Lies

Lies
Hadiah Untuk Istriku



Karan menatap layar ponselnya lagi, lalu ia mendesah pelan. Ian yang duduk di depannya pun hanya menggeleng-gelengkan kepala, merasa aneh dengan kelakuan sang atasan. Apa yang sedang laki-laki itu nantikan dari ponsel itu? Telepon dari Raya? Tidak. Raya baru saja meneleponnya kurang dari satu jam yang lalu. Tidak mungkin Raya akan menghubungi Karan lagi. Ian pun jika menjadi Raya tidak akan mau menghubungi pria berhati dingin yang suka menyiksa wanita.


“Haaahh!” Karan mengeluarkan napas panjangnya untuk kesekian kalinya. Kali ini disertai dengan ketukan jemari tangan di meja kerjanya dan mata yang tetap setia memandangi layar ponsel bergambar Raya itu. Ia terlihat ragu, tapi kepalanya dipenuhi pertanyaan. “Sial!”


Tak kuasa mendengar embusan napas putus asa itu, Ian pun memberanikan diri bertanya. Ia beranjak dari tempatnya ke meja kerja Karan. Dengan penuh kesopanan, Ian menyampaikan pertanyaannya. “Maaf Pak, apa Anda punya masalah?”


Akhirnya Karan berpindah dari layar ponselnya untuk memandang Ian. “Ya, sedikit. Ah, tidak. Mungkin ini masalah besar.”


Kening Ian spontan mengernyit. “Kalau boleh tahu, apa masalahnya Pak? Siapa tahu saya bisa membantu Anda mencari penyelesaiannya.”


Apa yang paling Karan sukai dari Ian, yakni kepekaannya. Ian bukanlah asisten pribadi pertama yang bekerja di sisi Karan. Sejak berusia 18 tahun, Karan sudah mulai diajari bisnis oleh ayahnya. Itulah sebabnya ia punya beberapa asisten sebelum Ian. Namun rata-rata asisten Karan merupakan laki-laki lanjut usia yang umurnya terpaut jauh dari Karan. Tujuan sang ayah mempekerjakan mereka agar Karan bisa belajar dengan cepat. Ya, tidak bisa dipungkiri mereka memang mengajari Karan banyak hal. Tapi ada hal lain yang tidak didapatkan Karan, yaitu teman bicara yang bisa mengerti dirinya. Dan Ian mempunyai semua itu.


“Kau tahu kenapa aku membatalkan acaraku nanti malam?” Karan membuka percakapan dengan mengajukan sebuah pertanyaan pada Ian.


Ian sebenarnya tahu apa penyebabnya. Raya, istri dari bosnya itu pasti meminta sang bos agar pulang lebih awal. Namun Ian tidak akan menjawab secepat itu. Ia memilih untuk pura-pura tidak tahu. “Saya tidak tahu, Pak. Apakah ada hal penting di rumah? Atau Nyonya dan Tuan tiba-tiba mengunjungi rumah Anda lagi?”


Kepala Karan menggeleng. “Tidak, bukan itu. Papa dan Mama sedang pergi ke Berlin. Mereka bilang baru pulang dua hari lagi jadi mereka tidak akan menggangguku. Tapi Raya mengajakku makan malam di rumah hari ini.”


Sungguh, Ian benar-benar terbelalak sekarang. Kedua bola mata cokelat kehitamannya nyaris saja mencuat saking terkejutnya pria itu. Jadi, hampir satu jam Karan merenung sambil memandangi layar ponsel hanya karena makan malam ajakan Raya? Bisakah Ian percaya itu?


Selama bekerja bersama Karan, Ian memang tidak pernah melihat Karan makan malam bersama dengan wanita secara khusus. Sang majikan memang sempat beberapa kali mengadakan makan malam di restoran dengan wanita, tapi hanya sebatas makan malam bisnis. Atau pertemuan yang sengaja diatur oleh keluarganya. Karan tidak pernah mau secara pribadi mengajak seorang wanita makan bersama dengannya.


Akan tetapi, Karan adalah mahasiswa pascasarjana dari universitas terkemuka di Amerika Serikat. Hampir sebagian besar masa remajanya dihabiskan di tempat itu. Apakah selama berada di sana Karan hanya fokus kuliah? Itu tidak mungkin. Pergaulan di negeri Paman Sam tidak seperti di Indonesia. Karan pasti punya kekasih satu atau dua orang selama ia menjalani masa kuliah. Pria itu tidak mungkin menjadi anak kutu buku karena hanya memikirkan pendidikannya.


“Begitu rupanya. Jadi, apa masalahnya Pak?” tanya Ian langsung pada pokok permasalahan karena semakin ia memikirkannya, semakin ia merasa bingung mengapa Karan merasa begitu gelisah.


“Masalahnya aku tidak pernah makan malam dengan Raya. Maksudnya, makan malam berdua saja di rumah.” Karan berdiri dari kursinya sambil mengambil kotak rokok dan pemantik yang ada di atas meja. Kemudian, pria itu berjalan ke arah jendela. “Ini aneh. Istriku tidak pernah mau melihat wajahku. Tapi kenapa dia mengajakku tiba-tiba?” gumamnya. Ia menekan tombol yang membuat kaca jendela ruangannya terbuka.


“Sepertinya Ibu ingin menyampaikan sesuatu pada Anda, Pak,” tebak Ian.


Mana ia tahu? Ingin sekali Ian mengatakan itu. Tapi tidak mungkin. Ian masih membutuhkan pekerjaan ini, terlebih Karan menggajinya sangat besar, dua kali lebih banyak dari apa yang Ian dapatkan di perusahaan lain. Ian butuh uang untuk menghidupi orang tuanya. Ia juga perlu dana agar bisa mempersiapkan pernikahannya dengan sang kekasih tahun depan.


“Hm ...” Ian berpikir keras, mencari tahu apa yang sekiranya diinginkan oleh istri sang bos. Dari yang Ian amati, Raya tidak memiliki kekurangan apa pun, baik dari segi finansial ataupun fisik. Ah, tidak. Ada satu yang tidak dimiliki Raya. Kebebasan. Mungkin wanita itu sengaja mengajak Karan makan malam supaya bisa bernegosiasi dengan laki-laki itu tentang pekerjaannya. “Mungkin Ibu ingin kembali bekerja, Pak.”


Alih-alih merasa marah seperti biasanya Karan mendengar mengenai usulan agar Raya bekerja, kali ini Karan terlihat lebih tenang. “Begitu ya?” gumamnya lagi. Saat hendak mendekatkan api pemantik ke ujung rokoknya, Karan tersentak. Kemudian, ia terburu-buru menarik rokok dari bibirnya. “Sial, hampir saja aku merokok lagi.”


“Apa Anda sedang berusaha berhenti merokok, Pak?”


“Ya. Istriku tidak suka melihatku merokok. Hubungan kami sedang baik belakangan ini. Aku tidak mau merusaknya karena hal sepele.” Karan berpindah tempat. Secara tidak terduga ia membuang rokok mahalnya bersama pemantik yang terbuat dari emas itu ke dalam tong sampah. “Tolong jauhkan semua rokok dariku. Aku ingin mencoba untuk berhenti.”


Kata orang, berhenti merokok itu sangat sulit, tapi Karan tidak peduli. Seperti ia yang berusaha menghisap tembakau itu karena Raya, maka ia pun akan bisa berhenti merokok karena istrinya itu. Sesulit apa pun perjuangannya nanti, tidak akan seberat dari apa yang telah ia lalui 12 tahun lalu ketika ia hidup tanpa Raya. Karan sudah melampaui setiap siksaan yang tidak terbayangkan oleh orang lain. Hanya karena tidak menghisap beberapa mili zat nikotin tidak akan membuat tubuhnya tersiksa.


“Baik Pak. Saya akan menyingkirkan semua rokok Anda,” tukas Ian. Setidaknya sekarang ia harus mengiyakan perintah Karan, tapi ia tidak bermaksud benar-benar membuang semua tembakau mahal milik laki-laki itu. Bukan untuk dikonsumsi secara pribadi karena Ian bukanlah perokok, tapi sebagai antisipasi jikalau Karan berubah pikiran. Emosi Karan begitu labil. Tidak akan ada yang tahu kapan Karan meminta barang itu lagi.


“Dan satu lagi, apa yang harus aku lakukan nanti malam? Em, maksudku, apakah aku harus menyiapkan sesuatu sebelum pulang? Ini makan malam pertama kami setelah menikah. Tidak mungkin aku pulang tanpa membawa apa pun untuk istriku,” ucap Karan lagi sambil berpikir apa yang Raya sukai. Dari informasi yang ia dapatkan, Raya tidak menunjukkan ketertarikan pada apa pun selain pekerjaannya. Mungkin jika Raya meminta padanya untuk kembali bekerja, Karan akan mengizinkannya.


Apa yang dipikirkan Karan berbeda dengan Ian. Ia malah berpikiran praktis tentang apa yang harus Karan bawa malam ini. Untuk itulah benda tersebut muncul di kepalanya. “Bagaimana dengan bunga Pak? Anda tidak pernah memberikan bunga kepada Ibu Raya. Saya lihat, Ibu suka melihat beberapa bunga di kebun di samping rumah. Mungkin Ibu suka bunga.”


Yang dikatakan Ian tidak buruk. Ide memberikan bunga untuk Raya malam ini terdengar bagus setidaknya cukup natural. Sebenarnya Karan bisa memberikan apa pun untuk Raya. Perlu diingat, ia bekerja untuk Raya, artinya setiap nominal saldo yang ada di rekening banknya merupakan milik wanita itu. Sekalipun Raya meminta hadiah mewah, misalnya mobil atau perhiasaan, Karan tidak akan ragu membelikannya.


Masalahnya Raya tidak terlalu suka hadiah mahal yang Karan berikan meskipun Raya tidak pernah menolaknya. Raya memang memakai barang-barang mewah itu tapi hanya sebatas formalitas, mungkin bermaksud agar Karan tidak tersinggung. Ini cukup aneh mengingat Raya yang Karan lihat selama ini selalu tampil glamor di depan media. Namun saat mereka menikah, wanita itu justru menampilkan sisi kesederhanaannya.


“Ya, kalau begitu kau siapkan buket bunga untuk istriku. Pastikan bunganya masih segar ketika aku bawa nanti malam,” cetus Karan menyetujui ide sang asisten.


Pesan Karan itu diterima dengan baik oleh Ian. “Baik Pak. Akan segera saya carikan bunga terbaik untuk Ibu Raya,” katanya dengan bersemangat. Alasan Ian begitu antusias menyiapkan hadiah untuk Raya ada dua, pertama karena ia merasa jenuh melihat hubungan aneh di antara suami-istri itu. Sedangkan alasan kedua adalah karena ia akan mendapatkan bonus setiap berhasil membuat Karan senang. Dan Raya adalah sumber kebahagiaan Karan kendati Karan sendiri tidak menyadari hal itu. Atau lebih tepatnya menolak kenyataan tersebut.