Lies

Lies
Luka yang Sulit Sembuh



Karan tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia hanya turun dari mobil saat Ian sudah memakirkan mobilnya di depan lobi hotel. Tidak ada yang tampak baik dari parah tampan pria itu. Wajahnya pucat dan keringat membanjiri pelipisnya. Dilihat dari mana pun tampak jelas bahwa Karan tidak baik-baik saja. Pria itu tampak seperti sedang menahan sesuatu, menahan rasa sakit yang teramat sangat. Masalahnya Karan tidak mau membua mulut. Ia selalu ingin menyembunyikan masalahnya seorang diri, termasuk kepada Ian. Sehingga di depan umum, Karan akan tampak layaknya seorang pemimpin perusahaan tanpa celah sama sekali.


Semuanya demi orang tua yang sudah membesarkannya, demi keluarga angkatnya itu. Karan berutang budi, dan satu-satunya cara untuk membalas utang budi hanyalah dengan menjadikan Reviano Group menjadi perusahaan besar. Padahal Karan juga bisa terluka. Ia juga bisa merasa lemah dan tak berdaya. Hanya saja semua perasaan itu tidak pernah Karan sampaikan kepada siapa pun.


Pasti ada yang tidak beres. Ian memikirkannya dengan keras. Karan memang tidak pernah menceritakan apa yang ia rasakan, tapi bukan berarti Ian tidak menyadari apa yang salah dari sang majikan. Sudah lebih dari satu dekade Ian melayani Karan. Sebelum menikah dengan Raya kondisi Karan lebih parah dari sekarang. Pria itu sangat kacau dan terlihat sangat kesakitan terutama di saat-saat tertentu. Ian menyimpulkan Karan mengalami trauma besar pada masa lalu. Mungkin ketika ia berada di dalam penjara.


Masalah Karan pernah mendekam di balik jeruji besi tidak lagi Karan sembunyikan dari Ian. Pria itu sudah sepenuhnya menceritakan tentang masa lalunya yang kelam tersebut kepada sang asisten. Tepat setelah ia menemui Raya lima tahun lalu ia membuka diri. Semuanya ia ceritakan kecuali satu hal, tentang apa yang terjadi selama Karan mendekam di sana sekitar dua tahun. Karan tidak menceritakannya sama sekali, bahkan saat ingin membahasnya, wajah sang CEO mendadak sangat pucat. Mungkin inilah yang membuat Karan selalu memfokuskan dirinya pada Raya. Agar traumanya tidak kambuh lagi.


Saat pikiran Ian dipenuhi oleh pemikirannya tentang Karan, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Peneleponnya adalah anak buahnya yang berada di Indonesia. Sebelumnya Ian sudah menyuruh mereka mencari tahu tentang informasi di mana Karan ditahan 17 tahun lalu. Rumah tahanannya sudah diketahui, tetapi sangat sulit mengetahui apa yang terjadi di sana. Kejadiannya sudah lewat hampir dua dasawarsa, itu artinya sudah banyak yang berubah dari tempat itu, terutama orang-orangnya.


Memang ada catatan kriminal yang menyebutkan nama ‘Farraz’ sebagai salah satu penghuni tempat itu, sayangnya tidak ada yang tahu mengenai pemuda itu. Sama seperti ia yang sudah berganti identitas, pelan-pelan eksistensi Farraz pun mulai terlupakan. Tidak ada lagi yang ingat tentang seorang pemuda yang menjadi pelaku tindakan kriminal yang pernah menjadi tahanan muda di sana.


“Bagaimana? Apa ada perkembangannya?” tanya Ian pada orang itu. Jika tidak bisa mencarinya di rumah tahanan itu, maka Ian menyuruh anak buahnya mencari di tempat lain. Masih ada satu orang yang tahu bagaimana kejadian itu secara lengkap, yakni teman ibu Farraz, pengurus panti asuhan yang diminta Farraz untuk mengantarkan Raya ke rumah bibi perempuan itu demi menutupi perbuatannya. Ian sempat mengalami kesulitan dalam mencari keberadaan wanita itu. Namun setelah beberapa waktu, akhirnya ia menemui titik terang meskipun masih belum sepenuhnya dapat dipercaya. Itulah sebabnya ia memerintahkan beberapa orang untuk memeriksanya.


“Kami sudah menemukan rumah wanita tua itu, Pak. Seperti yang Anda katakan, dia tinggal di rumah lamanya,” balas anak buah Ian.


“Bagus, apa kau sudah mendapatkan informasi darinya tentang Pak Karan?”


“Sudah Pak. Semua laporannya sudah kami kirimkan ke surel Anda.”


“Surel?” Ian melepaskan ponsel dari telinganya dan melihat ke layar benda itu. Ternyata benar. Sebuah surel baru saja terkirim ke alamat surelanya. Ian kembali berbicara kepada anak buahnya. “Kerja bagus, aku akan memberikan bonus untukmu.”


“Terima kasih Pak.”


Farraz memang mengakui perbuatannya, ia menceritakan kronologi kejadian itu berdasarkan intuisinya dengan memperkirakan apa yang Raya lakukan saat itu. Namun ia tidak ingin mengakui saat penyidik memintanya untuk mengakui hal itu sebagai kejadian yang telah ia rencanakan. Ia mengaku melakukan itu secara spontan sebagai bentuk pembelaan diri. Lagi pula, Farraz tidak membawa senjata apa pun ke rumah itu. Jika memang kejahatan yang disengaja, seharusnya ia membawa senjatanya. Nyatanya pisau yang menjadi satu-satunya alat dalam kejahatan itu pun berasal dari rumah ayah Raya sehingga unsur kesengajaan seharusnya tidak terbukti.


Akan tetapi, Farraz salah memperkirakan sesuatu. Ia terlalu panik saat itu sehingga tanpa berpikir panjang menghapus sidik jari Raya dari pisau itu. Maksudnya supaya Raya tidak ikut terlibat dalam penyelidikan kasus ini. Raya sudah membuat alibi dengan berada di rumah bibinya ketika kasus itu terjadi. Itu adalah alibi yang sempurna karena diperkuat dengan bukti dari surat dokter yang mengatakan bahwa Raya berada di wilayahnya untuk mendapatkan perawatan. Jadi, itu harusnya semua berjalan sempurna.


Ya, seharusnya karena pada kenyataannya tidak begitu yang terjadi. Sidik jari yang Farraz hapus dari pisau itulah yang menjadi bumerang baginya. Berkat tindakan itu membuat Farraz dituduh telah menyiapkan senjata dari luar rumah Raya sebab tidak ada sidik jari Raya yang tertinggal di sana padahal hanya gadis itu yang biasanya memasak di rumah itu. Raya hanya pergi selama beberapa hari sebelum kejadian karena sakit, jadi tidak mungkin sidik jari gadis itu terhapus begitu saja.


Penyidik pun menyimpulkan bahwa pisau itu tidak berasal dari rumah Raya. Seandainya pun berasal dari rumah itu, Farraz pasti mencurinya terlebih dahulu sebelum datang ke rumah itu pada malam harinya, lalu menggunakannya untuk menyerang ayah Raya hingga tewas. Dan itu membuktikan bahwa kejahatan ini adalah kejahatan yang direncanakan.


Farraz berada di posisi yang terdesak. Ia tidak bisa mengiyakan ataupun menolak pernyataan penyidik. Jika ia menjelaskan alasan bagaimana sidik jari Raya bisa hilang dari pisau itu, maka Raya akan terseret dalam penyidikan. Tetapi jika ia tidak membantahnya, nasibnya pun menjadi taruhannya. Farraz bisa ditahan lebih lama dari yang biasanya. Atau yang terparah, pemuda itu bisa seumur hidup berada di rumah tahanan sebagai seorang pelaku kriminal yang sebenarnya tidak ia lakukan sama sekali.


Itu hanya dugaan awal Ian sama seperti dugaan awal sang mantan pengurus panti asuhan. Kemudian, sikap Farraz mulai berubah saat dikunjungi oleh sahabat ibunya itu. Padahal wanita itu tidak sendiri, ia membawa pengacara bersamanya. Farraz sudah ia anggap sebagai putra kandungnya sendiri karena ia merawatnya sejak bayi. Walaupun tidak melahirkan pemuda itu dan membiarkannya tumbuh di daerah yang tidak layak sama sekali, bukan berarti ia tidak peduli. Itu terbukti dengan bagaimana ia bersusah payah mencari bantuan untuk membebaskan Farraz meskipun ia harus menghabiskan segala uang yang ia punya selama ini bahkan menjual apa pun yang bisa ia jual.


Yang paling aneh adalah tingkah Farraz yang tampak sangat ketakutan saat melihat wanita. Pemuda itu bahkan sampai memohon pengampunan saat melihat sang pengurus panti asuhan. Ia berteriak histeris ketika diajak bicara oleh wanita itu yang membuat proses pembelaan pun sulit dilakukan. Pengurus panti asuhan itu pun harus rela keluar dari rumah tahanan tersebut dan tidak ikut mengunjungi Farraz setelahnya.


Meskipun begitu, mereka tidak bisa menemukan jawaban dari perubahan sikap Farraz. Sampai pada akhirnya, Farraz melakukan tindakan impulsif ketika berada di dalam ruangan persidangan. Kali ini lebih parah dari sebelumnya tepatnya ketika Farraz melihat seorang polisi wanita mendekatinya untuk melepaskan borgol yang membelegu tangannya demi mengikuti prosedur pengadilan, di mana seseorang tersangka yang akan memasuki ruang sidang tidak boleh memakai atribut tahanan sebagai bentuk bahwa pengadilan menghormati praduga tak bersalah kepada para tahanan.


Mulai saat itu sang pengurus panti asuhan melakukan penyelidikan kecil-kecilan terhadap wanita itu. Ia hanya seorang wanita paruh baya yang miskin dan tidak punya apa-apa, tetapi ia punya sesuatu yang dapat dibanggakan, yaitu jaringan. Sebagai seorang pengurus panti asuhan yang berhubungan dengan administrasi panti asuhan, ia mengenal beberapa orang yang bisa dimintai pertolongan.


Salah satunya seorang wartawan kriminal yang memang sering meliput kejadian-kejadian kriminal yang terjadi di sekitar jalan Asoka. Dari wartawan itulah ia tahu identitas polisi wanita itu. Namanya Dona yang bertugas sebagai Kepala kesatuan pengamanan lembaga permasyaratan tempat Farraz ditahan.