Lies

Lies
Kenapa Kau Melakukan Itu?



Raya tidak ingin memercayai kenyataan itu. Kenyataan di mana Karan telah menjebak Varen dan Cindy. Insiden hotel itu adalah puncaknya. Tetapi sebelum itu, Karan sudah melakukan banyak aksi kotor lainnya pada Varen, termasuk kejadian tertukarnya sepatu pemberian Varen untuk Cindy dan Raya. Varen bisa membuktikannya. Ia membawa deretan rekaman CCTV di mana Karan tampak jelas melakukan perbincangan dengan karyawan toko sepatu. Pria itu bahkan tanpa beban sama sekali merencanakannya dan melakukan aksinya dengan terang-terangan tanpa bantuan suruhannya. Jika semua ini benar, maka Karan sudah melakukan kejahatan yang tidak bisa termaafkan.


Tidak hanya memata-matai Raya selama mereka menikah, mengurung dan mengatur seluruh hidup sang super model, Karan juga melukai orang-orang di sekitar Raya. Awalnya hanya sebatas ancaman. Itu yang diterima manajer Raya sebelumnya. Namun, ancaman itu bergerak menjadi sebuah aksi nyata. Reagan adalah bukti dari aksi itu, di mana Reagan harus mendapatkan skandal besar yang disebabkan oleh Karan. Raya pikir hanya itu saja yang Karan lakukan. Sayangnya kenyataan jauh lebih menyakitkan dari sebuah khayalan semata. Jauh sebelum itu, Karan juga sampai mengatur skandal antara Varen dan Cindy yang membuat kehancuran pertunangan Varen dan Raya.


“Aku tidak percaya suamiku yang melakukannya. Seandainya dia memang melakukannya, itu tidak mengubah kenyataan apa pun tentang hubunganmu dan Cindy. Dengan atau tanpa Karan, kau akan tetap memprioritaskan Cindy dari apa pun,” cetus Raya membela diri. Wanita itu bukan hanya ingin membela suaminya meskipun perbuatan sang suami dianggapnya sebagai kejahatan besar. Akan tetapi, Raya ingin membela dirinya sendiri. Membela keputusannya untuk menikahi Karan. Benar, awal pilihannya hanya untuk mendapatkan uang, namun sekarang Raya menginginkan hal lebih. Ia ingin hubungan yang bisa saling melengkapi satu sama lain.


Kening Varen mengerut, lalu ia angkat suara, “Kau masih tetap membelanya rupanya.” Pria itu berbicara dengan nada sangat kecewa. Tidak disangka Raya akan menutup mata dan teling terhadap perbuatan Karan. Padahal wanita itu tahu, hidup dengan orang yang melakukan kejahatan akan membuatnya tertekan.


“Sekali lagi aku tekankan Varen, aku tidak membela suamiku, tapi aku hanya mengatakan keberannya padamu. Padahal kau akan menikah denganku saat itu, kita sudah bertunangan. Tapi kau masih saja memperlakukan Cindy seperti sebelumnya. Seandainya kau tidak mengacuhkannya, mungkin urusannya tidak akan seperti ini. Rasa percayaku terhadapmu tidak akan serendah ini.”


Raya mengutarakan apa yang bercokol dalam hatinya selama ini. Varen terlalu baik kepada Cindy yang notabene hanya sebatas teman pria itu. Jika Cindy adalah saudaranya, Raya tidak akan semarah ini. Atau misalkan Cindy adalah sekretaris Varen, maka Raya tidak akan securiga itu terhadap Varen. Tetapi pada kenyataannya, Cindy bukanlah siapa-siapa. Ia hanya seorang teman tetapi mendapatkan perhatian yang sangat besar dari Varen, bahkan melebihi perhatian yang bisa Varen berikan pada Raya. Kalau sudah seperti itu, apakah tidak wajar jika Raya marah?


Percakapan itu menemukan titik gelap. Mereka merasa buntu terhadapa pemikiran masing-masing. Mungkin inilah yang membuat mereka tidak berjodoh karena masing-masing dari mereka saling menyalahkan satu sama lain atas hancurnya hubungan mereka. Varen tidak bisa mengutarakan pernyataan baru selain penjelasan bahwa Cindy hanyalah sahabatnya. Itu terbukti hingga saat ini Varen masih belum melupakan Raya. Ia tulus mencintai wanita itu kendati tidak mendapatkan balasan. Varen juga rela dimanfaatkan Raya. Semuanya bukti rasa cinta Varen terhadap sang super model.


Namun, saat dihadapkan dengan Cindy, Varen pun terdiam. Cindy dan Raya adalah orang-orang yang berharga untuknya. Jika perasaannya terhadap Raya adalah perasaan lawan jenis, maka perasaannya terhadap Cindy jauh lebih dangkal. Hanya sebatas perasaan seorang kakak yang ingin menjaga dan melindungi adik kecilnya. Perasaan kekeluargaan, tidak lebih dari itu. Sayangnya orang-orang di sekitarnya menanggapi dengan cara yang salah hingga sudut pendangan mereka pun berbeda.


Varen tidak bisa mengatakan apa-apa lagi selain permintaan maaf kepada Raya. Ia tidak punya niat menyakiti Raya. Itulah sebabnya ia mencari tahu apa yang terjadi beberapa bulan yang lalu dan menyampaikan semua bukti yang telah ia kumpulkan kepada Raya. Agar wanita itu tahu bahwa suami yang selama ini menemaninya bukanlah pria baik-baik. Pria itu hanyalah seseorang yang hidup dengan memanipulasi keadaan. Membohongi orang-orang di sekitarnya. Varen yakin jauh sebelum hari itu, karan telah melakukan banyak sekali kebohongan untuk menutupi keburukannya.


*******


Percakapan dengan Varen telah selesai dan Raya kembali ke dalam mobil. Sebelum mobil itu melaju, lagi-lagi ada orang yang menghadangnya. Kali ini bukan Varen, melainkan suaminya sendiri yang entah mengapa tiba-tiba saja ada di sana. Perasaan Raya masih terguncang akibat pembicaraannya dengan Varen barusan, dan sekarang orang yang tadi mereka perbincangkan ada di hadapan mereka. Itu membuat Raya merasa frustrasi. Kepalanya langsung terasa nyeri detik itu juga.


“Kak, tolong berhenti. Kita tidak boleh membuat keributan di sini,” ujar Raya saat Ika sedang bersiap-siap untuk turun, bermaksud menghalangi Varen mendekati Raya. Namun, mereka masih di lokasi syuting. Semua staf produksi iklan itu masih berkeliaran di sana. Tidak ada pula jaminan bahwa paparazzi tidak ada di sekitar mereka. Sebaiknya Raya mengalah. Demi menjaga kondisi tetap kondusif. Demi menjaga citranya sebagai seorang super model. Raya yang selalu menjunjung tinggi sikap profesionalisme tidak akan membiarkan gangguan kecil merusak citranya. “Aku akan turun,” tukasnya kepada sang manajer.


Dengan dibarengi beberapa embusan napas yang berat, Raya menghampiri Karan. “Ayo masuk ke mobilmu,” katanya tanpa menyampaikan basa basi terlebih dahulu, namun ia tetap menunjukkan seulas senyum yang begitu menawan di bibirnya. Seolah-olah menggambarkan antusiasme dan kebahagiaannya sebagai seorang istri yang dijemput oleh suaminya.


Awalnya Karan menduga Raya akan menolaknya. Namun saat mendengar kalimat barusan, Karan menjadi sangat senang. “Iya, ayo,” ujarnya menyetujui.


Karan menggenggam tangan Raya, membantu sang istri yang sedikit terlihat gontai itu menuju ke mobil mewahnya. Kondisi itu memang membuat Karan sempat bertanya-tanya, tetapi pikirannya langsung mendapatkan jawaban tanpa mengajukan satu pun pertanyaan. Mungkin Raya sedang lelah. Syuting baru saja berlangsung dan mereka melakukan syuting di luar gedung. Sudah pasti terik matahari ditambah beberapa adegan membuat Raya kelelahan. Jadi, Karan tidak mau merusak suasana hati Raya dengan mengutarakan hal-hal yang tidak penting.


“Jadi, kenapa kau datang ke sini?” ucap Raya ketus ketika Ian sudah membawa mobil mewah Karan melintasi jalan Raya untuk meninggalkan lokasi syuting. “Apa kau tidak kasihan meninggalkan wanita itu sendirian?” sindir Raya. Ingatannya masih melayang jauh ke sosok wanita yang pernah ia temui di kantor Karan. Kenyataan di mana sang suami bungkam atas identitas wanita itu membuat Raya geram. Bahkan, kekesalannya makin menjadi-jadi sekarang. Kemarahannya seperti tidak terbendung lagi.


Karan tahu istrinya masih marah. Itu wajar mengingat betapa bodohnya ia hari itu. Seandainya posisi mereka ditukar dan Karan menempati posisi sang istri, sudah pasti Karan akan memberikan respons yang serupa. Ia pasti akan sangat marah melihat istrinya menyembunyikan identitas pria lain. “Dia bukan siapa-siapa, Sayang. Sungguh! Dia hanya kenalanku sewaktu SMA.” Karan berusaha menjelaskan, tetapi Raya tampak tidak percaya sama sekali. Akhirnya, Karan pun mengatakan identitas wanita bernama Dona itu. “Dia adalah seorang polisi.”


Saat Karan mengatakan seorang polisi, entah mengapa Raya jadi memikirkan hal-hal lain, yaitu kejahatan Karan terhadap Varen. Pria itu saja begitu tega mengurungnya di dalam kamar hingga beberapa hari. Membatasinya dari dunia luar hanya karena ia mendekati pria lain. Bahkan sampai melakukan aksi penjebakan kepada Varen dan Reagan. Tidak ada yang menjamin Karan tidak akan melakukan kejahatan lainnya. Apalagi sekarang pria itu berurusan dengan polisi. Seorang polisi yang sampai harus menemuinya di dalam kantor dengan memakai pakaian biasa, bukan baju dinasnya. Bisakah Raya tidak menaruh curiga yang besar kepada sang suami?


“Polisi? Kenapa polisi bisa menemuimu secara pribadi di dalam kantormu?” tanya Raya begitu penasaran.


Tatapan mata tajam Raya membuat Karan kembali gugup. Akhirnya pria itu pun mengurungkan niatannya untuk mengutarakan semua kebenarannya. “Hanya ada beberapa urusan.”


Raya memberondong Karan dengan beberapa pertanyaan sekaligus. “Urusan? Urusan apa? Apa yang sebenarnya terjadi padamu? Apa kau melakukan sesuatu yang berbahaya? Kenapa kau sampai berurusan dengan polisi?”


Tubuh Raya tampak terguncang hebat saat mendengar kata polisi. Tidak hanya ucapannya saja yang cepat, tetapi tubuhnya menunjukkan reaksi yang sangat berlebihan. Raya gemetar, wajahnya berubah pucat dan bulir-bulir keringat mulai berjatuhan dari pelipisnya. Hal itu membuat Karan merespons dengan cepat. Ia menyentuh kedua bahu Raya yang terguncang dan mengatakan, “Tenang Sayang. Tenang! Tidak ada yang terjadi padaku. Tidak ada yang terjadi pada kita. Aku baik-baik saja, dan aku akan menjamin kau baik-baik saja.”


“Tapi, kenapa kau berhubungan dengan polisi?”


“Ini bukan seperti yang kau pikirkan. Kami hanya membicarakan beberapa hal tentang keamanan kantor. Hanya itu saja.”


Lagi, Raya menunjukkan tatapan kecurigaan pada Karan. “Kenapa urusan kantor sampai melibatkan polisi?”


“Untuk itu, aku tidak bisa memberi tahumu, Sayang. Itu rahasia perusahaan.”


“Kenapa? Bukankah aku juga bagian dari perusahaanmu? Aku direktur yayasanmu, Karan. Apakah itu belum cukup membuatku tahu apa yang terjadi? Atau memang ada hal yang kau sembunyikan dariku? Apa itu sebuah kejahatan?” cecar Raya lagi tanpa ampun pada Karan. Ia sama sekali tidak peduli kendati Karan merasa begitu tertekan dan kebingungan menjawab pertanyaannya satu per satu.


Jika Karan bisa menyembunyikan banyak hal darinya, mengapa Raya tidak bisa mencecar Karan? Lagi pula, Karan hanya tinggal menjawabnya. Pria itu hanya perlu membantah seandainya ia tidak melakukan satu pun tindakan kriminal. Bantahan Karan itu juga bisa menjadi jaminan bagi Raya tentang semua tuduhan yang dilontarkan oleh Varen. Lain halnya jika Karan benar-benar melakukan kejahatan. Pria itu tidak akan bisa menutupinya selamanya meskipun ia berusaha sekuat tenaga. Karena cepat atau lambat, semua kejahatan yang disembunyikan akan terungkap suatu saat nanti.