
Karan menghentikan ucapannya. Pria itu langsung tersentak atas apa yang sudah ia katakan sejauh ini. Salah besar jika ia melampiaskan kemarahannya pada Raya. Dendam masa lalunya memang harus dibalaskan pada sang istri tapi bukan dengan cara seperti ini. Karan sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan menyakiti Raya dengan cara yang sama seperti cara wanita itu meninggalkannya 12 tahun lalu. Pertama, ia akan membuat Raya jatuh hati padanya, memohon-mohon hingga tidak bisa hidup tanpanya. Setelah Raya sudah bergantung sepenuhnya barulah Karan meninggalkannya. Dengan begitu, Raya tidak akan bangkit lagi. Wanita itu akan menerima apa yang Karan rasakan selama ini.
Tepat sebelum Karan angkat suara, secara mendadak Raya berbicara terlebih dulu. “Maaf, aku tidak bermaksud mengatakan seperti itu padamu, Karan. Aku hanya tidak mau diperlakukan seperti ini. Kau tahu, aku bisa gila. Tolong beri aku ruang, sedikit saja. Aku berjanji tidak akan melawanmu lagi. Apa pun yang kau perintahkan aku akan melakukannya tanpa protes, termasuk kalau kau tetap menyuruh orang untuk mengikutiku setiap hari.”
Raya bukan wanita bodoh yang tidak tahu keberadaan orang suruhan Karan untuk memata-matainya. Sepintar apa pun orang itu bersembunyi, Raya pasti bisa menemukannya. Belasan tahun Raya diburu para paparazzi. Dalam urusan bersembunyi mereka lebih mahir dari orang suruhan Karan tersebut. Para paparazzi juga terbilang cukup nekat dan ekstem dalam membuntuti Raya, bahkan mereka tidak segan-segan menyelinap ke dalam tim produksi tempat Raya bekerja. Akibatnya sang super model hampir beberapa kali diberitakan melakukan hal-hal negatif, mulai dari menjual diri kepada para pemilik media agar terkenal sampai mengonsumsi obat-obatan terlarang.
Padahal Raya sama sekali tidak pernah menyentuh benda haram seperti itu. Benar, ia memang memanfaatkan laki-laki terkenal demi popularitasnya, tapi bukan untuk melemparkan dirinya ke atas ranjang mereka. Raya hanya ingin menjadi kekasih mereka secara resmi. Menjanjikan percintaan romantis yang tersuguhkan di hadapan media. Itu juga tidak hanya menguntungkan Raya karena secara tidak langsung usaha para kekasih Raya juga teriklankan oleh media massa. Jadi, ini adalah simbiosis mutualisme karena kedua pihak sama-sama memperoleh keuntungan dari hubungan pacaran mereka.
Tetapi orang yang disuruh Karan terbilang jauh lebih buruk dari para paparazzi itu. Raya tidak mengatakan laki-laki berkepala plontos yang selalu mengamatinya dari jauh itu tidak profesional. Hanya saja untuk mengelabui bintang besar seperti Raya sangat sulit. Raya punya pengalaman lebih dari cukup untuk sekadar melarikan diri dari orang-orang yang selalu mengikutinya diam-diam.
Sementara itu Karan tersentak bukan main. Pria itu tidak menduga istrinya akan tahu apa yang ia lakukan selama ini. Apakah orang itu begitu ceroboh? Bagaimana ia bisa terciduk oleh Raya? Padahal Karan sudah membayar mahal orang itu. Menurut Ian, orang itu juga sudah sangat berpengalaman dalam mengikuti seseorang. Sebelum mempekerjakannya, Ian sudah mencari tahu dari beberapa sumber, dan tidak ada yang salah dengan kinerja pria tersebut.
“Dia tidak bersalah. Dia memang pintar bersembunyi, tapi aku jauh lebih pintar, Karan. Aku sudah belasan tahun di industri ini. Satu mata-mata saja tidak akan bisa mengelabuiku,” jelas Raya yang melihat seperti ada tanda tanya besar di benak Karan. Sepertinya pria itu bertanya-tanya bagaimana cara Raya bisa mengetahuinya.
Karan tidak mengatakan apa-apa. Pria itu hanya berdiri dari ranjang dan berjalan ke arah pintu kamar Raya. Ketika Raya berpikir sang suami sudah menghilang dari ruangannya, mendadak Karan membalikkan badan. Ia berkata kepada Raya. “Besok siang aku akan menyuruh Ian menjemputmu. Kita akan pergi ke butik untuk memberli pakaian untuk acara amal Tante Merry.” Hanya itu saja yang Karan ucapkan. Tanpa mendengar balasan Raya, pria itu berlalu meninggalkan kamar istrinya.
Raya hampir melupakan hal ini. Acara amal yang dibicarakan oleh bibi Karan. Sebelumnya Raya sudah berjanji untuk datang, tapi karena masalah ini, ia lupa. Untung saja acaranya ditunda karena paman Karan jatuh sakit beberapa hari yang lalu sehingga Raya masih bisa memenuhi janjinya. Setidaknya dengan menghadiri acara amal ini Raya bisa keluar dari kamar megah miliknya dan menghirup udara luar rumah.
*****
Sesuai janji, siang harinya Raya dijemput oleh Ian dengan menggunakan mobilnya. Ya, mobil baru yang Karan belikan untuk Raya. Tidak tahu apa penyebabnya yang pasti sejak pagi sudah ada benda-benda mahal yang bermunculan di rumah mereka. Dan semuanya adalah hadiah dari Karan. Mulai dari sepatu, tas dan sekarang mobil. Karan membeli barang-barang bermerek itu dengan kualitas tertinggi yang tentu saja harganya akan sangat mahal.
Setiap Raya bertanya pada orang yang mengantar barang-barang itu, mereka dengan kompak menjawab tidak tahu. Mereka hanya kurir yang diminta Karan mengirimkan barang-barang itu ke rumah mereka. Mengenai alasannya, Raya harus menanyakan sendiri kepada Karan. Begitu pula dengan Ian. Asisten suaminya itu hanya mengatakan bahwa mobil yang mereka pakai hari ini adalah milik Raya. Bahkan, dalam surat-surat mobil tersebut, nama Rayalah yang tercantum di sana.
Untungnya Ian langsung membantah ucapan Raya. “Tidak Bu. Bapak sama sekali tidak sakit. Ibu tidak perlu khawatir. Pak Karan hanya ingin menyenangkan hati Anda.”
Dari ucapan Ian inilah Raya menyimpulkan sesuatu. Sepertinya Karan memang tidak sakit. Alasan pria itu memberikan beraneka ragam hadiah mahal kepadanya karena ia ingin meminta maaf. Karan menyadari kesalahannya semalam, termasuk perlakuan dan ucapan kasarnya pada Raya. Karan mengira dengan memberikan sejumlah barang mahal itu akan meluluhkan hati Raya. Masalahnya tidak semua hal bisa dibeli dengan uang, termasuk pemberian maaf dari Raya. Sebab bukan permintaan maaf seperti ini yang Raya inginkan. Raya hanya ingin suaminya menyesal dan tidak lagi mengulang semua perbuatannya. Terutama Raya ingin Karan memberikannya kebebasan. Ia adalah seorang istri, bukan tahanan apalagi wanita penghibur.
“Kenapa kita ke kantor Karan?” tanya Raya saat melihat Ian membawa mobil itu masuk ke pekarangan salah satu gedung pencakar langit yang merupakan perusahaan milik Karan. Bukankah Karan mengatakan mereka akan pergi ke butik?
Dari kursi kemudi, Ian membalas, “Pak Karan ada rapat, Bu. Beliau akan keluar sekitar 15 menit lagi. Dan Pak Karan meminta Anda untuk menunggu di dalam ruangannya.” Ian hanya bisa mengatakan hal itu karena ia hanya menjalankan tugas tanpa punya wewenang untuk bertanya.
Raya tidak tahu apa alasannya Karan memintanya datang sementara pria itu malah masih sibuk mengurusi perusahaan. Bukankah lebih baik meminta Ian menjemputnya sedikit terlambat agar Raya tidak perlu lagi menunggu di perusahaan itu? Pasalnya Raya tidak suka berada di sana. Status sebagai istri Karan begitu membebaninya. Terlebih ia harus berpura-pura menunjukkan bahwa hubungannya dengan sang suami dalam keadaan baik-baik saja. Bagi Raya, berakting tentang kisah hidupnya lebih berat ketimbang berakting atas dasar naskah yang ditulis oleh skenario.
Tepat seperti dugaan Raya, saat kakinya baru saja menginjak lobi perusahaan, belasan pasang mata karyawan perusahaan jam tangan itu langsung memandang ke arahnya. Tak lupa mereka mengeluarkan ponsel mereka masing-masing, mengarahkannya ke Raya dan memotret setiap gerak-gerik sang super model hingga masuk ke dalam lift VIP, tempat yang tidak bisa mereka naiki secara sembarangan. Lift itu kemudian mengantarkan Raya ke ruangan CEO, ruangan milik Karan.
“Saya akan kembali ke ruangan rapat, Bu. Kalau Anda perlu sesuatu, Anda bisa memanggil sekretaris yang ada di depan,” cetus Ian usai mengantarkan Raya ke dalam ruangan Karan.
“Oke, terima kasih,” jawab Raya memberikan izin kepada Ian untuk pergi. Ini di luar dugaan, tapi Raya tidak menyesal berada di ruangan Karan. Ia bisa memeriksa tempat itu barangkali ia bisa menemukan sesuatu tentang sang suami.
Raya berjalan ke meja kerja Karan. Tanpa basa-basi ia langsung memasukkan sebungkus rokok yang ada di atas meja ke dalam tong sampah. Tidak hanya rokok saja, pemantiknya pun tak luput dibuang Raya. Ia benar-benar tidak suka asap rokok dan bau tembakau yang menempel pada tubuh suaminya. Dan itu semakin parah sejak beberapa hari yang lalu.
Saat Raya beranjak dan kini duduk di kursi milik suaminya, ia melihat foto pernikahan mereka ada di atas meja. Foto pernikahan yang menunjukkan wajah bahagia Karan yang memandang dirinya dengan penuh rasa cinta. Itu foto yang berbeda dengan foto pernikahan yang ada di rumah mereka. Raya bahkan tidak tahu ada momen di mana Karan sedang memandangnya seperti itu.
Ini semakin membingungkan bagi Raya. Di satu sisi, Raya yakin Karan sangat mencintainya. Pria itu tampak begitu bahagia dan senang bersamanya. Namun, ada kalanya Karan justru menunjukkan yang sebaliknya. Pria itu terlihat sangat membencinya seolah-olah ingin melenyapkannya detik itu juga. Jadi, siapa sebenarnya Karan? Mana sisi pria itu yang harus Raya percayai?