Lies

Lies
Cara Kita yang Salah



Karan tidak pernah menyerah dengan Raya. Ia tidak ingin bercerai kendati ia yang memulainya. Surat cerai itu sudah ditarik begitu juga dengan gugatannya yang dibatalkan. Namun, Raya tak serta merta mengizinkannya. Jika Karan menarik diri dan gugatan perceraiannya di pengadilan agama, maka Raya yang mengajukannya. Kali ini wanita itu menyampaikan keinginan perceraiannya tanpa tuntutan apa pun. Penyebab perceraian hanyalah karena Raya ingin melanjutkan kariernya sebagai seorang model, tapi pernikahan mengikatnya sehingga ia ingin membebaskan diri dari ikatan itu.


Tentu saja keputusan Raya itu tidak populer di antara masyarakat. Mereka menilai bahwa Raya begitu egois. Cap tentang Karan tidak sepenuhnya negatif di masyarakat, terutama setelah Raya merilis video klarifikasinya itu. Ada banyak yang membela Karan dan malah menyudutkan Raya. Anehnya, Raya seolah menerima semua tuduhan tersebut. Sekali pun ia tidak pernah lagi menunjukkan dirinya ke hadapan publik setelah perilisan video klarifikasi itu dan membiarkan masyarakat berpikiran buruk padanya.


Namun bukan Karan namanya kalau ia tidak bisa menemui Raya. Ia mengajukan sebuah persyaratan terakhir sebelum menyetujui permintaan Raya untuk bercerai. Persyaratan itu adalah dengan mengizinkannya menemui Raya di rumah sakit. Meskipun mendapatkan penolakan keras dari sang bibi, nyatanya Raya mengabulkan permintaan Karan. Ia pun membiarkan Karan datang ke rumah sakit lagi untuk bertemu dengannya. Kondisi fisik Raya tidak memungkinkan untuk pergi ke mana-mana, itulah sebabnya Karanlah yang diminta untuk masuk ke dalam ruang rawatnya.


Hari itu Karan datang ke kamar Raya dengan membawa banyak hal, mulai dari makanan hingga bunga. Entah apa niatan Karan melakukan hal itu. Raya bisa mengerti alasan Karan membawa makanan. Biasanya penduduk Indonesia memang selalu melakukan hal itu saat mengunjungi seseorang, meskipun orang itu tidak sakit. Tetapi bunga? Untuk apa benda itu dibawa Karan? Padahal seingat Raya, tidak pernah sekali pun ia meminta dibawakan bunga oleh Karan. Saat upacara pernikahan mereka pun kebanyakan bunga yang dipajang adalah bunga-bunga pilihan Karan. Tidak ada kontribusi Raya sama sekali dalam memilih bunga.


“Maaf aku datang terlambat. Ini bunga untukmu,” seru Karan sembari mendekati tempat tidur Raya. Ia menyerahkan seikat bunga tulip kepada sang istri. Sedikit canggung memang karena mereka telah terpisah lama. Tiga bulan. Dan itu sukses membuat Karan menggila. Tidak bisa dibayangkan bagaimana nanti saat mereka sudah resmi bercerai. Karan tidak akan pernah melihat Raya lagi dalam jangka waktu yang sangat lama. Tidak sebulan atau bahkan tiga bulan. Lebih dari itu. Atau kemungkinan terburuknya adalah selamanya.


Tidak sopan rasanya menolak pemberian orang lain sehingga Raya mengambil bunga itu. “Terima kasih,” tukasnya pelan. Ia mengamati bunga tulip itu sebentar dan mengirup aroma segar dari sana. Sepertinya bunga itu ditanam dengan baik. Bentuknya sangat indah dengan pancaran warna putih yang sangat baik. “Bunganya sangat cantik. Terima kasih sudah memberikannya padaku.” Raya menampilkan senyuman manis di bibirnya.


“Tidak perlu berterima kasih. Sejak awal bunga itu memang milikmu.”


Ucapan Karan itu mengejutkan Raya. Ia pun merasa bingung dengan perkataan sang suami. “Maksudmu?”


“Aku memetiknya langsung dari Jalan Asoka. Di sana ada perkebunan bunga yang pernah aku janjikan dulu padamu. Dan salah satu hasilnya adalah bunga tulip yang sedang kau pegang,” kata Karan menjelaskan.


Tidak akan ada yang percaya ucapan Karan seandainya tidak melihat tangan Karan yang terluka. Ada beberapa goresan kasar di sana. Tentu bukan goresan pena karena Karan tidak akan terluka dari apa yang selama ini ia cari. Luka baru itu disebabkan oleh pengunaan benda tajam dan gesekan tanah. Walaupun terkesan mudah, tetapi tidak gampang mengambil seikat bunga tulip langsung dari tanah. Karena harus berhati-hati dengan tekstur lembut si bunga. Salah sedikit saja, bunga itu akan rusak.


“Seharusnya kau tidak perlu sampai melakukan itu. Tapi sekali lagi aku mengucapkan terima kasih padamu,” timpal Raya.


“Bagaimana keadaanmu? Apakah kau sudah membaik?” Karan membuka suara lagi. Ia hanya berdiri mematung tanpa bisa melakukan apa-apa. Namun ia benci dengan kesunyian. Itulah sebabnya ia berinisiatif memulai perbincangan.


Raya mengangguk. “Ya, sudah lumayan baik.”


Kedua bola matanya memandangi wajah Karan yang tampak berantakan. Bukan pertama kali Raya melihat Karan tidak mencukur rambut-rambut halus di sekitar wajahnya. Malah Karan terlihat tampan dengan itu. Namun yang tampak sekarang merupakan Karan yang berbeda. Berat badannya turun drastis hingga ia begitu kurus sekarang. Bagaimana mungkin dalam waktu tiga bulan seorang pria yang selalu menjaga postur tubuhnya agar tetap proporsional mendadak jadi tidak ideal sekarang? Apakah pria itu punya masalah? Mungkinkah masalah perceraian mereka?


“Bagaimana denganmu? Apa kau baik-baik saja? Duduklah, tidak nyaman berbicara saat melihatmu hanya berdiri di sana.” Raya balik bertanya meskipun ia sudah tahu apa jawabannya. Ia hanya tidak ingin tampak seolah-olah sebagai orang yang paling mengerti Karan. Dulu mungkin ia seperti itu. Saat ia menjadi sosok Raya Drisana lama yang mencintai Farraz. Sekarang semuanya sudah berubah. Sama seperti Karan yang sudah mengganti namanya dan memiliki keluarga baru, maka Raya pun juga sudah meninggalkan kepribadian lamanya.


Alih-alih duduk di sofa yang nyaman, Karan justru bergerak ke brankar Raya. Ia duduk di brankar sang istri dengan tubuh menghadap wanita itu. Raya terlihat terkejut, tapi ia tetap mengizinkan Karan melakukannya sebab awalnya ia yang menawarkan suaminya untuk duduk.


“Tidak ada yang baik dengan hidupku sekarang, Raya. Semuanya kacau dan aku sangat menyesal,” ungkap Karan. Manik matanya mulai memerah menatap Raya. Saat tangannya mengamit tangan sang istri, air matanya pun rebas begitu saja. “Aku tahu percuma kalau aku meminta maaf sekarang. Tapi, aku benar-benar menyesal karena telah kehilangan bayi kita. Maafkan aku, Raya. Maafkan aku,” ucapnya sambil terisak.


Awalnya Raya berjanji agar tidak terbawa suasana. Namun, hanya mendengar suara bergetar Karan saja sudah membuatnya tidak bisa bertahan. Karan menangis, hal yang jarang ia lihat selama ini. Sewaktu remaja, Karan juga pernah menampilkan wajah seperti ini. Wajah sedih dan terluka sembari menatapnya. Saat itu Karan melakukannya karena mengetahui tubuh Raya yang terluka parah karena dipukuli oleh sang ayah. Karan yang tidak sanggup melihatnya pun tak kuasa untuk menahan air mata kepedihannya.


“Karan, jangan menangis. Aku tidak bisa mengatakan kalau aku memaafkanmu karena aku benar-benar terluka karena perbuatanmu. Tapi aku mohon jangan menangis seperti ini. Kau tidak tahu aku sedang hamil, jadi aku juga bersalah karena menutupinya darimu.”


Sebenarnya yang salah dari mereka berdua adalah cara yang mereka gunakan untuk mencintai satu sama lain. Cara untuk bertahan dari rasa sakit yang malah menimbulkan rasa sakit yang baru. Dan juga waktu yang salah. Segalanya sudah salah dari awal. Mungkin karena mereka membangun kisah cinta mereka dengan berlandaskan sebuah kebohongan. Itu dimulai dari Raya yang menutup-nutupi perbuatan jahat sang ayah dari Karan. Kemudian saat sudah dewasa, Karan berbohong dengan menutupi identitasnya dari Raya. Mereka sama-sama berbohong sejak dulu hingga sekarang. Dan untuk memperbaiki segalanya, dirasa akan sangat sulit. Malah terbilang mustahil.