
Niat awal ingin memandikan Raya lagi diurungkan oleh Karan. Tidak mungkin ia memandikan istrinya dalam keadaan seperti ini. Karan pun memutuskan untuk membersihkan tubuh Raya dengan handuk kecil yang ia basahi. Dengan penuh ketekunan Karan menyeka tubuh Raya, tidak membiarkan keringat membuat Raya gelisah dalam tidurnya. Saat semua bagian tubuh Raya sudah ia seka, pria itu memindahkan istrinya lagi ke atas ranjang.
Awalnya, Karan ingin mengambil handuk kimono yang lain dari dalam lemari sebab handuk yang digunakan Raya sudah basah karena keringat. Pakaian Raya memang tidak kotor ataupun basah, tapi Karan tidak suka istrinya memakai pakaian yang sama lagi. Jadi, ia memutuskan untuk meminta Ian menyiapkan pakaian untuk sang istri.
Saat tengah menelepon Ian, alangkah terkejutnya Karan mendengar sebuah teriakan dari mulut Raya. Wanita itu menjerit sambil bergerak gelisah di tempat tidur. Karan pun tersadar bahwa Raya sedang mengalami mimpi buruk. Apakah karena perbuatannya barusan hingga membuat Raya begitu gelisah? Atau ada sesuatu yang lain yang sedang dipikirkan oleh sang istri?
Karan tidak bisa membiarkan Raya menggeliat seperti kesetanan. Hatinya terasa sakit sekali mendapati istrinya begitu tersiksa seperti ini. Sontak Karan mematikan panggilan teleponnya dan menghampiri Raya. Pria itu mengangkat tubuh Raya, memosisikan tubuhnya duduk lalu memeluk tubuh istrinya itu dengan erat. “Raya!” Ia mengelus-elus punggung Raya untuk menenangkan wanita itu. “Tenanglah, Raya. Tenang!” katanya.
Sejauh ini, usahanya untuk menenangkan Raya tidak berhasil. Dengan mata yang masih setia terpejam, Raya justru semakin gelisah.
Karan menjauhkan tubuhnya dan mencengkeram kedua bahu Raya. “Sayang, buka matamu! Bangun dan lihat aku!” perintahnya dengan tegas.
Tubuh Raya menegang. Beberapa saat kemudian, Raya berhenti berteriak, matanya membelalak dan akhirnya Raya terbangun. Sayangnya, tubuhnya masih gemetar dan ia pun mulai terisak-isak.
“Maafkan aku, Ma. Aku tidak berniat melakukannya. Maafkan aku,” isak Raya dengan kedua mata yang banjir oleh air mata.
Tubuh Raya bergetar hebat dan Karan tidak kuasa melihatnya. “Tidak Sayang, sadarlah. Aku bukan ibumu. Kau harus tenangkan dirimu, Raya.” Ia terus menenangkan Raya sembari memeluknya.
Tapi Raya tetap tidak bisa tenang. Ia sudah membuka mata tapi pandangannya masih gelap. Kesadarannya masih terbawa oleh alam mimpi dan ia masih tidak bisa sadar sepenuhnya. Padahal Raya tahu ia sedang bersama seseorang saat ini. Tapi ia tidak tahu siapa. Yang ia rasakan adalah napas panas yang berembus di kepalanya. Pelan-pelan ia mendengar suara yang memanggil namanya. Ia mengenali suara itu. Itu suara Karan. Pria itulah yang sedang memeluknya saat ini dan berusaha menenangkannya.
“Karan?” celetuk Raya pelan.
“Iya, Sayang. Ini aku Karan, suamimu. Sekarang tenanglah, kau hanya bermimpi buruk.” Karan masih setia memeluk Raya erat sambil mengelus-elus kepala Raya.
Kali ini usaha Karan berhasil. Raya mulai tenang. Wanita itu malah sudah tertidur pulas dalam pelukannya, yang membuat Karan mau tidak mau membaringkan tubuh Raya lagi. Lalu, ia juga berbaring di samping Raya. Ia tidak bisa ke mana-mana karena Raya membekap tubuhnya sangat erat, seolah-olah tidak ingin membiarkan Karan pergi dari sisinya.
“Apa yang terjadi padamu, Sayang? Apa kau sudah mengingat masa lalumu? Masa lalu kita? Tapi kenapa baru sekarang, Raya? Kenapa selama ini kau hidup tenang seakan tidak mengingatnya sama sekali? Bahkan kau tidak mengenaliku sama sekali. Kau melupakanku. Bagaimana ini Sayang? Aku tidak mau melihatmu tersiksa, tapi aku juga tidak bisa menghilangkan rasa benciku yang teramat besar kepadamu. Aku tidak bisa melupakan balas dendamku.”
XXXXXX
Raya terbangun keesokan harinya. Wanita itu bangun di tempat yang tidak seharusnya ia berada. Di dalam kamarnya di rumah Karan. Seingatnya semalam ia tidur di hotel. Ia tertidur setelah kelelahan mendapatkan hukuman dari Karan. Bagaimana mungkin sekarang ia sudah ada di rumah? Siapa yang membawanya?
“Ibu, apa Anda sudah bangun? Bolehkan saya masuk?”
Suara Anna terdengar dari luar kamar. Wanita paruh baya itu mengetuk pintu kamarnya sebelum berbicara. Raya melihat jam yang ada di dinding kamarnya. Sudah pukul 12 siang. Artinya Raya tidur sangat lama dan tidak ada yang membangunkannya. “Masuk saja Bi. Pintunya tidak terkunci,” ucap Raya dengan yakin. Satu-satunya yang bisa mengantarkannya ke dalam kamar itu hanya Karan dan saat ini sang suami sudah tidak ada di sana. Sudah pasti pria itu keluar dari kamar tanpa mengunci pintunya.
Pintu kamar pun terbuka. Terlihat Anna sedang membawa sarapan sekaligus makan siang untuk Raya. “Anda mau makan di sana atau di sini?” tanya Anna merujuk pada tempat Raya berada. Anna bertanya apakah Raya akan menghabiskan makan siangnya di atas tempat tidur atau wanita itu memilih makan di sofa.
“Di sana saja Bi. Aku akan pindah ke sana,” jawab Raya menunjuk ke arah sofa.
Selagi Anna menyusun makan siangnya, Raya beranjak dari ranjang. Ia berjalan ke arah cermin terlebih dahulu dan menemukan pakaiannya yang sudah berganti. Bukan pakaian yang ia kenakan saat menuju hotel atau handuk kimono yang ia pakai sebelum tidur. Baju itu adalah terusan berwarna biru buatan desainer terkemuka di Indonesia. Baru semalam Raya melihat brosurnya di majalah. Ia sama sekali tidak menyangka akan memakainya sekarang sebagai baju tidur.
“Apa Bibi yang mengganti pakaianku?” tanya Raya pada asisten rumah tangganya itu.
Anna menggeleng dengan tegas. “Tidak Bu. Ibu sudah memakai baju itu tadi pagi.”
Kali ini Anna mengangguk. “Iya Bu. Bapak menggendong ibu tadi subuh, mungkin sekitar jam 4 subuh.”
“Menggendong?” Raya mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi semalam. Pipinya langsung bersemu merah ketika sekelebat bayangan hinggap di kepalanya. Raya tidak tahu apa penyebabnya, tapi ada satu yang ia ingat. Karan memeluknya semalaman penuh. Tidak sampai di sana, pria itu juga mengelus kepalanya sembari mengeluarkan kata-kata manis seolah-olah sedang menenangkannya.
Tunggu dulu! Menenangkan? Apakah ia bermimpi buruk tadi malam? Argh! Raya sama sekali tidak mengingat apa pun.
“Di mana Karan sekarang?” Raya penasaran di mana keberadaan pria itu.
“Bapak sudah pergi jam 7 pagi, Bu.”
“Apa bawa koper lagi?” Maksud Raya, apakah Karan akan pergi keluar negeri lagi. Pasalnya, Karan sangat jarang berada di rumah. Setelah datang dari luar negeri atau dari luar kota, Karan hanya akan menetap di rumah sebentar. Paling lama dua hari. Kemudian, pria itu akan pergi lagi entah ke mana.
“Tidak Bu. Yang saya dengar dari Ian, mereka hanya akan pergi ke kantor. Sepertinya malam ini Bapak akan tidur di sini, Bu.”
Kening Raya mengernyit seketika. Mengapa Karan tetap berada di rumah? Apa karena kejadian semalam? Beberapa kata-kata Karan menghampiri benak Raya. Baru kali itu Raya mendengar kalimat tulus dari Karan. Biasanya pria itu memang akan berkata-kata manis padanya, namun itu hanya sekadar ucapan tanpa arti atau semacam ejekan. Pertanyaannya sekarang, mengapa Karan begitu berusaha menenangkannya semalam? Bukankah laki-laki itu sangat suka melihatnya menderita? Apakah Karan mulai berubah?
Tidak mungkin! Karan tidak mungkin sungguh-sungguh peduli padanya. Mereka berhubungan badan semalam ... secara kasar. Mungkin itu alasan Karan merasa perlu bertanggung jawab. Barangkali pria tiu merasa menyesal telah memperlakukannya secara kasar. Raya hanya sebagai istri boneka untuk Karan, pria itu tidak akan benar-benar tertarik padanya.
“Oh iya, Bu. Bapak menitip pesan agar Ibu langsung menghubungi Bapak saat Ibu sudah bangun,” sambung Anna lagi.
Raya memutar bola matanya jengah. Baru saja ia memasukkan dua sendok makanan ke dalam perutnya tapi sudah ada yang membuatnya merasa mual. Raya tidak mau menghubungi Karan. Ia kesal dan jengkel. Kemarahan masih bercokol di dalam hatinya karena perbuatan Karan semalam. Wanita mana yang tidak marah diperlakukan layaknya wanita murahan seperti itu? Karan memperlakukannya tak ubah sebagai tempat pelampiasan nafsu biologisnya saja. Raya merasa sakit hati. Ia tidak akan mengikuti perintah Karan lagi.
Melihat tidak ada tanda-tanda Raya akan mengikuti keinginan Karan, Anna menambahkan pesan dari majikannya. “Bapak juga bilang kalau Ibu Raya tidak segera melepon, Ibu akan menyesal. Bapak bilang ini sebuah ancaman.”
“Gila!” cetus Raya secara mendadak. Ia hampir tersedak mendengar kata-kata yang disampaikan Anna. Tidak masalah kalau Karan mengancamnya, lagi pula Raya sudah biasa mendapatkan ancaman seperti itu. Tapi perlukah Karan menggunakan Anna untuk menyampaikannya? Mau ditaruh di mana harga diri Raya di depan Anna? Pria itu seolah-olah menunjukkan bahwa Raya tidak punya kuasa apa pun sebagai nyonya rumah. Ia hanya seorang istri yang tak berdaya yang selalu berada di bawah kendali suaminya.
Raya mengembuskan napasnya. Ia harus menuruti perintah Karan sebelum ia benar-benar kehilangan muka di depan Anna. “Baiklah, aku akan menelepon Karan,” katanya.
Anna bergegas ke nakas untuk mengambil ponsel Raya. Sebenarnya Karan tidak benar-benar mengancam Raya, setidaknya itu yang Anna tangkap dari nada suara Karan tadi pagi. Namun untuk menghindarkan Raya dari masalah karena tidak menuruti perintah Karan, sebaiknya Anna sedikit berimprovisasi. Nyatanya itu berhasil. Raya pun akhirnya mau menghubungi sang CEO.
“Ini ponsel Anda, Bu.” Anna menyerahkan ponsel itu ke Raya.
Raya mengatur napasnya. Setelah siap, ia pun menghubungi suaminya. “Ha-halo,” tukasnya canggung. Raya tidak pernah menghubungi Karan sebelumnya. Selama ini Karanlah yang selalu meneleponnya terlebih dahulu.
Raya mendengar suara seorang wanita samar-samar di ujung panggilan. Wanita itu seperti sedang melakukan presentasi. Apakah Karan berada di ruang rapat sekarang?
“Kau sudah bangun?” tukas Karan menjawab sapaan.
DEG!
Jantung Raya berdetak lebih cepat. Karan tidak memanggilnya dengan panggilan menjijikkan seperti biasanya. Pria itu tidak menambahkan kata ‘Sayang’ di belakang kalimatnya. Meskipun demikian, Raya malah merasa senang. Padahal suara Karan terdengar dingin, tapi bagi Raya, itu seperti suara Karan yang sebenarnya. Suara yang lepas dari kepura-puraan.
“I-iya,” balas Raya gugup. Ia sama sekali tidak bisa menetralkan debaran jantungnya. Ah, sial! Harusnya Raya membenci Karan atas perbuatan kasarnya semalam. Tetapi mengapa hatinya seperti ini? Ia seperti baru saja dikhianati oleh hatinya sendiri. Dasar sialan!