Lies

Lies
Kedatangan Mertua



“Bu, Pak Karan akan datang malam ini. Beliau sudah ada di pesawat.”


Anna memberi tahu Raya tentang kedatangan Karan. Pasalnya sejak kemarin, Raya sudah heboh ingin menyambut kedatangan suaminya. Gaun untuk malam nanti sudah disiapkan. Bahan-bahan untuk membuat kue pun sudah Raya minta pada Anna agar dibelikan.


Raya akan membuat kue ulang tahun untuk Karan. Kue yang ia buat sendiri dengan tangannya sendiri. Padahal ia bisa saja memesan kue dari tempat lain yang dijamin enak rasanya. Namun, ia tidak mau. Perempuan itu ingin memberikan hadiah pada sang suami, sayangnya ia tidak tahu harus memberikan apa. Karan sudah memiliki segalanya. Harta, jabatan dan uang. Dengan semua itu Karan bisa membeli kebutuhannya sendiri.


Itulah sebabnya Raya berpikir setidaknya ia harus memberikan sesuatu untuk suaminya. Terlebih ini acara ulang tahun Karan yang dirayakan pertama kali bersamanya. Raya ingin memberikan sesuatu yang istimewa.


“Kalau begitu, ayo kita siap-siap, Bi. Aku harus menyiapkan kuenya sebelum dia datang,” seru Raya pada Anna.


“Baik Bu. Saya akan panggil anak-anak lain untuk membantu Anda.”


Raya menanggapi dengan senyuman, lalu membalas, “Wah, terima kasih, Bi.”


Walaupun seorang bintang yang sangat terkenal, Raya sama sekali tidak bersikap angkuh. Buktinya Raya dengan mudah bergaul dengan Anna dan asisten rumah tangga lain. Karena selalu ada di dalam rumah selama sebulan, Raya mengenal keempat asisten itu dengan baik. Tidak hanya nama dan alamat asal mereka, wanita itu bahkan tahu masa lalu dari mereka. Raya sering menghabiskan waktu dengan bertukar cerita dengan keempatnya, yang membuat mereka menjadi akrab.


Tidak sampai di situ, Raya juga mengenal tukang kebun, satpam dan sopir Karan. Mereka adalah orang-orang yang membantu Raya kabur satu minggu lalu ketika Raya sudah sangat jenuh dengan kehidupannya bersama Karan. Mereka berbohong pada Karan dengan mengatakan bahwa Raya ingin pergi ke mal untuk berbelanja. Karan yang ada di luar kota mengizinkan Raya pergi. Dan kesempatan itu digunakan wanita itu untuk kabur dari Karan.


Akan tetapi, Karan tidak sebodoh itu. Mata-mata yang ia sewa sebelum mereka menikah masih melekat di dekat Raya. Laki-laki itu masih terus mengikuti ke mana pun Raya pergi selama Raya berada di luar rumah. Sehingga dalam waktu sekejap, Karan bisa menangkap Raya. Karan sendiri yang menjemput istrinya yang sedang berada di stasiun dan bersiap hendak ke luar kota. Dengan sedikit ancaman, Raya pun kembali ke rumah bersama Karan tanpa menimbulkan keributan di stasiun.


“Jangan hanya dilihat saja, tapi dihias juga. Kita harus cepat, ini sudah jam enam sore. Mungkin sebentar lagi Karan akan sampai di bandara.” Raya melihat jam dinding di dapur dan ia mulai panik. Persiapannya sangat mepet. Ia tidak mau kue ulang tahun buatannya belum jadi tetapi Karan sudah sampai rumah.


Salah satu asisten rumah tangga membalas, “Iya, Ibu tenang saja. Kami akan menyelesaikannya. Sebaiknya Ibu sekarang siap-siap sebelum Bapak datang.”


Usulan itu terdengar masuk akal. Raya hanya memikirkan kuenya padahal ia sama sekali belum bersiap-siap. Jangankan memakai gaunnya, Raya bahkan belum mandi sore itu. Supaya semuanya tidak kacau, sebaiknya Raya mulai membersihkan diri dan berdandan sekarang. Ia tidak boleh kalah cantik dari kue yang ia buat.


Raya pun mendapatkan hal yang selalu ia inginkan selama ini, yakni popularitas. Dengan menggunakan nama Raya, Karan menyumbang ke banyak lembaga sosial dan korban bencana alam. Hasilnya, nama Raya selalu muncul di mesin pencarian sebagai wanita royal yang begitu baik hati. Nama Raya dielu-elukan oleh masyakarat dan diperbincangkan selama sebulan ini.


Sementara pada kenyataannya, Raya tidak pernah tahu lembaga-lembaga sosial itu. Memang benar Raya pernah bekerja di bidang sosial dan kemanusiaan selama hampir satu tahun setelah memenangkan kontes Putri Kecantikan. Tapi Raya tidak benar-benar ingat nama-nama lembaga yang pernah bekerja sama dengannya. Tidak lebih dari tiga lembaga saja yang Raya kenal. Sisanya Raya hanya samar-samar mengingatnya.


Sekarang Karan membuat citra Raya benar-benar bagus. Raya yang tidak pernah muncul di depan publik digantikan oleh Karan. Pria itu begitu pintar memanipulasi keadaan dengan mengatakan bahwa Raya sedang fokus dengan kehidupan rumah tangga mereka, terlebih mereka baru saja menikah. Ia juga menyebutkan menyerahkan sepenuhnya kepada Raya tentang keputusan sang super model untuk kembali ke industri hiburan.


Padahal yang terjadi tidak seperti itu. Jangankan mengizinkan Raya untuk kembali ke depan kamera, Karan saja tidak membiarkan Raya keluar rumah satu langkah pun. Karan mengurung Raya di rumah besarnya dengan terus-menerus memberikan Raya sederet benda-benda mewah yang harganya sangat mahal setiap minggu.


“Hm, lumayan. Ini tidak buruk,” gumam Raya saat melihat tampilannya di depan cermin. Sudah lama ia tidak berdandan seperti itu. Karena selalu berada di dalam rumah, Raya melupakan kosmetik mahalnya yang sangat lengkap di meja rias. Benda-benda kecantikan itu hanya terpajang selama sebulan tanpa disentuh oleh pemiliknya.


Untuk sentuhan terakhir, Raya menyemprotkan parfum vanila kesukaannya. Parfum yang juga dibelikan oleh Karan berserta seperangkat alat kosmetiknya. Raya tidak tahu dari mana Karan mendapatkannya, tetapi semua yang disiapkan oleh laki-laki itu berasal dari merek terkenal yang selalu digunakan Raya setiap hari. Rasanya seperti Karan pernah ke rumahnya dan melihat semua benda-benda yang berada di kamarnya karena Karan tahu semua kesukaan Raya.


Setelah melihat lagi cermin besarnya untuk terakhir kali, Raya bergegas turun ke bawah. Ia bergerak ke dapur, memeriksa sudah sejauh mana kuenya dihias. Dan Raya pun berdecak kagum. Kue itu benar-benar tampak sangat bagus, tidak tampak seperti dibuat oleh orang yang pertama kali membuat kue.


“Terima kasih. Kuenya jadi bagus seperti ini karena bantuan kalian,” ungkap Raya yang tidak segan-segan mengucapkan terima kasih kepada para pelayannya. Kemudian, sebagai sentuhan akhir, Raya menancapkan dua lilin dengan angka 30.


“Bu! Ibu Raya!” Anna berlari menghampiri Raya yang sedang menyusun piring-piring ke atas meja makan.


Raya menghentikan kegiatannya dan menoleh ke arah Anna. “Kenapa Bi?” Matanya terbelalak dan jantungnya berdebar. “Apa suamiku sudah pulang?” tanya sambil berharap.


Sayangnya sang asisten rumah tangga menggeleng tegas. Dengan wajah tegang ia berkata, “Tuan dan Nyonya ada di sini.”


Raya tersentak. Ia sama sekali tidak menyangka orang tua Karan akan datang. Padahal ini tidak sesuai dengan rencananya. Rencana untuk meluluhkan hati Karan. Raya mendesah frustrasi. Entah karena ia merasa lelah karena persiapan ulang tahun Karan atau karena mendengar kehadiran mertuanya. Hanya ada satu yang pasti, Raya merasa hatinya tidak baik-baik saja sekarang. Ia merasa kesal.