Lies

Lies
Apa Kau Menyesal?



Raya melupakan semuanya. Ia pun melupakan keberadaan Farraz di hidupnya, termasuk janji-janji mereka dulu juga tidak diingat lagi oleh Raya. Ia sudah menjalani kehidupannya sendiri dan tidak sekali pun datang mengunjungi Farraz yang mendekam di balik jeruji besi demi menanggung perbuatannya. Namun, proses Raya untuk kembali menata kehidupannya juga tidak mudah. Berulang kali ia merasa tertekan akan sesuatu. Dibayangi oleh hal-hal yang mengerikan yang bahkan sampai terbawa mimpi.


Masalahnya, Raya tidak ingat lagi apa yang terjadi padanya. Begitu ia bangun usai mengalami mimpi buruk itu, ia tidak tahu apa yang dimimpikannya semalam. Yang ia tahu hanya tubuhnya sudah bermandi keringat dan tangannya bergetar hebat. Jantungnya berdebar kencang dan ada sesuatu yang membuat napasnya tersengal. Bahkan ada hal yang selalu dilakukan Raya setelah bangun tidur. Ia membersihkan tangannya beberapa kali.


Itu dilakukannya secara tidak sadar, seperti sudah dibentuk di alam bawah sadarnya sendiri bahwa tangannya begitu kotor hingga harus segera dibersihkan walaupun ia sendiri tidak melihat noda apa pun di atas tangannya. Ini terbilang sangat aneh sehingga Raya menceritakan masalah ini pada sang bibi. Bukannya memberikan jawaban atas penyebab Raya melakukan itu, sang bibi justru mengatakan bahwa itu adalah hal yang baik. Menjaga kebersihan setelah dan sebelum tidur adalah tindakan yang terpuji.


Namun yang paling aneh lagi adalah ketika Raya selalu merasa ada yang hilang dari hidupnya. Raya seperti telah melupakan sesuatu yang sangat penting. Sesuatu yang seharusnya tidak ia lupakan sampai kapan pun. Sayangnya kendati sudah dipaksa berulang kali pun Raya tetap tidak ingat apa-apa. Pada akhirnya, Raya menyerah untuk menggali ingatannya dan memutuskan hidup sebagai Raya yang sekarang. Raya yang tidak bergantung pada masa lalu.


*****


(Kembali ke masa sekarang)


“Itulah yang terjadi. Setelah kau mengirimkan surat padaku, aku memutuskan untuk menyembunyikannya dari Raya. Menyembunyikan dirimu dan masa lalu kalian yang mengerikan. Aku tahu kau sudah mengalami hal buruk karena menggantikan Raya menjadi tersangka, tapi aku juga ingin berusaha melindungi keponakanku.” Bibi Raya bercerita kepada Karan tentang apa yang terjadi pada Raya dan alasan mengapa wanita itu tidak pernah mengunjungi Karan saat masih bernama Farraz di penjara.


Di ruang tunggu pengunjung rumah sakit itu, Karan memandangi wajah bibi Raya. “Tapi kenapa Anda tidak menyampaikan surat-surat saya pada Raya? Atau setidaknya membalas satu saja surat dari saya? Anda harus tahu apa yang saya alami di penjara itu hal yang sulit. Saya tersiksa tapi saya berusaha untuk tutup mulut karena saya ingin Raya tidak terlibat masalah itu. Dan yang saya inginkan hanya satu saja. Setidaknya biarkan saya bisa melihat Raya. Atau paling tidak izinkan saya mendapatkan informasi tentang wanita yang saya cintai. Itu pun saya tidak bisa dapatkan.”


Masih terbayang di benak Karan bagaimana dinginnya lantai penjara dan sakitnya berada di balik jeruji besi. Terlebih bagi pemuda miskin sepertinya. Setiap hari, setiap detik Karan menantikan para petugas penjara yang berkeliling sambil berharap nama Farraz akan disebutkan olehnya. Karan berharap akan ada orang yang mengunjunginya di tempat hina itu. Akan tetapi, semakin banyak Karan berharap, semakin sakit juga hatinya.


Tidak ada yang berkunjung satu pun ke tempatnya. Para tahanan lain selalu didatangi oleh sanak saudara dan teman-temannya, namun tidak ada satu pun orang yang mau mendatangi seorang yatim piatu bernama Farraz. Itu membuat luka di hati Karan semakin menganga. Terlebih atas apa yang Karan rasakan selama di penjara yang sampai saat ini memberikan rasa trauma yang luar biasa kepadanya.


Karan menyeringai. Dengan sorotan mata nanar, ia memandangi bibi Raya. “Mudah sekali Anda mengatakan itu. Seandainya saya tidak menggantikan Raya di penjara, sudah pasti Raya yang akan mengalami apa yang saya alami. Saat itu terjadi, saya pastikan keponakan Anda pasti tidak akan bertahan sama sekali.”


Bibi Raya mengembuskan napas panjang. “Jadi, apa kau menyesal sudah menggantikan Raya? Apa ini alasan kau menyiksa wanita itu sampai dia harus mengalami tekanan sebesar ini? Ingat Farraz ... ah tidak. Kau sudah mengganti namamu sebagai Karan Reviano, meskipun penggantian nama itu tidak akan mengubah siapa dirimu yang sebenarnya. Raya kehilangan seorang anak. Tapi itu bukan hanya anaknya, tapi juga anakmu.”


Karan tahu betapa berengseknya ia selama ini pada Raya. Sikapnya yang kasar membuat sang istri begitu dipenuhi tekanan batin. Bohong kalau Raya bahagia hidup bersamanya. Seandainya diberikan kesempatan, pasti Raya sudah kabur dari pelukannya. Wanita itu sudah pernah melakukannya sekali di awal pernikahan mereka. Sudah pasti ia ingin melakukan itu di setiap kesempatan seandainya Karan tidak memperketat penjagaan terhadap Raya.


Memang benar tujuan Karan menikahi Raya hanyalah untuk membalaskan dendamnya 12 tahun lalu. Ia tidak bisa melakukan itu saat menjadi Farraz. Kehidupannya masih sangat miskin dan tak berdaya. Namun, setelah berganti nama sebagai Karan Reviano, semuanya berbanding terbalik. Hanya dengan menggunakan nama keluarnya saja Karan bisa melakukan apa saja dan menguasai yang ia inginkan.


Sayangnya, tidak ada satu pun rencana yang Karan susun untuk melukai Raya. Ia hanya ingin mengikat wanita itu dengan pernikahan dan membuatnya sadar bahwa tidak ada satu pun orang yang bisa menyelamatkan Raya selain Karan. Dan dalam rencananya itu juga tidak ada anak. Karan tidak pernah berpikir akan ada bayi di tengah-tengah kehidupan mereka saat Karan hendak membalas dendam. Keinginan punya anak itu baru muncul di kemudian hari saat hubungannya dengan Raya sudah semakin membaik. Itu pun dengan alasan untuk mengikat Raya agar tidak kabur darinya. Anak adalah senjata terampuh menahan Raya agar selalu ada di sisinya.


Namun sekarang, semuanya sudah terlambat. Meskipun ingin menjelaskan apa pun tentang pembenaran dirinya, Karan tetapnya orang jahat yang bersalah dalam kasus ini. Ia tidak seharusnya mendapatkan pengampunan. Tapi, kalau boleh, ia ingin mengunjungi istrinya dan mengutarakan apa saja yang ada di dalam hatinya. Karan ingin meminta maaf, terlepas Raya mau memaafkan atau tidak, Karan tidak akan memaksa wanita itu.


“Saya tahu, saya juga bersalah pada Raya. Tapi, saya sama sekali tidak menginginkan kematian bayi kami. Mungkin ini terdengar seperti sebuah pernyataan yang munafik, tapi saya benar-benar tidak tahu bahwa Raya sedang hamil hari itu.”


Karan menampilkan wajah penuh penyesalannya sayangnya malah membuat sang bibi merasa semakin kesal. “Memangnya apa yang akan kau lakukan saat kau tahu Raya hamil? Itu tidak akan membuat perbedaan apa pun, Karan. Sudahlah, lupakan saja tentang Raya. Kau sudah mengirimkan surat cerai dan itu sudah ditandatangani oleh Raya. Kalau kau benar-benar menyesal atas perbuatanmu, aku harap kau tidak lagi datang untuk mengganggunya,” tegas wanita itu.


Tak lama kemudian, ia bangkit dari kursinya dan melangkah meninggalkan Karan. Sangat tidak baik berdekatan dengan pria itu karena dapat menggoyahkan perasaannya. Karena tidak bisa dipungkiri bahwa ia merasa iba pada Karan meskipun persentasenya sangat sedikit. Namun, ia merasa bersalah pada Karan di masa lalu. Tidak seharusnya ia membuang semua surat yang disampaikan pria itu untuk Raya. Atau seharusnya sekali saja ia datang mengunjungi Karan di penjara sebagai perwakilan sang keponakan. Sayangnya yang dilakukan justru sebaliknya. Bahkan sepucuk surat pun tidak pernah ia kirimkan kepada pria yang bernama asli Farraz tersebut.