Lies

Lies
Hanya Kau Satu-satunya



Kejujuran Karan memang harus diapresiasi. Bagaimana mungkin Karan bisa melakukan saat mereka berada di dalam kamar dan di atas ranjang? Tentu saja itu harus patut diapresiasi kendati sangat sulit diterima oleh Raya. Bukan menjadi wanita pertama bagi sang suami. Oh ayolah, meskipun Raya punya pemikiran luas dan sering bepergian ke luar negeri karena tuntutan pekerjaan, Raya bukanlah wanita yang mengadopsi pemikiran barat. Nilai-nilai ketimuran masih ia junjung tinggi. Tidak ada hubungan badan sebelum menikah. Itu adalah nilai tertinggi yang dipegang oleh sang super model. Itulah sebabnya Raya tidak melakukannya. Ia tidak menyerahkan tubuhnya kepada laki-laki selain suaminya. Sayangnya Karan tidak melakukan hal itu.


Entah perasaan apa yang tengah bercokol di dalam hati Raya sekarang. Ada perasaan sedih dan marah. Ada pula perasaan kecewa. Memangnya apa yang Raya harapkan dari Karan? Apakah ia berharap Karan adalah pria baik-baik tanpa kesalahan di masa lalu? Ah, belum tentu Karan menganggap itu kesalahan. Toh, Karan pun membicarakan masalah tersebut dengan sangat terbuka. Artinya pria itu sama sekali tidak menyesal karena sudah meniduri wanita lain selain istrinya. Raya harusnya mengerti itu sejak awal, bahwa laki-laki seperti Karan yang tinggal lama di luar negeri dan punya kekayaan yang luar biasa ditambah wajah dan postur tubuh yang sempurna, tidak akan mungkin senang sendirian. Pasti ia ingin mengajak beberapa wanita untuk menemaninya tidur.


“Kenapa kau diam, Sayang? Apakah tidak ada yang ingin kau sampaikan lagi padaku?” tanya Karan sambil mengecupi pundak Raya. Ia tidak akan bisa diam jika kedua matanya jelas-jelas melihat tubuh Raya yang terbuka. Ia begitu menginginkan Raya, ia menyukai segala hal yang ada di tubuh wanita itu. Jadi, Karan akan selalu menyentuh wanita itu selagi mereka bersama.


Perasaan bercampur aduk berkecamuk di dalam hati Raya. Apakah ia harus melanjutkan percakapan tentang wanita yang pernah menghabisakan malam dengan suaminya itu? Atau ia tidak perlu membahasnya lagi? Akan tetapi, perasaan di hati Raya menghendaki hal yang berbeda dengan isi kepalanya. Otak wanita itu berharap Raya terus bertanya agar rasa penasarannya terpenuhi, namun hatinya tidak sanggup mendengar apa pun tentang wanita itu. Setelah beberapa saat, akhirnya Raya luluh dengan isi kepalanya. Ia pun bertanya pada sang suami.


“Apakah wanita itu kekasihmu? Dia orang Indonesia?” Karena tinggal bertahun-tahun di negara lain, bisa saja Karan memiliki kekasih orang sana. Mungkin kekasih Karan itulah yang menemani Karan selama ini dan memenuhi kebutuhan biologisnya. Kendati hal yang sama juga bisa terjadi pada wanita lokal di sini. Sebab sekali saja Karan mengatakan kalau ia butuh wanita di atas ranjangnya, pasti akan banyak wanita berbondong-bondong datang kepada sang CEO.


Karan menyeringai. Ia memindahkan bibirnya yang basah ke telinga Raya. Laki-laki itu mulai mengecup dan menggigit-gigit kecil bagian itu. “Sebenarnya aku tidak suka kau membahas tentang masa laluku, Raya. Terutama tentang wanita itu. Tapi, aku suka melihat sorotan matamu yang penuh kemarahan ini saat kau menanyakan tentangnya. Aku anggap itu sebagai bentuk rasa cemburumu terhadapku. Dan aku menyukainya.” Karan berpindah lagi. Kali ini ia mencium bibir Raya yang merekah sebelum menjawab pertanyaan wanita itu. “Dia orang Indonesia. Dan dia tidak penting lagi. Karena kau tahu, tidak ada wanita yang lebih penting selain dirimu.”


Respons di hati Raya meluap-luap. Antara rasa bahagia mendengar pernyataan Karan atau rasa sedih karena mengetahui seberapa mudahnya Karan menganggap wanita yang pernah menemani malam panasnya dianggap tidak penting. Karan juga sudah melupakannya bahkan dengan gampang menyebutkan tentang kejadian itu kepada istrinya sendiri. Bagi Raya, mungkin itu sebagai gambaran masa depannya kelak. Bahkan ia bisa saja akan mengalami hal yang sama. Dibuang, dicampakkan, dilupakan dan dianggap tidak berarti oleh suaminya.


“Sayang, ayo lupakan tentang itu. Karena yang perlu kau tahu hanya satu, tubuhku adalah milikmu. Dan aku tidak akan membiarkan wanita lain menyentuhnya,” ungkap Karan dengan tegas. Ia sama sekali tidak menyesal mengungkapkan hal itu. Sebab baginya, selain Raya, tidak ada yang bisa memberikannya rasa kepuasan yang tinggi. Selain itu, jangankan berhubungan badan, memikirkan ada tangan wanita lain di tubuhnya saja sudah sangat menjijikkan.


Raya menganggukkan kepala, tanda bahwa wanita itu setuju menghentikan pembicaraan yang begitu membosankan ini. Akhirnya, saat yang Karan nanti-nantikan tiba. Ia mengangkat kepalanya dan mencium bibir Raya dengan rakus. Sementara tangannya bergerak di tubuh bagian atas sang istri. Pria itu sempat menyeringai saat jantung Raya berpacu di bawah telapak tangannya yang membuat napas wanita itu sedikit terputus-putus.


Berbeda dari sebelumnya, kali ini Karan melakukannya dengan terburu-buru. Karan menempelkan satu tangan ke samping Raya untuk menyeimbangkan diri dan menggunakan tangan satunya lagi untuk menyentuh titik-titik sensitif Raya. Ketika wanita itu sudah siap, ia pun menyatukan miliknya pada milik Raya. Karan melakukan pergulatan mereka terus-menerus sampai matahati nyaris terbit di atas ranjang.


******


“Akhirnya kau datang juga, Raya. Tante pikir kalian tidak datang sama sekali.” Bibi Karan menyambut kehadiran Karan dan Raya di ballroom gedung sebuah hotel di tengah kota. Terbilang aneh karena acara itu disebut acara amal tetapi dilaksanakan di tempat yang sangat mewah. Awalnya bukan seperti ini rencana yang telah disusun oleh tim dari bibi Karan. Mereka hendak melakukannya di luar ruangan, misalnya di depan sebuah panti asuhan atau yayasan amal. Akan tetapi, keterbatasan cuaca menghambat segalanya. Jakarta belakangan ini sering diguyur hujan hingga melakukannya di luar rumah justru terbilang tidak efektif.


Pun sang bibi tidak bisa melakukannya di dalam panti asuhan atau di dalam gedung yayasan amal. Penyebabnya karena orang-orang kaya ibu kota tidak suka berada di sana. Alasannya karena ruangan di tempat-tempat itu tidak cukup mengakomodasi jumlah undangan yang datang. Mereka tidak sudi berdesak-desakkan di dalam satu ruangan yang kecil dan pengap. Bahkan, mereka mengancam tidak akan menghadiri acara amal itu jika bibi Karan tetap bersikeras mengadakannya di sana. Alhasil, sang bibi pun menyerah pada keinginan mereka. Wanita itu lebih mementingkan uang yang didapatkan dari acara ini ketimbang hanya sebatas pencitraan di depan publik. Toh, jika uangnya sudah terkumpul pun ia tetap bisa melakukan pencitraan karena ia adalah orang yang akan menyumbangkannya.


“Dulu memang aku selalu sibuk, Tante. Tapi sekarang aku sudah punya istri. Aku tidak akan mungkin membiarkan istriku datang sendirian,” cetus Karan sambil merangkul pinggang Raya, menunjukkan seberapa besar ia menjaga sang super model dari mata para lelaki yang ada di ruangan itu. Dari sudut pandang Karan, lelaki di sana tak ubah seperti sekumpulan serigala yang mau menyerang mangsa. Dan mangsa mereka adalah Raya. Itulah sebabnya Karan tidak bisa melepaskan pengawasannya dari sang istri.


Bibi Karan menepuk bahu keponakkannya. “Itu bagus, Nak. Kau sudah jauh lebih dewasa sekarang. Kakak dan Kakak Ipar membesarkanmu dengan baik. Mereka pasti bangga padamu.”


Karan tersenyum lembut. “Terima kasih Tante. Di mana tempat duduk kami?”


“Ah benar. Ayo sini Tante tunjukkan.”


Wanita itu mengantarkan pasangan keponakannya di tempat duduk yang telah disediakan oleh panitia. Sebelum meninggalkan mereka untuk menyambut tamu yang lain, sang bibi mengutarakan keinginannya. Ia berbisik pada Karan. “Kau lihat mata para wartawan itu yang tertuju pada kalian? Tante rasa kau tidak akan menyianyiakan atensi publik yang besar itu. Kau akan membantu Tante bukan?”


Sekali lagi Karan menunjukkan senyuman di paras tampannya. “Tante jangan khawatir. Aku datang tidak dengan tangan kosong. Bagaimana mungkin keponakanmu ini tidak berpartisipasi dalam acara bibinya? Mama pasti akan marah besar padaku.” Maksudnya Karan dan Raya datang juga untuk menyumbangkan sejumlah uang dalam acara ini. Karan bahkan sudah menyisihkan sebagian dana pribadinya untuk membuat citra sebagai orang yang dermawan di mata publik. Tentu saja bukan atas namanya, melainkan atas nama sang istri.


Ucapan itu disambut bahagia oleh sang bibi. “Baguslah. Kau harus menunjukkan seberapa besar perusahaan Kakak Ipar yang kau olah sekarang agar tidak ada keluarga dari pihak mereka yang merebutnya. Dan tentu saja perusahaan jam tanganmu yang mahal itu.”


“Iya Tante. Aku akan memanfaatkan acara ini sebaik mungkin,” tukas Karan dengan wajah yang ramah tapi nada suaranya terdengar tegas.


Selepas kepergian sang bibi, Karan menyentuh tangan Raya yang terlihat sedang mengamati anak-anak kecil yang sedang menari di atas panggung. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Raya dan berbisik, “Sayang, tolong habiskan uangku hari ini.”


Kedua mata Raya terbelalak. Sontak ia menoleh ke arah suaminya. “Apa maksudmu?”


“Maksudku, di acara lelang nanti, kau harus menawar minimal tiga barang. Kalau kau tidak mendapatkan tiga barang itu, maka aku akan ...” Karan mendekatkan lagi wajahnya hingga menempel ke telinga sang istri, “memakanmu tiga kali. Tidak di rumah, tapi di tempat ini,” bisiknya sambil menyeringai. Di dalam kata-katanya ada ketegasan yang sulit ditolak oleh Raya. Karena Raya tahu Karan tidak pernah main-main dengan setiap ucapannya.