
Sontak saja Raya menghindar. Ia tidak mau berinteraksi lebih lama dengan Karan karena itu berbahaya untuknya. Lebih tepatnya berbahaya bagi kesehatan jantungnya. Hanya melihat wajah tampan Karan saja sudah membuat Raya berdebar keras. Apalagi ketika tangan pemuda itu berada di kepalanya. Raya tidak bisa menampik bahwa ia menyukai ini. Ia suka bagaimana cara Karan memperlakukannya seperti dulu. Dan ini menimbulkan gejolak di dalam hati Raya. Gejolak kerinduan terhadap kehadiran pemuda itu.
“Kau jangan macam-macam padaku!” protes Raya dengan keras. Ia menggeser tubuhnya dan menjauhi Karan.
“Aku tidak macam-macam. Aku hanya ingin mengambil daun yang ada di atas kepalamu. Ini,” sahut Karan sambil menyerahkan selembar daun yang secara tidak sengaja memang terjatuh di atas kepala Raya. Padahal Karan memang ingin menyentuh kepala Raya seperti yang sering ia lakukan dulu. Tetapi sekarang, ia mendapatkan alasan yang sangat tepat. Karan harus berterima kasih kepada angin yang berembus sore itu di sana, yang membuat daun-daun berguguran dari pohon hingga salah satunya menempel di atas kepala Raya. “Memangnya kau memikirkan apa, hm?” celoteh Karan lagi bermaksud menggoda Raya.
Raya pun berang karena merasa telah dipermainkan oleh Karan. Jelas sekali ia merasakan sentuhan Karan barusan di kepalanya adalah sebuah belaian, bukan sentuhan yang dimaksudkan untuk mengambil sebuah daun. “Aku tidak memikirkan apa-apa. Aku hanya ingin kau menjauh dariku. Atau kalau kau tidak menjauh, maka aku yang akan pergi darimu,” ungkap Raya kesal. Gadis itu pun tidak main-main dengan ucapannya. Ia langsung bergegas berdiri dan pergi dari bangku itu.
“Hey, Raya Drisana!” panggil Karan.
Meskipun enggan, Raya tetap menoleh. “Apa?” ketusnya. “Jangan bilang kau mau menahanku! Kita sudah putus Karan, kau harus ingat itu.”
Senyuman tipis terbit di bibir Karan. “Memangnya siapa yang mau menahanmu? Aku hanya ingin mengingatkanmu untuk membawa toplesmu ini. Atau jangan-jangan kau memang sengaja meninggalkannya supaya aku mengejarmu dan mengantarkanmu pulang, begitu?”
Sial, umpat Raya di dalam hatinya. Ia menghentakkan kakinya kesal dan mengutuki kebodohannya karena sudah meninggalkan toples itu di sana. Seandainya itu bukan toples milik tetangganya yang harus segera ia kembalikan, ia pasti sudah meninggalkannya begitu saja. Karena ia yakin Karan akan mengembalikannya. Mungkin tidak langsung hari ini. Bisa saja besok saat mereka berada di sekolah. Ya, itu ide yang cukup bagus karena tidak akan menimbulkan kecurigaan siapa pun. Dengan begitu besok Raya akan bisa melihat wajah pemuda itu lagi.
Eit tunggu dulu! Apa yang sedang ia pikirkan ini? Oh, ya ampun! Raya seperti terjebak dengan pernyataan yang disebutkan oleh Karan, yang seolah-olah menyebutkan bahwa Raya sudah merencanakan hal itu. Bahwa ia memang sengaja meninggalkan toplesnya di sana agar Karan bisa membawanya. Padahal Raya memang melupakan benda itu. Ia tidak bermaksud meninggalkannya di sana hanya untuk bertemu lagi dengan Karan seperti yang ia bayangkan barusan.
“Aku tidak sengaja!” ucap Raya kesal karena ia memang tidak merencanakan hal ini sama sekali. “Aku hanya melupakannya.”
Karan tahu itu dengan pasti, hanya saja menggoda Raya lagi setelah sekian lama rasanya sangat menyenangkan. Sehingga pemuda itu tidak mau kehilangan momen ini karena belum tentu diwaktu yang dekat ia bisa melakukan hal yang sama lagi. Jadi, Karan akan memanfaatkannya. Setidaknya untuk sekarang sampai rasa rindunya pada gadis itu sedikit berkurang, walaupun ia yakin kerinduan itu malah akan semakin bertambah ketika Raya sudah meninggalkannya hari ini.
“Kalau begitu cepat ambil. Kalau kau tidak cepat-cepat mengambilnya, aku akan memberikannya pada tukang loak besok pagi. Lumayan sepertinya toples itu bisa laku dijual,” kata Karan mengancam. Laki-laki itu bahkan sudah mengambil toples itu dan memutar-mutarnya seolah-olah sedang menilai berapa harga benda itu jika ia berhasil menjualnya.
Kedua mata Raya terbuka lebar. Ia memberikan tatapan tajam pada Karan. Ternyata beginilah tabiat Karan sesungguhnya. Raya salah besar karena sudah menyukai pria itu. Karan tidak sebaik apa yang ia pikirkan selama ini. “Aku tidak akan memaafkanmu kalau kau menjualnya,” gerutu Raya. Dengan langkah cepat gadis itu mendekati Karan. Saat ia hendak mengambil toples itu, dengan gerakan kilat Karan bergerak. Laki-laki itu sekarang malah sudah berdiri di atas bangku taman sambil mengangkat toples itu.
“Kembalikan toplesnya!” ujar Raya sambil berusaha mengambil toples itu dari tangan Karan.
Karan masih ingin bermain-main. Ia sengaja menurunkan toplesnya seolah-olah ingin memberikannya pada Raya. Tetapi begitu Raya hendak mengambilnya, Karan kembali mengangkat benda itu tinggi-tinggi hingga membuat Raya menggeram kesal.
Raya juga tercengang mendengar penuturan Karan. Laki-laki itu menyebut kata ‘hanya’ saat mereka tidak bertemu selama dua minggu. Padahal bagi Raya, waktu dua minggu itu terasa lama sekali, bahkan seperti dua puluh tahun. Cukup sulit Raya membiasakan hidupnya tanpa ada Karan di sisinya. Meskipun otaknya sudah mengintruksikan bahwa ia sudah tidak punya hubungan apa-apa dengan Karan, tetapi tubuhnya tidak mau mendengar.
Pernah beberapa kali Raya berjalan tanpa sadar menuju ke ruangan tempat Karan biasa berlatih soal olimpiade. Atau berada di depan lapangan basket secara tiba-tiba. Ia juga sering memandang ke depan gerbang sekolah setiap berangkat sekolah. Berharap Karan ada di sana menunggunya dan memberikan dasi yang kini tidak pernah lupa Raya kenakan. Raya sudah biasa menunggu Karan. Tubuhnya sudah terbiasa dengan kehadiran laki-laki itu di sisinya. Dan ketika sosok Karan menghilang, tanpa sadar tubuhnya melakukan aktivitas yang biasa Raya lakukan saat ia masih bersama Karan.
“Terserah kau mau mengatakan apa pun padaku, tapi sekarang cepat berikan toples itu. Aku mau pulang!” teriak Raya lagi. Kedua matanya melemparkan tatapan mengiba pada Karan, berusaha agar membuat pemuda itu berhenti mempermainkannya.
Dan tindakan itu berhasil. Karan tampak luluh dengan apa yang Raya lakukan. Akhirnya ia menyerah dan mau memberikan toples itu pada Raya. “Aku akan memberikannya padamu. Tapi izinkan aku mengantarmu pulang hari ini.”
Dengan cepat Raya menggeleng. Kedua mata gadis itu tampak bergerak liar, seolah-olah sedang mengkhawatirkan sesuatu. “Tidak! Jangan mengantarku!” katanya dengan suara kencang. Tentu saja itu membuat Karan terkejut bukan main. Melihat ekspresi Karan yang kaget membuat Raya buru-buru memperbaiki ucapannya. “Maksudku jangan sekarang. Kau boleh mengantarkanku, tapi bukan hari ini. Mungkin besok atau lusa.”
Kening Karan mengernyit. Ia menatap sang mantan kekasih dengan tatapan curiga. “Kenapa tidak boleh hari ini? Memangnya ada bedanya hari ini atau besok dan lusa?”
“Iya, ada bedanya. Jadi, cepat berikan toples itu.”
“Tapi tidak ada jaminannya kau akan memenuhi janjimu padaku. Bisa saja besok atau lusa kau melarikan diri dariku ‘kan? Jadi, aku sudah memutuskannya. Aku akan mengantarkanmu hari ini.”
“Tidak! Aku bilang tidak!” Raut wajah Raya memerah menyusul suaranya yang terdengar lantang. Gadis itu terlihat begitu marah. Sebuah kemarahan yang tidak pernah Karan saksikan selama menjalin hubungan dengan Raya.
Sepertinya ia sudah sangat keterlaluan. Ada baiknya ia menghentikan permainan ini. Sekarang sudah tidak lucu lagi. Kemarahan Raya membuat semuanya tidak lagi menyenangnya. “Baiklah, baiklah. Maafkan aku. Ini kukembalikan. Aku juga tidak akan mengantarkanmu hari ini, tapi kau harus janji besok harus mau kuantarkan. Ingat itu!” tekan Karan.
Raya mengangguk cepat. “Iya, aku janji.”
Karan sudah bersiap untuk mengembalikan toples itu. Tetapi baru saja hendak menurunkannya, Karan melihat sesuatu di kerah leher Raya bagian belakang. Sesuatu seperti noda darah yang menempel di sana. Sontak saja Karan terbelalak. Dengan cepat ia turun, memberikan toples itu pada Raya sambil berjalan ke arah belakang gadis itu. Agar Raya tidak mengelak, Karan melakukan gerakan cepat. Ia mendekap Raya dari belakang dengan satu tangannya, sementara tangannya yang lain menyentuh kerah belakang Raya. Dan sekali lagi, penglihatan Karan benar. Noda itu benar-benar noda darah yang sudah mengering.
“Apa ini? Kau terluka lagi?” ucap Karan tidak percaya. Matanya menatap nanar noda itu sambil merasakan tubuhnya yang gemetar hebat. Ia benar-benar dalam keadaan marah sekarang.