
Napas Raya terasa tersekat. Ia tidak mengira Karan akan mengatakan hal itu. Apa yang terjadi? Mengapa pemuda itu menyentuh kerah bajunya? Apakah ada sesuatu di sana? Sialnya meskipun sudah berusaha untuk menoleh, Raya tetap tidak bisa melihat ke belakang tubuhnya. Gadis itu pun pura-pura bodoh. “Aku terluka? Di mana? Sepertinya tidak,” ucapnya mengelak. Raya tidak pandai berbohong, itulah sebabnya setiap kata-katanya terdengar goyang karena gadis itu tampak gugup.
Karan menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia bisa menemukan sedikit luka lebam di dekat leher Raya. Tentu saja gadis itu terluka. Dan luka itu kembali berusaha disembunyikan oleh Raya. Dengan suara gemetar, Karan berbicara lagi. “Raya, tolong jujurlah padaku. Kenapa kau terluka? Siapa yang melukaimu separah ini?” Tidak hanya suara, tubuh Karan pun sudah sepenuhnya menegang. Tangannya saja sampai bergetar hebat karena rasa marah dan kesal.
Bukannya mengakuinya dan mengungkapkan hal sebenarnya kepada Karan, gadis itu malah kembali berpura-pura tidak mengetahui apa pun. Berpura-pura tidak ada luka yang menggores tubuh bagian belakangnya. Raya kembali mengelak, “Aku tidak tahu apa yang kau maksud. Aku sama sekali tidak terluka kok. Ah, mungkin itu sirop. Kau pasti salah melihat tumpahan sirop yang aku minum sebelum ke sini. Tetanggaku baru saja merayakan hari ulang tahun anaknya, jadi dia memberikanku sirop.” Raya mencoba melepaskan tangan Karan dari tubuhnya, lalu ia memandangi wajah tegang laki-laki itu. Dengan seulas senyuman yang terpahat di bibirnya, Raya berkata lagi, “Jangan khawatir. Aku tidak apa-apa. Aku sama sekali tidak terluka.”
Kesabaran Karan sudah habis sekarang. Ia sudah memberikan kesempatan bagi Raya untuk berkata jujur, tapi gadis itu malah memilih berbohong. Karan pun tidak punya pilihan lain. Ia harus memastikannya dengan mata kepalanya sendiri. “Raya berhenti berbohong padaku! Kau pikir aku ini bodoh hingga tidak bisa membedakan mana warna sirop dan mana warna darah? Kalau kau masih bersikeras berbohong, baiklah. Ayo kita lihat sirop jenis apa yang menetes di kerah bajumu.”
Ekspresi Raya pun berubah panik. “Apa? Tidak!” Perempuan itu berusaha menghindari dan terus menghindar dari tatapan tajam Karan.
“Kenapa? Bukankah kau bilang itu hanya tumpahan sirop? Harusnya kau tidak perlu khawatir ‘kan?” tekan Karan. Ia pun mencengkram lengan Raya dan memaksa gadis itu mengikuti langkahnya.
“Kita mau ke mana? Lepaskan aku!” kata Raya berontak. Ingin sekali ia melarikan diri saat ini. Ia bahkan menyesal sudah memilih pergi ke taman itu. Seandainya ia tidak ke sana, pasti ia tidak akan bertemu dengan Karan dan dipaksa melakukan ini.
“Raya, itu hanya sirop. Kebetulan ada baju ganti milik penghuni panti yang ukurannya sama denganmu. Kita harus mengganti bajumu agar semut-semut tidak bermunculan di sekitar lehermu.” Karan masih mengikuti apa yang dipercayai Raya. Ia pun berharap seperti itu. Ia ingin yang dilihatnya itu bukan darah, melainkan sirop seperti yang diungkapkan oleh Raya. Tetapi perasaannya semakin tidak menentu. Ia begitu gelisah saat melihat bercak berwarna merah itu. Ketakutan dan kemarahan silih berganti menyerubungi hati Karan hingga membuatnya tidak terkendali lagi.
“Tolong lepaskan aku,” ujar Raya. Tapi kali ini ia merendahkan suaranya. Mereka sudah berada di dalam gedung panti asuhan. Jika ia bersuara keras, maka ia akan menarik lebih banyak perhatian. Ia tidak mau itu terjadi.
Karan tidak ingin berbuat mesum di dalam kamarnya bersama Raya. Pikiran itu tidak pernah terlintas sedikit pun di dalam kepalanya. Ia menyanyangi Raya, gadis itu begitu berharga untuknya. Tidak mungkin Karan mengotori gadis itu dengan perilaku jahatnya. Lagi pula, tujuan Karan tidak hanya menjadikan Raya sebagai kekasih, tetapi juga menikahi gadis itu. Dan sampai hari pernikahannya berlangsung, Karan akan menjaga kesucian gadis itu. Baik dari dirinya maupun dari orang lain.
“Buka!” kata Karan memerintah Raya. Tatapan nanar Raya menjelaskan segalanya. Gadis itu takut ia berbuat hal-hal aneh di sana. Apalagi Karan sampai mengunci pintu kamarnya. “Aku tidak berbuat mesum, Raya. Aku bersumpah atas nyawaku sendiri. Aku hanya ingin melihat noda yang kau bilang bekas sirop itu.” Meskipun sudah menjelaskan niatannya, Raya tetap terlihat ragu. “Baiklah, kalau begitu, begini saja. Kau berbalik badan dan buka bagian belakang. Hanya bagian belakang. Aku janji tidak akan menatap bagian mana pun di tubuhmu.” Karan mengatakannya dengan sungguh-sungguh.
Melihat Raya yang masih bergeming, Karan pun naik pitam. Ia kembali memerintah Raya tapi kali ini dibarengi oleh ancaman. “Kau mau menunjukkannya padaku atau kau lebih suka menunjukkannya pada polisi? Ingat Raya, di tempat ini sedang banyak polisi. Aku bisa saja berteriak dan membuat mereka datang ke sini. Aku tidak peduli apa pun meskipun mereka berpikir aku sudah menyakitimu.”
Raya akhirnya luluh. Entah karena ia takut pada ancaman Karan atau ia memang berpikir sudah saatnya ia membuka mulut pada laki-laki itu. Raya membalikkan badannya, membuka kancing kemejanya satu per satu dan menurunkan bajunya. Persis seperti yang Karan katakan, Raya hanya menurunkan baju bagian belakangnya hingga punggung kurusnya itu terekspose di depan Karan.
Kedua mata Karan seperti baru saja hendak terlepas dari tempatnya. Mulut pemuda itu pun terbuka lebar. Ia terkejut dan juga syok. Karan tidak tahu bagaimana mendeskripsikan apa yang ia lihat saat ini. Yang pasti itu sangat mengerikan. Karan bahkan tidak sanggup menahan air matanya yang rebas begitu saja. Hatinya hancur, perasaannya begitu remuk. Raya Drisana, gadis yang begitu ia kasihi itu mengalami luka yang begitu parah di bagian belakang tubuhnya. Tidak hanya sekali, ada belasan luka yang tergores di sana. Mulai dari bekas lupa pukulan yang meninggalkan beberapa memar, hingga yang terbaru luka seperti terkena benda tajam. Sepertinya itu bekas terkena ikat pinggang seseorang.
Tubuh Karan terguncang hebat. Pemuda itu sampai terperenyak di atas lantai karena tidak kuat menahannya. Air mata Karan jatuh dengan deras, membasahi kedua mata hingga turun ke pipinya. “Raya, siapa yang melakukan ini padamu? Siapa yang tega memukulimu seperti ini?” katanya terisak.
Raya tersentak. Dengan cepat ia memasang bajunya lagi dan menoleh menatap Karan. Melihat pemuda itu tersungkur di lantai menggerakkan hati Raya. Air mata yang membanjiri wajah pemuda itu sontak memancing air mata Raya. Dan untuk pertama kalinya, perempuan itu menangis lagi. Bukan di dalam rumahnya, tetapi di dalam kamar seorang pemuda yang dicintainya itu. Ia mendekati Karan dan memeluk tubuh pemuda itu.
Untuk kesekian kalinya Raya mengucapkan, “Tidak apa-apa. Ini bukan masalah untukku. Kau tidak perlu khawatir.” Gadis itu berkata dalam tangisnya untuk menenangkan Karan. Ia tidak masalah jika harus menahan luka di punggungnya, tapi ia tidak sanggup melihat Karan yang menangisi keadaannya seperti ini.