Ika pergi ke lokasi pemotretan di sebuah supermarket. Hanya untuk membuat iklan tersebut, supermarket harus ditutup sementara selama dua jam. Itulah sebabnya tidak ada pengunjung sama sekali di sana.
Raya benar-benar terkejut mendengar perkataan itu. Padahal Raya sama sekali tidak mempermasalahkan dengan waktu yang akan dihabiskan untuk iklan ini. Ia sudah memperkirakannya. Seandainya pun memakan waktu lebih lama, tidak ada yang dirugikan karena Raya tidak punya agenda lain setelahnya.
“Tidak perlu terburu-buru, Pak. Lakukan seperti biasa saja,” ungkap Raya dengan sopan.
“Baiklah, tunggu sebentar. Saya akan memanggil make up artis ke sini.”
Raya melihat lokasi tempat para perias berada. Daripada memanggil mereka ke tempat duduknya dan mengganggu proses riasan model yang lain, ada baiknya Raya saja yang menghampiri mereka. Sekaligus mengobrol dengan para model lain yang rata-rata merupakan junior Raya. “Tidak perlu Pak. Saya saja yang ke sana.”
“Tapi Bu—”
Raya tersenyum sebelum memotong ucapan ketua tim marketing itu. “Tidak apa-apa Pak. Saya juga ingin menyapa yang lainnya. Jadi saya saja yang ke sana.”
Laki-laki itu tidak bisa berkata-kata lagi. Ia hanya bisa membiarkan Raya pergi dari tempatnya menuju ke ruang rias. Sedangkan ia kembali ke sisi fotografer untuk memberikan arahan.
“Katanya Raya akan jadi model utama iklan ini ya?” celetuk salah satu model saat Raya baru berada di ambang pintu. Ucapan model itu membuat Raya mengurungkan niatnya untuk masuk. Ia memilih tetap berada di luar untuk mendengarkan percakapan mereka tentangnya.
Model lain menyahut, “Ya, si model yang sok paling terkenal itu.”
“Sebenarnya kenapa dia kembali lagi ke dunia model sih? Padahal dia sudah hidup Makmur bersama suami kayanya itu. Apa dia cuma mau pamer kalau suaminya kaya?”
“Sepertinya begitu. Dan apa kau tahu? Aku dengar-dengar dari manajer yang lain, supermarket ini dibeli oleh suami Raya seminggu yang lalu. Mungkin itulah sebabnya model utamanya diganti dengan Raya. Mereka tidak akan mungkin membiarkan wajah orang lain mengisi supermarket milik Karan Reviano.”
Dada Raya bergemuruh kencang. Apa ini? Pembelian supermarket? Penggantian model? Benar, Raya sama sekali tidak tahu bisnis suaminya. Ia pun tidak peduli dengan apa saja yang dikerjakan pria itu di luar rumah. Tapi Raya bukannya sengaja mau memanfaatkan Karan demi kariernya. Raya mengakui awalnya ia memang berniat seperti itu. Sayangnya sekarang tidak lagi. Bahkan, Raya sudah pasrah seandainya ia tidak bisa kembali ke dunia model.
Tetapi mengapa ada gosip seperti ini? Sampai penggantian model hanya supaya Raya bisa tampil di depan kamera? Padahal Raya yakin sudah membaca surat kontrak dengan baik. Semalam pun ia sudah mencoba melakukan riset tentang produk yang akan diiklankannya. Namun Raya sama sekali tidak mendapatkan kabar seperti itu. Ia tidak tahu sudah ada orang lain yang mengisi posisinya sebelumnya. Dan Raya menggantikan posisi orang itu dengan seenaknya.
Tangan Raya bergerak merogoh tasnya. Ia harus meminta penjelasan dari Ika. Tidak mungkin sang manajer tidak tahu mengenai hal tersebut. Raya memang tidak lugu dan polos di industri hiburan. Jujur ia juga melakukan sedikit trik agar bisa mencapai posisinya sekarang. Buktinya ia bahkan sampai menggunakan laki-laki demi ketenaran. Akan tetapi, Raya tidak pernah mau merebut pekerjaan orang lain. Ia bukanlah orang sepicik itu.
Baru hendak mengambil ponselnya, tiba-tiba saja pintu ruangan itu terbuka. Tidak hanya Raya yang terkejut, semua orang yang ada di dalam, termasuk dua model yang tadi membicarakannya pun sangat terkejut.
“E-eh ada Ibu Raya. Si-silakan masuk, Bu,” tawar si pembuka pintu yang merupakan salah satu tim perias wajah.
Raya yang tadinya dalam keadaan kesal dan kecewa, cepat-cepat mengubah ekspresinya. Wanita itu pun tersenyum. “Terima kasih,” katanya sembari melenggang masuk.
Dengan santainya Raya duduk di kursi. Saat wajahnya dirias, orang-orang yang bergosip tentangnya tadi merasa tegang. Mungkin mereka takut pada Raya. Ralat. Lebih tepatnya takut pada status Raya sebagai istri seorang konglomerat yang punya kedudukan tinggi. Mereka takut Raya akan mengadu pada Karan hingga membuat mereka kehilangan pekerjaan.
“Selamat pagi. Sudah berapa jam menunggu di sini?” sapa Raya pada kedua model itu.
Para wanita tersebut terkejut. “Pa-pagi Bu. Tidak lama. Kami baru satu jam di sini,” balas salah satu dari mereka.
“Wah cepat sekali ya kalian datang. Semoga pemotretan hari ini sukses ya.”
Kedua orang itu memaksakan senyum tercetak di bibir mereka. “Iya Bu. Saya rasa kita akan sukses karena kita punya super model seperti Ibu Raya,” sahut model yang lain, berusaha menjilat Raya.
Dengan ramahnya Raya tersenyum. “Terima kasih. Iklan ini akan berjalan lancar jika kita semua bekerja sama dengan baik.”