
“Apa yang kau katakan?” Karan meledak, kemarahannya sudah sampai di ubun-ubun sekarang. Padahal ia sudah menahan diri agar tidak marah. Ia sudah bersikeras tidak membahas tentang yang terjadi di lokasi syuting hanya agar tidak merusak harinya bersama Raya. Karan sudah menoleransi setiap hal aneh yang Raya lakukan bersama Reagan, juga termasuk interaksi kedua orang itu. Lantas, mengapa Raya mengatakan itu padanya? Menyiapkan batas untuk mereka? Batas yang melarang salah satu dari mereka ikut campur masalah yang lain? Konyol sekali! Raya mungkin bisa melakukan itu pada Karan, wanita itu juga jarang ikut campur masalahnya. Tetapi tidak untuk Karan. Setiap gerak-gerik Raya, setiap jengkal akivitasnya harus selalu dalam pemantauannya. Karan tidak akan pernah melepaskan pandangan dari sang istri.
“Maksudku privasi. Kita harus bisa menjaga privasi masing-masing, Karan. Agar kita tidak saling ikut campur,” ungkap wanita itu.
Karan mengacak-acak rambutnya. Lalu, ia melepaskan dasi yang melekat di kemejanya. Entah mengapa dasi itu terasa sesak sekarang, padahal sebelumnya Karan baik-baik saja mengenakannya. “Sebenarnya apa yang terjadi padamu, hah? Kenapa kau mengatakan hal-hal tidak berguna seperti ini? Kenapa kau kembali menjadi Raya yang menyebalkan? Kenapa?” Karan nyaris berteriak di dalam mobil itu. Kepalanya rasanya mau pecah saja dibuat wanita itu. Dadanya pun sama. Ia seperti terbakar api amarahnya sendiri.
“Karena kau juga menyebalkan! Kau melanggar privasiku!” kata Raya tidak kalah berteriak. Tidak seperti ini yang Raya bayangkan sebelumnya. Raya sama sekali tidak ingin mengajak suaminya bertengkar. Hanya saja yang Karan lakukan benar-benar keterlaluan. Pria itu tidak hanya membaca dan membalas pesan yang tidak ditujukan padanya, tetapi juga membobol sistem keamanan yang ada dalam ponsel canggih itu. Raya mengetahuinya tadi, ketika ia selesai syuting video musik.
Awalnya Raya hanya ingin memeriksa apakah Karan hanya membalas pesan Reagan ataukah pria itu membalas pesan-pesan yang lain. Ternyata hanya besan Reagan saja yang masuk dan terbalaskan. Sisanya masih belum terbuka sama sekali. Raya bernapas lega. Mungkin memang Karan hanya kebetulan melihat pesan itu dan membalasnya. Tapi, bagaimana cara Karan membuka pengamanan yang ada di ponselnya? Raya tidak menggunakan sidik jari yang kemungkinan Karan gunakan untuk membuka gawai tersebut. Apalagi fitur keamanan wajah. Raya hanya menggunakan pin. Pin rahasia yang tidak diketahui orang lain kecuali dirinya sendiri.
Jawabannya hanya satu Karan merusak fitur keamanan dalam ponselnya. Hal itu terbukti dari beberapa surel yang tiba-tiba terbuka sendiri padahal Raya ingat betul tidak pernah membukanya. Alamat surel dalam ponselnya pun tidak ia gabungkan dengan apa yang ada di laptopnya sehingga kemungkinan ada orang lain membuka surel itu secara tidak sengaja melalui laptopnya pun tidak mungkin terjadi.
Tampaknya Karan akan tetap mempertahankan argumentasinya. Pria itu memilih tetap tidak mau mengaku kepada sang istri tentang apa yang telah ia lakukan. “Aku tidak melakukan apa-apa. Aku tidak melanggar privasimu,” bantah Karan dengan tegas. Tentu saja ia tidak merasa bersalah karena dari sudut pandangnya, ia sama sekali tidak melakukan kesalahan. Memangnya apa salahnya mengetahui apa saja yang ada di ponsel sang istri? Salah jika seorang suami tahu siapa dan apa saja yang dibicarakan istrinya dengan orang lain, apalagi orang itu adalah seorang pria?
“Begitukah?” Raya tertawa garing. Ia mengambil ponselnya dari dalam tas dan menunjukkan sebuah gambar hasil penelusuran aplikasi pendeteksi di dalam ponselnya. Raya mendapatkan aplikasi itu dari Reagan yang secara tidak sengaja melihat mimik wajah Raya yang gelisah. Saat itu Raya berbohong kepada pria itu, ia berkata kalau ponselnya sedang dikendalikan oleh paparazzi. Reagan pun mengerti di mana kendalanya lalu membantu Raya mencari solusi. Hasilnya diketahui jika keamanan ponsel benar-benar sudah dirusak oleh orang lain. “Bagaimana dengan ini Karan? IP-nya sudah menjelaskan alamat orang yang merusak sistem keamanan ponselku. Ada dua tempat. Pertama di rumah kita, kedua di kantormu. Apa kau masih mau mengelak lagi?”
Karan terdiam. Tentu ia mengelak lagi, lebih tepatnya tidak bisa karena Raya sudah menunjukkan bukti yang sangat valid tentang keterlibatannya. Alamat rumah mereka dan juga alamat kantor tempatnya bekerja. Karan hanya bisa menahan diri sambil mencari kata-kata yang bagus untuk membela diri. Ya, Karan memang bersalah, tapi ia harus mencari alasan yang mampu membenarkan kesalahannya.
“Aku melakukannya semua demi dirimu, Raya. Karena aku sangat peduli padamu. Kau tahu ‘kan bagaimana aku tidak bisa melepaskanmu? Aku hanya ingin tahu apa yang kau lakukan selama ini dan siapa saja yang kau ajak berkomunikasi? Lagi pula, aku tidak merugikanmu. Kau juga tidak dalam keadaan berbahaya karena ulahku.”
“Tapi kau merusak privasiku, Karan. Kalau kau mau tahu tentangku, kau tinggal bertanya langsung padaku. Tidak perlu sampai sejauh ini.”
Gejolak emosi Karan meningkat. Kali ini ia tidak kuat menahannya lagi. Dengan gerakan mendadak Karan memegang kedua bahu Raya dan mengguncang-guncangkannya. “Ini semua karenamu. Seandainya waktu itu kau tidak pergi dariku ... seandainya waktu itu kau tidak menghilang, aku tidak akan melakukan hal buruk seperti ini. Kita akan hidup bahagia sebagai pasangan yang kau sebut normal itu. Kita akan saling jatuh cinta dan melindungi. Seperti yang pernah kau ucapkan padaku!”
Karan bermaksud mengungkit tentang kejadian 12 tahun lalu di mana Karan dan Raya masih berpacaran. Mereka pernah memiliki komitmen untuk bersama-sama di masa depan. Sampai masa tua dan maut menjemput. Sayangnya karena kejadian yang mengerikan itu, semuanya pun hancur. Raya pergi darinya, meninggalkannya dalam luka kepedihan yang begitu dalam. Karan seperti dikhianati wanita itu dengan begitu kejamnya.
Tetapi yang Raya pikirkan berbanding 180 derajat dari Karan. Wanita itu mengira Karan sedang membicarakan tentang kejadian sebulan lalu ketika ia melarikan diri dari pria itu. Raya yang tersiksa dengan sikap semena-mena Karan tidak bisa lagi mengendalikan dirinya. Akibatnya ia memilih untuk kabur. Usahanya gagal total. Raya memang berhasil keluar dari rumah, tapi wanita itu tidak bisa benar-benar pergi dari sang suami sebab pria itu langsung tahu di mana keberadaannya.
“Baiklah-baiklah. Ini hanya salah paham.” Raya pun menyerah karena memang tujuan awalnya hanya ingin mengajukan protes pada sang suami, bukan malah adu argumentasi hingga menyinggung masalah janji suci pernikahan mereka. “Aku hanya tidak suka diperlakukan seperti ini, Karan. Kau tahu aku dengan baik. Kau mengantarku dan menjemputku dari tempat kerja. Apalagi yang kurang dari itu?”
Api yang sedari tadi membakar hati Karan mendadak mengecil hingga padam. Benar, ini lebih baik. Mengalah dari sikap egoisnya dan meminta maaf pada sang istri sepertinya bukan ide yang buruk. “Baiklah, aku minta maaf. Ini tidak akan terjadi lagi. Aku tidak akan mengutak-atik ponselmu,” ungkap Karan dengan nada dalamnya yang merendah, menandakan tidak ada lagi emosi yang menggebu-gebu dalam dirinya. Raya dengan senyuman manisnya sukses menyiram panasnya api amarah dan cemburu di dalam diri Karan.
“Aku tidak melarangmu menyentuh ponselku. Sungguh! Kalau kau ingin tahu isi di dalamnya, kau tinggal berbicara denganku. Aku akan dengan sukarela menunjukkannya padamu. Aku juga akan menceritakan siapa teman-temanku dan apa yang kami bicarakan di grup. Apa pun yang ingin kau ketahui akan aku ceritakan. Jadi Karan, berjanjilah padaku. Jangan pernah melakukan hal ini lagi karena aku tidak suka.”
Karan mengangguk. “Baiklah, aku berjanji.”
Raya mengamit tangan Karan dan mengelusnya. Ia tersenyum ketika melihat cincin kawin yang melingkar indah di tangan sang suami. “Apa ada rahasia lain yang kau sembunyikan dariku? Kau tidak melakukan hal aneh yang membuatku marah, bukan?”
Sontak Karan menelan salivanya. Ia tidak sepenuhnya jujur pada Raya. Ada banyak rahasia yang masih ia simpan rapat-rapat. Juga banyak sekali masalah yang tidak mau ia bicarakan dengan sang istri. Bukan hanya tentang kejadian 12 tahun yang lalu, tapi mengenai hal yang belum Raya sadari sampai sekarang, yaitu mata-mata yang Ian sewa untuk mengikuti Raya dan memantau aktivitas wanita itu selama hampir 12 jam. Sempat terbesit di sanubari Karan untuk mengungkapkan hal itu, namun ia mengurungkannya. Ponsel Raya sekarang tidak bisa dilacak. Satu-satunya cara agar Karan bisa mengetahui kegiatan sang istri hanyalah dari mata-mata tersebut.
“Tidak!” jawab Karan sambil tersenyum.
Raya menatap kedua netra sang suami dengan tajam, seolah sedang menelisik apakah ada kebohongan di sana. “Benarkah?”
Karan mengangguk lagi. “Iya ... ah tidak!” celetuknya cepat. Kemudian ia mulai berbicara lagi. “Aku merokok tiga batang tadi. Ya kau benar, aku melakukannya di kantor. Maafkan aku,” katanya melakukan pengakuan dosa di hadapan sang istri.
Raya hendak tertawa, tapi ia menahannya. Meskipun lucu, perbuatan Karan mengakui kesalahannya harus diapresiasi. Tidak elok rasanya jika Raya justru menertawakan ketulusan laki-laki itu. “Baiklah, tapi jangan merokok lagi Karan. Aku tidak suka itu. Karena ...” Raya menarik tangan Karan hingga wajah wanita itu menempel di telinga sang suami, “aku tidak suka aroma tembakau yang menempel di bibirmu. Itu membuatku tidak bisa menciummu dengan baik.”
Karan tersenyum dan mengangguk. “Kau tenang saja. Aku tidak akan merokok lagi. Aku akan berusaha tidak mengecewakan istriku,” serunya sambil berbisik pula. Obrolan itu pun ditutup dengan Karan yang mendaratkan sebuah kecupan manis nan ringan di pipi Raya. Karan tersenyum, begitu pula dengan Raya. Pasangan suami-istri itu terlihat lebih baik saat masalah mereka terselesaikan.
Konsolidasi antara Karan dan Raya membuat Ian bernapas lega. Jujur, selama ia menyetir, Rasanya begitu tegang. Apalagi saat Karan dan Raya sama-sama menaikkan nada suara mereka. Sama-sama tidak ada yang mau mengalah satu sama lain. Ian begitu terjepit, posisinya sungguh tidak menguntungkan. Berpura-pura tidak mendengarnya pun tidak bisa. Kendati Ian sudah mengalihkan pandangannya dan menulikan telinganya, Ian tetap tersedot dalam pembicaraan kedua majikannya itu. Terutama ketika Karan berbicara. Ian harus ingat apa yang pria itu katakan kepada Raya supaya kelak Ian bisa mengingatkan Karan saat pria itu mengingkari kata-katanya.
“Tunggu sebentar,” celetuk Raya saat mendapati ponselnya berdering. Raya melihat ponsel yang ada di tangannya itu dan menemukan nama ibu Karan menelepon. Untuk apa ibu mertuanya itu menghubungi seperti ini? Padahal sebelumnya tidak terjadi seperti ini. Sang ibu tidak terlalu rajin meneleponnya, begitu juga Karan. Mungkin untuk menghargai privasi mereka berdua. Lantas, ada masalah apa sampai ibu Karan meneleponnya?