
Dijebak. Tentu saja Karan tidak bisa menerima hal itu sama sekali. Siapa yang berani menjebak istri seorang Karan? Tidak akan mungkin. Selain itu, Karan bukan hanya menggunakan foto-foto yang beredar di media massa dan sosial saja sebagai buktinya. Karan juga memiliki beberapa gambar yang dikirimkan oleh mata-mata yang disuruh Ian untuk mengikuti sang istri. Hasilnya Karan mendapatkan berbagai macam foto kemesraan Raya dengan Reagan. Karan marah dan kesal, namun ia masih tetap menahan dirinya agar tidak kelepasan. Karena sekali saja Karan lepas kontrol, rasanya ia akan melakukan kekerasan fisik pada Raya, dan itu bukan ciri khas dirinya. Pria itu hanya ingin menyiksa Raya secara mental dan perasaan, persis seperti yang pernah wanita itu lakukan dulu kendati akibat dari itu juga berdampak buruk pada fisik Karan.
“Siapa yang melakukannya padamu? Apa kau bisa mendapatkan pelakunya? Katakan padaku, Raya, aku akan pastikan dia tidak akan pernah muncul lagi di hadapanmu.” Karan berbicara sungguh-sungguh. Hanya ia yang boleh menyiksa Raya, tidak boleh ada orang lain. Terlebih menjebak dengan menjadikan Raya dan Reagan semakin dekat. Tidak bisa. Sampai kapan pun Karan tidak akan mengizinkannya.
“Aku tidak tahu. Aku yakin ada orang yang melakukannya. Aku tidak akan berselingkuh darimu, Karan. Tolong percayalah padaku,” tukas Raya frustrasi. Ia benar-benar tidak tahu bagaimana cara meyakinkan Karan dan mendapatkan kepercayaan pria itu. “Aku sudah menikah denganmu. Untuk apa aku mencari pria lain?”
Bibir Karan tersenyum. Ia senang mendengar ucapan Raya kendati kemarahannya belum sepenuhnya mereda. Baginya ucapan Raya sudah menunjukkan bahwa ia unggul di atas pria lain. Dari segi apa pun, tentu saja Karanlah yang terbaik. Ia seorang pengusaha sukses, anak keluarga konglomerat terpandang, wajah rupawan dan tubuh proporsional. Tidak mungkin ada yang bisa mengalahkannya untuk mendapatkan Raya.
“Aku senang kau memujiku, Raya. Tapi bukan berarti aku bisa menerima semua ini. Akan ada hukuman pada setiap pelanggaran. Kau harus memahami itu, Istriku Sayang,” tekan Karan tidak main-main. Dan ketika Raya hendak menunjukkan rasa keberatannya, dengan cepat Karan mencegah, “Sudah. Jangan mendebatku lagi sebelum aku berubah pikiran dan memberikanmu hukuman yang lebih berat lagi.”
Sesampainya di dalam rumah, Karan membawa Raya ke dalam rumah dengan cara yang sangat kasar yang membuat orang-orang di sana menyaksikan pemandangan itu dengan miris. Sayangnya tidak ada satu pun yang bisa melakukan sesuatu untuk membantu Raya. Mereka hanya bisa terdiam sambil berharap kemarahan Karan tidak menular pada mereka. Sebab, ketika Karan marah apalagi disebabkan oleh sang super model, pria itu akan mengamuk pada para pelayan dan menyulitkan keadaan mereka. Sebagai orang-orang yang tidak punya kuasa dan kepentingan, mereka memilih untuk diam.
“Masuk! Cepat masuk!” Karan menarik Raya untuk masuk ke dalam kamar wanita itu. Saat Raya sudah berada di sana, Karan berbicara lagi, “Kau akan aku hukum. Kau tidak boleh melakukan apa pun di luar kamar ini. Dan jangan lakukan hal yang nekat lagi Raya, karena kali ini aku benar-benar akan menyiksa semua orang yang ada di sekitarmu. Aku tidak main-main lagi. Aku harap kau mengerti.” Karan keluar dari kamar Raya, lalu mengunci pintu itu dari luar. Pria itu mengurung Raya di kamar, tidak seperti biasanya di rumah. Supaya Raya sadar, kebaikan Karan bukanlah sesuatu yang dapat wanita itu permainkan dengan mudah.
“Karan! Kau gial! Buka pintunya Karan! Buka!” seru Raya dari dalam kamarnya. Ia berontak, merasa marah dengan ketidakadilan yang Karan lakukan. Foto itu bukan salahnya. Ia sama sekali tidak berniat untuk terlibat dalam skandal apa pun. Dalam pikirannya hanya ada pekerjaan. Bagaimana mungkin Raya berpikir untuk mencari laki-laki lain? Jangankan melakukannya, sekali pun Raya tidak pernah membayangkan dirinya akan berkhianat dari Karan.
“Raya akan aku hukum di dalam kamar. Sampai masa hukumannya selesai, jangan ada yang coba-coba untuk membantunya kabur. Aku benar-benar tidak akan memaafkan orang-orang yang melawan perkataanku.” Karan berbicara pada para asisten rumah tangga yang sengaja ia kumpulkan di ruang tengah rumahnya. Ia ingin menyampaikan hukuman Raya dan mencegah ada orang-orang yang membawa istrinya pergi. Pasalnya, Karan tidak mungkin menjaga Raya selama 24 jam. Ada kalanya ia pergi bekerja sehingga mau tidak mau ia harus menyerahkan kunci kamar Raya pada Anna. Agar asisten rumah tangganya itu mengantarkan makanan pada sang istri.
“Baik Pak,” sahut para bawahan Karan itu dengan patuh, tanpa mengeluh dan berbicara.
“Sial!” umpat Raya dengan kasar. Sudah seharian ia dihukum Karan, mendekap di dalam kamar tanpa melakukan apa-apa. Selain pemandangan luar rumah yang bisa ia saksikan dari beranda kamarnya, tidak ada apa pun yang bisa Raya nikmati. Semuanya membosankan. Televisi besar yang ada di kamarnya selalu menyala, menampilkan beraneka macam tayangan, tapi tidak ada yang bisa menghibur Raya. Sementara laptop dan ponsel Raya disita oleh Karan. Selain dari televisi, Raya benar-benar tidak tahu apa yang terjadi pada dunia di luar sana.
Apakah Raya bisa melarikan diri? Jawabannya bisa. Tapi ia tidak mau. Lebih tepatnya ia tidak mau mengambil risiko lebih besar dari sebelumnya. Karan sedang marah, Raya tidak bisa membayangkan bagaimana pria itu akan mengamuk saat tidak menemukannya di dalam kamar itu. Jangan lupa, Karan adalah orang yang berbahaya, pria itu bisa melakukan apa saja yang ia sukai. Hari ini saja dari informasi yang Raya dapatkan dari Anna sudah menunjukkan bahwa Karan sedang merealisasikan ancamannya. Pria itu mengakuisisi agensi Raya dan membeli sepertiga saham label musik yang sempat diproduseri Reagan. Tidak tahu apa yang akan dilakukan suaminya ke depannya.
“Istri saya sedang sakit. Sedang tidak enak badan, maaf telah membuat teman-teman kecewa karena tidak bisa membawanya ke sini.” Karan tampil di depan belasan wartawan siang ini usai mengakuisisi agensi tempat Raya bekerja. Dengan senyuman ramahnya ia menipu belasan pasang mata awak media bahkan jutaan rakyat yang menyaksikan tayangan itu. Nyatanya Raya tidak sakit. Ah, benar. Ia memang sakit, tapi rasa sakit itu diciptakan oleh suaminya sendiri. Dasar penipu sialan!
“Mengenai penyakit apa? Tidak terlalu parah, jadi teman-teman tidak perlu cemas. Istri saya hanya terlalu lelah karena kembali bekerja. Mungkin setelah ini dia akan beristirahat selama beberapa saat sebelum muncul lagi menyapa kalian. Itu saja yang bisa saya sampaikan. Terima kasih,” celetuk Karan yang lagi-lagi berbohong pada wartawan. Pria itu sudah begitu mahir berbohong hingga tidak perlu menyediakan juru bicara atau kuasa hukumnya untuk mewakilinya. Karan dengan percaya diri tampil di depan kamera.
Tepat setelah Karan selesai menjawab pertanyaan-pertanyaan wartawan, tiba-tiba telepon yang ada di nakas berdering. Raya sontak saja terkejut. Selain penghuni rumah dan manajernya, tidak ada yang bisa meneleponnya. Siapa yang menghubunginya sekarang? Tidak mungkin Karan karena laki-laki itu masih dikerubungi wartawan yang membuatnya sedikit kesulitan berjalan ke mobil. Kemungkinan besarnya hanyalah sang manajer.
“Halo!” ucap Raya mengangkat telepon itu.
“Apa kau dikurung, Raya?” cetus orang itu tiba-tiba.
“Apa?” Raya terkejut bukan main. Suara ini bukan suara manajernya, melainkan seseorang yang sangat Raya kenal. Seseorang yang sempat terkena skandal dengannya. Reagan, rekan kerjanya. Apa yang dimaksud laki-laki itu? Terlebih lagi, bagaimana Reagan bisa tahu ia sedang dikurung?