Lies

Lies
Sebuah Pengorbanan



Farraz masuk dengan mendobrak pintu rumah Raya. Ia tidak punya pilihan selain melakukan hal itu. Pasalnya dari celah yang diintipnya, Farraz melihat sesuatu yang mengerikan. Tangan Raya berlumuran darah. Tidak hanya itu, di samping gadis itu pun terlihat sangat berantakan. Piring dan perabotan lainnya melayang di mana pun. Tidak ada tempat yang tidak dipenuhi dengan barang. Untung saja tidak ada benda-benda yang terbuat dari kaca di rumah itu. Mungkin inilah alasan mengapa Raya selalu membeli perabotan rumahnya dengan menggunakan bahan plastik, besi atau kayu agar saat ayahnya mengamuk atau terjadi pertengkaran dengan sang ayah, tidak ada satu benda pun yang rusak sehingga menghemat biaya pengeluaran untuk kebutuhan sepele seperti itu.


Begitu Farraz membuka pintu secara paksa, ia menemukan Raya sedang duduk di pojok dapur dengan tangan sedang menggenggam sebuah pisau. Darah itu munculnya dari saja. Dari senjata tajam yang sering digunakan gadis itu untuk menyiapkan makan siang dan makan malam. Benak Farraz bertanya-tanya, dari mana cairan warna merah pekat itu berasal? Apakah gadis itu terluka? Itulah yang dipikirkan Raya. Ia takut kekasihnya yang terluka karena memakai benda tersebut. Segera pemuda itu menghampiri Raya.


“Raya, kenapa kau berdarah? Apakah kau terluka?” tanya Farraz panik. Matanya menjelajah di sekitar tubuh Raya, mencari apakah ada yang tergores dari sana. Kondisi tubuh Raya begitu mengenaskan. Memang tidak ada jejak goresan dari benda tajam, tetapi bekas biru mengerubungi tangan dan kaki Raya. Yang paling mengejutkan, kali ini wajah Raya juga terkena imbasnya. Wajah yang tidak pernah disentuh itu akhirnya mengalami pendarahan. Lebih tepatnya di salah satu sudut bibir Raya bagian kiri yang dilengkapi dengan pipinya yang membengkak. Sudah bisa dipastikan bahwa Raya ditampar dengan sangat keras di sana. Saking kerasnya sampai bibirnya pun pecah.


Farraz menggeram. Tidak perlu ditanya ulah siapa itu. Satu-satunya orang yang tega memukuli Raya adalah ayahnya sendiri. Ini sudah sangat keterlaluan. Penganiayaan ini sudah tidak bisa dibenarkan lagi. Malam ini Farraz akan membawa Raya keluar dari rumah bak neraka ini apa pun yang terjadi. Akan tetapi, sebenarnya apa yang terjadi di sini? Farraz masih bertanya-tanya dari mana datangnya darah yang membanjiri tangan Raya.


“Apa yang terjadi Raya? Kenapa kau beradarh?” tanya Farraz lagi. Pemuda itu kemudian mendapatkan jawaban saat Raya mengangkat tangannya yang gemetar ke arah sudut dapur yang lain. Sambil menunjuk itu, tangis Raya pecah. Namun, gadis itu menyembunyikan isakannya. Hanya air mata yang berderai mengucur deras dari kedua matanya. Raya sudah biasa menangis tanpa suara. Gadis itu hanya akan menangis tersedu-sedu saat berada di luar rumah. Itu pun hanya di pusaran ibunya dan juga di depan Farraz. Sisanya, sebisa mungkin Raya tidak akan menangis. Atau sekalipun ia menangis, suaranya akan tidak terdengar agar tidak memancing keributan di sekitarnya.


Yang mengejutkan bagi Farraz bukan hanya melihat tangisan Raya, tapi lebih kepada apa yang ditunjuk gadis itu. Ada seseorang yang terperenyak di atas lantai. Farraz tidak bisa melihat dengan jelas karena penerangan di sebelah sana sangat minim. Maklum, Raya hanya menggunakan lampu minyak untuk menerangi rumahnya. Listrik tidak pernah ada di sana karena Raya tidak sanggup membayar tagihannya perbulan. Akibatnya, hanya dua lampu minyak saja yang digunakan Raya. Satu di bagian ruang tamu dan satu lagi di dapur. Jika Raya ingin memakainya untuk belajar, maka ia akan menggunakan lampu di ruang tamu yang lebih terang di kamarnya.


Farraz tidak bisa melihatnya dengan jelas, tapi ia tahu ada yang tidak beres dengan ayah Raya. Itulah sebabnya ia menutup pintu yang tadi ia dobrak itu sebelum mendekati ayah Raya dengan menggunakan lampu minyak yang ada di dapur. Biar bagaimanapun, Farraz punya firasat buruk dengan kejadian ini. Ia tidak ingin apa yang terjadi di dalam rumah ini sampai terdengar ke luar rumah. Sebisa mungkin Farraz akan membereskannya dengan caranya sendiri kendati caranya belum tentu benar.


Nyaris saja lampu yang ada di tangan Farraz terjatuh ketika ia melihat apa yang terjadi sebenarnya. Kedua bolanya melebar dan mulutnya terbuka secara mendadak. Benar, orang yang sedang duduk di sudut rumah itu adalah ayah Raya. Masalahnya, pria itu tidak hanya duduk, tetapi juga berdarah. Ada luka yang jelas di bagian bawah tulang rusuknya, tempat di mana hati manusia berada. Dan dari sanalah darah mengalir deras. Tanpa dijelaskan pun Farraz bisa menangkap apa yang terjadi di sana. Pasti ini dilakukan oleh Raya. Perempuan itu tengah memegang benda berbahaya yang berlumuran darah di tangannya. Sementara ayah Raya duduk dengan luka bekas tusukan yang jelas. Artinya, Rayalah yang melakukan penyerangan itu.


Sempat tidak bisa berpikir jernih, Farraz mengatur napasnya. Ia panik dengan situasi seperti ini. Situasi yang tidak pernah ia alami sebelumnya. Sebenarnya apa yang terjadi ini? Mengapa jadi begini? Apa yang harus ia lakukan? Pertanyaan-pertanyaan itu bermunculan di kepala Farraz yang panik.


Selagi Farraz mencoba mencari jalan keluarnya, Raya mulai berbicara. Dengan suara tangis yang terdengar pelan, gadis itu berbicara, “Bagaimana ini? Apakah dia sudah mati? Aku membunuhnya! Aku pasti membunuhnya!” katanya sambil terisak.


Pemuda itu berjongkok, ia meletakkan lampunya di samping tubuhnya. Pelan-pelan Farraz mengarahkan tangannya ke bagian leher dan tangan ayah Raya. Ia mencari denyut jantung dari kedua tempat itu. Meskipun sudah mencobanya berkali-kali, Farraz tidak juga menemukan tanda-tanda kehidupan dari pria itu. Ayah Raya sudah tewas. Farraz bisa memastikannya karena ia sudah belajar biologi dengan sangat baik di sekolahnya. Selain matematika, Farraz bahkan pernah juga ikut olimpiade biologi. Jadi, ia tidak mungkin salah mengidentifikasi kematian seseorang dari denyut jantungnya. Terlebih Farraz menambah kepastiannya dengan memeriksa napas laki-laki tersebut. Dan pemuda itu tidak juga bisa merasakan adanya udara yang keluar masuk dari mulut dan hidung ayah sang kekasih.


Dengan cepat Farraz mengambil lampunya dan menghampiri Raya. Ini tidak bisa dibiarkan. Apa pun yang telah terjadi, ia tidak akan mungkin membiarkan gadis yang dicintainya itu menanggung segalanya. Melihat tubuhnya yang sudah babak belur, pasti ini perbuatan yang tidak disengaja. Kalaupun sengaja, pasti karena Raya ingin membela diri. Sudah terlalu lama ia menahan rasa sakit akibat penganiayaan sang ayah. Mungkin malam ini kesabarannya sudah habis. Itulah yang membuatnya akhirnya mengambil tindakan nekat dengan melukai ayahnya. Ya, pasti tujuan awal Raya hanyalah ingin menyakiti pria itu. Raya pasti tidak berencana untuk membunuh laki-laki tersebut.


Untuk itulah Farraz harus bertindak cepat untuk mengeluarkan Raya dari situasi ini. Ia harus segera mengeluarkan Raya agar gadis itu tidak terlibat. Pemuda itu mengambil baju bersih Raya dan menyuruh gadis itu untuk meletakkan benda tajam yang ada di tangannya itu ke atas lantai dan membersihkan dirinya. Dalam intruksi itu, Farraz mengatakan kata-kata yang memengaruhi Raya. “Kau tidak melakukannya, Raya. Kau tidak mengenal laki-laki ini. Dia memang ayahmu, tapi kau tidak tahu kejadiannya. Kau mengerti?”


Raya sudah berhenti menagis saat itu, tapi ia terlihat linglung. Mungkin ini pengaruh dari keterkejutannya yang begitu besar hingga ia merasa bingung. Ia bahkan tidak mengerti apa yang terjadi sebenarnya dan hanya mendengarkan kata-kata yang diucapkan oleh Farraz. Tidak peduli apa pun yang dikatakan laki-laki itu, ia hanya mengangguk dan mengatakan satu kata, “Iya.”


Usai memastikan Raya sudah membersihkan dirinya sehingga tidak ada jejak darah apa pun yang menempel di tubuhnya, Farraz membawa Raya ke panti asuhannya usai mengunci rumah Raya rapat-rapat. Di sana ia menceritakan apa yang terjadi kepada salah satu pengurus panti yang merupakan perwakilan Farraz. Pengurus yang juga merupakan teman dari ibunya. Farraz tidak menceritakan secara menyeluruh dan malah memutarbalikkan fakta dengan mengatakan bahwa ia telah melukai ayah Raya saat gadis itu dipukuli. Farraz melakukan itu karena tidak tahan melihat Raya dianiaya oleh ayahnya sendiri.


Pemuda itu kemudian meminta bantuan kepada sang pengurus untuk membawa Raya pergi dari kampung ini ke tempat bibi Raya. Farraz juga menyiapkan uang untuk mereka. Uang yang telah ia kumpulkan termasuk uang yang disimpan oleh Raya di taman di samping panti asuhan. Farraz bisa tahu tempat itu karena ia pernah secara tidak sengaja melihat Raya menyimpan uangnya di sana. Karena ini situasi yang mendesak, jadi tidak ada salahnya mengeluarkan uang simpanan Raya untuk menyelamatkan gadis itu sendiri.


Setelah memohon-mohon pada sang pengurus, akhirnya wanita paruh baya itu pun mau membantu Farraz. Ia membawa Raya keluar dari kampung itu dengan menggunakan sepeda motor yang ada di panti asuhan. Kemudian membawanya ke terminal bus. Sebenarnya ia ingin menemani Raya sampai gadis itu tiba di rumah sang bibi. Namun, ia tidak bisa meninggalkan Farraz begitu saja. Pemuda itu masih terlalu kecil untuk menanggung semuanya sendiri. Ia akan membantunya untuk mencari jalan keluar.


Akan tetapi jarak ke terminal bus terbilang sangat jauh dari tempat tinggal mereka, setidaknya memakan waktu lebih dari dua jam untuk kembali lagi ke panti asuhan. Dan usai mengantarkan Raya dan kembali ke panti asuhan, wanita itu terkejut melihat keadaan kampung yang sudah dipenuhi oleh polisi. Bahkan panti asuhan tempat tinggalnya pun sudah didatangi banyak aparat penegak hukum itu. Mereka menyelidiki hal-hal yang berhubungan dengan Farraz. Kamar pemuda itu pun tidak luput dari pemeriksaan. Penggeledahan besar-besaran dilakukan hingga matahari membumbung tinggi, akhirnya Farraz, pemuda berusia 16 tahun itu pun dibawa ke mobil polisi dengan keadaan kedua tangan yang terborgol.