
Luca melarikan diri dari tempat itu. Ia tidak mau mendengar penjelasan apa pun dari ketiga orang yang ada di sana. Ia merasa syok sehingga ia pun mengurung dirinya di dalam kamar meskipun tidak menguncinya. Luca punya pengalaman buruk dengan mengunci kamar. Pernah satu kali pintu kamarnya tidak bisa terbuka karena ia menguncinya secara tiba-tiba. Alhasil, Luca terjebak di dalamnya tanpa bisa melakukan apa-apa. Untung saja Raya langsung meminta bantuan Edgar sehingga pintu itu bisa terbuka meskipun pria itu pun akhirnya harus mengerahkan tenaga ahli untuk membobol kuncinya.
Terlalu banyak yang Luca habisnya bersama dengan Edgar. Selama ini hanya pria itu saja yang ia anggap sebagai seorang ayah, tidak ada ayah lain yang bisa Luca terima sekarang. Hatinya akan kacau seandainya mengetahui bahwa Edgar bukanlah ayahnya padahal ia sangat membanggakan Edgar lebih dari siapa pun. Memang benar Luca menyayangi Karan karena ia sering bertemu dengannya belakangan ini. Dibandingkan Edgar yang sibuk dengan pekerjaannya, Karan yang selalu ada dengannya sangatlah menyenangkan untuk diajak main. Apalagi Karan juga tidak pelit. Pria itu membelikan Luca banyak makanan kesukaannya. Luca tidak punya kesan buruk terhadap Karan.
Tapi bukan berarti Karan bisa serta merta menggantikan Edgar begitu saja menjadi ayahnya. Luca sudah sangat lama mengenal Edgar, teman-temannya juga sudah mengenal Edgar sebagai ayahnya. Bagaimana mungkin ayahnya mendadak berubah dalam waktu semalam? Luca tidak bisa menerimanya. Sampai kapan pun tidak bisa. Apalagi jika suatu hari Karan membawanya pergi dari Milan. Meskipun tidak terlalu menyukai sekolah dan teman-temannya, bukan berarti Luca membenci mereka. Ia sudah cukup nyaman tinggal di sana. Mereka juga pernah pindah sekali. Luca tidak mau mengalami pindah rumah lagi. Ia tidak suka beradaptasi dengan lingkungan baru. Perlu diingat, ia bukanlah anak yang pantai bergaul, persis seperti ayah kandungnya.
“Maafkan aku. Aku pikir aku bisa membantu kalian menjelaskannya pada Luca, tapi tidak bisa. Aku benar-benar tidak menduga Luca akan memberikan respons seperti itu,” tukas Edgar meminta maaf. Ia benar-benar tidak menduga anak angkatnya akan melarikan diri sambil menangis seperti itu. Ia pikir Luca akan menerimanya dengan mudah jika dijelaskan baik-baik. Namun di sisi lain, Edgar merasa begitu senang melihat seberapa besarnya kasih sayang Luca kepadanya meskipun ia bukan ayah bocah itu.
Bohong jika Edgar tidak menyayangi Luca. Sejak lahir ke dunia ini, Edgar sudah merawat Luca. Bahkan ia adalah ayah yang tercantum dalam pembiayaan administrasi Luca kendati pada akta anak itu tetap nama Karanlah yang tercantum. Rasa sayang Edgar begitu besar hingga ia juga sebenarnya tidak rela jika anak yang ia rawat selama empat tahun itu harus pergi dari sisinya. Karan dan Raya adalah orang Indonesia. Tidak ada alasan bagi mereka menetap di negara asing sementara mereka punya keluarga dan kerabat di negara asalnya. Edgar memang bisa mengunjungi Luca sesekali di Indonesia ketika ia merindukan bocah itu, namun tidak akan bisa seintens sekarang. Itu membuat Edgar merasa sangat sedih.
Sayangnya tidak ada yang bisa dilakukan Edgar. Fakta bahwa Luca bukan putra kandungnya menamparnya pada kenyataan yang mau tidak mau harus ia terima apa pun yang terjadi. Ini menyedihkan, tapi Edgar harus belajar untuk melupakan Luca. Belajar untuk berpisah darinya. Juga tentu saja belajar untuk mengubur perasaannya terhadap Raya. Waktu yang mereka habiskan tidaklah sebentar. Lima tahun. Apalagi sejak Raya dan Luca pindah ke Milan membuat komunikasi mereka semakin intens terjadi. Pelan-pelan perasaan mulai tumbuh di hati Edgar, mulai dari hanya rasa simpati terhadap seorang ibu tunggal yang mengurus anaknya sendiri menjadi perasaan suka terhadap lawan jenis.
Ada terlalu banyak yang Edgar sukai dari Raya. Ia tidak bisa menyebutkannya satu per satu. Tapi yang paling membuatnya semakin jatuh cinta adalah ketika Raya meminta pendapatnya tentang sekolah Luca. Padahal Raya tahu dengan pasti bahwa Edgar bukanlah ayah kandung dari bocah itu, tapi Raya menghormatinya. Wanita itu juga berdiskusi banyak hal yang menyangkut persoalan Luca seolah-olah Edgar memang ayah dari anak itu. Meskipun Edgar juga tahu dengan pasti bagaimana perasaan Raya. Wanita itu masih sangat mencintai mantan suaminya. Itu dibuktikan di mana Raya selalu menarik diri dari pergaulan jika tidak berurusan dengan Luca dan pekerjaannya. Raya tidak pernah mau membuka hatinya untuk pria lain, termasuk Edgar.
Tapi apa yang mau dikata, perasaan Edgar yang muncul untuk Raya bukanlah perasaan yang bisa ia cegah sesukanya. Ia hanya bisa menahan diri dengan menciptakan batasan terhadap wanita itu, lebih besar dari batasan yang Raya ciptakan untuknya. Agar ia bisa menggalihkan perasaannya kepada hal lain selain kepada Luca. Dan setelah menempuh waktu yang panjang, akhirnya Edgar berhasil melakukannya. Ia berhasil melupakan niatannya untuk memiliki Raya. Pelan-pelan Edgar pun bisa berbicara tanpa canggung dengan Raya seperti di awal-awal pertemuan mereka. Raya pun tetap bisa berbicara dengan nyaman dengannya. Itu adalah hal yang baik dari pada Edgar menyatakan perasaannya tapi hubungannya dengan Raya dan Luca hancur.
“Tidak Edgar, itu bukan kesalahanmu. Ini hanya masalah waktu. Aku yakin cepat atau lambat Luca akan belajar menerima segalanya,” tukas Raya membela Edgar karena pada kenyataannya tidak ada yang salah di sini. Terlebih Edgar. Pria itu sudah melakukan banyak hal untuknya dan Luca. Waktu dan kasih sayang yang Edgar curahkan kepada Luca benar-benar kasih sayang yang nyata dan tulus. Bahkan terkadang, Raya merasa heran bagaimana Edgar dan keluarga bisa sangat menyayangi seorang anak yang bukan berasal dari keluarga mereka dengan sangat tulus. Hal yang jarang Raya temukan di keluarga lain, termasuk di negaranya.
“Benar. Bukan saatnya kita saling menyalahkan karena kejadian ini,” kata Karan menimpali. Ia tidak bisa membiarkan Raya dan Edgar memikirkan hal ini terlalu dalam. Persoalan tentang Luca memang sulit, tapi bukan berarti tidak bisa dihadapi. Pasti ada cara untuk membuat Luca bisa menerima kondisi mereka. “Aku akan coba berbicara dengan Luca,” ucap Karan sembari berdiri dari tempatnya. Setelah membawa es krim yang dibelikan oleh Edgar, Karan masuk ke dalam kamar Luca yang tidak terkunci. Tentu setelah pria itu mendapatkan izin dari sang putra.
Di dalam kamar itu Karan melihat putranya sedang menelengkupkan kepalanya ke atas bantal. Suaranya juga terisak-isak tanda bahwa bocah itu masih menangis. Karan memandangi wajah Raya terlebih dahulu dan tersenyum kepada sang mantan istri sebelum menutup pintu kamar Luca agar memberi privasi kepadanya untuk berbicara dengan anak itu. Ia memang belum lama mengenal Luca. Mereka saja baru masuk tahap pengenalan. Ada banyak hal yang perlu Karan pelajari dari Edgar tentang Luca dan ia berjanji akan belajar pelan-pelan. Tapi bukan berarti Karan tidak mengenal putranya sama sekali. Perasaannya sebagai ayah menuntunnya untuk melakukan hal ini. Ia pun yakin dapat meyakinkan putra satu-satunya itu.
“Luca, kau tidak mau ini?” tanya Karan sembari duduk di kursi yang digunakan Luca untuk belajar. Karan meletakkan mangkuk es krimnya di atas meja belajar Luca. Di sana ia memperhatikan apa saja yang ada di atas meja Luca di mana ada banyak sekali foto yang diambil Luca bersama dengan Edgar. Jelas sekali betapa pentingnya Edgar dalam kehidupan Luca dan posisi Edgar tidak akan bisa digantikan oleh apa pun, termasuk Karan meskipun ia adalah ayah kandung bocah itu.
Luca tampak terpengaruh dengan apa yang Karan katakan, terutama saat pria itu menyebutkan kata ‘Daddy’. Meskipun ia tahu Karan adalah ayah kandungnya, tapi Karan tidak pernah menyebut dirinya sendiri sebagai Daddy. Lagi pula, orang yang membelikan es krim itu adalah Edgar karena Raya mengatakan bahwa pria itu akan datang ke apartemen mereka. Luca pun meminta sang ayah untuk membelikannya es krim kesukaannya dari tempat yang biasanya ia beli bersama ayahnya. Sudah jelas kata ‘Daddy’ di sini merujuk pada Edgar bukannya Karan.
Melihat respons yang ditunjukkan oleh Luca membuat Karan senang. Segera ia mengambil es krim itu dan bersikap seolah-olah hendak memakannya. “Kalau kau tidak mau, biar Paman saja yang menghabiskannya,” kata Karan mengancam Luca.
Tentu saja Luca meresponsnya dengan cepat. Ia sangat menyukai es krim, terlebih es krim yang dibeli dari tempat langganannya. Ia pun mengangkat tubuhnya dan memposisikan tubuhnya untuk duduk. “Tidak! Itu es krim dibelikan Daddy untukku! Paman tidak boleh memakan semuanya!” protes Luca.
Karan menyembunyikan senyumannya, tapi ia sangat senang melihat sang anak sudah mulai mau berbicara kepadanya. “Benarkah? Jadi kau mau makan ini? Ya sudah, makanlah,” ucapnya sambil menyerahkan mangkuk es krim itu ke tangan Luca.
Bocah itu mengambil es krim tersebut dan menyantapnya dengan lahap. Tapi kemudian, ia berhenti mendadak. Ia memperhatikan Karan yang sedang menatapnya. Akhirnya, Luca pun menyendokkan es krimnya lagi. Kali ini bukan untuk dimasukkan ke dalam mulutnya, melainkan untuk diberikan kepada Karan. “Ini untuk Paman,” katanya yang tampak tidak tega melihat orang lain memandanginya sedang makan. Luca pun memutuskan membagi es krimnya walaupun ia menyukai es krim itu.
“Untuk Paman?” Karan bertanya untuk memastikan.
Luca mengangguk cepat. “Iya.”
“Wah terima kasih Luca.” Karan memakan es krim yang telah disendokkan putranya. “Ini enak sekali!”
“Benar ‘kan? Aku juga sudah bilang ke Mommy kalau es krim ini enak makanya aku sering membelinya bersama Daddy!” tukas Luca menjelaskan. Ia pun kembali menyantap es krimnya.
“Rupanya kau sangat menyukai Daddy ya?”
Luca mengangguk lagi. “Iya, aku sangat suka dengan Daddy.” Anak itu memandangi wajah Karan dengan tatapan mengiba. “Apa Paman mau menggantikan Daddy?”