Lies

Lies
Bukan Ayah yang Sesungguhnya



Begini yang terjadi sebelumnya. Tepat sebelum Farraz datang ke kediaman Raya. Saat itu, seperti biasanya, Raya sedang menyiapkan makan malam. Nasi sudah ia masak di atas kompor dan lauk pauk sudah tersedia di atas meja makan. Jangan salah, Raya tidak menyiapkan makanan itu untuk sang ayah. Ia menyiapkannya untuk dirinya sendiri. Raya tidak pernah peduli dengan pria itu. Selama ini, hanya makanan sisa saja yang ia sediakan di atas meja. Itu pun kalau masih ada yang tersisa.


Karena bagi ayahnya, meneguk beberapa liter minuman beralkohol sudah mengenyangkan perutnya. Ia tidak butuh lagi makanan apa pun. Agar makanan tidak terbuang sia-sia seperti yang pernah terjadi dulu, ketika Raya masih kecil, saat ia memutuskan untuk berbaik sangka kepada laki-laki itu dengan menyediakan makanan untuknya. Tetapi apa yang Raya terima? Selain makanan yang berceceran di atas lantai karena dibuang oleh sang ayah, Raya juga mendapatkan beberapa pukulan di tangannya. Rasanya sakit sekali. Raya tidak ingin hal menyakitkan itu terulang kembali.


Rencananya hari itu, Raya akan beristirahat usai mengisi perutnya yang kosong. Sudah beberapa hari Raya tidak pergi ke sekolah. Besok ia akan kembali ke kelas dan mengikuti pelajaran. Setidaknya hanya itu yang bisa dilakukan Raya untuk memperbaiki kehidupannya. Pasalnya, ia juga tidak tahu harus melakukan apa saat berada di rumah. Selama menderita demam, ia sudah sangat tersiksa. Terlebih saat mengetahui kepulangan sang ayah. Kalau boleh, Raya ingin pindah dari rumahnya secepatnya.


Hari itu, entah kesialan aoa yang sedang menimpanya. Sang ayah tiba-tiba saja datang lebih awal dari biasanya. Pukul setengah tujuh malam ia sudah datang. Anehnya, pria yang biasanya hanya mabuk-mabukkan dan mengucapkan sumpah serapah itu tidak mengatakan apa-apa ketika masuk ke rumah. Raya saja sampai tidak menyadari bahwa sang ayah telah pulang. Ia baru tahu ada orang di dekatnya ketika mendengar suara langkah kaki yang diseret di atas lantai. Tidak ada orang yang bisa masuk ke dalam rumahnya itulah sebabnya kemungkinannya hanya satu, yaitu sang ayah.


Meskipun berada di daerah rawan kejahatan, tetapi orang-orang di kampung Raya tidak akan saling menyerang kalau tidak diserang terlebih dahulu. Mereka masih mempunyai sedikit hati nurani walaupun tidak punya uang. Sangat berbeda dengan orang-orang kaya di luaran sana yang saling sikut-sikutan dan menjatuhkan satu sama lain hanya untuk berebut kekuasaan. Mungkin karena orang-orang di kampung ini sudah mengenal satu sama lain sehingga rasa persaudaraan mereka cukup besar, atau malah karena mereka sama-sama miskin sehingga tidak ada gunanya mencuri uang sesama orang miskin.


Ayah Raya masuk dan mengambil gelas, mengisinya hingga penuh, lalu menenguk seluruh air dalam gelasnya itu sambil meringis. Rupanya ada luka di bibir kanannya yang membuat pria itu merasa perih saat bersentuhan dengan air. Tidak hanya bibirnya saja yang terluka, tetapi juga kaki dan tangannya. Sepertinya ia habis dipukuli oleh orang lain sehingga tampilannya pada malam itu begitu memprihatinkan. Sebenarnya, Raya punya obat di kamarnya untuk mengobati luka-luka sang ayah.


Tapi untuk apa? Biar saja laki-laki itu mengalami apa yang Raya alami selama ini. Mengalami betapa buruknya menahan rasa sakit karena dipukuli oleh orang lain. Jika sang ayah berani memukulinya, maka pria itu juga harus mampu menahan rasa sakit jika dipukuli orang lain. Itu sudah menjadi konsekuensi dari sebuah tindakan atau semacam tulah akibat perbuatannya sendiri. Bila perlu, pria itu harus mengalami apa yang dialaminya saat ini setiap hari. Dengan begitu mungkin akan ada sedikit perubahan padanya. Perubahan agar tidak lagi ringan tangan menyakiti Raya.


“Ah, sialan! Orang-orang berengsek yang ingin sekali aku lenyapkan,” umpat laki-laki itu. Akhirnya, ia kembali lagi pada mode biasanya. Pria kasar yang suka mengumpat dan memukuli putrinya sendiri. Raya benar-benar tidak mengerti bagaimana pria semacam ini bisa menjadi ayahnya. Bagaimana mungkin ayah yang dulunya sangat baik dalam ingatan masa kanak-kanak Raya berubah menjadi monster yang mengerikan seperti sekarang? Dan yang paling tidak Raya mengerti adalah bagaimana pria itu bisa merayu ibu Raya yang baik hati dan polos?


Raya tidak bisa membayangkan reaksi ibunya ketika melihat pria yang dinikahi dan dicintainya sepenuh hati itu, mendadak berubah menjadi seseorang yang lebih menakutkan dari monster yang suka menculik seorang putri yang selalu diceritakan sang ibu dalam dongeng pengantar tidur saat Raya masih kecil. Benar-benar ibu yang malang. Begitu juga Raya yang malang karena terlahir menjadi anak dari laki-laki tidak berguna seperti ayahnya. Andai saja Raya bisa memilih, ia lebih suka tidak terlahir di dunia ketimbang mengetahui betapa berengseknya sang ayah.


Mata ayah Raya berpindah ke arah sang putri yang sedang mencuci piring. Entah mengapa emosinya selalu saja timbul saat melihat gadis itu. Ada rasa benci dan jijik melihatnya. Ditambah tentu saja rasa marah yang besar. Baginya, Raya adalah gadis pembawa sial. Seandainya ia tidak terlahir ke muka bumi, mungkin saja istrinya masih bisa selamat. Pasalnya, penyebab sang istri meninggal dunia adalah karena proses persalinan Raya yang tidak berjalan dengan baik. Memang dulu istrinya sempat pendarahan, namun ia menganggap hal itu sudah ditangani dengan baik oleh pihak rumah sakit. Siapa yang sangka beberapa tahun setelahnya malah terjadi hal mengerikan yang menimpa ibu Raya. Tentu itu membuatnya sangat terpukul.


Masalahnya, pria itu melampiaskannya pada Raya, putri kandungnya dari istri yang sangat dicintainya itu. Ia tidak tahu harus marah pada siapa. Tidak ada yang bisa disalahkan saat takdir sudah tersurat dalam hidup. Seharusnya ia paham tentang itu, tetapi ia masih tidak mau menerima keadaan. Akibatnya, setiap kali melihat wajah Raya, selain rasa rindu karena wajah itu sangat mirip dengan wajah mendiang istrinya, ia juga sangat marah dan jengkel. Seperti yang terjadi pada hari ini.


“Kenapa kau ada di sini? Kenapa kau tidak mati saja sih? Bocah sialan!” Pria itu mengumpat lagi. Kali ini dengan disertai oleh tindakan kasar. Gelas di tangannya sudah melayang. Kali ini tepat di samping putrinya yang sedang mencuci piring. Ia semakin marah karena lemparannya tidak tepat sasaran. Padahal ia menargetkan gelas yang terbuat dari kaleng itu mengenai kepala sang anak.


“Kenapa kau diam saja bocah sialan? Harusnya kau bangun dan lawan aku! Kalau tidak, mati saja seperti ibumu!” Entah apa yang membuat pria itu begitu mengamuk hari itu. Yang pasti semua benda yang ada di meja makan sudah berterbangan di atas lantai. Lauk pauk yang disisakan Raya di sana kini sudah berserakan ke mana-mana.


Raya marah, tapi ia memilih diam. Membalas pria tidak berguna itu sama saja menghabiskan energinya. Selesai mencuci semua piring, Raya membereskan sisa-sisa makanan yang berserakan di sana. Menyapunya dengan bersih hingga tidak ada semut yang akan mengerubungi lantai yang terbuat dari semen itu. Akan tetapi, saat ingin menyimpan sapunya, sang ayah tiba-tiba mengambil benda itu dan menggunakannya untuk menyerang Raya.


“A-ampun Pa! Ampun!” kata Raya sembari terperenyak di atas lantai. Satu pukulan keras sudah mengenai kakinya hingga ia terjatuh begitu saja. Demamnya masih belum pulih benar, itulah yang membuat Raya merasakan nyeri di kakinya dua kali lipat dari apa yang ia rasakan selama ini.


Sayangnya apa yang dikatakan Raya tidak berpengaruh bagi laki-laki itu. Ia semakin gencar memukuli Raya dengan menggunakan gagang sapu yang terbuat dari kayu itu, menjadikan tubuh Raya tak ubah sebuah samsak yang pantas untuk dipukuli. “Mati saja kau! Mati! Kau benar-benar anak tidak berguna!” katanya sambil terus melancarkan aksinya.


Raya benar-benar tidak tahu apa yang salah dengannya. Ia sudah berusaha bersabar selama ini. Pukulan yang dilancarkan sang ayah juga sebisa mungkin ditahannya dengan menggunakan kedua tangannya. Namun, saat sang ayah mengucapkan sebuah kalimat, Raya pun menjadi naik pitam.


Sang ayah berhenti memukul Raya untuk sejenak. Ia mengamit dagu Raya dan mengangkatnya. Kemudian, ia menamparnya dengan kencang. “Apa kau tidak paham apa maksudku? Seharusnya kau mati! Mati!” tukasnya dengan penuh kemarahan. “Kalau kau tidak mati, aku akan menjualmu sebagai jaminan utang. Kau akan menjadi wanita penghibur dan melayani mereka. Ya, aku harus memanggil mereka untuk membawamu.”


Raya sudah tersungkur saat itu. Kepalanya berada di atas lantai semen yang dingin dengan darah yang mengalir dari wajahnya. Seluruh tubuhnya terasa sakit dan ngilu. Beberapa bagian yang lain terasa perih karena terluka. Tetapi ada yang lebih pedih dan sakit dari semua itu, yakni ketika ia mendengar ucapan sang ayah yang mau menyerahkan dirinya sebagai jaminan utang. Raya tahu ayahnya adalah pria yang berengsek. Ia adalah pria yang paling tidak berguna yang pernah Raya temui seumur hidupnya. Namun, tidak pernah sekali pun Raya menduga ayahnya akan berpikiran sehina itu dengan menjual putrinya sendiri.


Apakah ia masih bisa disebut dengan seorang ayah? Mampukah seorang ayah berlaku sekeji itu kepada putri kandungnya sendiri? Putri yang lahir dari rahim wanita yang katanya sangat ia cintai seumur hidupnya? Raya tertawa pelan di sela-sela air mata yang menetes dari kedua pelupuk matanya. Di dalam hatinya ia menjerit keras kepada ibunya yang ada di alam lain. Meneriakkan kepedihan yang bercokol dalam relung hatinya.


“Apa salahku, Ibu? Kenapa aku harus mengalami penderitaan sebanyak ini?” isak Raya di dalam hatinya.


Dengan pandangan yang kabur akibat tetes-tetes air mata yang menggenang di kedua bola matanya, Raya melihat sang ayah yang mulai menyeret kakinya. Pria itu tampak bergerak menuju ke ruang tengah. Sepertinya ia benar-benar serius ingin menjual Raya. Ini tidak bisa dibiarkan. Raya tidak ingin jatuh ke tangan-tangan kotor para laki-laki yang disebutkan oleh sang ayah. Ia harus bergerak cepat. Dan pilihannya hanya ada dua sekarang. Pertama, ia harus mati seperti yang dikatakan sang ayah. Atau pilihan yang kedua, ia harus membuat ayahnya tidak bisa keluar dari rumahnya.


Raya mengumpulkan sekuat tenaga. Rasa perih, nyeri dan sakit yang ada di sekujur tubuhnya ia lawan hanya untuk membuat tubuhnya bergerak. Saat Raya sudah bisa bangkit berdiri, matanya menangkap sebuah pisau yang ukurannya lumayan sedang yang ada di atas tungku. Pisau yang biasanya Raya gunakan untuk mengiris bumbu bahkan memotong ikan. Pikiran Raya dilingkupi oleh kekalutan hingga ia merasa gelap mata. Netra cokelat itu menyalak saat memandangi pisau tersebut. Dadanya bergemuruh dengan berbagai macam emosi. Marah, benci, takut dan sedih. Tapi dari semua itu, kemarahan dan kebencian yang paling mendominasi pikiran Raya. Yang membuat Raya tanpa pikir panjang pun mengambil benda tajam itu. Dengan wajah mengerikan yang berbalut tangisan pedih, gadis itu menghampiri sang ayah yang sedang berjalan.