Lies

Lies
Balik Mengancam



Sikap Karan itu menyebalkan, tapi bukan hanya sikapnya saja yang membuat Raya kesal. Cara Karan berbicara dengannya juga membuat Raya begitu kesal. Tetapi masalah mereka harus segera diselesaikan. Tidak ada pilihan selain Raya menuruti keinginan Karan. Ia harus memutuskannya sekarang. Memutuskan bagaimana harus bersikap pada sang suami. Entah mangapa Raya berpikir kali ini ia akan mendapatkan titik terang dari hubungannya, menemukan apa yang ia lebih inginkan dalam hidupnya, yaitu kebebasannya dan kehidupan lamanya meskipun hal itu rasanya akan sangat sulit untuk ia dapatkan.


Ika mengantarkan Raya ke depan pintu rumahnya. Saat ingin kembali, Ika menawarkan sebuah bantuan kepada sang super model. “Apa Mbak mau saya temani? Saya rasa Pak Karan tidak akan marah pada Mbak kalau saya ada di sana.” Hubungan Karan dan Raya bukanlah hal tabu untuk dibicarakan oleh sang manajer. Itu juga bukanlah sebuah rahasia besar yang tidak diketahui oleh orang lain. Selain Ian, wanita itulah yang tahu apa yang terjadi antara Raya dan Karan, termasuk pertengkaran mereka.


Raya menggelengkan kepalanya. “Tidak perlu Kak, terima kasih. Kakak bisa kembali. Tidak perlu khawatir karena aku pasti akan baik-baik saja,” kata Raya meyakinkan dirinya. Benar, ia pasti akan baik-baik saja karena tidak akan bertindak nekat padanya. Setidaknya pria itu tidak akan melukainya secara fisik. Bagaimanapun Karan akan selalu melindunginya. Dan tidak ada tanda-tanda Karan akan melukainya. Karena semarah apa pun Karan, pria itu tidak pernah memukul Raya. Paling mentok hanya menaikan suaranya atau membanting benda-benda di sekitar mereka. Bahkan, saat Raya menunjukkan kelemahan tubuhnya, kemarahan Karan seperti menguap begitu saja. Pria itu pun melupakan emosinya untuk fokus pada Raya.


Biasanya memang seperti itu, tetapi hal berbeda ditunjukkan Karan tadi malam. Meskipun sudah melihat wajah pucat Raya, bukannya menghentikan pertengkaran mereka, Karan malah semakin meninggikan suaranya. Karan mengabaikan kondisi Raya padahal istrinya itu sedang mengandung anak pertama mereka, yang terang saja butuh perhatian dan kasih sayang dari suaminya, bukan malah diberikan suasana tidak tenang seperti yang terjadi semalam.


“Bagus kau langsung pulang setelah aku menyuruhmu. Andai kau tidak datang, aku akan segera menyusulmu ke tempat kerjamu,” tukas Karan. Ia mengajak sang istri untuk berbincang dengannya di ruang keluarga. Berhubung semua pelayan rumah sudah ia suruh pergi dari rumah untuk sementara waktu sehingga mereka bisa bebas bercakap-cakap tanpa gangguan.


Ada yang aneh dari pernyataan pria itu. Meskipun tengah marah, tetapi Karan tahu di mana Raya berada seharian ini. Itu artinya, selain di lokasi syuting, ada kemungkinan Karan tahu ke mana saja Raya pergi hari in, termasuk mengunjungi sebuah rumah sakit untuk memeriksa kehamilannya. Jika seperti itu, mungkin Karan sudah mengetahui perihal kehamilannya. Apakah itu alasan Karan begitu marah sekarang? Karena pria itu tahu tentang kehadiran anak mereka? Apakah Karan benar-benar tidak menyukai anak-anak sehingga ia juga tidak menginginkan anak itu muncul di rahim Raya?


“Kau memata-mataiku lagi?” tanya Raya berusaha mengalihkan pembicaraan dari aktivitasnya hari ini. Masih tidak ada kejelasan bagaimana reaksi Karan. Raya tidak bisa membaca raut wajah pria itu.


“Ya, tapi itu tidak penting.” Karan tidak ingin bertengkar dengan sang istri sehingga untuk menghemat waktu, Karan pun akhirnya mengakui perbuatannya itu. “Aku yakin kau sudah melihat berita di media tentang aku dan wanita itu. Atau kau belum membacanya sama sekali?” Ekspresi Raya terlihat begitu tegang yang membuat Karan salah mengira. Ia pikir Raya belum membaca berita tentangnya makanya wanita itu tampak kaget.


Tetapi anggapan Karan itu salah besar. Nyatanya Raya sudah membacanya. “Ya, sudah.”


“Bagus. Kalau begitu aku tidak perlu basa-basi lagi. Hari ini kita akan pergi ke Milan. Mungkin kita akan tinggal di sana dalam waktu yang lama.”


“Milan?” kata Raya menyebut ulang kota yang menjadi destinasi bulan madu mereka beberapa waktu lalu. “Tunggu dulu! Apa maksudmu kita harus ke Milan hari ini? Dan kau bilang kita tinggal lama di sana? Kenapa?”


“Kau masih tanya kenapa? Kau sudah lihat berita itu, bukan? Mereka sedang membicarakan tentangku, tentang kita. Untuk beberapa waktu ke depan, kita akan sulit beraktivitas di tengah-tengah masyarakat. Mereka akan menyakiti kita, terutama dirimu,” jelas Karan panjang lebar.


Meskipun sudah dijelaskan seperti itu Raya tetap tidak mendapatkan jawaban dari pertanyaannya. Mengapa mereka harus pindah ke Milan? Karan menyebut mereka akan tinggal beberapa waktu di sana, tetapi pria itu tidak menyebutkan rentang waktunya. Bisa saja mereka akan tinggal di sana bertahun-tahun atau yang terparahnya selamanya. Karan mungkin bisa meninggalkan Indonesia dengan mudah karena pria itu punya perusahaan di Milan. Sekalipun tidak punya usaha, dengan otak bisnisnya, bukan perkara sulit bagi Karan untuk mencari uang. Koneksi Karan sudah sangat banyak. Investor yang percaya padanya pun lebih dari cukup untuk membantu Karan mendirikan sebuah perusahaan besar.


Berbeda halnya dengan Raya. Ia tidak punya siapa-siapa di negeri pizza itu. Satu-satunya sumber penghasilan Raya hanyalah dari masyarakat Indonesia. Selama masyarakat masih menginginkannya, maka wajah Raya akan wara-wiri di beberapa media massa. Sementara di Milan, Raya tidak akan bisa bekerja. Jaringannya sangat sedikit. Raya tidak mengenal banyak orang penting seperti suaminya. Memang mereka akan tetap hidup dengan baik di Milan meskipun hanya mengandalkan Karan saja. Sayangnya, Raya terancam tidak akan bekerja, dan itu bukanlah sesuatu yang bisa Raya terima karena ia begitu menyukai pekerjaannya sebagai seorang model.


Karan sontak menggeram. “Kau tidak ikut? Tidak bisa begitu. Kau harus ikut karena kau adalah istriku.”


“Tapi kenapa kita harus ke Milan?”


“Jadi, kau tidak mau ke Milan? Apakah ada kota atau negara lain yang ingin kau kunjungi? Kita akan tinggal di tempat itu untuk beberapa waktu.”


“Tidak, tunggu! Aku tidak mengatakan bahwa aku ingin pindah. Aku hanya bertanya apakah kita benar-benar harus pergi ke luar negeri? Tidak bisakah kita tetap di Indonesia?”


“Tidak bisa Raya. Kau tidak tahu bagaimana reaksi masyarakat nanti?”


“Kenapa aku harus tahu? Bukankah itu skandalmu? Kenapa aku harus terlibat dalam skandal yang kau ciptakan sendiri?” cetus Raya secara mendadak. Tidak terpikirkan sebelumnya bahwa ia akan mengatakan hal ini kepada Karan, namun ia tidak bisa menahannya begitu saja. Mungkin ini karena pengaruh kehamilannya yang membuatnya begitu menggebu-gebu ingin mengungkapkan isi hatinya.


“Apa?” Karan terbelalak. “Kenapa kau berbicara seperti itu?”


Dengan cepat Raya menanggapi, “Memangnya aku harus bagaimana? Aku sama sekali tidak mengenal wanita itu, tapi secara tiba-tiba aku mengetahui dia datang ke kantor suamiku. Kemudian, suamiku sendiri menutupi identitasnya saat aku desak. Yang lebih parahnya, aku harus membaca artikel tentang suamiku yang pernah menjalani hubungan dengan buronan polisi. Kurang hebat skenario yang tercipta ini? Sejak awal aku tidak dilibatkan, tetapi mendadak sekarang aku terlibat hanya karena statusku sebagai istri. Ini tidak bisa kuterima, Karan. Tidak bisa. Apalagi ketika tahu suamiku tidak pernah jujur padaku.”


“Aku selalu ingin berbicara jujur padamu, Raya. Tapi aku tidak bisa. Setidaknya jangan sekarang. Tolong berikan aku waktu. Aku akan menceritakan semuanya di saat yang tepat.”


“Kapan saat tepat itu? Aku lelah, Karan. Aku tidak bisa lagi bertahan.”


“Raya, hentikan! Aku sedang tidak ingin berdebat denganmu. Aku hanya ingin mengatakan bahwa kita akan pindah hari ini. Sekarang, cepat kemasi barang-barangmu,” perintah karan lagi.


Raya menyeringai sambil menatap mata Karan dengan nanar. Kemudian, bibirnya bergerak, mengutarakan sebuah kalimat untuk sang suami. “Baiklah, aku akan mengemasi barang-barangku, tetapi bukan untuk ikut denganmu ke luar negeri. Aku akan ke luar dari rumah ini,” seru wanita itu tanpa ketakutan sama sekali meskipun matanya menangkap wajah Karan yang memerah selayaknya orang yang sedang menahan kemarahan yang besar. Sekarang Raya ingin memberikan ancaman kepada Karan, sama seperti yang selalu pria itu lakukan untuk menghentikannya.