Lies

Lies
Mengerikan



Karan sudah berada di dalam kamarnya sekarang. Dengan bulit-bulir keringat dan wajah yang memutih karena pucat. Kedua tangannya mengepal kencang, saking kencangnya sampai ruas-ruas tangannya tampak memutih dan kukunya menancap di permukaan kulit telapak tangan. Karan mencoba bernapas melalui mulut ketika hidungnya terasa begitu tersumbat oleh aroma yang sangat menyengat. Aroma itu adalah aroma melati, aroma parfum wanita. Padahal tidak ada satu pun orang yang memakai ekstrak aroma melati di sekitarnya. Pewangi pakaian, ruangan bahkan sampai lantai tidak ada yang menggunakan produk dari ekstrak melati. Begitu juga dengan aroma tubuh Raya. Baik produk parfum, sampo, sabun dan pelembab kulit yang digunakan sang super model jauh dari bunga melati. Raya suka aroma vanila, itulah yang membuat Karan sering menempel pada sang istri.


Jadi, mengapa Karan bisa mencium aroma itu? Tidak ada satu pun yang tahu alasannya bahkan Karan sekalipun. Tapi satu yang pasti, setiap ada yang menyentuh bagian punggungnya secara mendadak, seketika aroma itu akan tercium di sekeliling Karan. Tidak sampai di sana, perutnya akan terasa mual dan wajahnya akan pucat. Pria itu akan terus-menerus gemetar karena ketakutan. Apalagi saat ia merasa tidak bisa melihat apa-apa karena matanya seperti ditutup oleh sesuatu. Memang benar semuanya itu tidak nyata, Karan sedang berhalusinasi. Namun halusinasi itu sudah lebih dari cukup untuk membuat Karan merasa tertekan.


“Berengsek!” umpat Karan dengan marah. Ia sedang mencari obatnya di dalam nakas. Sayangnya tidak ada. Ia baru ingat memindahkannya ke dalam brankas. Raya sering wara-wiri ke dalam kamarnya beberapa hari belakangan sebelum wanita itu dihukum olehnya. Lagi pula, sejak menikah dengan Raya, Karan tidak lagi sering mengalami hal ini. Ia tidak pernah merasa gejolak rasa jijiknya muncul ke dalam pikiran. Raya telah menyita segala hal dalam hidup Karan. Memikirkan wanita itu selalu menjadi prioritas dalam aktivitas Karan hingga tidak ada tempat untuk yang lainnya. Sehingga Karan memindahkan obatnya ke dalam brankas, satu-satunya tempat yang tidak bisa dijamah oleh Raya.


Karan memasukkan kode brankas dan membuka lemari besi itu. Selain setumpuk uang dalam berbagai mata uang, surat-surat berharga dan tentu saja obat-obat miliknya, ada sesuatu yang lain di dalam sana. Foto masa muda Raya. Foto sang super model dengan menggunakan pakaian SMA. Karan tidak pernah membuang potret wajah istrinya sewaktu muda itu. Tidak pernah sama sekali. Foto yang ada di dompetnya ia letakkan di sana. Sedangkan pigura foto Raya yang dulunya selalu menghiasi dinding kamar Karan sudah dipindahkan ke sebuah ruang istirahat yang ada ruangan CEO di kantornya. Ruangan yang tidak boleh dimasuki oleh orang lain kecuali dirinya sendiri. Di sanalah Karan menyimpan benda-benda berharganya sewaktu SMA, termasuk semua foto-foto sang istri.


Tangan laki-laki itu terjulur ke depan untuk mengambil salah satu foto Raya. “Kau membuatku gila, Raya. Aku benar-benar menderita,” tukasnya sambil menatap gambar sang istri yang sedang tersenyum kepadanya. Senyuman itu sama sekali tidak berbeda, masih menempel di bibir ranum Raya yang sudah dewasa. Namun perbedaan mencolok justru terjadi pada sorotan mata Raya. Di gambar itu Raya terlihat begitu mencintainya. Gambar seorang gadis polos yang sanggup menyerahkan segalanya kepada kekasihnya, yakni Karan. Tapi, apa yang terjadi sekarang?


Raya hanya menatapnya dengan pandangan ketakutan dan kemarahan. Meskipun Karan sudah mencoba melunak pada sang istri, laki-laki itu bahkan mengubah perangainya agar terlihat lebih baik bagi istrinya. Apa yang didapatkan Karan dari semua kerja kerasnya itu? Pengkhianatan. Raya Drisana memang selalu seperti ini. Sosok yang mengucapkan cinta dengan mudah padanya, sosok yang berjanji akan setia kepada Karan sampai akhir hayat. Namun tidak ada satu pun yang ditepati oleh wanita itu. Raya justru dengan teganya meninggalkan Karan di masa-masa terburuknya. Tidak di masa lalu ataupun di masa sekarang, Raya adalah pendusta yang ulung.


Setidaknya ada tiga obat pil yang ditelan Karan hari itu. Salah satunya adalah obat anti halusinasi. Jika ia tidak meminumnya, maka sepanjang hari Karan tidak akan melihat dengan jelas. Aroma melati akan tercium di sekelilingnya dan ia akan muntah-muntah hingga perutnya terasa kosong. Kalau gejala sialan itu sudah muncul, tidak ada yang bisa menyelamatkan Karan kecuali dirinya sendiri.


Pernah sekali Karan mengalami hal yang serupa, saat ia berusia 20 tahun dan menempuh pendidikan di salah satu kampus di New York. Kejadiannya hampir sama. Seorang wanita tiba-tiba saja memeluknya dari belakang. Karan merasa terkejut bukan main, tapi bukan itu hal terburuknya karena tidak lama setelah adegan pelukan itu, mendadak Karan jatuh pingsan di dalam toilet. Laki-laki itu memuntahkan seluruh isi perutnya sambil terus-menerus menggosok-gosok tangannya hingga terluka. Tak lama kemudian, Karan merasa ada seseorang yang membekap mulutnya dan menutup matanya hingga pria itu tidak bisa melihat apa-apa. Pada saat itulah Karan telah jatuh di lantai kamar mandi dan dibawa ke rumah sakit.


Saat hari sudah melewati tengah malam, Karan masih tidak bisa memejamkan matanya. Ia memilih untuk menghisap beberapa batang rokok sambil menatap keluar jendela kamarnya yang terbuka. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Dendam di hati terus saja menggerogoti Karan seandainya ia tidak melanjutkan pembalasannya. Karan bisa saja melanjutkan pembalasan dendamnya. Tetapi ada yang berbeda dari dirinya yang sekarang. Beberapa saat lalu, sebelum hubungannya dengan Raya membaik, mungkin dengan mudahnya Karan menyusun rencana untuk menyiksa Raya. Sayangnya sejak harapan tentang kehidupan pernikahan normalnya dengan Raya pernah tercetus dalam benaknya, kini Karan semakin ragu. Ia benci pada itu, tapi juga takut kehilangannya. Dan ketakutan itu kian bertambah selepas waktu berlalu.


Karan mematikan rokok terakhirnya yang tidak habis ia hisap. Lalu, ia berjalan ke kamar Raya. Rasa panik akibat trauma masa lalu yang kambuh membuat Karan lupa mengunci kamar Raya. Karan membuka pintu itu dengan cepat, takut istrinya itu melarikan diri darinya. Selama ini Raya selalu menginginkan perpisahan mereka, wanita itu ingin kabur darinya. Dan ketika kesempatan dari kelalaian yang Karan lakukan muncul, mustahil Raya tidak memanfaatkan itu bukan? Ya, walaupun pada akhirnya Karan akan tetap bisa menemukan keberadaan istrinya, tetap saja Karan takut Raya akan hilang.


Rupanya ketakukan Karan tidak terbukti. Nyatanya Raya ada di sana. Terbaring di atas ranjang dengan gaun malam yang begitu tipis. Pintu beranda kamarnya masih terbuka atau memang sengaja dibuka. Entahlah. Yang pasti angin sepoi-sepoi dari luar berembus masuk ke dalam kamar hingga membuat gaun bagian bawah Raya tersingkap.


Karan tahu Raya tidak bermaksud menggodanya. Jangankan ingin menggoda, wanita itu saja tidak tahu kalau Karan sering masuk ke dalam kamar ini ketika ia sedeng terlelap, persis seperti yang Karan lakukan saat ini. Tetapi tetap saja, Raya memang menggoda. Paha mulus wanita itu terlihat begitu menantang Karan, seolah-olah menawarkan undangan menggiurkan untuk mendekat dan menyentuhnya. Layaknya seorang pria biasa, Karan pun tergoda. Ia pun berjalan mendekati Raya usai mengunci pintu kamar wanita itu.


“Kau tahu, Sayang, tidak ada wanita mana pun yang menarik perhatianku selain dirimu,” ucap Karan saat ia sudah duduk di tepi ranjang menghadap ke arah tubuh istrinya. Ia mengelus pipi Raya dengan lembut dan perlahan. Karan memperlakukan pipi halus Raya bak sebuah benda antik bernilai fantastis yang sangat rapuh dan butuh perlakuan khusus. Baginya, Raya memang lebih dari benda antik yang bernilai puluhan juta dolar. Sekalipun ribuan benda antik ditawarkan padanya, Karan tidak akan pernah mau menukarkan sang istri untuk itu semua.


“Apa yang harus aku berikan padamu agar kau mau mengikuti kata-kataku, hm? Perlukah aku membeli semua perusahaan di sekitarmu agar kau tetap berada di sisiku?” Karan hanya ingin Raya mengerti bahwa Karan tidak ingin istrinya meninggalkannya. Untuk itulah Karan bekerja sangat keras mengumpulkan uang demi Raya. Agar wanita itu mau menjadi miliknya selamanya. Agar wanita itu tidak lagi berusaha melarikan diri. Jika Karan sudah menjadi orang terkaya di ibu kota bahkan negara, apakah Raya punya pilihan selain bertahan? Karena tidak ada satu pun laki-laki di usia Karan yang setara kekayaannya dengan laki-laki tersebut. Tetapi, mengapa Raya malah memilih berbohong darinya dan berhubungan dengan model sekaligus anak pejabat itu?