Lies

Lies
Baiklah, Aku Minta Maaf



Kecanggungan masih terjadi antara Karan dan Raya, dan itu semakin diperparah karena mereka mengunjungi rumah mewah yang menjadi tempat tinggal rekan kerja Karan. Raya begitu terpesona saat kakinya turun dari mobil limusin mewah yang menjadi kendaraan mereka. Matanya langsung disuguhkan sebuah rumah besar bergaya klasik di jalan Via Mose Bianchi. Memang tidak sebesar dan semewah rumah yang mereka tinggali di Indonesia, yang Raya anggap seperti istana baginya karena terlalu besar. Tetapi tetap saja rumah itu terlihat bagus dan besar. Terlebih berada di sekeliling kota Milan yang begitu indah.


“Maaf Nyonya Reviano, rumah ini sebenarnya mau kami jual, jadi sedikit berantakan,” tukas sang empunya rumah setelah membuka pintu untuk tamunya. Memang ia punya banyak sekali pelayan yang bekerja di rumahnya itu, tetapi tetap saja ia mau melayani Karan dan Raya dengan tangannya sendiri. Semacam untuk menghormati pasangan itu dan menghargai waktu berharga yang dihabiskan mereka. Karena seharunya pasangan itu menghabiskan waktu di penginapan mewah, tetapi malah diminta untuk datang ke rumah mereka.


Raya tersenyum. Sebenarnya tidak terlalu berantakan. Hanya saja ada beberapa kabel yang terkumpul di beberapa sisi pinggir rumah. Jika dilihat hanya sekilas, maka tidak akan cukup mengganggu. “Tidak apa-apa Tuan. Saya sama sekali tidak keberatan,” balas Raya sopan. Memang apa yang membuatnya harus keberatan? Ini bukan rumahnya. Ia hanya menumpang semalam di sana. Sekalipun ia merasa terganggu, tidak mungkin ia mengatakannya kepada sang pemilik rumah. Selain dicap sebagai wanita yang suka mengeluh, ini juga bisa merugikan bisnis Karan. Meskipun mereka dalam keadaan yang kurang baik, Karan tetaplah suami Raya. Keburukan pria itu sama saja dengan keburukannya.


“Mari masuk,” ucap kolega Karan itu.


Sama seperti tampilan luarnya yang megah, bagian dalam tempat itu pun sama megahnya. Penuh dengan ornamen-ornamen khas kehidupan bangsawan masa lalu. Di sepanjang dinding rumah terpajang puluhan lukisan yang harganya ditaksir Raya bernilai fantastis. Meskipun buta terhadap lukisan, setidaknya Raya tahu tidak mungkin seorang konglomerat asal negeri pizza ini membeli lukisan murah.


“Apakah ada lukisan yang menarik perhatian Anda, Nyonya Reviano?” Pria tua itu angkat bicara lagi usai melihat Raya yang begitu peduli terhadap lukisan miliknya. Sejak tadi sang super model langsung memperhatikan lukisan-lukisan itu. Mungkin wanita itu berminat dengan salah satunya. Jika begitu, ia bisa menjual lukisan itu kepada Karan. Mereka akan segera pindah, menjual lukisan itu mungkin akan lebih menguntungkan ketimbang membawanya ke rumah baru mereka.


Raya salah telah menaruh perhatian pada lukisan itu. Seni lukis adalah salah satu kelemahan Raya. Gawat sekali jika pria itu bertanya macam-macam mengenai lukisan tersebut. Saking gugupnya, Raya sampai secara spontan mencengkram tangan Karan yang sedang menggenggamnya. Mungkin itu refleks sederhana Raya untuk mencari bantuan. Dan beruntungnya, Karan cukup peka dengan gerakan sang istri. Ia menyeringai melihat kecemasan yang tercetak di paras cantik itu. Sepertinya Raya benar-benar trauma dengan pengalamannya terhadap lukisan.


“Bukan begitu Tuan. Istri saya hanya teringat lukisan kami di rumah. Ada salah satu lukisan yang juga dibuat oleh pelukis yang sama dengan lukisan milik Anda.” Karan mencoba menjelaskannya kepada sang pemilik rumah. Lukisan dan benda antik lainnya adalah pengetahuan dasar bagi Karan untuk menjadi orang kaya. Dulu, ayahnya mengajarkannya dengan sangat keras. Beberapa kali sang ayah bahkan mengajaknya berkeliling beberapa negara hanya untuk masuk ke museum-museum ternama. Tidak hanya itu, ayahnya juga mengajak Karan untuk menghadiri beberapa pelelangan benda antik. Karena bagi para konglomerat, mengoleksi benda-benda antik semacam harga diri. Semakin banyak dan mahal koleksi mereka, menandakan semakin kaya orang itu.


“Baiklah. Silakan, kepala pelayan saya akan mengantarkan Anda dan istri Anda ke kamar.” Pria itu berbisik kepada perempuan tua yang ada si sebelahnya. Karena menggunakan pakaian pelayan, sepertinya wanita itu adalah kepala pelayan di rumah itu. “Tunjukkan kamar terbaik kepada tamu kita,” serunya.


Sang pelayan mengangguk. “Baik Tuan.” Ia melakukan perintah majikannya dengan baik sambil menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Raya. Dari percakapan itu Raya mendapatkan kesimpulan bahwa rumah besar itu setidaknya memiliki 14 kamar dengan satu kamar utama yang ditempati oleh pemilik rumah. Karena bukan merupakan rumah utama kolega Karan itu, beberapa tahun belakangan rumah itu hanya dijadikan rumah singgah keluarga. Seandainya tidak ada acara, maka rumah itu akan disewakan kepada orang lain.


Setelah mendapatkan penjelasan panjang, akhirnya Karan dan Raya sampai di salah satu kamar tamu terbaik di rumah itu. Mereka tidak membawa banyak barang bawaan karena sebagian besarnya sudah dikirimkan ke penginapan mereka. Sementara untuk menginap di rumah itu, mereka hanya membawa satu koper saja.


“Terima kasih sudah mengantar kami,” celetuk Karan pada sang pelayan. Setelah meninggalkan mereka, Karan buru-buru menutup pintu dan menguncinya. Kemudian, ia menarik Raya mendekat ke arahnya dan mencium bibir wanita itu. Awalnya pelan, tetapi lama kelamaan semakin cepat dan tergesa-gesa. Karan bahkan tidak memberi kesempatan bagi Raya untuk berontak. Wanita itu sudah sepenuhnya terkurung di dalam dekapannya.


“Karena aku ingin,” jawab Karan. Ia mengangkat tubuh Raya dan membawanya ke atas ranjang. Pria itu tidak langsung menidurkan Raya melainkan membawa wanita itu duduk di pangkuannya. Lalu, ia mencium bibir Raya lagi. Kali ini ia tidak buru-buru. Jauh lebih sabar dari sebelumnya.


“Kenapa kau seperti ini? Lepaskan aku!” Raya masih berontak. Ia tidak mau diperlakukan seperti ini, terlebih Karan masih belum meminta maaf atas perbuatan kasar laki-laki itu di dalam pesawat.


“Kenapa aku harus melepaskanmu?” balas Karan. Ia menatap sorotan tajam Raya, tanda bahwa istrinya itu masih menyimpan kemarahan padanya. “Apa kau masih marah padaku?”


“Kau tidak tahu itu? Atau kau pura-pura tidak tahu?” ketus Raya. Tidak hanya pelanggaran privasi, Karan bahkan menuduhnya sebagai wanita tidak setia. Biar bagaimana pun, Raya tidak akan mungkin berselingkuh dari suaminya sendiri. Ia tidak sepenuhnya mencintai Karan karena memang ia tidak percaya cinta. Entah mengapa Raya merasa cinta bukan lagi bagian dari hidupnya. Itulah mengapa Raya sangat menjunjung tinggi komitmen dan kesetiaan. Jika ia melanggarnya, bagaimana ia bisa membuat Karan setia padanya?


“Ya, aku tahu perkataanku sudah keterlaluan padamu. Baiklah, maafkan aku. Itu tidak akan terjadi lagi, aku berjanji.”


Raya memutar bola matanya dengan jengah. “Kau sudah banyak berjanji padaku, Karan. Tapi kau tetap melanggarnya.”


“Kali ini tidak, Raya. Selama kau tidak berselingkuh dariku, aku tidak akan memaksamu melakukan apa yang tidak kau sukai.”


“Bagaimana aku bisa percaya padamu?”


“Apa yang harus aku lakukan supaya kau percaya?”


Raya mengangkat kedua bahunya. “Entahlah. Aku tidak tahu bagaimana caranya aku bisa memercayaimu lagi. Aku juga tidak menemukan alasan kenapa kau mau berubah.”


“Kau tidak tahu alasannya? Kau masih tidak mengerti mengapa aku melakukan semua itu padamu?” Karan bertanya dan Raya membalasnya dengan sebuah gelengan kepala. Embusan kasar keluar dari mulut Karan lagi. Ia berusaha bersabar agar pesan yang ingin ia sampaikan bisa didengarkan dengan baik oleh sang istri. Pria itu pun menyentuh bibir Raya yang lembap dengan ibu jarinya, mengelap bekas lipstik yang rusak akibat ulahnya barusan. “Aku tidak ingin kehilanganmu, Raya. Karena aku mencintaimu,” tukasnya singkat. Lalu, ia mencium bibir bawah Raya dengan lembut.