Lies

Lies
Ekspresi Lepas Sang CEO



Berbeda dengan rumor yang beredar, permukiman yang ada di jalan Asoka tampak baik-baik saja. Memang tidak sebagus pusat kota—mengingat daerah ini terletak cukup jauh dari ibu kota negara, namun tidak bisa dikatakan sebagai kawasan miskin pula. Sepanjang jalan, Raya melihat rumah-rumah susun berlantai lima dan beberapa rumah-rumah kecil. Ada pula taman dan sungai di belakang lapangan sekolah dasar. Tidak buruk malah terlihat seperti sebuah kampung yang tersusun rapi dengan perencanaan yang matang. Mulai dari fasilitas publik yang memadai hingga pemandangannya. Seandainya daerah itu menjadi contoh daerah-daerah lain, mungkin kampung kumuh tidak akan lagi mengisi negara ini.


“Sayang, ini panti asuhannya,” tukas Karan begitu mobil mereka tiba di depan sebuah lobi bangunan. Karena berniat untuk mengunjungi anak-anak yang kurang beruntung, Karan memutuskan tidak membawa mobil mewahnya. Ia malah menggunakan mobil milik perusahaan kendati mobil itu tidak membuatnya nyaman. Karan memang licik bahkan bisa dikatakan sebagai pria yang mempunyai hati seperti iblis, namun ia tidak sejahat itu kepada anak-anak yang tidak bersalah. Sang CEO sudah memanfaatkan mereka demi citranya, setidaknya ia bisa sedikit bersikap baik kepada mereka sebagai bentuk rasa teruma kasih.


Raya turun dari mobil dan disambut meriah oleh penghuni panti asuhan. Anak-anak memberikan bunga kepada Raya, sementara para pengurus panti asuhan menyalami Raya dengan wajah gembira. Padahal kunjungan ini terbilang sangat mendadak. Bahkan, Raya sama sekali tidak melakukan apa-apa untuk mereka. Mengapa mereka menyambutnya dengan sangat gembira seperti ini? Untung saja Raya membawa bingkisan di mobil box yang sengaja mereka ikut sertakan dalam kunjungan ini. Wanita itu akhirnya mengeluarkan bingkisannya dan membagikan bingkisan itu kepada anak-anak yang ada di dalam panti satu per satu.


“Jumlahnya 120 anak, Sayang. Sebenarnya ada 121, tetapi satu masih bayi, jadi kau tidak perlu memberikan bingkisan kepadanya.” Itu yang Karan katakan ketika mereka menyiapkan bingkisan itu. Alangkah mengejutkan bagi Raya di mana Karan bisa mengingat betul jumlah anak di panti asuhan itu. Tidak mungkin ‘kan sang CEO mengingat semua jumlah penghuni lembaga yang mendapatkan bantuan dari yayasan? Lantas, mengapa Karan begitu ingat jumlah anak di sana?


“Bagaimana kau bisa tahu?” celetuk Raya hari itu.


“Ya, karena aku dengar dari Ruben kau sedang menyiapkan bingkisan untuk mereka. Aku rasa kau harus mengingat jumlahnya agar tidak salah membawa,” jawab Karan dengan santai. Itu jawaban yang masuk akal, namun Raya tetap merasa tidak puas dengan jawaban itu. Tetap saja Raya melihat ada yang janggal dengan Karan. Pria itu tampak begitu antusias menemaninya berbelanja untuk mempersiapkan bingkisan. Entah karena pria itu takut Raya akan kabur atau karena ia memang mencurahkan perhatiannya pada anak-anak itu. Pasalnya, beberapa bagian dari bingkisan yang disiapkan Raya merupakan usulan Karan. Pria itu seolah paham sekali kegemaran anak-anak di panti asuhan itu.


“Terima kasih Bu Raya, saya senang sekali Anda bisa mampir ke tempat kami. Anak-anak sangat menyayangi Anda dan berterima kasih atas bantuan yang Anda berikan pada kami. Berkat dana pendidikan yang Anda salurkan bulan lalu, lima anak kami yang sempat putus sekolah, akhirnya bisa melanjutkan sekolah mereka masing-masing,” ujar sang pemilik panti asuhan menjelaskan ketika ia dan Raya duduk bersama untuk mengobrol.


Tentu saja Raya merasa bingung. Ia tidak tahu apa-apa tentang dana pendidikan itu. Jangankan memberikan dana, Raya saja tidak tahu apa-apa tentang panti asuhan itu. Dalangnya pasti Karan. Siapa lagi yang mampu mengatas namakannya dengan begitu lancang selain sang suami. Memang itu membawa citra positif bagi Raya, namun wanita itu merasa tidak layak menerima ucapan terima kasih atas perbuatan yang tidak ia lakukan sama sekali.


Masalahnya, Raya tidak bisa mengiyakan atau membantah ucapan sang pengurus panti asuhan. Yang wanita itu lakukan hanya tersenyum membalas pernyataan tersebut. “Bagaimana dengan perkembangan panti asuhan ini, Bu?” tanya Raya dengan sengaja mengalihkan pembicaraan agar tidak fokus pada dana pendidikan tersebut.


“Sangat baik, Bu. Semua berkat Pak Karan. Beliau dan yayasan beliau benar-benar penyelamat kami sejak delapan tahun lalu. Tidak hanya kami, tapi seluruh kampung ini juga menerima bantuan dari beliau. Itulah sebabnya jika Anda ke balai desa, Anda akan menemukan piagam penghargaan dan ucapan rasa terima kasih kepada Pak Karan. Jika beliau tidak ada, mungkin kampung kami akan tetap menjadi kampung kumuh seperti sepuluh tahun yang lalu. Dan panti asuhan kami akan ditutup karena kehilangan dana besar.”


Raya tidak tahu suaminya akan dicintai dan dihargai begitu besar oleh pihak panti asuhan. Tidak sampai di sana, ternyata Karanlah yang membantu kampung ini bangkit dari keterpurukan. Pantas saja kampung ini terlihat jauh sekali dari kata kumuh. Malah penataan bangunannya tampak begitu rapi sehingga sedap dipandang mata. “Mohon maaf Bu, kalau saya boleh tahu, mengapa panti asuhan Anda nyaris ditutup delapan tahun yang lalu?”


“Karena pemilik panti asuhan yang lama menyelewengkan dana panti asuhan dan kabur dari kota ini. Waktu itu juga ada bencana besar di kampung ini yang membuat para penyumbang enggan lagi memberikan sumbangan mereka kepada kami. Untung saja Pak Karan dan ayah beliau datang kemari. Mereka menyuntikkan dana untuk kami, bahkan sampai membantu kami merenovasi seluruh gedung. Semua gedung yang ada di panti asuhan ini dibangun delapan tahu lalu, Bu. Berkat keluarga Reviano.”


Sepanjang hari Raya hanya mendengarkan pujian dan sanjungan penghuni panti asuhan untuk Karan. Pria itu diperlakukan bak pahlawan di sana. Tidak ada satu anak pun yang tidak mengenal Karan, bahkan anak-anak di sana pun diajarkan untuk mengenal keluarga Reviano termasuk Raya. Untuk balas budi katanya. Mereka tidak mungkin melupakan atau tidak mengenali siapa tangan-tangan hangat yang menyalurkan bantuan kepada mereka. Bantuan yang tidak mereka dapatkan termasuk dari penguasa daerah dan negara.


Selepas mendengar pujian yang terus-menerus dilayangkan kepada Karan, Raya pun akhirnya punya kesempatan untuk berjalan-jalan mengelilingi panti asuhan dengan didampingi oleh sang pemilik panti asuhan. Tujuan Raya hanya untuk mengetahui apa saja kekurangan yang sekiranya dapat dilengkapi oleh pihak yayasan. Karena menurut Raya, dana saja tidak cukup menjawab permasalahan panti asuhan. Raya harus membenahi masalah dengan memberikan solusi yang tepat sasaran.


Saat berjalan-jalan di lingkungan sekitar, pandangan Raya tertuju ke lapangan basket. Ia melihat interaksi yang terjadi antara Karan dan anak-anak panti asuhan. Tidak ada kecanggungan sama sekali di antara mereka. Karan dan anak-anak itu bermain basket dengan serius seolah-olah mereka sedang menjalani sebuah turnamen resmi. Raya pun memutuskan untuk melihat pertandingan itu alih-alih melanjutkan pengamatannya. Sebab ia tidak pernah melihat ekspresi Karan yang seperti ini. Pria itu tampak lepas menunjukkan emosinya kepada anak-anak tersebut. Terkadang ia tersenyum dan tertawa, tapi terkadang ia juga memberikan instruksi tegas kepada anak-anak yang ada di dalam timnya bagaimana cara memainkan bola. Ketimbang seorang donatur, Karan malah terlihat seperti pelatih olahraga anak-anak itu.


“Loh, Sayang, kenapa di sini? Aku pikir kau sedang berjalan-jalan mengelilingi panti asuhan ini,” celetuk Karan setelah mengambil handuk kecil itu dan mengelap wajah dan lehernya yang basah terkena keringat.


“Ya, tadi aku sudah berkeliling sebentar, tapi aku melihatmu sedang bermain dengan anak-anak. Kau terlihat sangat menikmati waktumu ya.”


“Ah, itu karena mereka memaksaku bermain. Lagi pula, kau tahu aku juga jarang berolahraga belakangan ini karena sibuk. Jadi, aku memanfaatkan waktu luangku untuk membakar lemak. Apa kau mau ikut Sayang?”


Kedua mata Raya terbelalak. “Aku?” ungkapnya terkejut. Cepat-cepat wanita itu menggelengkan kepalanya. “Aku tidak bisa bermain basket, Karan. Lagi pula, aku tidak membawa baju ganti. Bagaimana kalau bajuku basah?” Raya berbicara jujur, tapi dengan nada yang begitu rendah agar tidak didengar anak-anak yang ada di sekitar mereka. Raya tidak ingin mengecewakan anak-anak itu, tapi ia juga tidak mau menyiksa dirinya sendiri. Ia tahu tanpa melakukan apa pun citranya sudah sangat baik di panti asuhan itu, jadi ia tidak perlu terlalu bersikeras melakukan hal-hal yang tidak ia inginkan.


Namun apa yang dikatakan Karan membuat Raya semakin terkejut. Pria itu merengkuh sang istri dan membisikan sesuatu di telinganya, “Kau tenang saja, Sayang. Aku sudah membawa baju ganti untukmu dan juga kau tidak perlu khawatir karena kau cukup jago bermain basket. Eum, maksudku, aku yakin kau pasti bisa bermain basket.”


Untuk kesekian kalinya Karan berbicara seolah-olah pria itu tahu segalanya tentang Raya, bahkan segala sesuatu yang Raya saja tidak tahu sama sekali. Seingatnya sewaktu SMA, ia tidak pernah bermain basket. Ah, lebih tepatnya ia memilih untuk tidak mencurahkan dirinya pada olahraga. Raya sudah cukup pusing dengan pelajaran di kelas. Tidak ada waktu untuk berolahraga. Dulu ia juga sering mendapatkan dispensasi dari kepala sekolah agar tidak mengikuti sesi pelajaran olahraga di lapangan. Alasannya karena Raya memiliki gangguan kesehatan. Ini memang aneh karena nyatanya saat ia kuliah atau saat ia mencoba menjadi seorang model, ia bisa menghabiskan waktu berjam-jam berlatih kekuatan fisik di pusat kebugaran. Dan sang bibilah yang menyarankan hal tersebut.


“Sayang, ayo! Ian akan membawakan bajumu. Kau harus ikut ya? Anak-anak ingin mengenalmu lebih dekat. Dan olahraga adalah cara paling ampuh untuk dekat dengan mereka,” tambah Karan yang memosisikan dirinya sebagai juru bicara anak-anak panti asuhan. Dalam segi itu, Raya merasa seperti tengah berbicara kepada seorang pria yang sedang memperkenalkan anak-anaknya kepadanya. Sikap Karan dan bagaimana laki-laki itu memperlakukan anak-anak panti asuhan di luar bayangan Raya. Tidak ada kepura-puraan dan kepalsuan. Raya melihat Karan seperti seorang laki-laki yang tulus ingin membantu anak-anak itu.


“Apa yang akan kau berikan padaku jika aku ikut bermain?” Raya menawarkan sebuah negosiasi.


Kali ini Karanlah yang kaget. “Apa?”


“Iya, aku harus mendapatkan sesuatu jika kau ingin aku menurutimu, Pak CEO. Kau tahukan aku seorang model. Tenagaku harus sepadan dengan imbalannya,” cetus Raya dengan nada bercanda. Ia hanya ingin menggoda suaminya, tetapi tanpa disangka Karan malah menganggapnya serius.


“Memangnya apa yang kau inginkan, hm? Kau tahu aku sudah memberikan segalanya untukmu dan aku akan menuruti keinginanmu. Tentu bukan keinginan untuk kabur dariku.”


Raya menggelengkan kepalanya. “Tidak, Karan. Aku tidak akan pergi darimu. Tidak akan,” katanya dengan tegas.


Karan membuka botol air minumnya dan meneguk isi dalam botol itu hingga setengah. Lalu, ia berbicara lagi dengan sang istri. “Jadi, apa yang kau inginkan?”


“Tolong izinkan aku kembali menjadi seorang model,” pinta Raya. Sebelum Karan memotong ucapannya, dengan cepat ia menimpali perkataannya. “Tidak, aku bukan bermaksud akan melepaskan jabatanku sebagai direktur yayasan. Aku pikir aku mulai menyukai posisi ini. Tetapi, aku benar-benar ingin kembali bekerja sebagai model. Aku ingin bekerja tanpa bantuan darimu. Karan tolong, biarkan aku hidup sebagai Raya Drisana, setidaknya saat aku berada di depan kamera,” tukas wanita itu mengiba dengan harapan Karan mau mendengarkannya.