
Bukan tanpa sebab Ika berbicara seperti itu. Pasalnya, Raya pernah kabur satu kali dari rumah Karan. Tidak tanggung-tanggung, wanita itu bahkan sudah memesan tiket kereta api untuk melarikan diri dari sang suami. Ika memang tidak Raya libatkan dalam proses pelarian diri itu, tetapi Karan terus datang menemuinya dan menekannya untuk mengaku di mana keberadaan Raya. Pada saat itulah Ika melihat sesuatu yang lain pada diri Karan. Alih-alih merasa marah karena Raya melarikan diri darinya, hal yang pertama kali Ika lihat adalah rasa khawatir yang besar dalam diri laki-laki tersebut. Rasa khawatir yang bahkan terlihat seperti ketakutan.
Akhirnya Raya pun ditemukan. Dari yang Ika dengar dari modelnya itu, Karan marah besar kepadanya dan mengurungnya di dalam rumah selama beberapa minggu. Tidak ada celah bagi Raya untuk kabur meskipun Karan tidak berada di dalam rumah. Setiap kali niatan itu muncul, Karan sudah mengetahuinya. Laki-laki itu pun menambah hukuman Raya dari dikurung di dalam rumah menjadi dikurung di dalam kamar. Raya sama sekali tidak bisa keluar dari kamar mewahnya dan Karan menjadikan istri cantiknya itu tak ubah seekor burung yang terkurung di dalam sangkar.
Raya pun menghardik sang manajer. “Tidak, aku sama sekali tidak ada niat kabur dari rumah. Maksudku, setidaknya tidak lagi karena hubunganku dan Karan benar-benar sudah baik sekarang.” Wanita itu berusaha meyakinkan manajernya walaupun sang manajer tampak tidak percaya sama sekali. Tetapi Raya memang tidak punya niat untuk melarikan diri dari suaminya. Ia hanya ingin tahu apakah laki-laki itu sedang menyembunyikan sesuatu darinya atau tidak.
“Jadi kenapa?” tanya Ika masih penasaran. Kemudian secara tiba-tiba, wanita itu terbelalak saat sebuah pemikiran buruk hinggap di dalam kepalanya. “Tolong Mbak, jangan bilang Anda punya kekasih rahasia yang ingin Anda temui di sana?” Itu mungkin terdengar seperti sebuah celetukan tak masuk akal mengingat Raya bukan tipe wanita yang gemar berselingkuh. Setidaknya itu yang Ika yakini selama ia bekerja menjadi manajer sang super model. Tetapi tidak ada yang tidak mungkin di dunia itu. Mengingat sikap Karan yang begitu mengekangnya, mungkin saja Raya mencari laki-laki lain sebagai tempat persinggahan walaupun Ika tidak setuju dengan pemikiran seperti itu.
Raya menjadi naik pitam mendengar lontaran sang manajer. “Kakak! Apa-apaan pertanyaan Kakak itu? Aku bukan tipe wanita yang suka berselingkuh, Kak! Itu tidak mungkin! Memangnya pernah aku punya kekasih lain selama aku dalam hubungan dengan seorang pria?”
Sang manajer menggeleng tegas karena pada kenyataannya Raya tidak pernah melakukan itu. Sekali pun tidak pernah. Raya selalu berhubungan asmara dengan sehat kendati Ika sering tidak mengerti kriteria pria pilihan Raya yang rata-rata berasal dari kalangan atas. Tidak ada yang salah memang, tetapi cukup aneh untuknya. Terlebih karena ia sering mendengar keluhan Raya yang merasa cukup muak dengan kehidupan menjadi selebritas. Beberapa kali wanita itu berkata kalau ia memimpikan kehidupan normal di mana ia bisa menjadi Raya Drisana tanpa tekanan dari banyak pihak. Itu alasan utama Raya ingin cepat-cepat menikah dengan orang kaya. Tujuannya agar ia bisa hidup tenang tanpa khawatir memikirkan kehidupannya ke depan.
Dan keinginan Raya pun terwujud. Wanita itu dapat hidup dengan tenang sekarang dengan limpahan harta milik suaminya. Bahkan, Raya tidak perlu bekerja sama sekali untuk memenuhi kehidupannya. Apa pun yang ia inginkan, sang suami akan langsung mengabulkannya. Sayangnya, itu semua berbeda dengan apa yang Raya bayangkan. Alih-alih hidup menjadi seorang manusia normal seperti yang dijalankan oleh masyarakat biasa, Raya justru diperlakukan bak sebuah boneka oleh Karan. Itu lebih dari cukup untuk menjadi alasan mengapa Raya bisa berpaling dari Karan.
“Ya, memang. Tapi kenapa? Mbak bahkan berpesan agar jangan sampai Pak Karan tahu. Ini sangat aneh, Mbak,” cecar sang manajer.
Raya ingin menyembunyikannya, tetapi ia tidak bisa bertahan lama karena jika ia tidak jujur, sang manajer tidak akan membuka file yang berisi informasi tentang jalan Asoka. Raya pun mengalah dan membeberkan semuanya. “Ini tentang pekerjaan baruku sebagai direktur yayasan. Kemarin, aku dan Karan ke panti asuhan di jalan Asoka. Aku yakin baru pertama kali berada di sana, tapi aku merasa familier dengan tempat itu, Kak. Aku hanya ingin tahu apakah keluargaku pernah tinggal di sana atau tidak. Itu saja.”
Raya terlihat jujur di mata Ika. Karena tidak ada alasan yang membahayakan mereka, jadi Ika memutuskan untuk membantu Raya. Ia akhirnya menunjukkan data-data yang telah ia kumpulkan sebelum datang ke tempat itu. Semuanya ditampilkan kepada sang super model dari data-data grafis hingga fakta-fakta unik yang ia kumpulkan dari berbagai sumber berita. Sebenarnya Ika tidak bekerja sendirian. Ia juga mendapatkan bantuan dari orang lain. Orang yang saat ini menjadi modelnya karena Raya sudah tidak aktif bekerja. Orang itu adalah pendatang baru yang memulai karier sebagai model satu bulan ini. Namanya tidak cukup terkenal karena baru membintangi beberapa iklan saja sebagai model tambahan.
Semua yang dikatakan Ika persis seperti yang Raya dapatkan dari suaminya. Tidak ada yang ditambahkan atau dikurangi. Tapi, apakah bantuan itu murni hanya bantuan kemanusiaan tanpa alasan yang lain? Raya pun mengajukan pertanyaannya. “Hanya itu? Apakah ada alasan tersembunyi kenapa Karan membantu permukiman itu?”
Sang manajer menggeleng. “Tidak ada. Hanya ini saja data-data yang bisa saya kumpulkan, Mbak. Mungkin Pak Karan dan ayahnya benar-benar murni ingin membantu orang-orang itu, Mbak. Kenapa Anda tidak percaya saja pada beliau?”
Percaya? Tidak semudah itu Raya lakukan. Karan begitu mencurigakan baginya. Pria itu terlalu menutup diri. Tidak pernah sekali pun Karan mau menceritakan masa lalunya. Mulai dari penyakit paru-paru yang dialami pria itu sejak kecil hingga tanda lahir yang terhapus dari pundak belakangnya pun Raya tidak tahu. Wanita itu mengetahui segalanya dari keluarga Karan, dari ibu dan bibi Karan. Kalau sudah begitu, bagaimana Raya bisa percaya terhadap suaminya?
Belum lagi perasaan familier yang menyeruak di hati Raya ketika ia berada di sepanjang jalan Asoka. Pemandangannya memang tidak pernah Raya lihat sebelumnya. Semuanya terlihat baru. Hanya saja ada sesuatu yang begitu kuat yang membuat Raya merasa punya hubungan erat dengan lokasi itu. Ia hanya ingin tahu tentang hal tersebut, tetapi tampaknya ia hanya menemui jalan buntu. Tidak ada titik terang sama sekali dan Raya pun tidak punya orang yang bisa membantunya. Sama seperti Karan, respons bibi Raya juga sangat aneh setiap Raya mengungkit masalah masa lalunya, khususnya tentang masa kecilnya. Kedua orang itu seolah-olah sedang menutupi sesuatu yang begitu besar darinya.
Dan yang paling membuat Raya frustrasi adalah ia sama sekali tidak ingat apa itu. Ingatan Raya berhenti saat ia berada di bangku kelas dua SMA. Itu pun ketika ia mau naik kelas. Apa yang terjadi sebelumnya, bagaimana ia hidup dan menjalani hari-harinya, Raya tidak ingat dengan jelas. Yang ia ingat hanya sang bibilah satu-satunya keluarga yang ia miliki saat ini dan ia hanya bergantung pada wanita paruh baya itu. Dengan ingatan yang begitu dangkal itulah yang membuat Raya tidak punya pilihan kecuali menuruti segala permintaan sang bibi, kendati itu menyiksa dirinya sendiri.
“Aku tidak tahu, Kak. Aku hanya tidak bisa memercayai Karan sepenuhnya. Tapi bukan bermaksud untuk meninggalkannya. Aku hanya ingin tahu tentang masa laluku,” ungkap Raya sedih.
Ika tak kuasa melihat wajah murung sang super model. Ia mengamit tangannya dan mengelusnya pelan. “Jangan terlalu terpaku dengan masa lalu, Mbak. Memangnya apa salahnya kalau kita tidak mengingat masa lalu? Bukankah yang paling penting apa yang kita jalani sekarang agar masa depan kita bisa cerah? Lagi pula, tidak semua hal yang terjadi di masa lalu adalah hal yang baik. Mungkin saja itu hal buruk yang tidak perlu kita ingat sama sekali,” ujarnya memberikan motivasi.
Ya, itu benar sekali. Masa lalu tidak terlalu penting jika kita sudah melalui masa kini dengan baik. Hanya saja bagi Raya, masa lalunya sepertinya ada kaitan besar dengan suaminya. Pria itu tidak mungkin tahu tentang dirinya dengan begitu baik tanpa tahu masa lalu darinya.