Lies

Lies
Aroma Harum Tubuhmu



Raya memeluk leher Karan. Napasnya tesekat ketika tangan Karan bergerak turun ke boking, menekannya hingga tubuhnya semakin rapat. Raya tidak bisa merasakan apa-apa lagi selain tubuhnya yang panas akibat terbakar gairah yang Karan berikan. Sedikit demi sedikit Karan mengakhiri ciuman mereka. Ia menarik bibirnya yang lembap hingga bergesekan dengan bibir Raya yang lembut. Kini tangannya sudah berpindah ke daerah yang lebih aman di tubuh Raya, yakni di bagian pinggangnya.


“Sudah cukup. Kita harus berhenti di sini,” katanya masih menahan pinggang sang istri. Pinggang itu begitu ramping padahal Karan sudah menambahkan porsi makan Raya. Sepertinya Raya sangat ahli menjaga berat badannya agar tetap stabil. Ya, itu pasti karena tuntutan pekerjaan. Selama menjadi seorang model, ia sudah terbiasa melakukan diet ketat. Tidak mungkin hanya dalam waktu kurang dari dua bulan bentuk tubuhnya sudah berubah.


“Kenapa?” lirih Raya tidak terima. Tangannya meluncur ke bahu Karan sambil menyentuh telinga dan rahang laki-laki itu. Sementara tangannya yang lain mempermainkan kancing-kancing kemeja Karan.


“Karena aku belum mandi. Sudah kubilang seharusnya aku mandi dulu tadi,” cetusnya menyesal sambil meremas pinggang Raya dengan lembut seakan mengaguminya. “Kita pindah ke atas. Aku harus mandi dulu sebelum kita melanjutkannya.”


“Baiklah, tapi aku tidak mau berjalan.”


“Maksudmu?”


“Gendong aku.”


Karan membelalak sempurna menatap sang istri. Raya melakukan sesuatu yang jarang sekali dilihat Karan. Wanita itu bersikap manja padanya. Karan hanya bisa tertawa sembari menggangkat tubuh istrinya. “Kau mabuk, Raya,” katanya.


Raya menggelengkan kepalanya. “Tidak. Aku tidak mabuk.”


“Sungguh?” Karan tidak percaya. Bahkan sekarang saja Raya sudah menaruh kepalanya di pundak Karan saat pria itu menggendongnya ke lantai atas. Matanya juga terlihat sayup seperti orang yang sedang menahan kantuk. Hari belum sampai jam sembilan malam, tetapi istrinya sudah mulai tidak sadarkan diri. Karan baru menyadari Raya tidak kuat dengan alkohol. Toleransi wanita itu terhadap minuman keras sangat parah.


“Apa kita sudah sampai? Ke mana kau membawaku?” Raya bertanya ketika matanya mulai terbuka sedikit. Ia tahu tubuhnya sedang berbaring di atas ranjang. Tapi matanya tidak bisa memindai kamar siapakah yang sedang mereka tuju.


“Ini kamarmu.”


Kening Raya mengernyit. “Kenapa? Katanya kau mau mandi? Bukankah lebih baik aku menunggumu di kamarmu?”


“Kenapa kau harus menungguku di sana? Apa kau ingin mengintipku mandi?”


“Apakah boleh?”


Kata-kata Raya yang penuh kejutan itu seperti sebuah bom yang meledak di dalam diri Karan. Akibatnya sangat besar dan menghantam tembok pertahanannya dengan sangat keras. Untuk mengalihkannya, Karan bertanya tentang hal lain. “Bagaimana Raya? Apakah kau mau bekerja?”


“Tidak tahu.”


“Kenapa?”


“Ya tidak tahu saja,” sahut Raya sambil memanyunkan bibirnya.


“Mulai hari ini kau dilarang minum minuman beralkohol, Raya. Termasuk wine.” Karan berkata tegas sambil mencium sekilas ujung hidung Raya. Kemudian, ia berbicara lagi, “akan sulit mengawasimu jika kau mabuk di depan orang lain.” Karan mengecup bibir bagian bawah Raya, lalu menyapukan ujung lidahnya ke bibir sang. Istri.


Raya bergidik merasakan sapuan itu. Ia pun memprotes. “Berhenti! Kau bilang mau mandi, kenapa masih di sini?”


Pertanyaan aneh itu membuat Karan tertawa. “Aku ingin mengajakmu. Kau mau ikut ‘kan?”


“Tidak.” Raya menggelengkan kepalanya lagi. Lalu secara mendadak ia terbangun, menyingkirkan tubuh Karan dan duduk di tepi ranjang. Sambil mengerjap-ngerjap, Raya berjalan ke arah toilet di dalam kamarnya.


“Aku mau mandi.”


“Ha?” Karan tersentak. Ia benar-benar merasa kaget dengan tikah laku istrinya. “Kenapa kau tiba-tiba ingin mandi?”


“Kau bilang aku bau alkohol. Jadi, aku harus segera mandi untuk menghilangkannya.”


Tingkah anak-anak Raya menghipnotis Karan. Unik tapi menyegarkan. Seandainya Raya kehilangan jati dirinya dan hanya bertingkah manja seperti ini, Karan tidak keberatan sama sekali. Ia justru ingin melihat Raya yang seperti itu. Sisi Raya yang begitu menggemaskan.


“Oke-oke, ayo kita mandi,” ujar Karan pada akhirnya. Ia tidak bisa lagi menahan keinginan Raya, juga mungkin keinginannya. Padahal ia sudah bersusah payah menahan diri untuk tidak tergoda, tapi bukan Raya Drisana namanya kalau wanita itu tidak menggodanya. Tidak menjerumuskannya kepada kenikmatan yang tiada tara. Raya adalah sosok seksi yang begitu piawai melakukan itu, bukan hanya menurut Karan, pasti menurut laki-laki lain juga. Karan bertaruh Raya pun menarik di mata mereka.


Pelan-pelan dan sangat berhati-hati Karan membawa Raya ke bak mandi. Saat Karan hendak menghidupkan air, Raya sudah keburu masuk ke dalam bak. Alhasil dres yang dikenakan wanita itu pun basah. “Kenapa kau langsung masuk?”


“Keran itu terlalu payah. Lama kalau hanya menunggunya mengisi air,” kata Raya melantur. Sebab keran yang Raya sebutkan itu baik-baik saja. Airnya mengalir deras tanpa hambatan.


“Apa kau tidak suka dengan kamar mandimu?” Karan bertanya sambil menyiapkan menurunkan air pancuran dari atas. Raya menjawabnya dengan sebuah anggukan. “Apakah kau mau mengganti kamarmu?”


“Bukan kamar, tapi kamar mandi. Ingat, ka-ma-r man-di!” cetus Raya mengeja kalimatnya.


“Benar, kamar mandi.” Karan tidak mau berdebat perihal itu dengan sang istri. “Kamar mandi yang seperti apa yang kamu sukai?”


Dengan lugas dan cepat Raya menjawab, “Kamar mandimu.”


“Apa?” Karan kembali tersentak. Ia tidak menyangka kamar mandinya akan disebutkan oleh Raya. Pria itu pikir sang istri akan menyebutkan bentuk kamar mandi salah satu hotel yang ada di luar negeri atau kamar mandi dari tempat-tempat yang pernah Raya kunjungi. Apa pun bentuknya, berapapun biayanya, Karan tidak akan masalah memugar lagi kamar mandi ini agar sesuai dengan selera sang istri.


“Iya, kamar mandimu,” sambung Raya.


“Apa kau pernah memakainya?”


“Ya, beberapa kali aku mandi di sana.”


Itu jawaban yang tidak terduga. Karan tidak pernah tahu istrinya sering menggunakan kamar mandinya. Ah, tidak. Karan sebenarnya tidak mau tahu tentang itu. Seberapa sering pun Raya keluar-masuk kamarnya, ia tidak peduli. Raya punya hak atas itu, termasuk Karan yang berhak keluar-masuk kamar sang istri. Tetapi ada satu pertanyaan besar yang bercokol di kepala Karan. “Kenapa kau mandi di sana? Eum, maksudku, apa yang kau sukai dari kamar mandiku?”


“Aku suka sampomu juga sabunmu. Wangi sekali.” Raya mengatakannya sambil menunjukkan deretan gigi putihnya ke hadapan Karan. Benar-benar cantik. Raya dalam keadaan apa pun, meskipun basah seperti ini tetaplah cantik di mata Karan.


Deg!


Jantung Karan bergemuruh. Bukan karena kecantikan Raya membuatnya berdebar. Tapi situasi yang serupa dengan ini pernah dialami oleh Karan di masa lalu. Saat itu, Raya menutup kedua matanya dari belakang, bermaksud untuk memberi kejutan. Sayangnya Karan sudah tahu siapa yang menutup matanya itu Raya karena satu-satunya anak yang bersikap santai seperti itu di sana hanyalah Raya. Gadis itu kekasihnya, wajar saja ia ingin melakukan hal-hal yang sering dilakukan pasangan seperti mereka.


Lalu, Karan berpura-pura tidak tahu sampai Raya mengaku. Gadis itu begitu senangnya karena Karan tidak bisa menebak siapa orang yang menutup matanya. Dan Karan menyukai itu. Ia rela menjadi orang bodoh sekalipun hanya demi melihat wajah ceria Raya. Setelah itu, Raya bertanya sesuatu. Tentang aroma wangi yang menempel di kepala Karan padahal Karan tidak memakai sampo merek terkenal yang harganya mahal. Ia hanya menggunakan sampo hadiah yang dikirimkan ke tempatnya setiap tiga bulan sekali. Harga sampo itu sangat murah, tetapi bukan produksi asal Indonesia, melainkan dari negara Tiongkok.


Karan menanyakan apa yang membuat Raya menyukainya. Dan gadis itu menjawab dengan wajah tersenyum yang menampakkan barisan gigi putihnya yang sehat. “Karena wangi sekali. Aku benar-benar suka wangi sampomu.”


Bagaimana mungkin Karan bisa melupakan itu? Raya versi kecil ataupun besar sama sekali tidak berubah. Walaupun wanita itu sudah menjadi super model yang begitu terkenal, tetapi ada yang tidak hilang darinya. Senyuman cantiknya yang memesona.