Lies

Lies
Janji Masa Lalu Kita



Semakin lama mereka bersama, maka akan semakin menyiksa hingga akan membuat Raya kehilangan nyawa. Karan tidak menyangka hal itu akan terjadi padanya. Mendengarkan istrinya, cinta pertamanya mengatakan kalimat seperti itu padanya. Ini terlalu kejam, terlalu menyakitkan untuk diterima Raya. Tidak peduli apa pun yang terjadi, tidak pantas rasanya jika Raya mengatakan itu padanya. Karena wanita itu tahu, Karan tidak pernah mau menyakiti Raya. Hidupnya hanya untuk Raya. Semua yang ia kerjakan, harta bendanya dan posisinya sebagai CEO tidak akan berguna jika Karan tidak bisa mendapatkan Raya. Jadi, mengapa ini terjadi? Di mana letak kesalahan mereka?


Air mata mulai jatuh dari kedua netra cokelat Raya. Karan tersentak melihatnya. Hatinya seperti baru saja teriris pisau yang sangat tajam hingga menimbulkan rasa perih yang luar biasa. Bukan ini tujuan Karan mengajak Raya berbulan madu. Bukan seperti ini yang pria itu bayangkan bersama istrinya. Demi apa pun, Karan benar-benar ingin menghabiskan waktu bersama Raya, tentu sebagai pasangan bukan sebagai musuh. Laki-laki itu juga ingin menikmati hari-hari indah di kota Milan bersama sang istri. Beberapa tempat sudah Karan tentukan sebagai destinasi liburan mereka. Bohong jika ia tidak antusias dan tidak merencanakan bulan madu mereka dengan baik.


Memang Ian yang mencari beberapa tempat, tapi tetap saja pilihan tempat-tempat itu sudah Karan seleski dengan baik sehingga apa yang Ian kirimkan pada Raya merupakan tempat yang benar-benar bagus untuk dikunjungi. Karan memastikan ia sudah pernah ke sana hingga ia menguasai daerah itu. Karena meskipun selama ini ia memata-matai Raya, tetap saja ia tidak tahu ke mana saja tujuan Raya pergi saat berkunjung ke Italia. Siapa tahu wanita itu sudah pernah menginjakkan kaki di lokasi yang ditentukan oleh Ian sehingga Karan harus lebih pandai menentukan tempat terbaik kendati sang istri pernah mengunjungi tempat itu. Agar bulan madu ini memberikan sebuah kenangan yang tidak pernah didapatkan oleh Raya di mana pun.


Tetapi semua itu hanyalah angan-angan dan rencana. Dan dengan kejamnya semua itu hancur dalam sekejap. Apa ini salahnya? Tidak. Ia tidak salah sama sekali. Justru Rayalah yang salah di sini. Sudah ia katakan berkali-kali kalau ia adalah pria posesif yang gila. Ia tidak suka melihat istrinya dekat dengan pria lain, tidak terkecuali oleh rekan kerjanya. Tentu saja dekat secara emosional karena kedekatan secara fisik, selama masih dalam kategori wajar, Karan masih menoleransinya.


Bukankah begitu yang terjadi selama ini? Karan sudah cukup melunakkan hati dengan perbuatan Raya. Insiden Raya dan Reagan di dalam hotel ia maafkan begitu saja karena ia sudah menghukum istrinya. Begitu pula insiden yang muncul di dalam video klip musik. Karan tidak mempermasalahkan Raya bekerja dan berinteraksi dengan laki-laki lain. Yang paling Karan tidak sukai adalah wanita itu terlihat begitu naif dengan menganggap Reagan hanya sebatas rekan kerja. Padahal dari sudut pandang Karan, tampak jelas Reagan punya perasaan pada Raya. Reagan menatap sang istri dengan cara yang sama bagaimana Karan menatap wanita itu. Tatapan penuh rasa cinta.


Karan menggeram kesal. Seandainya mereka tidak berada di dalam pesawat, Karan pasti sudah melarikan diri sekarang. Ia lebih suka pergi dan tidak melihat wajah Raya yang menangis. Karena setiap kali Raya menatapnya dengan wajah bersimbah air mata, pikiran Karan selalu melayang ke masa lalu mereka. Ke saat-saat di mana mereka masih menjadi kekasih dan Raya selalu menjadi orang yang menemani harinya. Tidak pernah sekalipun Karan tidak menemui Raya. Begitu pun sebaliknya. Mereka berada di sekolah yang sama. Dan Karan selalu menempatkan diri mengantarkan Raya pulang sesibuk apa pun waktunya.


*****


Kembali ke Masa Lalu, 12 Tahun yang Lalu di SMA Negeri 1 Asoka


“Ada pacarmu di depan,” seru teman Karan sewaktu mereka baru saja selesai bermain basket. Selain pandai dalam urusan pelajaran, khususnya Matematika, Karan merupakan siswa yang juga gemar berolahraga, terutama olahraga bola basket. Dalam beberapa hari ke depan Karan bahkan tergabung dalam tim basket putra yang akan bertanding ke luar kota mewakili sekolahnya. Untuk itulah Karan berlatih dengan teman-temannya sepulang sekolah. Agar persiapan mereka bisa cukup untuk menghadapi tim dari sekolah lain.


“Terima kasih Kak, aku minta waktu sebentar saja, nanti aku kembali lagi,” ucap Karan sambil mengelap wajahnya yang basah dengan handuk kecil.


“Ya, ya, ya. Jangan terlalu lama. Setengah jam saja karena masih banyak yang harus kita latih setelah ini. Usahakan datang sebelum pelatih kita datang. Karena kalau kau sampai telat, kau akan dicoret dari tim ini.” Kapten tim yang juga merupakan kakak kelas Karan memperingati. Andai Karan tidak jenius dalam olahraga, tentu ia tidak akan memberikan izin kepadanya untuk pergi di sela-sela sesi latihan. Tidak hanya itu, Karan juga pekerja keras dan menunjukkan semangat untuk memenangi setiap pertandingan. Semua orang di dalam tim tahu Karan merupakan satu-satunya anak yang datang paling awal untuk latihan. Karan pulalah yang pulang lebih terlambat setelah latihan. Si Kecil Einstein itulah yang membantu kapten tim membersihkan lapangan seusai latihan, sementara anggota yang lain memilih pulang begitu saja.


Karan tersenyum saat ia mendapatkan izin itu. Tanpa membuang-buang waktu, Karan berlari menemui Raya yang berada di depan lapangan basket. Gadis itu tidak bisa masuk, lebih tepatnya tidak diperbolehkan masuk. Tentu saja oleh Karan karena ia tidak suka ada anggota timnya yang berani menggoda kekasihnya itu. Jangan pernah percaya pada orang lain terutama laki-laki, itu adalah prinsip dasar yang harus Karan pegang dalam menjalani hidupnya. Raya Drisana adalah gadis yang cantik, tidak ada yang menjamin siswa lain tidak menaruh hati padanya. Karan hanya menjaga Raya agar tidak berpaling pada laki-laki lain meskipun caranya lumayan keras.


“Raya! Kau sudah lama menunggu?” ujar Karan begitu ia melihat sosok pacarnya berdiri di samping gerbang sekolah. “Bagaimana? Apa sudah selesai remedialnya?” Karan bertanya lagi. Mengingat hari ini Raya harus pulang terlambat karena mengikuti remedial matematika. Entah mengapa kekasihnya itu selalu saja bermasalah dengan matematika padahal Karan sudah mengajarinya dengan susah payah.


Raya berbalik, dan wajah Raya membuat Karan terkejut. Gadis itu menangis. Kedua mata cokelatnya berlinang air mata. Dengan cepat Karan mendekat dan berseru, “Hey, ada apa? Kenapa kau menangis?”


Raya mengangkat selembar kertas miliknya di depan Karan. “Apa aku ini benar-benar bodoh?” ungkapnya sedih dengan kedua mata merahnya yang berlinang air.


Karan tersentak mendengarnya. Matanya berpindah dari wajah sedih Raya ke selembar kertas yang ditunjukkan oleh kekasihnya itu. Kertas bertuliskan tinta berwarna merah dengan angka 50. Artinya Raya tidak lulus lagi mata pelajaran matematika. Ini cukup mengherankan untuk Karan karena ia tidak pernah mengulang ujian apa pun sebelumnya. Ditambah ia juga sudah mengajari Raya dengan baik. Jadi, bagaimana Raya tidak bisa lulus lagi kali ini?


“Coba sini biar aku lihat,” tukas Karan sambil mengambil kertas remedial milik Raya. Ia mengamati dengan saksama apa yang tertulis di sana. Sebenarnya jawaban yang dituliskan Raya tidak terlalu buruk. Gadis itu kini sudah tahu apa bagaimana cara mengerjakan soal dan menentukan rumusnya dengan tepat. Masalah utama Raya adalah ia tidak pandai berhitung. Itulah sebabnya hampir semua soal dijawab dengan jawaban yang kurang tepat pada akhirnya.


“Hhmm, tidak terlalu buruk,” komentar Karan yang membuat Raya terkejut bukan main. Gadis itu kembali mengangkat wajahnya dan memandang ke arah Karan seolah meminta pemuda itu melanjutkan ucapannya. “Iya, ini tidak terlalu buruk. Tunggu sebentar.” Karan menghentikan kalimatnya sambil memandangi sekitar. Setelah mendapatkan apa yang diinginkannya, Karan mengajak Raya ke sana. Ternyata Karan mencari tempat duduk untuk Raya. Dan pemuda itu memilih mengunjungi sebuah warung yang letakknya tidak jauh dari lapangan basket. “Sini, duduklah,” tukasnya pada Raya.


“Tapi aku tidak punya uang, sebaiknya kita jangan di sini.” Raya membisikkan kalimat itu di telinga Karan. Uangnya sudah habis untuk membayar uang sekolah hari ini. Memang benar pemerintah sudah mencanangkan program wajib belajar kepada masyarakat Indonesia. Tetapi program itu hanya berlaku untuk pendidikan sembilan tahun saja. Artinya dana pendidikan ditanggung oleh pemerintah sampai tahapan pendidikan sekolah menengah pertama. Sementara Raya dan jutaan anak yang sudah di tahap sekolah menengah atas, masih harus membayar biaya sekolah dengan uang pribadi.


Karan tersenyum. Ia menarik tangan Raya dan membuat gadis itu duduk di kursi plastik yang ada di sampingnya. “Jangan khawatir, aku punya uang untuk jajan.”


Kening Raya mengernyit. “Dari mana kau dapat uang?” Raya menatap kekasihnya itu dengan tatapan curiga.


PUK!


Sebuah pukulan ringan mendarat di kepala Raya. “Hey, jangan menatapku seperti itu. Aku tidak mendapatkannya dengan cara illegal. Sungguh!” Daerah tempat tinggal mereka merupakan daerah kumuh di mana tingkat perilaku kriminal begitu tinggi. Wajar saja Raya penasaran dari mana ia mendapatkan uang. “Uangnya aku dapat dari pertandingan basket minggu lalu. Kau tahu kami menang besar, bukan? Hadiah dari kemenangan itu lumayan banyak dan sekolah membagi-bagikannya kepada semua anggota tim.”


Karan merupakan siswa yang pintar. Ia sering mengikuti lomba dan memenangkannya. Lomba dari bidang apa pun. Itulah sebabnya Karan tidak perlu khawatir masalah uang sekolah. Laki-laki itu mendapatkan beasiswa penuh dari sekolah. Ia juga mendapatkan dana pendidikan dari kementerian yang digunakan untuk membeli buku, seragam hingga biaya kursus tambahan. Karena Karan tidak melakukan kursus secara formal dan hanya mengandalkan belajar mandiri dari buku-buku yang ia beli, maka tidak jarang uang itu digunakan Karan untuk membantu Raya. Terutama membantu biaya sekolah kekasihnya itu meskipun tidak terlalu banyak.


“Tapi itu uangmu. Harusnya kau simpan untuk dirimu saja,” kata Raya menolak. Sudah banyak uang yang Karan habiskan untuknya. Sepatu yang ia kenakan sekarang adalah salah satunya. Bahkan biaya sekolahnya bulan lalu pun Karanlah yang membayarnya. Raya merasa malu dengan hal itu. Tujuannya berpacaran dengan Karan bukan untuk mendapatkan bantuan seperti ini. Ia murni menyukai pria itu. Seandainya Raya terus-menerus diperlakukan seperti ini, maka yang dikatakan teman-temannya adalah benar. Bahwa Raya hanya memanfaatkan Karan untuk kepentingannya sendiri.


“Siapa bilang aku tidak menggunakannya untuk diriku juga? Aku sedang melakukan itu. Aku lapar dan ingin makan siang. Tapi aku tidak mungkin makan sendiri di depan pacarku ‘kan? Jadi aku memesan dua porsi. Sederhananya seperti itu.”


Raya tersenyum. Karan selalu saja begini, pandai mencari-cari alasan untuk membantunya. Meskipun Raya sudah menolak alasan ini, pria itu pasti akan mencari alasan yang lain agar Raya bisa menerimanya. Sehingga penolakan apa pun yang diberikan Raya terbilang percuma. Gadis itu tidak punya pilihan selain menerima bantuan Karan lagi. “Terima kasih,” ungkapnya tulus.


Tangan Karan menepuk kepala Raya lagi. “Jangan hanya berterima kasih padaku, Raya. Tapi kau harus ingat janjimu padaku.”


Raya mulai berpikir keras. “Janji apa?”


“Astaga! Aku pikir kau hanya lemah dalam matematika saja. Ternyata kau juga lemah dalam ingatan. Aku tidak percaya ini,” tukas Karan tidak terima.


Tingkah Karan itu membuat Raya kelimpungan. “Ya ‘kan tinggal kau ingatkan saja janji apa yang sudah aku buat.”


Karan benar-benar tidak percaya ini. “Janji akan menikah denganku. Kau tidak melupakan janji itu ‘kan?”