Lies

Lies
Terpisah



Meminta waktu. Hanya itu yang bisa Raya katakan pada Karan. Ia meninggalkan suaminya itu tanpa mendengarkan jawaban. Pergi tanpa menengok ke belakang lagi. Raya tidak benar-benar meninggalkan Karan, tidak ada pikiran semacam itu yang melintas di kepalanya. Ia hanya ingin mendapatkan sedikit ruang untuk menenangkan pikirannya. Kepalanya sudah sangat sakit dan emosinya juga tidak stabil. Ini adalah hari terberat bagi Raya. Ia harus mencoba melupakan apa yang terjadi hari ini.


Akhirnya, Raya pindah ke rumah manajernya, Ika. Sudah terhitung sangat lama Raya tidak mendatangi tempat itu. Terakhir satu tahu lalu, ketika ia belum bertunangan dengan Varen dan memiliki status sebagai istri dari Karan Reviano. Sekarang, rasanya sangat berbeda. Jika dulu dengan mudahnya Raya bisa menginjakkan kaki di sana selayaknya mengunjungi rumah sahabatnya, kini Raya tidak bisa melakukannya lagi. Tiap kali ia melangkah selalu bayangan Karan teringat di kepalanya. Seolah-olah pria itu sedang mengikutinya ke mana pun ia berada. Melarangnya untuk pergi ke tempat-tempat lain tanpa seizin pria itu. Entah dari mana datangnya perasaan tersebut, namun Raya tidak bisa melepaskannya. Semacam perasaan takut dan khawatir. Perasaan paranoid.


Mungkin karena selama ini Karan memang mengikutinya, membajak ponselnya untuk mengetahui apa saja yang dilakukannya. Meskipun hidup dalam rumah mewah dan kebutuhan yang selalu tercukupi, Raya selalu merasa sesak. Rumah itu bukan rumah baginya, malahan lebih terasa seperti sebuah penjara. Apalagi kamarnya, tempat di mana Raya selalu dikurung oleh sang suami setiap kali ia melakukan kesalahan. Selain hubungan ranjang mereka yang panas, seharusnya tidak ada ingatan yang membahagiakan bagi Raya di sana. Namun, tetap saja Raya tidak bisa keluar dari sana begitu saja. Walaupun tidak layak baginya untuk disebut rumah, tetapi itu tetap tempat tinggal Raya. Tempat yang ia harus datangi karena pilihan yang dibuat sendiri. Pilihan untuk menikahi Karan.


“Mbak, ayo masuk. Walaupun tidak sebesar dan semewah kamar Mbak, tapi rumah saya cukup nyaman untuk kita berdua,” ajak Ika kepada Raya. Ia membuka pintu rumahnya lebar-lebar dan mempersilakan sang super model untuk masuk. Seperti yang dikatakannya barusan, rumahnya tidak sebesar dan semewah kamar Raya. Seperempatnya saja tidak. Mungkin rumah itu hanya lebih besar beberapa meter dari kamar mandi Raya. Selebihnya, barang-barang di dalam kamar mandi sang super mobel mungkin jauh lebih mewah dari apa yang ada di rumah itu.


Ika bukannya dibayar murah oleh pihak manajemen. Perusahaan yang menaungi Raya itu cukup adil memberikan gaji kepada setiap karyawannya. Itulah salah satu alasan mengapa Ika begitu betah bekerja di sana dan menjadi manajer seorang Raya Drisana selama bertahun-tahun. Hanya saja uang yang ia dapatkan dari kerja kerasnya lebih banyak ia berikan kepada keluarganya. Juga ia tabung untuk membayar biaya pernikahannya. Dengan alasan itu yang membuat Ika bersikeras tinggal di rumah kecil itu meskipun ia bisa pindah ke rumah yang lebih besar.


“Apa tidak masalah aku tinggal di sini, Kak? Aku pasti akan menyusahkan Kakak. Lebih baik aku tinggal di hotel saja,” cetus Raya. Melihat wajah cemberut sang manajer, cepat-cepat Raya menambahkan penjelasan dalam kalimatnya. “Aku tidak bermaksud apa-apa, Kak. Sungguh! Kakak tahu aku sangat suka tinggal di sini. Rumah ini selalu terlihat nyaman untukku. Tapi Kakak tahu bagaimana suamiku. Dia pasti akan melakukan hal-hal berbahaya yang akan merepotkan Kakak.”


“Jadi, bagaimana dengan Mbak?” balas Ika.


Kening Raya mengernyit. “Ya?”


“Bagaimana dengan Mbak Raya? Apa yang akan Mbak lakukan setelah ini? Oke, anggap saja Mbak tinggal di hotel. Lalu, setelah itu apa? Apakah Pak Karan tidak akan menemukan Mbak di sana? Di mana saja Mbak berada, Pak Karan pasti akan menemukan Mbak. Sama seperti kejadian waktu itu.”


Ika mengingatkan Raya tentang peristiwa di mana ia melarikan diri dari rumah. Tanpa rencana dan tujuan, Raya pergi dari sisi suaminya. Alhasil, Raya tidak mendapatkan apa-apa. Jangankan kebebasan, ia malah mendapatkan hukuman tegas dari sang suami. Raya dilarang keluar dari kamar untuk beberapa hari. Aktivitasnya pun begitu diawasi dengan ketat, meskipun berada di dalam rumah.


Yang dikatakan Ika tepat sekali. Ke mana pun Raya melangkah, di mana pun Raya tinggal, Karan akan segera menemuinya. Tinggal di hotel bukanlah solusi yang tepat, tapi itu lebih baik ketimbang memilih tinggal di rumah bibinya. Wanita yang merawatnya sejak remaja itu sudah lanjut usia sekarang. Raya tidak mau menambah bebannya dengan aksi kucing-kucingannya dengan sang suami.


“Saya rasa tidak akan begitu, Mbak. Entah mengapa saya pikir Pak Karan tidak akan mungkin menyakiti Mbak asalkan Mbak jujur pada Pak Karan.” Hanya itu yang bisa dikatakan oleh Ika karena dari pengamatannya, Karan tidak tampak ingin melukai Raya sama sekali. Benar Karan begitu posesif dan agresif, bahkan bisa dikatakan begitu terobsesi dengan Raya. Akan tetapi, pria itu tidak benar-benar melukai Raya. Buktinya Karan tidak pernah melukai Raya secara fisik dengan memukul wanita itu. Karan hanya memberikan hukuman fisik dengan mengurungnya saja.


“Aku sedang kabur, bagaimana mungkin aku memberi tahu suamiku?”


“Tapi Mbak sudah memberi tahu beliau melalui pelayan di rumah.”


“Tidak, aku tidak berniat memberi tahu Karan. Aku hanya ingin berpamitan dengan Bibi Anna supaya dia tidak khawatir.”


Raya tidak sepenuhnya berbohong, ia memang menyayangi Anna selayaknya keluarga sendiri. Akan tetapi, memberi tahu Anna tentang lokasi tempat tinggalnya sekarang secara tidak langsung seperti memberi tahu Karan keberadaannya. Sebab Raya tahu dengan pasti bahwa Anna adalah tangan kanan Karan. Tidak ada satu pun informasi tentang Raya yang tidak sampai pada Karan.


“Ya, itu artinya tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Mbak bisa tinggal di sini sampai Mbak sudah merasa tenang,” kata Ika memberikan saran.


Karena tidak ada pilihan lagi, Raya pun mengikuti usulan Ika. Ia akan menumpang di rumah sang manajer sampai keadaan membaik. Keadaannya maupun keadaan sang suami. Lagi pula, belakangan ini kondisi tubuhnya sedikit memburuk. Raya takut terjadi sesuatu padanya. Seandainya ia bersikeras tinggal di hotel, maka ia harus hidup sendiri. Tidak akan ada yang menjaganya. Di rumah ini ada manajernya. Sang manajer akan merawatnya kendati ia sedang sakit seperti yang selalu dilakukannya selama ini. Jadi, ini bukan keputusan buruk.


“Baiklah Kak. Aku akan tinggal di sini sementara,” janji Raya. Hanya sementara saja ia menyusahkan sang manajer. Karena cepat atau lambat, ia akan kembali ke rumah suaminya. Tidak baik melarikan diri terlalu lama. Raya bukan lagi seorang bocah perempuan yang lari dari masalah. Menghadapinya adalah jalan terbaik untuk mereka semua.


Sementara Raya melarikan diri dengan menumpang di rumah manajernya, Karan hanya berada di kantor. Pria itu sudah mendapatkan laporan bahwa istrinya pergi hari ini. Tepat beberapa jam setelah meninggalkan kantornya. Karan ingin marah, tetapi tidak bisa. Masalah ini disebabkan olehnya sendiri. Andai ia bisa membuka diri dan menceritakan siapa wanita yang mendatanginya hari ini. Andai ia seorang yang ahli berbicara sehingga bisa berkomunikasi dengan sang istri. Masalahnya ketakutan yang Karan rasakan lebih besar dari kepercayaan dirinya. Ia takut Raya akan terluka jika ingatan masa lalunya kembali.


Akibat dari ketakutan itu, Karan pun harus rela berpisah dengan Raya. Meskipun hanya sementara. Ya, sementara karena Karan akan menjemput Raya dalam waktu dekat ini. Karan tidak bisa berpisah dari istri tercintanya itu terlalu lama. Raya adalah obat penghilang rasa sakitnya. Jika Raya pergi dari hidupnya, maka bukan hanya rasa sakit yang akan menghampiri Karan. Mungkin saja malaikat pencabut nyawa juga ingin menemuinya, bersiap untuk menjemput sang CEO ke alam lain.