Lies

Lies
Bayangan Raya



Kedatangan Karan disambut oleh beberapa orang yang bekerja sama dengan perusahaannya. Karena ini adalah kerja sama yang besar Karan juga melibatkan banyak orang agar tujuannya bisa terwujud. Selain untuk Reviano Group, kerja sama ini juga untuk mengembangkan perusahaan jam tangan Karan. Jadi hari ini, akan banyak yang dilakukan pria itu dalam kunjungannya ke Milan. Namun Karan sudah mempersiapkannya dengan baik. Bisnis adalah makanan sehari-hari baginya.


Begitu sampai di bandara, seseorang dari lima orang yang menjemput menghampiri Karan. Laki-laki itu berjalan dengan penuh percaya diri dengan didampingi oleh seorang wanita cantik. Kedua orang itu mendekati Karan. “Selamat siang Pak Karan. Saya Edgar dan ini adik saya Maude. Terima kasih sudah mau memenuhi undangan kami. Selamat datang lagi di Milan,” katanya memberi kata sambutan kepada Karan dengan menggunakan bahasa Italia sembari menjabat tangan sang CEO.


Dengan wajah yang tersenyum, Karan membalas ucapan mereka dengan menggunakan bahasa yang sama pula. “Terima kasih, saya juga senang bisa datang ke sini lagi.” Tak lupa Karan menyapa singkat wanita yang ada di samping rekan bisnisnya itu. Meskipun hanya sebatas basa basi, Karan tidak bisa bersikap kasar dengan tidak memedulikannya. Bahkan saat berada di dalam mobil yang sama dengan Edgar dan Maude, Karan tetap meladeni pertanyaan yang diajukan oleh Maude.


Memang semuanya mengenai bisnis, tapi tetap saja Karan merasa ada sesuatu yang janggal dengan Maude. Wanita itu terlihat sangat bersemangat dengan apa yang dilakukan Karan. Ia menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan bisnis laki-laki itu hingga hal-hal yang mengenai kehidupan pribadinya. Sudah jelas terlihat apa tujuan wanita itu. Ia mendekatkan diri pada Karan. Karena tidak ingin kerja samanya berantakan, Karan pun membiarkan ia mendekatinya.


“Silakan dinikmati Pak Karan, semua ini adalah makanan dari restoran terbaik di kota ini.” Edgar menawarkan makanan kepada Karan saat ia membawa pria itu ke restoran favoritnya. Karena sudah masuk waktu makan siang, ia memutuskan untuk mengajak Karan makan bersama sembari menunggu kedatangan klien Karan yang lain.


Sekali lagi Karan tersenyum tulus. “Terima kasih Pak. Saya akan menikmati makanannya dengan baik.”


Makan siang itu berjalan dengan baik pada awalnya sampai sebuah insiden terjadi di sana. Seorang anak kecil masuk ke dalam ruangan sambil membawa sebuah permen lollipop di tangannya. Anak itu berjalan ke arah Edgar dan memanggil pria itu dengan sebutan ‘daddy’.


Karan tidak terlalu mengikuti perkembangan kehidupan koleganya dan ia juga tidak peduli dengan hal itu. Tapi ia terkejut saat Edgar sudah memiliki seorang putra. Ia pikir pria itu masih lajang karena tidak ada berita tentang pernikahannya. Selain itu, Edgar juga tidak memakai cincin pernikahan di tangannya. Mungkin saja itu anak dari ia dan kekasihnya karena di Eropa status pernikahan bukanlah halangan. Orang-orang di sini bisa memiliki anak dari pasangan mereka tanpa harus menikah terlebih dahulu.


“Kenapa kau ke sini, Sayang? Di mana Mommy, hm?” Edgar bertanya pada bocah itu. Ia tidak canggung sama sekali untuk menggendong sang bocah di pangkuannya. “Sudah, jangan makan permen lagi. Kau mau makan? Mau Daddy suapi? Kau mau makan apa?”


Dengan bibir yang dimajukan, tangan anak itu bergerak dan menunjuk ke sebuah cannoli, kue goreng yang digulung dengan isian krim yang manis. Masalahnya cannoli itu ada di piring yang ada di depan Karan hingga membuat Edgar panik bukan main. “Kau mau itu? Bisakah kau menunggu sebentar biar Daddy pesankan untukmu? Karena itu punya paman, jadi kau tidak boleh mengambilnya.”


Bocah itu menggeleng dengan tegas. “Aku mau itu, Daddy,” ujarnya dengan menggunakan bahasa Italia yang terdengar sangat menggemaskan.


Edgar masih berusaha menjelaskan pada anak itu. “Tapi, Sayang ...”


“Tidak apa-apa. Saya akan memberikannya, Pak. Itu tidak masalah.” Karan langsung mengangkat suara di tengah perdebatan kedua orang itu. Ia juga tidak terlalu suka makanan manis sehingga tidak sulit baginya memberikan kue itu kepada bocah yang sedang ada di pangkuan sang kolega.


“Ah, maafkan saya, Pak. Saya tidak bermaksud untuk merusak suasana. Maafkan kelakuan anak saya.”


Karan tersenyum lagi. “Saya sama sekali tidak merasa terganggu, Pak. Tidak perlu sungkan.”


Bocah bernama Luca itu pun mengangguk. Ia mengalihkan pandangannya untuk melihat ke arah Karan. “Paman, bolehkah aku meminta itu?” tukas bocah itu dengan malu-malu. Meskipun tampak berani, ia tetap memeluk sang ayah usai mengutarakan keinginannya.


Bibir Karan tidak berhenti tersenyum melihat bocah itu. Ia pun memberikannya pada sang anak. “Ini ... tapi sebelum itu, bisakah Paman berkenalan denganmu?” Karena Luca mengangguk, Karan pun tidak segan-segan lagi menyodorkan tangannya. “Hai, nama Paman Karan, siapa namamu?”


Dengan salah satu tangan berada di leher Edgar, anak itu menggerakkan tangan kanannya untuk menyambut uluran tangan Karan. “Nama saya, Luca. Usia saya empat tahun. Senang berkenalan dengan Paman,” seru Luca memperkenalkan diri.


Ada sesuatu yang berdetak dalam hati Karan saat melihat bocah itu. Ia terenyuh mendengar penuturan sang anak, merasa ada sesuatu yang mengusik hati nuraninya. Mungkin karena rasa bersalah Karan tiba-tiba menyeruak ketika melihat Luca. Seandainya Raya tidak keguguran, mungkin saja Karan sudah memiliki anak seperti Luca. Atau mungkin versi perempuannya yang mirip sekali dengan Raya. Karan selalu merasa seperti ini tiap kali bertemu dengan anak-anak yang berusia sekitar usia Luca. Ia merasa sedih yang membuatnya sangat jarang pergi ke panti asuhan yang ada di Jalan Asoka seperti biasanya. Karena setiap melihat balita di tempat itu, pikiran Karan langsung melayang pada Raya dan bayi mereka yang telah tewas.


Kebisuan Karan yang mendadak membuat Edgar terkejut. “Ada apa Pak Karan? Apakah ada sesuatu yang mengganggu Anda?” Pria itu tampak khawatir kerja sama mereka akan kacau seandainya Karan merasa tidak baik di tempat itu.


Karan segera mengubah raut mukanya. “Tidak ada apa-apa Pak, saya hanya merasa takjub dengan putra Anda. Luca sangat pandai dan menggemaskan.”


Edgar tersenyum mendengar penuturan sang kolega. Ia menggeratkan pelukannya dan mengecupi pipi Luca. “Benarkan? Luca memang sangat menggemaskan. Dia sangat mirip dengan ibunya. Itu yang membuat saya sangat menyayangi Luca.”


Luca yang mendengar ucapan sang ayah langsung membalas, “Aku juga sayang Daddy. Tapi Mommy yang pertama, lalu Daddy yang kedua. Aku sayang Mommy dan Daddy,” ujarnya yang menjelaskan prioritas rasa sayangnya yang membuatnya terlihat semakin menggemaskan.


Karan memang ikut tersenyum mendengarnya, tapi di balik senyuman itu Karan menyimpan kepedihan yang sangat dalam. Ia merindukan kehidupannya dengan Raya. Apakah nanti ia akan punya kehidupan yang lebih baik seandainya mereka memulainya dengan benar sejak awal pernikahan? Karan bertanya-tanya dengan perasaan yang menyakitkan.


“Luca, sekarang kau bisa turun dan menunggu Daddy di luar? Daddy masih ada tamu sekarang.” Edgar berbicara lagi usai Luca menghabiskan cemilan yang dibelikan Karan. Karena pada dasarnya Luca adalah anak yang penurut, ia pun mengikuti perintah sang ayah. Setelahnya Edgar kembali berbicara pada Karan. “Sekali lagi saya minta maaf, Pak Karan. Saya tidak menyangkan anak saya akan datang ke sini secara tiba-tiba.”


“Tidak apa-apa Pak. Saya justru merasa terhibur dengan keberadaan Luca. Saya sama sekali tidak keberatan melihat anak selucu Luca.”


Di saat seperti itu Maude menimpali pembicaraan mereka. “Luca memang lucu, tapi saya rasa Pak Karan juga bisa mendapatkan anak selucu Luca.”


Tanpa sepengetahuan kakak beradik itu ekspresi Karan pun berubah. Hanya dengan satu kalimat saja suasana hati Karan mendadak hancur dan tak terkendali. Ia bahkan meremas tangannya sambil menahan perasaan sedih. Karena sampai detik ini bayangan Raya masih melekat dalam benaknya. Bayangan di mana Raya menangisi kematian anak mereka.