
Hari itu Raya mulai tampak gelisah. Sejak datang ke lokasi syuting, Raya sama sekali tidak bisa memikirkan apa pun kecuali Karan. Kegundahannya tentang siapa wanita yang menghubungi suaminya tadi malam masih menjadi momok dalam benaknya. Raya benar-benar merasa penasaran. Kemudian, perasaan Raya semakin kacau saat ia mendapatkan kabar yang cukup mencengangkan dari sutradara iklan yang akan ia bintangi. Bahwa produser iklan tersebut adalah Varen, sang mantan kekasih sekaligus teman kuliah Raya dulu. Dunia ini memang begitu sempit bagi Raya. Susah payah ia menghindari Reagan, sekarang malah berkerja dalam proyek yang dibiayai oleh sang mantan tunangan. Beruntung Raya tidak bertemu langsung dengan laki-laki itu karena ia sedang berada di luar negeri.
Pantas saja tawaran yang diberikan pada Raya tergolong mahal. Bayaran Raya memang tidak bisa dikatakan murah sebab wanita itu masuk dalam kategori model dengan bayaran tertinggi di Indonesia. Tetapi, Raya tidak akan selalu mendapatkan bayaran mahal dalam setiap pekerjaannya. Wanita itu tetap memikirkan produk apa yang akan diiklankan termasuk apakah sang pengusaha masih baru merintis atau merupakan pengusaha besar. Raya selalu mematok tarif wajar kepada para pengusaha baru guna mendukung usaha mereka, namun tarif jasanya akan melambung tinggi ketika perusahaan itu adalah perusahaan besar.
Dan perusahaan parfum yang Raya bintangi kali ini masih tergolong baru. Produknya saja masih diluncurkan bulan depan. Benar-benar perusahaan yang baru didirikan oleh Varen. Mungkin perusahaan cabang dari pria itu. Namun dari kontrak kerja sama yang Raya baca dan tandatangani, gaji yang diberikan kepada Raya cukup besar, hampir menyentuh angka-angka yang biasanya diberikan oleh perusahaan terkemuka. Sekarang Raya tahu siapa di balik perusahaan itu. Ternyata sang mantan tunangan.
“Pak Varen sendiri yang meminta saya untuk menghubungi Anda. Beliau menitip pesan agar salah satu modelnya harus Raya Drisana. Itulah sebabnya saya menghubungi Anda secara langsung.” Begitu yang disampaikan sutradara kepada Raya tentang alasan terpilihnya Raya sebagai bintang utama iklan. Raya penasaran apa yang menyebabkan Varen begitu ingin dirinya dalam iklan ini padahal ada banyak model lainnya yang tidak kalah berbakat dari dirinya. Terlebih mengingat hubungan mereka yang berakhir tidak baik. Mereka pernah hampir menikah dan batal hanya karena sebuah skandal. Tidak terbayang bagaimana canggungnya nanti jika mereka harus saling bertatap muka.
Untung saja Raya cukup profesional dalam menata dirinya agar tidak terlibat dalam emosi. Meskipun pikirannya masih melayang jauh ke tempat suaminya dan kini ia bekerja dibiayai oleh mantan tunagannya, namun Raya masih bisa mengerjakan pekerjaannya dengan baik. Semuanya terselesaikan tanpa kekurangan apa pun. Sutradara dan penulis juga suka dengan kinerja Raya. Apalagi posisi Raya yang cukup senior di sana membuat para model yang lain bisa mencontohnya dan mempelajari bagaimana Raya dalam bersikap.
Setelah rapat untuk syuting selesai, Raya meminta izin untuk pulang terlebih dahulu. Ia ada janji makan siang dengan suaminya yang membuat ia harus melewatkan makan siang dengan staf dari produksi iklan tersebut. Tidak ada satu pun yang melarang atau menghentikan Raya. Entah karena mereka maklum dengan posisi Raya yang sudah bersuami atau mereka memang enggan untuk menyampaikan protes pada Raya. Yang pasti sang super model berhasil pergi dari tempat syuting bersama dengan manajernya.
“Kenapa Mbak tidak minta jemput Pak Karan saja? Saya yakin beliau akan menjemput Anda secepatnya,” tukas manajer Raya yang bingung melihat modelnya begitu sibuk memperbaiki riasannya di dalam mobil. Padahal ini hanya makan siang yang dilakukan pasangan suami istri, tetapi tingkah Raya seperti sedang ingin melakukan pemotretan sampul majalah.
Raya menggeleng cepat. “Tidak bisa Kak. Aku tidak mau merepotkan suamiku. Lagi pula, sudah lama aku tidak ke kantornya, jadi aku sendiri yang harus menjemput suamiku,” jelas Raya sembari masih berkonsentrasi dengan riasan wajahnya. Hari ini Raya cukup tegang pasalnya, ia mendapatkan laporan dari Ian tentang seorang wanita yang meminta izin untuk menemui Karan. Anehnya, Karan yang biasanya menolak wanita lain mendatangi ruangannya, mendadak memberikan izin kepada Ian. Asisten Karan itu sempat melihat wajah wanita tersebut tetapi tidak terlalu jelas. Ia hanya menyebutkan kalau wanita itu ditaksir usianya berbeda sekitar 10 tahun dari Karan. Wanita yang sudah cukup berumur.
Tetapi masalahnya, saat Raya menghubungi Karan untuk bertanya tentang janji mereka, Karan tidak menyebutkan sama sekali perihal wanita itu. Tidak menjelaskan pertemuan mereka mesipun Ian mengatakan bahwa wanita itu masih berada di dalam ruangannya hingga beberapa saat. Mungkin sekitar setengah jam. Bahkan hingga saat ini, wanita itu masih berada di dalam lingkungan kantor Karan yang membuat karyawan di sana mulai mempertanyakan identitas wanita tersebut.
Lima belas menit kemudian, Raya sampai di depan lobi kantor Karan. Ia langsung disambut oleh satpam perusahaan yang sudah mengenalnya dan mempersilakan Raya untuk masuk. Raya tidak langsung menuju ke ruangan Karan, ia memilih mengamati sekitar untuk mencari tahu siapa wanita yang dikatakan oleh Ian. Setelah bertanya pada petugas resepsionis, akhirnya Raya menemukan wanita itu. Ia sedang berada di kafe, meminum secangkir kopi sambil berbicara melalui ponselnya. Di mata Raya, wanita itu tidak lebih cantik darinya, tetapi ia memiliki postur tubuh tegap dan terlihat kokoh. Jika tidak seorang atlet, mungkin wanita itu bekerja dibidang yang membutuhkan kekuatan fisik.
Ingin sekali Raya menghampiri wanita itu, tetapi ia tidak cukup berani. Memangnya apa yang akan ia katakan padanya? Raya bukan seperti Karan yang langsung menyudutkan pasangannya dengan tuduhan perselingkuhan tanpa alasan yang jelas, tanpa bukti yang kuat. Apalagi dari pandangan Raya sekarang, sepertinya tidak ada hubungan istimewa yang terjadi antara Karan dan wanita itu. Mungkin saja ini hanya kecemburuan Raya yang tidak berdasar hingga ia bisa berhalusinasi dengan membayangkan yang tidak-tidak tentang suaminya.
“Aku sudah bertemu dengan wanita itu. Sepertinya tidak ada hal aneh yang terjadi,” ungkap Raya kepada Ian ketika wanita itu masuk ke ruangan sang asisten.
Ian tidak langsung menjawab. Pria itu malah tampak sedikit ragu. “Tapi Bu ...” Ian menghentikan ucapannya untuk menyaring kata-kata yang nyaris keluar dari bibirnya.
Dengan wajah penasaran, Raya bertanya lagi, “Tapi apa?”
“Saya tidak tahu apakah saya boleh membicarakan hal ini atau tidak pada Anda.”
“Kenapa ragu? Katakan saja, aku akan mendengarkanmu.”
Ian mulai angkat suara. Pria itu menjelaskan kejanggalan apa yang terjadi ketika wanita itu berada di dalam ruangan. Hal yang tampak adalah ekspresi Karan yang begitu terkejut ketika Ian membawa wanita itu ke dalam ruangan. Tidak hanya terkejut, Karan juga terlihat sedikit ... takut.
“Apa? Takut? Kenapa?” tanya Raya penasaran.
Ian menggelengkan kepalanya. “Saya tidak tahu, Bu. Hanya itu yang bisa saya lihat karena setelah itu, saya diminta Pak Karan untuk keluar.” Ia pun tidak bisa mendengar percakapan yang terjadi di dalam ruangan itu karena selain menyiapkan alat khusus agar ia bisa merokok di dalam ruangan, Karan juga membuat ruangan itu kedap suara sehingga obrolan apa saja yang terjadi di dalam sana tidak akan sampai hingga ke luar ruangan.
Kebingungan dan rasa penasaran Raya semakin menjadi-jadi. Ketakutan apa yang sebenarnya Ian lihat? Dan mengapa Karan merasa takut pada wanita itu? Terlebih lagi, siapa sebenarnya wanita itu?