Lies

Lies
Satu-satunya yang Dicintai



Kemampuan menyetir Ian memang bagus kendati lokasi mereka sangat jauh dari Indonesia dan posisi setir mobilnya pun berbeda. Karena Karan selalu membawanya ke mana pun sebagai sopir meskipun pada dasarnya Karan bisa menyetir. Alasannya utamanya Karan sering tidak tidur dengan baik di malam hari sehingga ia akan kehilangan konsentrasinya saat berkendara. Pernah sekali Karan mengalami sesuatu ketika berkendara, ia nyaris menabrak sesuatu yang ada di depannya. Beruntung rem mobilnya bagus sehingga tidak terjadi kecelakaan.


Berkat Ian, Karan bisa tiba di galeri seni itu lagi dalam waktu yang cukup singkat. Begitu tiba di sana Karan langsung berjalan menuju ruangan administrasi tempatnya mendaftar tadi. “Terima kasih Pak,” kata Karan saat sang petugas memberikan kartu identitasnya. Saat memasukkan kartu itu ke dalam dompet, karan teringat tentang kejanggalan yang ia temukan tadi tentang nomor ponselnya. Pria itu pun menanyakannya. “Mohon maaf Pak, kalau saya boleh tahu bagaimana pihak administrasi menghubungi nomor ponsel saya? Karena saya hanya mencantumkan nomor kantor saya.”


“Sebenarnya kami sudah menghubungi nomor kantor yang Anda cantumkan di kertas pendaftaran, tetapi tidak ada yang mengangkatnya. Kebetulan Ibu Raya lewat dan beliau kenal dengan Anda sehingga beliau memberikannya pada kami. Mohon maaf karena sudah mengganggu waktu Anda dan membuat Anda tidak nyaman.”


Karan menggelengkan kepalanya dengan tegas. “Tidak Pak, saya tidak terganggu. Sekali lagi terima kasih,” tukas pria itu sambil berlalu meninggalkan tempat itu dengan senyuman terukir di wajahnya. Tebakannya benar Rayalah yang memberikan nomornya kepada petugas itu. Karan tidak bisa menyembunyikan perasaan bahagiannya, ia benar-benar senang mengetahui hal tersebut.


“Pak, apa kita akan kembali ke hotel sekarang?” tanya Ian menghampiri Karan.


“Tidak, tunggu sebentar. Aku harus menemui Raya terlebih dahulu.”


“Baik Pak, saya akan menunggu di depan.” Ian melangkah pergi sembari tersenyum. Sudah bisa ditebak apa yang akan terjadi hari ini. Karan akan menemui Raya dan berbicara dengan sang super model. Ian sempat bingung saat melihat Karan yang meninggalkan tempat itu tanpa berbicara apa pun. Terlebih Karan tampak tidak ingin mengobrol dengan Raya. Namun sekarang Ian merasa lega karena Karan punya kesempatan bersama Raya dengan harapan permasalahan di masa lalu mereka akan terselesaikan dengan baik.


Tidak membutuhkan waktu lama bagi Karan untuk menunggu Raya. Begitu Ian meninggalkannya acara jumpa penggemar itu pun selesai. Raya keluar dari ruangan dari jalur yang tidak sama dengan sebelumnya. Jalur yang ada dekat dengan tempat Karan berdiri. Itu terjadi secara kebetulan karena Karan sama sekali tidak tahu ada pintu di sekitarnya. Namun ia mensyukuri kebetulan itu. Pada akhirnya ia bisa bertemu dengan sang mantan istri lagi.


Mereka berdiri kikuk. Karan gugup begitu juga Raya. Tidak ada yang berani membuka suara atau sekadar melakukan sebuah gerakan kecil. Hanya pandangan mata mereka saja yang berbicara di mana Karan menatap Raya dengan begitu intens. Menyampaikan seberapa besar rasa rindunya pada sang super model. Entah apa yang dirasakan Raya padanya sebab wanita itu hanya memandangnya dalam diam. Satu-satunya yang bisa Karan lihat dari kedua manik indah itu hanyalah tatapan sedih persis seperti yang pernah Karan lihat lima tahun yang lalu. Mengapa seperti ini? Apakah Raya sedih karena bertemu dengannya? Haruskah Karan cepat-cepat meninggalkan tempat itu agar tidak menyakiti Raya lagi?


“Maaf, aku tidak bermaksud untuk mengganggumu, sungguh!” ungkap Karan pada akhirnya. Akibat rasa gugupnya yang besar Karan pun melupakan kalimat formalnya. Ia bahkan secara spontan berbicara dengan menggunakan bahasa Indonesia padahal sebelumnya Karan berbicara menggunakan bahasa Italia saat meminta tanda tangan Raya. Sepertinya Raya membuat Karan lupa diri. Lupa di mana mereka berada dan lupa status mereka sekarang. Raya sukses membangkitkan lagi masa lalu Karan, baik masa remaja mereka maupun masa-masa pernikahan mereka yang singkat.


Raya tersenyum, wajahnya yang awalnya kaku berubah menjadi rileks. “Tidak apa-apa. Aku tahu kau tidak mengikutiku,” ujar Raya. Ia berbicara sebentar dengan manajernya yang ada di sebelahnya. Bukan Ika, Raya punya manajer baru khusus untuk kegiatannya selama di luar negeri. Manajernya itu adalah penduduk lokal, terlihat dari paras dan gaya bahasanya. Entah apa yang membuat Raya tidak mempekerjakan manajer lamanya. Mungkin karena sang mantan manajer sudah memiliki keluarganya sendiri. Wajar saja karena usianya memang sudah cukup untuk menikah. “Kau punya waktu? Mau berbicara denganku?” ucap Raya lagi.


Karan tersentak mendengarnya. Tidak disangka Raya menawarkan undangan untuk berbicara dengannya. Karan tidak pernah memimpikan ini, tapi ia benar-benar senang mendengarnya. “Ya, aku ada waktu,” sahut Karan. Pria itu selalu ada waktu untuk sang mantan istri. Meskipun ia begitu sibuk dengan kegiatannya, ia akan berusaha mencari waktu jika Raya menginginkannya. Apa pun akan Karan lakukan demi Raya. Tidak hanya waktu, hidupnya pun rela Karan berikan kepada wanita itu.


“Baguslah, ayo!” Raya mengajak Karan. Berbeda dengan apa yang Karan bayangkan, Raya tampak santai saat berjalan bersama dengannya. Awalnya memang sedikit kikuk, namun ketika wanita itu mulai menjelaskan keadaan sekitar di galeri, akhirnya kegugupannya pelan-pelan memudar. Kini Raya bisa berbicara pada Karan selayaknya ia berbicara dengan temannya sendiri. “Duduklah, ini kafe terbaik yang ada di sini,” terang Raya mempersilakan Karan untuk duduk di kursi di depannya.


“Terima kasih,” balas Karan. Pria itu duduk di kursinya sembari memandangi keadaan sekitar. Sekarang ia tahu mengapa kafe itu dibilang terbaik. Pertama, lokasinya dekat dengan galeri seni. Kedua, desainnya begitu indah sebagai sebuah kafe. Baru sekali saja berada di sana Karan sudah menyukainya apalagi kalau beberapa kali ia mengunjungi tempat itu, pasti Karan akan menjadikan kafe itu menjadi salah satu tempat favoritnya. “Ini kafe yang bagus,” puji Karan sambil meneguk segelas kopi yang sudah mereka pesan sebelumnya.


“Jadi, bagaimana kabarmu?” Raya membuka percakapan mereka dengan cara yang ringan. Wanita itu tersenyum sembari melontarkan pertanyaan yang terdengar seperti sebuah sapaan basa basi meskipun tidak seperti itu aslinya. Raya benar-benar penasaran dengan kabar sang mantan suami.


“Aku baik dan sehat seperti yang kau lihat sekarang,” jawab Karan. Ia sedikit berbohong. Memang kondisi fisiknya baik dan sehat, tapi tidak dengan kondisi hatinya. Karan menderita karena menahan penyesalan dan rasa rindunya yang begitu besar kepada Raya. “Bagaimana denganmu?”


“Aku juga baik dan sehat persis seperti yang kau lihat sekarang,” canda Raya dengan mengulang ucapan Karan.


“Ya, kau terlihat seperti itu dan juga semakin cantik,” lontar Karan secara mendadak. Bahkan, ia saja tidak menyangka bibirnya bisa mencetuskan kalimat bernada rayuan itu di hari pertama mereka bertemu setelah lima tahun.


“Benarkah? Terima kasih, aku benar-benar tersanjung mendengarnya,” sahut Raya ringan. Meskipun sempat terbelalak mendengarnya, Raya dengan sigap dapat memperbaiki lagi raut wajahnya selayaknya seorang artis yang sangat profesional menghadapi pujian-pujian dari penggemarnya.


Suasana hening kembali. Karan dan Raya hanya memandangi wajah masing-masing sambil menyembunyikan senyum di wajah mereka. Kemudian, Karan tertawa. Ia tidak bisa menahan betapa bahagianya ia hari ini bisa saling beradu tatapan dengan sang mantan istri. Jika seandainya ini hanyalah sebuah mimpi, Karan tidak keberatan sama sekali untuk tidak terbangun. Ia tidak masalah hidup dalam dunia mimpi asalkan ada Raya dalam mimpi itu. Karan ingin berada di dunia di mana ada cinta pertamanya itu hidup.


“Kenapa kau melihatku seperti itu? Apa ada yang salah dengan wajahku?” tanya Karan yang penasaran dengan tatapan Raya yang begitu intens pada wajahnya.


Raya segera memperbaiki mimik wajahnya. “Ah, tidak. Aku hanya tidak menyangka wajahmu tidak berbuah sama sekali padahal sudah lima tahun berlalu.”


“Oh ya? Apa yang tidak berubah?”


“Ketampananmu.”


“Apa?” Karan nyaris tersedak meskipun ia tidak minum atau makan apa pun. Padahal sebelumnya Karanlah orang pertama yang melontarkan rayuan pada Raya dengan menggunakan fisik. Ia memuji wanita itu cantik. Tapi ketika posisinya berbeda, malah ia yang merasa begitu tersipu. “Maksudmu aku tampan?”


Raya tersenyum sembari mengangguk. “Iya, sama seperti lima tahun lalu.”


“Oh astaga!” Karan mengibas-ngibaskan wajahnya yang mulai memerah dengan tangannya. Bagi Raya yang punya banyak sekali penggemar mungkin rayuan seperti ini sering didengarnya. Ditambah Raya juga sempat beberapa kali menjalani hubungan romantis dengan beberapa pria. Namun bagi Karan yang sebagian besar hidupnya digunakan hanya untuk mencintai Raya, ia tidak pernah mendengarnya. Ah, ralat. Karan memang sering mendengarnya dari wanita lain yang tertarik dengan fisiknya, tapi tidak ada satu pun yang mampu membuatnya begitu berdebar seperti sekarang.


Raya tertawa keras. Ia tidak tahu bahwa Karan akan memberikan respons seperti itu padanya. “Jadi, katakan padaku, bagaimana kau bisa sampai di tempat ini? Eum, maksudku, kenapa kau datang ke fans meeting ini?” Nyaris saja Raya menanyakan sesuatu yang tidak masuk akal. Karan adalah seorang pengusaha. Datang ke Milan bukanlah hal yang tabu baginya seperti wilayah lain di muka bumi ini. Hanya saja alasan Karan mendatangi acara jumpa penggemarnya itulah yang membuatnya bingung. Untuk apa seorang pengusaha yang super sibuk sampai datang ke acara mantan istrinya?


“Untuk menemuimu,” ungkap Karan jujur. Ia tidak tahu kapan ada kesempatan seperti ini lagi sehingga Karan tidak bisa menyianyiakannya begitu saja.


Kening Raya mengernyit. “Menemuiku? Kenapa?”


Haruskah Karan menyampaikan bahwa ia sangat merindukan Raya? Bahwa hanya wanita itu satu-satunya wanita yang ia cintai? Bagaimana jika perasaannya justru membebani Raya? Bagaimana jika Raya tidak punya perasaan yang sama dengannya? Biar bagaimanapun waktu lima tahun termasuk waktu yang cukup lama. Bisa banyak yang terjadi dalam waktu selama itu, termasuk perubahan hati dan perasaan.


“Sebelum menjawab itu, aku ingin bertanya sesuatu padamu. Kenapa kau memberikan nomorku pada petugas administrasi?” Karan melontarkan pertanyaan yang membuatnya begitu penasaran sejak tadi.