Lies

Lies
Kesempatan Untuk Bertemu



“Siapkan jadwal kepulanganku besok. Aku harus sampai di Jakarta secepatnya,” tukas Karan kepada sang asisten, Ian. Pasalnya semakin lama ia berada di tempat ini maka semakin sulit juga ia melupakan Raya. Selain karena kota Milan merupakan tempat mereka berbulan madu, kini Karan diusik oleh kata-kata dari Luca. Sulit sekali bagi Karan untuk tidak mendengarkan perkataan bocah itu karena terlalu berpengaruh di hidupnya. Dan apa yang dikatakan juga tepat bahwa Karan harus meminta maaf pada Raya.


“Baik Pak. Apa sekarang kita pergi ke hotel?” tanya Ian lagi untuk memastikan yang terakhir kalinya. Sebenarnya Edgar sudah menyiapkan tempat penginapan untuk Karan dan Ian, tetapi Karan menolaknya, terutama saat mengetahui Edgar sudah memiliki anak. Karan tidak punya masalah dengan keluarga Edgar, ia sering menginap di rumah para pengusaha yang sudah berkeluarga. Namun, Karan tidak bisa terus-menerus berada di dekat Luca. Karena semakin dekat dengan bocah itu, membuat ia semakin sulit untuk pergi darinya. Luca adalah anak memesona yang membuat Karan sangat nyaman berada di dekatnya.


Mobil mereka pun bergerak dari restoran menuju ke hotel yang telah dipesan Ian. Pada saat itulah Ian menyerahkan sesuatu pada Karan. Sebuah majalah mode parfum yang diterbitkan oleh salah satu perusahaan media cetak di New York. “Pak, ini untuk Anda.”


Karan yang sejak tadi sedang berkutat dengan ponselnya mengangkat kepala untuk memandang ke arah Ian. Ia mengernyit ketika melihat majalah yang disodorkan oleh sang asisten. “Apa ini? Kenapa kau memberikannya padaku?”


“Saya tidak sengaja menemukannya tadi, Pak, saat saya menunggu Anda di toko buku. Di halaman lima ada gambar Ibu Raya. Sepertinya beliau sudah kembali ke industri hiburan.”


Perkataan Ian mengejutkan Karan apalagi nama Raya disebutkan oleh pria itu. Dengan cepat Karan mengambil majalah itu dari tangan Ian dan membukanya tepat pada halaman yang Ian sebutkan barusan. Halaman lima. Ketika halaman itu terbuka, alangkah terkejutnya Karan saat melihat Raya ada di sana, di bagian kecil yang ada di bawah lembar kertas. Meskipun tidak mengisi tempat di halaman penuh majalah, setidaknya foto Raya sambil memegang parfum ada di sebuah majalah. Itu harus disyukuri Karan. Pasalnya sudah lama Raya hiatus dari pekerjaannya sebagai model. Raya memang beberapa kali sempat bekerja di industri hiburan, tapi tidak sebagai model.


Raya bekerja sebagai salah satu pemeran pembantu dalam sebuah mini series di sebuah aplikasi asal Amerika Serikat. Durasinya sangat pendek saat itu, tapi ia muncul di beberapa episode. Mungkin kalau dikumpulkan secara lengkap maka menit yang diperoleh Raya dari perannya sebagai seorang artis dalam serial itu adalah sekitar dua menit. Waktu yang sangat sedikit bila dibandingkan dengan menit yang Raya dapatkan dalam beberapa iklannya di televisi. Namun karena produksi negeri Paman Sam, nama Raya Drisana sempat menjadi perbincangan warga internet di Indonesia dan global.


Bagaimana Karan bisa tahu itu secara pasti? Karena Karan menontonnya. Ia mengikuti serial itu dari awal episode hingga akhir yang berjumlah 20 episode. Tentu saja bukan untuk mencari hiburan atau sekedar mengisi waktu luang. Karan hanya ingin menyaksikan kemunculan sang kekasih di sana. Terlebih serial itu tayang tepat satu tahun perceraian Karan dan Raya. Karan sangat merindukan Raya hingga ia bisa melakukan hal yang tidak pernah ia lakukan, yaitu menonton sebuah mini drama meskipun Karan sendiri tidak terlalu mengerti apa inti dari serial pendek tersebut.


Yang paling anehnya Karan sampai menghentikan jadwalnya sementara demi bisa menonton kemunculan sang istri karena serial itu tayang di siang hari, tepatnya masih dalam waktu kerja. Ini mengejutkan Ian karena ia tidak pernah melihat Karan sampai meninggalkan pekerjaannya demi sebuah drama. Namun setelah tahu siapa saja pemeran dalam drama itu, Ian pun mengerti. Raya menjadi salah satu bintang di sana. Dan Karan akan selalu memprioritaskan Raya dari apa pun juga. Itu tidak pernah berubah kendati pasangan itu sudah bercerai. Bagi Karan, Raya tetaplah yang paling utama di hidupnya.


“Dia sangat cantik sekarang. Bagaimana dia malah semakin cantik setelah lima tahun berpisah dariku?” celetuk Karan tanpa sadar. Baru saja tadi ia menangisi foto Raya yang ada di layar ponselnya sebagai tanda kerinduannya, sekarang ia malah disuguhkan foto Raya yang baru. Celakanya sang mantan istri tampak begitu sempurna dalam balutan gaun berwarna merah itu. Rambut Raya yang terurai panjang ditata sedemikian rupa hingga sesuai dengan pemotretan yang sepertinya mengusung konsep negara Asia. Karena secara visual, Raya memang merepresentasikan wanita Asia dalam foto tersebut. Hal yang sangat berbanding terbalik saat Raya memainkan drama empat tahun lalu, di mana wanita itu justru terlihat seperti wanita yang berasal dari Spanyol.


Ian hanya ingin Karan berbicara lagi dengan Raya untuk menuntaskan apa yang selama ini masih mengganjal di antara mereka. Sebab Ian tahu, Karan tidak pernah mengungkapkan perasaannya secara jujur pada Raya. Begitu pun sebaliknya. Cara mereka bertemu untuk kedua kalinya sudah salah. Mereka pun menikah dengan alasan yang sangat dangkal. Namun perasaan mereka sangat nyata. Mereka hanya perlu waktu untuk mengungkapkannya satu dengan yang lain.


“Saya dengar lusa ada fans meeting dengan Ibu Raya di Milan, Pak. Saya belum tahu tempatnya, tapi acara itu dimulai pukul satu siang,” cetus Ian memberi tahu informasi yang ia dengar dari beberapa orang di toko buku yang kebetulan orang Indonesia. Saat itu mereka sedang berbincang-bincang tentang Raya yang sedang melakukan aktivitasnya di Milan. Karena nama Raya cukup terkenal di Indonesia setidaknya sampai lima tahun lalu, maka tidak jarang ada orang yang masih mengingat nama dan wajahnya.


Informasi itu tentu saja mengejutkan Karan. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa Raya akan melakukan aktivitasnya di Milan. Memang ia senang karena Raya tampaknya sudah kembali ke industri hiburan secara total, tetapi ia tidak mengira akan begitu cepat untuk mengadakan sebuah jumpa penggemar. Apalagi di luar negeri. Padahal Raya adalah orang Indonesia asli dan Karan sudah memastikan sang mantan istri sama sekali tidak mengganti warga negaranya. Jadi, bagaimana mungkin Raya sampai bisa memiliki basis masa di Italia khususnya di kota Milan?


Alih-alih menanyakan hal itu, Karan justru bertanya hal lain pada Ian. “Bagaimana kau tahu tentang Raya? Aku sudah bilang agar tidak memata-matainya lagi.” Karan menaruh curiga bahwa Ian telah mengutus orang untuk mengikut Raya. Karan sudah berkomitmen untuk memberikan kebebasan pada Raya, jadi ia tidak ingin kehidupan sang mantan istri terusik lagi olehnya.


Dengan cepat Ian membantah, “Tidak Pak, sungguh! Saya tahu dari toko buku. Di sana ada beberapa penggemar Ibu Raya sedang membicarakan tentang fans meeting itu. Saya hanya tidak sengaja mendengarnya.”


“Kau yakin?” Karan melemparkan tatapan tidak percaya.


Ian mengangguk cepat. “Iya Pak.” Sambil terus mengendarai mobil itu, Ian sesekali melihat cermin yang sedang mengarah ke bangku belakang mobil, tempat di mana Karan sedang duduk. “Bagaimana Pak? Apakah kita akan tetap pulang besok?”


Keheningan tercipta di tempat itu selama beberapa saat. Kemudian, Karan berbicara lagi. “Tolong tunda kepulangan kita besok. Aku memang tidak tahu apakah cara yang aku gunakan ini salah, tapi aku ingin bertemu dengan Raya. Setidaknya sekali saja aku ingin melihatnya secara langsung walaupun hanya dari tempat jauh,” ungkap Karan secara tulus. Ia tahu ini sangat berisiko, tapi ia tidak bisa membuang-buang kesempatan. Pria itu ingin bertemu dengan mantan istrinya lagi karena ia tidak tahu kapan akan punya kesempatan bisa bertemu dengan wanita itu.