
Raya selalu cantik di mata Karan. Cara wanita itu berpakaian selalu saja menarik perhatian. Terlebih ketika Raya berpose di depan kamera. Seandainya bukan kebutuhan iklan, Karan pasti sudah meminta semua foto-foto Raya yang berhasil dibidik oleh sang fotografer. Masalahnya Karan memang pemilik gedung dan berinvestasi sedikit pada supermarket itu, namun ia bukanlah orang yang akan menghancurkan kerja sama seperti itu. Lagi pula, ini juga bagian dari rencana Karan dengan membiarkan Raya kembali bekerja.
Seperti apa yang dituduhkan oleh rekan kerja Raya, Karanlah yang mencari pekerjaan itu untuk Raya. Bukan tanpa sebab Karan melakukan itu. Ia ingin membuat Raya bergantung padanya. Sebab, ia tidak akan mengizinkan Raya mengambil pekerjaan apa pun di luar pekerjaan yang didapatkan oleh Karan. Dengan begitu ke mana pun Raya melangkah, di mana pun ia berada dan dengan siapa pun wanita itu bekerja sama, ia akan selalu dikait-kaitkan dengan Karan. Selanjutnya, Raya tidak akan pernah bisa kabur dari Karan.
Sesuai arahan Karan, semua staf yang bekerja pada pemotretan hari ini diundang ke sebuah restoran daging. Karan sudah memesankan tempat terbaik agar semua orang merasa nyaman bersamanya. Ini juga merupakan salah satu siasatnya. Karan mungkin bisa menyiapkan mata-mata untuk mengikuti Raya, namun mata-mata terbaik adalah rekan-rekan kerja Raya sendiri. Jika Karan mendekati mereka dengan dalih ingin menjalin hubungan baik, secara tidak langsung mereka akan memberikan informasi tentang Raya seandainya istrinya itu berulah.
“Silakan dinikmati. Tidak perlu sungkan memesan apa pun. Anggap saja ini sebagai jamuan perayaan pernikahan kami,” celetuk Karan pada para staf.
Tentu saja para pekerja media itu senang bukan main. Pasalnya tidak sering mereka makan makanan enak. Pihak produksi memang menyiapkan dana untuk konsumsi, namun biaya itu hanya cukup untuk membeli nasi kotak. Mereka tidak akan pernah menyediakan makanan seperti yang sedang mereka saksikan di depan meja saat ini.
Alih-alih menikmati seperti rekan kerjanya, Raya merasa tidak senang sama sekali. Kehadiran Karan di dekatnya menambah keruh gosip yang sudah beredar di sekitarnya bahwa Raya akan memanfaatkan Karan demi pamornya. Bahkan yang lebih kasarnya nama Raya akan besar hanya karena ia mendapatkan sokongan dari Karan. Padahal itu tidak benar. Raya bekerja keras untuk sampai di posisinya sekarang, meskipun memang ia juga menempuh beberapa trik. Tetapi, itu sama sekali tidak menampik bahwa Raya adalah model berbakat.
“Sayang, kenapa kau tidak menyentuh makananmu? Apakah ini tidak sesuai dengan seleramu?” bisik Karan di samping telinga Raya. Istrinya itu terlihat hanya memain-mainkan pisau dan garpunya tanpa ada niatan untuk memasukkannya ke dalam mulut.
Raya menoleh, kali ini ia yang berbisik di telinga Karan. “Berapa banyak lagi kau hendak menaikkan berat badanku, hah?” tanyanya ketus namun dengan suara yang pelan.
Sebuah seringai tersungging di bibir Karan. Ia membalas, “Aku tidak berniat menaikkan berat badanmu, Sayang. Tapi kau sendiri yang tidak bisa mengontrolnya. Yang aku lakukan hanya menyediakan makanan terbaik untuk istriku, tapi apakah kau akan memakannya atau tidak itu semua kau yang pilih.”
“Kau tidak pernah mengizinkanku membuat pilihan, berengsek! Kau terus mengancamku kalau aku tidak menghabiskan makananku. Seperti yang kau lakukan saat ini.” Bola mata Raya jatuh ke tangannya yang sedang digenggam erat oleh Karan.
Lagi, Karan tersenyum. “Aku senang sekali, Sayang. Pelan-pelan kau sudah mengenal kepribadianku dengan sangat baik.” Karan menggerakkan tangannya, mengelus punggung tangan Raya dengan lembut, lalu ia bersuara, “Sekarang aku akan membiarkanmu memilih, Sayang. Apakah kau ingin makan dengan tanganmu atau dengan tanganku? Atau kau lebih suka dari mulutku?”
Raya melayangkan tatapan tajam ke arah Karan. “Kau benar-benar laki-laki berengsek!” Raya pun menurunkan keras kepalanya. Ia memulai memakan apa yang ada di atas piringnya meskipun tidak semuanya. Wanita itu memang tidak bernafsu sekarang. Jadi, makanan jenis apa pun tidak akan terlihat enak di matanya.
“Pak Karan, bagaimana Anda bisa memutuskan untuk menikahi Ibu Raya?” celetuk salah seorang staf, memberanikan diri untuk bertanya pada Karan.
Inilah yang ditunggu-tunggu Karan, pertanyaan tentang pernikahan mereka. Dengan penuh kebahagian, Karan bercerita, “Karena Raya dalam keadaan yang sangat buruk saat itu. Saya mengenalnya. Selain sebagai teman, Raya juga merupakan brand ambassador produk perusahaan saya. Tentu saja dengan hubungan sebaik itu, saya tidak sanggup melihat Raya menangis.”
“Benar Pak! Saat itu Bapak keren sekali. Bapak langsung melamar Ibu Raya di depan media,” sambung staf itu.
Walaupun bersama dengan manajernya, Raya tetap tidak bisa menghadapi media. Saat itulah Karan muncul bak seorang pangeran yang sedang menyelamatkan putri yang terjebak bahaya. Karan tidak hanya membuat Raya keluar dari awak media yang mengepungnya. Pria itu juga menyelamatkan Raya dari rasa malu yang ditinggalkan Varen dengan berjanji akan menikahi Raya secepatnya.
“Terima kasih. Saya benar-benar bersyukur bisa menikah dengan Raya. Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, saya adalah penggemar Raya. Dan sekarang saya menyandang status sebagai suaminya. Bukankah saya penggemar yang sangat beruntung?” kata Karan lagi.
Raya nyaris saja tertawa garing karena tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Pria itu memang pintar bersilat lidah. Kata-katanya semanis madu. Tetapi jika orang-orang itu berada di posisi Raya, mereka akan tahu tabiat buruk Karan yang sesungguhnya.
Kisah Karan dan Raya ini menyita perhatian semua orang. Mereka mulai mengeluarkan ponsel untuk memotret kemesraan pasangan konglomerat itu. “Apa Bapak mencintai Ibu Raya?” cetus staf yang lain.
Tanpa ragu sama sekali, Karan mengangguk. “Tentu saja. Raya adalah wanita yang sanggup membuat saya jatuh cinta berkali-kali,” ungkap Karan sembari mendekap Raya. Ketika ia bermaksud hendak menghadiahi pipi sang istri dengan sebuah ciuman, mendadak Raya menjauhinya. Perbuatan Raya itu tidak hanya mengejutkan Karan, tetapi juga semua orang yang ada di sana.
Untuk memperbaiki suasana, Raya buru-buru menyentuh pipi Karan dan mengelusnya. “Karan, kita sedang ada di depan umum. Jangan menunjukkan apa yang seharusnya kita lakukan di rumah,” katanya. Dan ucapan itu sukses mengubah suasana yang tadi sempat menegang. Terlebih Raya menyelipkan candaan di dalam kalimatnya yang mendapatkan respons positif dari para staf.
Karan mengembuskan napasnya, kemudian tersenyum. Raya tidak akan pernah tahu arti senyuman tampan yang tercetak di bibirnya sekarang. Itu bukanlah sebuah senyuman ramah atau bahkan bukan senyum sekadar basa basi. Karan sedang menunjukkan sebuah senyum penuh kejengkelan dan kebencian. Raya sudah menolaknya secara berani di depan banyak orang. Mana mungkin Karan tidak marah?
“Astaga, maafkan aku, Sayang. Aku hanya ingin menunjukkan rasa cintaku padamu,” ucap Karan berusaha bersuara lembut.
Raya membalas senyuman Karan. “Aku tahu, Karan. Terima kasih.” Raya menoleh ke arah para staf. “Bukankah semua sudah tahu bahwa suami saya ini sangat mencintai saya? Adakah yang masih meragukannya?”
Semua orang yang ada di sana menjawab dengan kompak, “Tidak!”
“Kau mendengar itu, Sayang? Semuanya percaya betapa besar rasa cintamu padaku,” imbuh Raya. Ia berhenti sejenak, saat melihat Ian datang menghampiri Karan, wanita itu langsung berkata, “Tidak apa-apa Karan. Pergilah. Pekerjaanmu sangat penting. Biar aku yang menangani sisanya. Jangan biarkan Ian bekerja sendirian.”
Karan dan Ian mengerutkan kening secara bersama-sama, terutama Ian. Mereka tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Raya karena tujuan Ian menghampiri Karan hanyalah untuk mengembalikan kartu kredit yang Ian pinjam untuk membayar tagihan. Sama sekali tidak ada pembicaraan tentang pekerjaan.
Tetapi Karan tidak bodoh. Ia mengerti apa yang dimaksudkan oleh Raya. Istrinya itu sedang mengusirnya secara halus. Dengan sangat terpaksa Karan pun mengikuti permainan Raya. Ia harus meninggalkan restoran itu karena sang istri. “Maafkan saya tidak bisa di sini terlalu lama. Saya harus menyelesaikan pekerjaan yang mendesak. Selamat malam,” pamit Karan lalu pergi dari tempatnya.