Lies

Lies
Maukah Kau Kembali Padaku?



Di tengah-tengah perasaan Karan yang begitu kacau, Raya memandangnya dengan intens. Wanita itu bahkan menjulurkan tangannya hingga menyentuh tangan Karan. Sorotan matanya seolah ingin mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja. Karan akan mampu menjalankan tugasnya sebagai seorang ayah dengan sangat baik. Yang perlu Karan lakukan hanyalah meningkatkan rasa percaya dirinya. Pria itu harus bisa meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia bisa menjadi ayah yang baik di hadapan Luca.


“Jadi, apakah kita bisa pulang sekarang?” ujar Raya menghentikan percakapan ayah dan anak itu. Hari sudah menjelang siang, bagi Raya dan Karan yang baru berangkat dari hotel tidak masalah karena baru saja sarapan di hotel. Perut mereka masih terisi penuh. Namun bagi Luca yang hanya sarapan pagi, anak itu pasti akan kelaparan. Terlebih Raya menitipkan Luca di rumah Edgar yang tidak akan ingat menyiapkan makan siang untuk Luca. Jangankan makan siang untuk bocah itu, Edgar saja sering lupa membawa tas kerjanya. Jika Raya tidak mengingatkannya, pria itu akan sering berangkat ke kantor tanpa membawa tas kerja. “Daddy tidak memasukkan bekal makan siang di dalam tasmu ‘kan?” tebak Raya.


Benar saja tebakan wanita itu karena Luca menganggukkan kepalanya dengan cepat. “Ya, Daddy lupa. Padahal aku sudah berteriak dari lantai atas. Daddy selalu lupa semuanya kalau tidak ada Mommy.”


Jantung Karan berdebar karena rasa cemburu yang besar mendengar penuturan Luca. Bocah itu seolah menjelaskan bagaimana kedekatan Raya dan Edgar sampai Edgar tidak bisa menjalani hidupnya dengan baik tanpa kehadiran Raya di sisinya. Raya memang seperti itu. Kehadirannya selalu mempengaruhi lingkungan sekitar. Karan sudah merasakannya selama hampir satu tahun pernikahan mereka. Nyatanya Karan memang tidak bisa hidup dengan baik ketika Raya meninggalkannya.


Itu hanya satu tahun. Lalu bagaimana dengan Edgar yang hidup di sisi Raya selama lima tahun? Pria itu pasti merasakan perasaan terikat kepada sososk Raya yang jauh lebih kuat ketimbang apa yang bisa dirasakan oleh Karan. Terlebih kehadiran Luca di tengah-tengah mereka yang membuat hidup keduanya akan tergantung satu sama lain. Jujur, Karan merasa perasaan iri yang sangat besar. Dan perasaan itu semakin lama semakin membuatnya tidak nyaman. Karan harus segera menghentikan pembicaraan tentang Edgar sebelum hatinya mendidih karena cemburu.


“Bagaimana kalau kita makan siang sekarang? Paman akan mengajakmu ke restoran kesukaan Paman di sekitar sini,” imbuh Karan mengalihkan pembicaraan. Mengajak Luca dan Raya makan bersama adalah pilihan yang tepat. Selain untuk merayakan hubungannya yang sudah pulih dengan Raya, ini juga demi misinya untuk mendekatkan diri kepada Luca. Dari pengamatan Karan selama beberapa kali berinteraksi dengan Luca beberapa hari belakangan, ia menyimpulkan Luca suka makan makanan manis. Kebetulan di sekitar sekolah sang anak ada sebuah restoran yang menyajikan makanan penutup yang sangat enak. Karan bermaksud mengajak anaknya ke sana.


“Ya, ayo ke sana!” cetus Luca bersemangat. Saking antusiasnya, ia langsung turun dari pangkuan Karan dan berlari menyusuri taman ke arah parkiran, yang ia duga menjadi tempat Karan meninggalkan mobilnya. Karena sudah mengerti seluk beluk sekolahnya dengan baik, Luca bisa sampai sendiri di parkiran tanpa pendampingan orang tuanya.


“Luca! Sudah Mommy bilang jangan berlari-lari di jalanan! Nanti kau bisa jatuh!”


Raya mengingatkan putranya agar bisa mengontrol semangatnya. Hal ini selalu terjadi setiap kali menjemput Luca dari sekolah. Tidak hanya padanya, Luca juga sering tidak terkendali saat bersama dengan Edgar dan Maude. Kedua orang itu sering mengeluh bagaimana sulitnya menjaga Luca.


Mungkin satu-satunya yang didengarkan Luca hanyalah kakek dan neneknya, orang tua Edgar. Sebab hanya merekalah yang mampu membuat Luca tidak banyak bergerak. Bahkan hanya dengan satu ucapan saja, Luca sudah dapat mengerti dan menurut. Benar-benar anak yang unik. Sepertinya Raya perlu meminta resep dari kedua orang tua Edgar cara mengendalikan anaknya sendiri.


Pandangan Raya yang awalnya mengarah ke Luca, kini berpindah ke Karan. “Ha? Apanya yang mirip? Kami itu berbeda sekali tahu!”


“Kau lupa atau pura-pura lupa, Raya? Saat kita masih berpacaran dulu kau orang yang seperti apa dan bagaimana cara kau mengejar-ngejarku, apa kau lupa semuanya?” tanya Karan sembari terkekeh pelan. Ia tahu bagaimana Raya ingin membantahnya, tapi kenyataannya memang seperti itu. Luca sangat mirip dengan Raya, terutama dalam hal semangat. Kedua orang itu sama-sama tidak bisa mengontrol semangatnya jika sudah mendapatkan tujuannya. “Kau dulu selalu lupa membawa perlengkapan sekolah sampai aku harus menunggumu di depan gerbang sekolah. Ah, kau juga pernah lompat dari pohon ‘kan? Apa kau benar-benar tidak ingat dari mana putra kit aitu mendapatkan semangatnya yang besar itu?”


Pipi Raya bersemu merah. Ia pun ingat kelakuannya di masa lalu. Benar yang dikatakan Karan, Luca benar-benar mencontoh semua sikapnya sewaktu remaja. “Astaga, kenapa dia malah meniru hal-hal buruk dariku, tapi dia malah mendapatkan kepintaranmu?”


“Siapa bilang itu buruk? Aku tidak mengatakannya buruk, Raya. Kau tahu, sosokmu di masa lalu itulah yang benar-benar menarik perhatianku sampai aku bisa jatuh cinta padamu hingga sekarang. Aku tidak bisa membayangkan seandainya tidak ada seorang gadis bernama Raya Drisana yang mengejar-ngejarku demi tugas remedial matematikanya, pasti aku tidak akan pernah merasakan perasaan cinta sebesar ini kepada seorang wanita. Kaulah yang mengubah segalanya, Raya. Dan itu berkat semangatmu yang berapi-api itu.”


Raya berhenti berjalan secara tiba-tiba hingga membuat Karan pun menghentikan langkahnya. “Apa kau tidak menyesal sudah mengenalku, Karan? Seandainya saat itu kau tidak memedulikanku, bukankah hidupmu akan jauh lebih mudah?”


Karan mengembuskan napasnya. Andai saja mereka tidak berada di lingkungan sekolah di mana banyak mata anak-anak yang memandang ke arah mereka, sudah tentu Karan akan merengkuh tubuh Raya dan memeluknya. Karan pun mengurungkan niatannya memeluk Raya. Ia akan berusaha menjelaskan isi hatinya melalui kata-kata meskipun ia tidak terlalu mahir merangkai kata-kata yang indah untuk seorang wanita.


“Ya, mungkin hidupku akan lebih mudah dari sekarang. Tapi Raya, hidup mudah itu tidak menjamin kebahagiaan. Bagaimana aku bisa menukarkan kebahagiaanku karena mencintaimu hanya karena sebuah kemudahan? Bagaimana mungkin aku menyesal sudah memiliki anak selucu dan sepintar Luca? Tidak ada penyesalan di hidupku karena kehadiran kalian berdua, Raya. Satu-satunya penyesalan terbesarku adalah karena aku tidak bisa mempertahankanmu di sisiku. Karena aku tidak ada di samping kalian selama lima tahun ini. Dan aku benar-benar ingin menebusnya dengan cara apa pun.”


Rasanya Raya ingin menangis mendengar penuturan Karan. Semuanya sudah berubah dari diri Karan. Sikap pria itu jauh lebih dewasa sekarang. Ia terlihat sangat bisa diandalkan dan lebih bisa mengontrol emosinya. Hal-hal yang sulit Raya dapatkan dari sisi Karan saat masih menjadi suaminya. Akan tetapi, ada satu yang tidak berubah dari Karan, yaitu rasa cintanya kepada Raya. Sejak mereka pacaran, menikah bahkan dalam status perceraian seperti sekarang. Semua itu membuat Raya berpikir untuk tidak melepaskan lagi sosok Karan dari hidupnya. Sebab ia juga mencintai Karan, sebesar rasa cinta pria itu kepadanya. Bagaimana jika kesempatan itu ada? Bagaimana jika ia membuka hatinya lagi kepada Karan? Apakah semuanya akan baik-baik saja?


“Karan, maukah kau kembali kepadaku?” cetus Raya secara mendadak. Wanita itu baru memikirkannya di dalam benaknya tadi, tapi sekarang sudah meluncur ke luar dari bibirnya. Meskipun terkejut, ia tetap tidak menyesali pertanyaannya karena ia benar-benar ingin kembali kepada Karan.