
Selama belasan jam Karan dan Raya di dalam pesawat. Akhirnya, mereka pun tiba di bandara. Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk menunggu karena Ian sudah menjemput mereka. Sayangnya, Ian langsung membawa Karan ke kantor, sementara Raya diantarkan pulang. Ada sesuatu yang mendesak yang mengharuskan Karan berada di kantor saat ini. Meskipun Raya tidak keberatan ikut bersama suaminya, namun pria itu tetap menyuruh Raya untuk pulang. Pasalnya sejak beberapa saat yang lalu, kondisi Raya tampak tidak stabil. Wanita itu terus mengeluh pusing dan mual. Karan tidak tahu penyebab pastinya, tetapi ia menduga itu efek samping dari ingatan Raya yang mulai bangkit. Ingin sekali Karan membawa Raya ke rumah sakit, namun Raya menolak dengan beranggapan ia baik-baik saja.
Alhasil, Karan pun berada di kantornya sedangkan Raya sedang mempersiapkan apa yang akan ia bawa untuk rapat besok. Raya sudah merencanakan kembalinya ia ke dunia hiburan lagi. Kali ini meskipun melalui agensi yang berada di bawah naungan perusahaan suaminya, Raya tetap akan berusaha. Tidak peduli di mana ia bekerja, karena yang terpenting adalah memberikan yang terbaik kepada para penggemar yang sudah menunggunya selama ini.
Dari semua tawaran yang telah diterima oleh manajernya, Raya menyeleksi satu per satu. Tidak terlalu buruk, tetapi semua tawaran yang masuk tidak cukup menggugah Raya. Hanya ada satu tawaran yang cukup bagus, yaitu menjadi model iklan televisi sebuah iklan sabun. Masalahnya, Raya dipasangkan oleh Reagan. Entah mengapa sejak muncul menjadi bintang utama dalam video klip sebuah band terkenal, Raya selalu dipasangkan dengan Reagan. Padahal masyarakat tahu Raya sudah menikah, tetapi mereka tidak peduli dengan status itu. Mereka hanya mendukung apa yang mereka sukai.
Tidak mungkin Raya mengambil tawaran itu walaupun ia menyukainya. Pertengkaran dengan Karan masih terbayang-bayang di dalam benaknya. Belum lagi kenyataan bahwa Reagan adalah otak yang memotori penggemar Raya untuk membenci Karan. Raya memang mencintai kariernya sebagai model. Ia suka melakukan pekerjaannya, tetapi ia tidak bisa menggadaikan pernikahannya hanya untuk karier. Baginya, Karan jauh lebih berharga.
Raya pun memilih satu iklan dan menghubungi manajernya agar menyetujui iklan tersebut. Itu adalah iklan parfum yang tidak terlalu berat. Hanya saja lokasi syutingnya berada di daerah pegunungan yang mengharuskan Raya menginap di vila di dekat gunung. Tetapi, inilah yang ditakutkan Raya. Ia takut Karan tidak akan mengizinkannya pergi ke sana hanya karena tidak ingin ia menginap. Karan sangat sensitif masalah seperti ini. Pria itu selalu tidak mengizinkannya pergi terlalu jauh atau terlalu lama. Dan ketakutan Raya pun terbukti ketika ia berbicara dengan Karan untuk mengatakan keinginan menerima tawaran iklan tersebut. Seperti dugaannya, Karan sama sekali tidak setuju.
“Kenapa harus menginap? Aku bisa mengantar dan menjemputmu kalau hanya ke puncak. Kau tidak perlu menginap di sana.” Begitu yang dikatakan Karan sewaktu Raya meminta izin pada malam itu. Pada waktu Karan sudah pulang dari tempat kerjanya. Raya tidak ingin berlama-lama dan ia langsung meminta izin saat melihat sang suami sudah berada di dalam kamar untuk berganti pakaian. “Apakah tidak ada pekerjaan lain? Mau kubantu untuk mencari pekerjaan?”
Raya menggelengkan kepalanya. “Tidak, aku tidak mau. Kau sudah berjanji padaku kalau kau akan mendengarkan apa pun yang aku katakan. Aku hanya ingin bekerja lagi. Hanya semalam saja, Karan. Aku tidak akan melakukan apa pun yang tidak kau suka. Buktinya aku memilih iklan yang tidak ada tokoh laki-lakinya.” Ada rasa kecewa yang terbesit dalam ucapan Raya. Ia pikir Karan akan mengizinkannya dengan mudah seperti yang pernah dijanjikan laki-laki itu. Tapi ternyata janji hanyalah janji. Karan nyatanya tidak mau mengizinkannya sama sekali. Raya seperti merasa tertipu karena sempat memercayai laki-laki tersebut.
Ketika hendak pergi dari kamar Karan, tanpa diduga, Karan menghentikan langkah Raya dengan memanggil nama sang istri. “Raya, jangan pergi aku belum selesai berbicara.” Begitu katanya. Pria yang sudah memakai kaos putih dan celana santainya menghampiri sang istri yang tengah berdiri di ambang pintu. Ia menarik tangan wanita itu agar menghadap ke arahnya. Ekspresi kesal tercetak sangat jelas dari sana. Sudah pasti Raya merasa marah. “Baiklah, kau boleh mengambil pekerjaan itu. Tetapi Sayang, aku akan ikut denganmu saat kau sudah selesai syuting, setelah aku selesai bekerja.”
Bukan tanpa sebab Karan ingin menemani Raya. Kesehatan wanita itu belum sembuh benar. Pasca kebangkitan ingatannya, Raya masih tampak labil. Jika ada sesuatu yang memicu ingatan masa lalu mereka, Karan tidak akan tahu apa yang terjadi. Itulah mengapa ia mencari jalan tengah dengan selalu menemani sang istri. Untuk memastikan semuanya baik-baik saja. Kesehatan Raya membaik dan hubungan mereka pun membaik karena tidak ada orang ketiga di sekitar mereka.
*****
“Jadi, bagaimana hubungan Mbak Raya dengan ayah Anda?”
Pertanyaan itu dilontarkan oleh produser ketika Raya dan manajernya mengadakan pertemuan dengan semua staf produksi iklan parfum tersebut. Sebenarnya itu bukan pertanyaan yang aneh atau janggal. Karena mengangkat parfum dengan aroma segar yang cocok untuk keluarga dan dengan tema untuk mengingatkan pelukan orang terkasih, pertanyaan itu wajib dipertanyakan. Terlebih dari ketiga wanita yang memerankan tokoh dalam iklan tersebut, hanya Rayalah yang memerankan sebagai wanita yang merindukan pelukan ayahnya.
Dengan senyuman kaku, Raya menjawab, “Hubungan saya dengan ayah ...” Raya tidak langsung melanjutkan ucapannya. Ia masih menyusun isi kepalanya, mencari sisa-sisa kenangannya tentang sang ayah. Masalahnya, Raya sama sekali tidak ingat. “Saya dan ayah saya .... saya tidak tahu,” ungkap Raya jujur karena ia sama sekali tidak mengingatnya. Jangankan kenangan, nama sang ayah pun tidak diingat oleh Raya. Selama ini satu-satunya keluarga yang Raya ingat hanyalah sang bibi. Ibu kandungnya pun tidak ada dalam kenangannya kecuali satu kenangan, yakni ketika ia menangis tersedu-sedu di atas makam sang ibu. Hanya dengan potongan kenangan kecil itulah Raya yakin bahwa ibunya yang telah meninggal itu merupakan wanita yang sangat baik karean ia tampak begitu kehilangan dalam kenangan tersebut.
Melihat raut wajah Raya yang bingung, manajer sang super model mengambil alih pembicaraan. “Mbak Raya tidak tahu karena tidak banyak yang bisa diingat. Ayah Mbak Raya meninggal saat Mbak Raya masih sangat kecil,” katanya memberikan alasan. Ia sendiri tidak tahu kejelasan perihal itu sama sekali. Yang ia tahu hanyalah bahwa Raya tidak memiliki orang tua lagi sekarang, kecuali bibinya yang saat ini dianggap sebagai ibunya. Saat ia bertanya kepada bibi Raya, ia hanya mendapatkan jawaban yang ambigu. Wanita paruh baya itu hanya mengatakan bahwa perbincangan tentang orang tua tidak boleh dilakukan dengan Raya karena itu bisa berbahaya untuk kesehatan sang super model.
“Maafkan saya, Mbak. Saya sama sekali tidak ada niatan untuk mengungkit masalah tersebut. Saya hanya menekankan tentang peran Mbak Raya dalam iklan nanti,” ungkap sang produser dengan nada bersalah. Ia tidak menyangka ucapannya itu akan membuat Raya mengingat masa lalu menyedihkan.
Raya tersenyum. Ia pun menjelaskan, “Tidak apa-apa. Saya mengerti apa yang Anda maksudkan.” Jujur, Raya sama sekali tidak merasa sedih, terluka ataupun tersinggung mendengar pertanyaan sang produser. Alasannya tidak bisa menjawab adalah karena ia tidak tahu apa-apa tentang ayah kandungnya. Di mana sang ayah, apakah benar-benar sudah meninggal atau masih hidup? Seandainya sudah meninggal, mengapa ia tidak ingat kapan laki-laki itu meninggal? Bahkan, sang bibi pun enggan menyebutkan alamat tempat sang ayah dikubur.