
Matematika menjadi pelajaran yang menghubungkan Raya dan Farraz. Raya Drisana bukanlah seorang gadis yang lahir dan tinggal di Jalan Asoka sejak bayi. Ia lahir di pusat kota—tempat yang sama seperti yang ditinggalinya sekarang. Saat berusia tiga tahun, ayahnya dipindahkan tempat kerjanya di kantor pemerintahan setempat. Sang ayah merupakan pegawai negeri sehingga ekonomi keluarga mereka cukup memadai. Sementara sang ibu merupakan bidan yang cukup masyhur namanya di kampung itu. Mereka bahkan tinggal di rumah yang tergolong mewah di daerah miskin seperti rumah-rumah di kampung sepanjang Jalan Asoka. Tidak ada kesulitan keuangan yang berarti sehingga kehidupan mereka terbilang baik-baik saja.
Itu pada awalnya. Sebelum malapetaka itu terjadi. Ibu Raya meninggal saat Raya masih berusia enam tahun. Kematian itulah yang mengubah segalanya, baik kehidupan mereka, sang ayah dan ekonomi keluarga itu, segalanya. Tidak ada yang baik terjadi setelah kematian ibu Raya. Semuanya hancur berantakan. Sang ayah yang begitu mencintai istrinya, merasa sangat terpukul ditinggal mati oleh wanita itu. Ia merasa frustrasi dan terlarut dalam kesedihannya hingga menghancurkan hidupnya dan juga putri kecil mereka. Karena kesedihannya itu, pekerjaannya sering kali terganggu bahkan tak jarang yang berakhir kacau. Dan melihat hal itu, sang atasan memecat pria itu secara tidak hormat tanpa diberikan pesangon apa pun.
Tidak memiliki pekerjaan bukan membuat ayah Raya mengubah cara hidupnya. Pria itu malah semakin parah. Kali ini tidak hanya menjadi pengangguran di rumah, ia justru mulai menegak minuman beralkohol hingga mabuk. Bahkan tak jarang pula ia menghabiskan uang yang tersisa di dalam tabungannya untuk hal-hal yang tidak penting. Semakin hari, satu per satu benda-benda di dalam rumah mewah mereka mulai habis terjual. Mobil, motor, benda-benda elektronik hingga sertifikat rumah sudah digadaikan sang ayah ke para penagih utang sebagai jaminan atas nyawanya. Yang berujung mereka harus pindah dari rumah besar itu ke rumah yang bahkan tidak pernah terbayangkan oleh Raya sebelumnya.
Rumah di samping jembatan. Sebuah rumah kecil yang hanya terbuat dari papan dengan ukuran lima kali enam meter. Tentu saja itu bukan rumah asli mereka. Di sana pun mereka masih membayar sewa per tahun meskipun harganya tidak semahal biaya yang mereka habiskan untuk biaya hidup sewaktu ibu Raya masih hidup. Setelah uangnya benar-benar tidak tersisa lagi, ayah Raya mulai mencari pekerjaan. Ijazahnya yang mentereng dan pengalaman kerjanya di instansi pemerintahan tidak bernilai apa-apa di kampung itu. Tidak ada yang peduli dengan tingkat pendidikan seseorang jika ia adalah orang miskin dan tidak punya jaringan dengan orang penting di daerah itu.
Sialnya, meskipun pernah bekerja di instansi pemerintahan dan memiliki banyak kenalan di kantornya, tetap saja itu tidak berguna bagi pria itu. Entah karena sikapnya yang arogan sewaktu masih bekerja sebagai pegawai negeri atau karena ia memang orang yang tidak pandai bergaul dengan sekitarnya, tetapi yang pasti tidak ada satu pun yang mau membantunya. Mereka terkesan abai saat dihubungi oleh pria itu. Malah beberapa di antara mereka berpura-pura tidak ingat dengannya. Hal yang membuat pria itu tidak punya pilihan selain bekerja dengan hanya mengandalkan ototnya saja. Artinya, ia akan bekerja kasar sebagai buruh serabutan di sebuah pabrik yang dekat dengan kampung itu. Satu-satunya tempat yang bisa menampung dirinya.
Hanya 30 ribu rupiah yang bisa ayah Raya kumpulkan dalam sehari bekerja sebagai buruh kasar di pabrik. Itu pun jika ia benar-benar bekerja seharian. Karena mabuknya, seringkali ia hanya datang setengah hari dan hanya mendapatkan gaji 10 ribu. Dengan uang itu, untuk makan saja sangat kurang. Tetapi ia malah menghabiskan uangnya untuk membeli rokok. Alhasil, begitu pulang setelah seharian bekerja, tidak ada yang bisa diberikan pria itu kepada putrinya. Dan yang terjadi malah sebaliknya, ia malah menuntut Raya yang saat itu masih anak-anak untuk bekerja. Dengan begitu mereka bisa mempunyai uang untuk membeli bahan makanan.
Sama seperti anak-anak lainnya di kampung itu, Raya pun ikut bekerja. Meskipun tidak berprestasi di akademik, sejak dulu Raya adalah anak yang cerdik. Ia tidak mau bekerja di pabrik sebagai buruh karena itu akan membuatnya lelah. Ia pun pergi ke kampung sebelah untuk membantu tetangganya berjualan di pasar. Itu juga alasan yang Raya pakai untuk bisa bersekolah di sekolah dasar di kampung itu. Pagi-pagi buta Raya sudah membantu tetangganya membawa sayur-sayuran yang ditanam di belakang rumah, lalu membawanya ke pasar di kampung seberang. Saat hari sudah menunjukkan pukul tujuh, Raya akan pergi ke sekolah.
“Ini beras dan sayur-sayuran untuk dimasak di rumah. Dan ini uang untuk biaya sekolahmu. Jangan sampai bapakmu tahu kalau kau punya uang,” pesan sang tetangga memberikan nasihat kepada Raya setiap hari sewaktu mereka selesai bekerja. Nasihat itu tulus ia sampaikan karena ia tahu dengan pasti tabiat dari ayah Raya.
Siapa di kampung itu yang tidak tahu siapa dan bagaimana sang mantan pegawai pemerintahan itu bertingkah? Setiap hari hanya membuat onar di tengah-tengah masyarakat. Kalau tidak muntah-muntah di jalanan, maka ia akan tidur di depan rumah orang lain secara sembarangan. Itu belum yang terparah karena pria itu sering mengganggu anak-anak di kampung itu. Tak jarang ia mengambil uang bocah-bocah yang susah payah bekerja di pabrik untuk dipakai membeli rokok dan minuman keras. Yang membuat akhirnya ia harus dipukuli oleh orang tua mereka. Dengan tabiat itu, seandainya ia tahu Raya punya uang, maka ia tidak akan segan-segan mengambilnya dari putrinya itu kendati uang tersebut seharusnya digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.
“Kalau kau sudah sampai di rumah. Cepat kunci kamarmu. Jangan biarkan laki-laki berengsek itu masuk ke dalam. Kau mengerti, Raya?” Wanita paruh baya itu mengingatkan Raya betapa berbahayanya ayah kandung bocah tersebut. Pasalnya, tidak hanya menimbulkan keributan karena mabuk, ia juga melakukan kekerasan kepada Raya. Piring, gelas dan kursi sering menjadi sasaran amukannya di rumah. Jika ia melihat Raya, maka bocah itulah yang menjadi samsak dadakan pria itu. Dengan menggunakan gagang sapu, tubuh Raya pun menjadi sasaran dari kekejaman sang ayah.
Anehnya, tidak sekali pun sang ayah memukul wajah Raya. Tangan, punggung dan kaki Raya sering mengalami memar akibat mendapatkan penganiayaan sang ayah. Tetapi hanya satu tempat yang tidak pernah tersentuh oleh pria itu. Wajah Raya. Sejak kecil, Raya dikatakan sangat mirip dengan ibunya. Hidungnya, pipinya ... bahkan caranya tersenyum begitu mirip dengan sang ibu. Mungkin itulah yang membuat ayahnya enggan melakukan kekerasan di area wajah Raya. Karena setiap melihat paras tak berdosa gadis kecil itu, ia teringat akan sosok sang istri yang telah meninggalkannya. Kendati demikian, wajah itu tidak mampu menahan kemarahannya yang berakibat pada penyiksaan terhadap putri kandungnya sendiri.
Raya mengangguk patuh. “Ya, Raya akan kunci pintu rapat-rapat dari Bapak,” jawab bocah itu dengan polos.
Awalnya Raya mengunci pintu kamar karena malas merawat ayahnya yang tidak berguna itu. Akan tetapi, lama kelamaan Raya menjadi sering mengunci pintu kamarnya untuk menghindari sang ayah. Menghindar dari amukannya yang semakin hari semakin parah. Menghindar dari pukulan keras dari tangan maupun sapu yang pria itu gunakan di tubuhnya. Menghindar dari semua kekejaman laki-laki berengsek itu. Mudah dilakukan pada awalnya. Tetapi semakin hari, ketakutan Raya semakin bertambah karena kegilaan ayahnya yang semakin menjadi-jadi.