
“Aku sudah selesai bekerja dan ini sedang dalam perjalanan pulang ke rumah.”
Raya sangka Karan akan pulang begitu saja, tapi ternyata pria itu mengirimkan sebuah pesan singkat sebelum tiba di rumah. Ini terbilang janggal karena mereka jarang sekali bertukar pesan. Sempat beberapa kali pernah terjadi, itu pun sebelum mereka resmi menjadi suami-istri. Raya yang saat itu bekerja sebagai brand ambassador lebih sering menghubungi Karan terlebih dahulu untuk kebutuhan pemotretan atau syuting iklan. Sementara Karan lebih suka menelepon Raya secara langsung. Seandainya pun ada pesan yang harus disampaikan, pria itu akan memilih memerintahkan Ian mengirimkan pesannya pada Raya.
“Oke,” balas Raya secara singkat. Ia tidak tahu bagaimana harus membalas pesan Karan. Jujur, Raya tidak pernah melakukan ini selama belasan tahun. Bertukar pesan singkat kepada sang pujaan hati. Raya sempat melakukannya sewaktu muda, mungkin ketika ia masih duduk di bangku SMA. Setelah itu, seluruh pikiran Raya hanya tertuju pada pendidikan dan kariernya. Raya tidak sempat menjalani kehidupan romansa seperti orang lain.
“Ibu, apakah minumannya saya taruh di sini?”
Salah seorang pelayan rumah menghampiri Raya. Ia menanyakan tentang minuman beralkohol yang sempat Raya minta diambil dari tempat penyimpanan. Raya memang tidak terlalu suka minum minuman beralkohol kendati ia tidak anti meminumnya. Tetapi berbeda dengan Karan. Karena sudah lama tinggal di benua Amerika, Karan terbiasa meneguk minuman keras, apalagi saat musim dingin tiba. Cuaca ekstrim dan salju yang menebal membuat Karan mau tidak mau mempertahankan kekebalan tubuhnya dengan minuman itu.
“Ya, letakkan saja di sana. Jangan dibuka dulu sebelum saya minta,” ucap Raya.
Wanita itu melangkah lagi ke kamar mandi yang ada di dekat dapur. Kamar mandi yang dibuat khusus untuk para tamu yang berkunjung di sana. Raya menatap cermin yang ada di atas wastafel, memandangi dirinya yang tampilannya mulai dari pakaian hingga riasan wajah. Tidak ada yang cacat. Dres merahnya terlihat anggun dan riasan wajahnya pun tampak sempurna. Raya berharap tidak ada hal buruk yang terjadi malam ini karena ia benar-benar ingin memperbaiki hubungannya dengan sang suami.
Tepat pukul tujuh malam suara mobil terdengar di depan rumah. Raya tidak perlu melihat ke luar karena ia sudah hafal bunyi kendaraan milik sang suami. Tidak hanya itu, reaksi para asisten rumah tangga pun sudah memberi tahu siapa yang datang. Memang ketimbang dirinya, Anna dan para gadis itu lebih terlihat antusias dengan acara makan malam ini. Mereka dengan tulus ingin hubungan Karan dan Raya menjadi harmonis seperti yang selama ini mereka saksikan di layar televisi. Tentu saja hubungan yang sesungguhnya, bukan sekadar pura-pura seperti yang selama ini terlihat di sana.
“Kau sudah datang? Apa kau mau mandi dulu?” Raya melontarkan pertanyaan itu saat melihat Karan masuk ke ruang makan. Bahkan, Raya sontak berdiri dari kursinya untuk menyambut kedatangan sang suami.
Sementara itu, Karan hanya berdiri kaku. Ia bingung harus melakukan apa. Jelas sebelum tiba di rumah Karan sudah merencanakan agar membersihkan dirinya terlebih dahulu sebelum makan. Namun saat melihat makanan yang sudah tersaji ditambah sang istri yang sudah menunggunya, Karan pun mengurungkan niatnya. Ia tidak bisa membiarkan Raya menunggunya lagi. Ada baiknya ia akan mandi setelah menghabiskan makan malam bersama sang istri.
“Aku akan makan dulu,” kata Karan sambil berjalan menghampiri Raya. Karena Raya selalu melihat ke arah tangannya yang sedang menyembunyikan sesuatu di balik punggung, Karan pun menyerah. Ia mendekati sang istri sambil menyerahkan buket bunga mawar yang ada di tangannya. “Aku tidak tahu apakah kau menyukainya. Tapi aku hanya ingin memberikan ini untukmu.”
“Ah, iya. Terima kasih,” sahut Raya. Wanita itu mengambil buket bunga yang diberikan oleh Karan. Jantungnya bergemuruh dan kepalanya dipenuhi banyak sekali pemikiran. “Tapi kenapa? Eum, maksudku, hari ini tidak ada yang spesial ... aku rasa.”
“Ya, tidak ada. Aku hanya ingin memberikannya padamu.” Karan berjalan ke kursi yang ada di seberang Raya, lalu ia duduk di sana dengan santai usai melepaskan jas dan dasinya. “Tenang, aku melepaskannya agar tidak sesak. Aku tidak bermaksud melakukan apa pun,” sambungnya sambil mengangkat dasi yang telah ia lepas dan menaruhnya ke dalam saku jasnya.
Raya menelan ludah, merasa sangat gugup mendengar ucapan Karan. Mungkin Karan tahu Raya tidak suka tangannya diikat saat mereka berhubungan badan beberapa waktu yang lalu. Pria itu hanya ingin menegaskan padanya bahwa ia sama sekali tidak ingin melakukan hal-hal kasar seperti itu lagi. Itulah mengapa Karan seolah sedang mengumumkan janjinya pada Raya. Tetapi masalahnya, tidak hanya Raya saja yang berada di ruang makan. Ian dan beberapa pelayan lain termasuk Anna, mendengar apa yang Karan katakan.
“Semoga mereka tidak mengerti,” gumam Raya sembari menundukkan kepala, merasa malu.
“Kenapa?” timpal Karan yang tidak mendengar suara istrinya dengan jelas.
Raya segera mengangkat kepalanya. “Tidak. Maksudku, cucu tanganmu terlebih dahulu sebelum makan. Kalau boleh, gulung juga lengan kemejamu karena serbuk bunga bisa saja terjatuh di sana,” ujar Raya menasihati Karan selayaknya ia menasihati seorang bocah kecil tentang kebersihan sebelum makan.
Karan tersenyum tipis, tapi ia tidak membantah. Segera ia melakukan semua yang diminta oleh istrinya dengan patuh. Bahkan ia sempat mencuci wajahnya terlebih dahulu sebelum kembali ke meja makan.
*******
Makan malam itu tak seberapa canggung dibandingkan dengan apa yang diimajinasikan Karan. Ia berhasil, setidaknya sedikit, membuat kontak mata dengan Raya saat mereka berbicara, bukan dengan tatapan menghina ataupun penuh kebencian. Bukan pula tatapan penuh nafsu seperti sedang memangsa buruan, tetapi memandang Raya secara normal. Karan berhasil melewati makan malam tanpa terlalu banyak memikirkan dendamnya. Yang merupakan hal bagus, karena ia tidak ingin membayangkan bagaimana cara membuat mata elok yang sedang menatapnya itu menangis.
“Bagus, apa ada yang ingin kau lakukan untuk selanjutnya?” tanya Karan dengan hati-hati. Ia meneguk minuman anggur dari gelasnya sambil terus memandang Raya, menanti jawaban dari sang istri. Karan mungkin tahu apa yang Raya inginkan, namun ia ingin wanita itu sendiri yang mengatakannya.
“Aku ... tidak tahu,” sahut Raya mengejutkan. Karena pada dasarnya, ia memang tidak tahu apa yang hendak ia lakukan. Belasan tahun ia hidup menjaga tingkah lakunya untuk tampak sempurna. Ia selalu mencemaskan pendapat orang lain dan menjaga penampilannya agar sesuai dengan yang diinginkan oleh masyarakat. Semua itu telah menghasilkan kepribadian yang tertutup, yang pada kenyataannya, ia sendiri tidak tahu siapa dirinya atau apa yang ia inginkan.
Raya pernah menyusun rencana hidupnya sewaktu ia hendak menikahi Varen. Apa yang ia mau lakukan, tujuan hidupnya, mimpinya ... dan semua hal yang pernah tersimpan di ponselnya. Tetapi saat ini semuanya berbeda. Sejak Varen berselingkuh darinya, Raya seperti kehilangan kepercayaan diri dan kepercayaan terhadap orang lain. Apalagi saat Karan menikahinya. Pria yang dianggap Raya akan menjadi penyelamatnya dari kehancuran, justru sering menyakitinya tanpa sebab.
“Apa kau tidak mau kembali bekerja?” Karan memberanikan diri bertanya lagi.
Raya menggeleng cepat. “Tidak. Aku tidak mau kejadian waktu itu terulang lagi,” kata Raya yang terdengar agak defensif. “Pekerjaan bukanlah satu-satunya yang aku inginkan.”
“Lalu?”
Kali ini Rayalah yang meneguk minuman anggur yang ada di dalam gelasnya hingga tandas. “Untuk apa kau bertanya?”
Karan menyeka sudut bibirnya dengan tisu. “Apakah aku tidak boleh bertanya tentang istriku?”
Akhirnya kata-kata itu tercetus dari bibir Karan. Istriku. Anehnya saat mendengarnya kali ini, Raya sama sekali tidak merasa jijik. Kedua sudut bibirnya malah terangkat membentuk senyuman yang tercetak di pipinya yang merona. “Kau boleh melakukannya.”
“Ya, itu pasti,” tukas Karan penuh percaya diri. “Jadi, apa yang kau inginkan?”
“Apa kau akan memberikannya jika aku memintanya?”
“Ya.”
“Serius?” ungkap Raya tidak percaya. Ia bahkan mengulang lagi kata-katanya. “Serius, kau akan memberikan apa yang aku minta?”
“Ya, tapi tidak apa saja. Selama kau tidak meminta untuk bercerai dariku, aku akan memberikannya.”
Mata Raya berbinar-binar mendengarnya. “Kau sudah mengatakannya. Aku harap kau tidak menariknya lagi.”
Karan mengembuskan napsanya. “Aku tidak pernah melanggar janjiku. Tapi tidak ada yang gratis di dunia ini. Kau tahulah aku ini pebisnis. Sebelum aku memberikan sesuatu untukmu, kau harus memberikan sesuatu padaku. Agar kita sama-sama diuntungkan.”
Pria itu menggigit bibirnya saat kata-kata itu sukses keluar dari mulutnya. Bukan ini yang ia ingin katakan. Ia ingin menyampaikan bahwa apa pun yang Raya minta, sekalipun bernilai fantastis, akan ia dapatkan dengan mudah. Karan hanya ingin sedikit membanggakan dirinya di hadapan Raya, tapi tak menyangka justru terdengar seperti sebuah keangkuhan dan kesombongan.
Ajaibnya, Raya tidak merasa keberatan dengan apa yang disampaikan oleh Karan. Wanita itu justru mengangguk-anggukkan kepalanya, menyetujui perkataan sang suami. “Kau benar, tidak ada yang gratis di dunia ini. Jadi, aku harus memberikan sesuatu padamu,” katanya sambil menyelipkan sebuah senyuman di bibir manisnya, yang tentu saja membuat Karan terheran-heran dan tampak begitu penasaran.