
Raya tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Ia pun memutuskan untuk segera menemui suaminya yang sedang berada di dalam ruangan. Ini rencana dadakan sehingga Karan tidak akan tahu rencananya untuk datang ke sana. Dan begitu Raya mengetuk pintu dan masuk, Karan terlihat begitu terkejut. Pria yang awalnya sedang menandatangani dokumen itu tiba-tiba saja mencoret dokumennya secara tidak sengaja. Matanya terbelalak melihat sosok sang istri yang mendekat ke arahnya. Dengan memaksakan seulas senyum muncul di bibirnya, Karan menyapa sang istri.
“Sayang, kenapa kau ada di sini?” celetuknya. Tanpa kepura-puraan sama sekali, Karan menunjukkan ekspresi terkejutnya. Ini belum masuk waktu makan siang dan seingatnya, tidak ada perkataan yang menyebutkan Raya akan datang ke kantornya. Malah Karan yang akan menjeput Raya nanti. Jika wanita itu tiba-tiba saja datang ke kantornya seperti ini, maka wajar saja Karan terkejut.
“Kenapa? Apa aku tidak boleh ke sini?” Raya memilih berjalan ke samping Karan, melihat wajah tegang sang suami. Mengapa pria itu tampak takut sekarang? Apakah ada yang disembunyikan pria itu? Ah, benar. Kapan Karan tidak menyembunyikan sesuatu darinya? Dibandingkan cerita kejujuran, Karan lebih banyak menyembunyikan rahasia darinya. Tapi kali ini benar-benar berbeda. Raya merasa marah, terlebih jika Karan menyembunyikan tentang kedatangan wanita misterius itu. Setiap kebungkaman Karan membuat Raya semakin penasaran.
“Mana mungkin Sayang? Aku sangat suka kau datang mengunjungiku,” celetuk Karan sembari mengamit tangan Raya. Ia berdiri dari kursinya dan membawa sang istri duduk di sofa. Secara tiba-tiba Karan melakukan sesuatu yang jarang ia lakukan pada Raya. “Kau mau minum sesuatu, Sayang? Aku akan menyuruh sekretarisku untuk membuatkannya untukmu.”
Karan menawari Raya minuman selayaknya ia menawari tamunya yang lain. Itu artinya, Karan menganggap Raya seperti orang lain juga. Anehnya Raya sangat sensitif terhadap hal itu. Padahal sebelumnya tidak seperti ini. Bahkan sebelumnya, Raya tampak cuek dengan apa saja yang dilakukan Karan, termasuk dengan siapa saja Karan akan bertemu dan bekerja sama. Akhirnya, wanita itu pun mengajukan pertanyaan yang seharian ini telah mengusiknya hingga nyaris merusak pekerjaannya.
“Tidak, kenapa kau tiba-tiba menawariku minuman? Bukannya dulu kau bilang aku bisa melakukan apa saja di kantormu? Kalau aku butuh minuman, aku akan langsung memintanya pada sekretarismu.” Seperti yang pernah Karan katakan padanya dahulu bahwa ia bisa melakukan apa saja di dalam kantor itu. Karan bahkan meminta Raya untuk menganggap ruangan CEO sebagai ruang kerja wanita itu. Tapi dari cara Karan memperlakukannya saat ini, Raya tahu ada yang tidak beres pada sang suami. “Kenapa? Apa ada masalah?”
Bola mata Raya tidak percaya menangkap apa yang ada di depannya saat ini. Karan tidak hanya terkejut dengan kedatangannya, pria itu pun gugup. Saking gugupnya sampai ia berkeringat. Jelas keringat itu bukan karena cuaca panas kendati cuaca Jakarta begitu terik saat ini. Hanya satu alasan pastinya. Karan menjadi salah tingkah di depannya. Masalahnya, Raya tidak tahu pria itu gugup terhadap apa. Yang pasti Karan yang biasanya begitu ahli menyembunyikan ekspresinya, kini seperti lepas kendali.
“Masalah? Ti-tidak, Sayang. Tidak sama sekali.” Karan terus mengelak. Ia membuang wajah dan berusaha untuk mengalihkan pembicaraan sambil berharap Raya tidak lagi mengungkit masalah kegugupannya. “Jadi, kita makan di mana hari ini?”
Raya menghela napas pelan. “Aku tidak masalah makan di mana saja, tapi aku ingin melakukan sesuatu.” Wanita itu mengambil beberapa lembar tisu dan mendekati Karan. Lalu, ia mengelap wajah pria itu menggunakan tisu tersebut hingga tidak ada lagi keringat di kening Karan. “Apakah kau habis merokok?” tanya Raya begitu mencium aroma tembakau dari pakaian Karan. Meskipun tidak begitu kentara, Raya tetap mencium aromanya. Indra penciumannya cukup pekat belakangan ini. Ia juga sensitif terhadap bau, terlebih bau-bau yang tidak familier baginya.
Akan tetapi, Karan sudah mencoba menghilangkan aroma rokok darinya. Ia sudah mengganti kemejanya agar asap rokok itu tidak menempel di sana. Karan juga sudah menyemprot parfum ke pakaiannya untuk menyamarkan bau asap itu. Sayangnya, Karan lupa hal yang paling penting. Ia lupa untuk membersihkan mulutnya yang jelas saja membuat sisa-sisa aroma tembakau masih menempel di sana. Sial! Karan seperti sebuah bidak catur yang terhimpit oleh raja di atas papan catur. Tidak bisa bergerak sama sekali kecuali mengakui perbuatannya.
“Ya, maafkan aku, Sayang. Aku memang merokok hari ini. Maaf,” kata Karan menyesali perbuatannya. Karan tampak seperti menunjukkan ketulusannya yang membuat Raya tidak bisa mengatakan apa pun. Raya terdiam beberapa saat, lalu mendekati Karan. Tangan wanita itu berada di dada Karan.
“Ada apa Karan? Ceritakan padaku, apa kau ada masalah?” Raya mencoba untuk bertanya baik-baik. Ia tidak mau membuat Karan semakin tertekan. Bukan ini niatan awalnya mendatangi Karan. Ia sama sekali tidak mau melihat suaminya keringat dingin seperti ini. Terlebih Karan sampai merokok lagi. Padahal Raya tahu Karan adalah tipe orang yang tidak akan melanggar janji. Pria yang selalu serius dengan ucapannya.
Alih-alih menjawab pertanyaan Raya dan menjelaskan apa yang terjadi padanya, Karan malah menggelengkan kepalanya, tampak ingin segera menyudahi perbincangan ini. “Tidak ada apa-apa, Sayang. Sungguh.” Saat mata Raya jelas menunjukkan ketidakpercayaan, Karan pun mencoba menjelaskannya. Tentu saja bukan menjelaskan apa yang benar-benar terjadi. Hanya menceritakan sesuatu yang bisa membuat Raya merasa tenang. “Aku ada masalah sedikit. Tentang kontrak kerja sama yang batal. Ya, aku stres karena itu dan aku melampiaskannya dengan merokok. Aku salah, aku tidak akan melakukan itu lagi,” tukas Karan menyesal.
Raya sudah mendapatkan penjelasannya, tetapi ia masih tidak cukup puas dengan hal itu. Rasanya Karan tidak akan pernah mengaku sampai akhir. Pria itu begitu gigih menyembunyikan perihal wanita misterius itu. Raya pun tidak bisa lagi menyembunyikan emosinya. Ia marah dan kecewa terhadap suaminya. Ia hanya butuh satu penjelasan dari Karan, terserah pria itu mau menjelaskannya sebagai apa. Misalnya Karan mengatakan wanita itu adalah rekan kerjanya atau teman kuliahnya. Apa pun itu akan Raya terima meskipun Raya tidak tahu apakah Karan berbohong atau tidak kepadanya. Yang paling Raya sesalkan adalah sikap Karan yang terkesan seperti sedang menutup-nutupi keberadaan wanita itu. Menyembunyikan fakta bahwa wanita itu menelepon Karan semalam dan mendatangi sang CEO beberapa saat lalu.
Memangnya apa salahnya jika Karan angkat suara dan menceritakan tentang wanita itu kepada Raya?
“Hanya itu?” Bola mata Raya mulai berair. Karena rasa sensitifnya yang meningkat dua minggu belakangan, Raya pun tidak bisa lagi menyembunyikan ekspresinya, termasuk menahan air matanya. “Apa kau masih tidak mau menjelaskan siapa wanita yang baru saja masuk ke ruangan ini, Karan?”