
“Huuhh!” Karan mengeluh. Usai mengatur napasnya hingga pikiran dan hatinya tenang, Karan pun menatap Raya. “Benar. Ini salahku. Aku benar-benar pria yang bodoh!” katanya menyesal. Ia mengamit tangan Raya dan berusaha untuk meyakinkan wanita itu. “Aku belum menikah lagi, Raya. Dan aku tidak berniat menikahi wanita lain kecuali dirimu. Saat itu aku mengumumkan kalau aku sudah memiliki pasangan agar tidak ada wanita lain yang berani mendekatiku. Kau tahu bagaimana menyebalkannya mereka. Cincin ini adalah buktinya. Walaupun kita sudah bercerai, tapi tidak ada yang bisa menghentikanku untuk merindukanmu.”
Air mata Raya menetes lagi padahal ia tidak mengharapkan akan menangis di saat-saat seperti ini. Bagaimana mungkin mereka hidup dalam kesalahpahaman selama bertahun-tahun tanpa ada penjelasan sama sekali? Beruntung Ian mendatanginya kemarin. Jika tidak, mungkin sampai saat ini mereka akan terus berada dalam kesalahpahaman tanpa akhir. Raya salah mengira Karan sudah menikah dengan wanita lain, dan Karan pun salah paham dengan status dan panggilan Edgar dan Luca. Karan tidak akan pernah tahu bahwa Luca adalah anaknya yang nyaris meninggal lima tahun lalu. Anak yang hadir dalam pernikahan rapuh mereka.
Ian datang ke galeri kemarin malam setelah menelepon Raya lagi. Berbeda dari sebelumnya di mana manajer Rayalah yang mengangkat panggilan itu, saat Ian menelepon untuk kedua kalinya, Rayalah yang mengangkatnya. Ian meminta waktu untuk bertemu dengan Raya, ia bahkan rela jauh-jauh datang ke galeri demi bertemu dengan sang super model. Dengan membawa banyak kertas di tangannya, Ian menghadap Raya selayaknya seorang mahasiswa yang sedang menghadap ke dosen pembimbingnya sembari menyerahkan hasil penelitiannya.
Yang Ian bawa adalah bukti mengerikan tentang penyakit yang Karan derita selama ini. Pria itu mengalami depresi berat akibat trauma masa lalunya. Raya mengira penyebabnya karena Karan sempat di tahan selama dua tahun. Akan tetapi, yang terjadi lebih dari itu. Karan tidak hanya mendekam di balik jeruji besi sambil menjalani hukumannya begitu saja. Ia juga menerima perlakuan yang seharusnya bukan bagian dari hukuman yang berlaku di negara mereka. Malah Karan dan tahanan lainnya tidak ada yang boleh mengalami hal tersebut kendati status mereka adalah orang yang bersalah di depan pengadilan.
“Selama 17 tahun Pak Karan dihantui oleh Dona. Dia adalah wanita berengsek yang sudah melecehkan banyak pemuda di bawah umur,” tukas Ian menjelaskan pada Raya tentang bukti yang ia dapatkan dari mantan pengurus panti asuhan tempat tinggal Karan dahulu.
“Ini gila! Apakah ini yang membuat Karan benci dengan masa lalunya?” tanya Raya sembari menatap Ian dengan nanar.
Ian mengangguk. “Benar, Bu. Pak Karan sudah banyak menderita karena perbuatan wanita itu. Tapi dia juga tidak bisa melaporkannya. Ada tanggung jawab besar di pundak beliau saat memakai nama Karan Reviano. Perusahaan Reviano sepenuhnya bergantung pada beliau, begitu juga rasa kepercayaan yang diberikan oleh orang tua beliau.”
Bohong kalau Karan tidak pernah berniat untuk melaporkan sang petugas lapas ke pihak berwajib. Saat Karan bebas karena bantuan dari pengurus panti asuhan, pengacara dan penduduk kampung, ia ingin membalaskan penderitaan yang ia alami akibat pebuatan Dona. Apalagi ketika Karan sudah menjadi anak angkat keluarga Reviano dan menggantikan Karan Reviano yang telah meninggal dunia, ia punya kekuasaan untuk menyeret Dona ke penjara atau melenyapkannya dari dunia ini.
Akan tetapi, Karan bukanlah seorang pembunuh. Ia memang mendekam di dalam penjara selama dua tahun karena tuduhan pembunuhan, tapi pada akhirnya ia bisa dibebaskan. Pengacaranya membawa bukti kuat yang menjelaskan bahwa ayah Raya memanglah pria yang bermasalah. Tidak hanya kepada Karan, tetapi kepada semua anak di kampung itu. Hampir semua orang pernah melihat laki-laki tersebut memukuli anak-anak di jalanan.
Beberapa hari setelah keluar dari penjara, Karan tidak sengaja melihat seorang pria paruh baya yang sedang dirampok di dekat kampungnya. Pada awalnya Karan enggan membantu karena ia tidak mau ikut campur masalah orang lain lagi. Sudah cukup dua tahun ia menderita tinggal di rumah tahanan, ditambah ia juga telah kehilangan wanita yang dicintainya. Karan tidak ingin berurusan dengan dunia seperti itu lagi.
Akan tetapi, ketika salah satu penjahat itu hendak menyerang laki-laki paruh baya tersebut dengan senjata tajam, Karan pun akhirnya turun tangan. Berada di dalam penjara membuat Karan punya kemampuan bela diri yang sangat bagus. Di sana ia harus bisa melawan banyak orang yang tubuhnya lebih besar dan kuat darinya agar bisa bertahan hidup. Semacam hukum rimba yang berbeda dengan pola hidup Karan selama ini. Jika sebelumnya ia hidup dengan hanya mengandalkan otak dan prestasi olahraganya, kali itu Karan benar-benar hanya bisa mengandalkan kekuatan fisiknya.
Berkat itulah Karan bisa melawan ketiga penjahat yang ingin menyerang lelaki paruh baya itu walaupun Karan harus berakhir dibawa ke rumah sakit karena luka-luka di tubuhnya. Luka yang sudah ia alami saat berada di balik jeruji besi ditambah luka yang ia dapatkan untuk membantu sang lelaki paruh baya.
Siapa yang sangka pria yang Karan bantu itu adalah pemilik Reviano Group, seorang konglomerat yang begitu terkenal? Sebagai bentuk rasa terima kasih, laki-laki itu membiayai seluruh perawatan Karan hingga sembuh. Hingga akhirnya pertemuan istrinya dengan Karan mengubah segalanya. Sang istri yang masih belum menerima kematian putra mereka satu-satunya, tiba-tiba memeluk Karan yang terbaring di atas brankar rumah sakit. Wanita itu mengira pemuda tersebut adalah anaknya yang sudah terkubur di dalam tanah.
Itulah awal di mana ia menawarkan kepada Karan untuk menjadi putranya demi sang istri. Selama Karan bisa bertindak selayaknya Karan Reviano putra mereka, ia akan menyerahkan segalanya kepada pemuda itu, termasuk perusahaan keluarga. Bagi seorang pria paruh baya sepertinya kebahagiaan sang istri adalah segalanya. Ia bahkan tidak keberatan membuat seorang pemuda yang asal asulnya tidak jelas dan baru bebas dari penjara, menjadi putra kandungnya. Demi sang istri ia rela menipu semua orang, termasuk dirinya sendiri.
Jadi dengan fakta seperti itu, bagaimana mungkin Karan bisa melaporkan Dona ke pihak berwajib? Kekuasaan dan harta yang dimiliki Karan saat ini merupakan milik Karan Reviano yang asli, ia hanya pengganti. Jika ia mengungkapkan kasus pelecehan yang ia alami selama di penjara, itu berarti ia harus mengungkapkan fakta bahwa ia pernah ditahan dengan tuduhan melakukan penyerangan terhadap ayah Raya. Ia akan mengatakan kepada seluruh dunia bahwa ia bukan Karan Reviano yang asli dan itu pasti akan melukai orang tuanya.
Di samping itu Karan juga tidak bisa lagi mengungkit peristiwa kematian ayah Raya ke publik. Karena dengan mengungkapkan alasannya di penjara juga secara langsung akan membuka lagi kejadian mengerikan tersebut dan membuat Raya yang sudah meniti hidup barunya, hancur dalam sekejap. Yang lebih parahnya Raya juga bisa kembali terlibat dalam kasus tersebut.
Dari semua pertimbangan itu, Karan pun memutuskan untuk menutup rapat-rapat kejadian pelecehan yang ia alami tersebut. Ini demi orang tua angkatnya dan juga demi wanita yang dicintainya.